Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 81 - TGSP


__ADS_3

Setelah berkendara hampir satu jam, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Juan pun sampai di rumah sederhana milik nya. Kening Juan mengernyit saat melihat mobil sedan berwarna putih sudah terparkir rapi di depan rumah nya, seketika itu juga mood menjadi anjlok. Dia tahu, siapa pemilik mobil putih itu. 


"Ini mobil siapa, Bby?" Tanya Syera pelan, tapi Juan tidak menjawab sama sekali, bahkan untuk sekedar menoleh pun tidak. Itu membuat Syera salah paham, dia menyangka kalau Juan kesal karena tingkah nya.


"Bby, maafin aku ya kalo aku ada bikin kamu kesel. Tapi aku beneran gak sengaja.." 


"Apa nya, sayang?" Tanya Juan, kali ini dia menoleh ke arah sang istri yang sudah menunjukkan ekspresi sendu nya. Bahkan kedua mata nya berkaca-kaca. 


"Lho, kamu kenapa?"


"Kamu kesel sama aku kan, Bby?"


"Aku? Kesel sama kamu? Enggak tuh, aku gak kesel sama kamu, sayang. Aku kesel sama orang yang punya mobil itu." Jawab Juan, dia membujuk istri cantik nya. 


"Beneran, bukan karena aku, Bby?"


"Seriusan, sayang. Mana ada sih suami kesel sama istri nya sendiri, ngaco." Ucap Juan sambil tersenyum, dia mengacak rambut istri nya lalu melabuhkan ciuman mesra di kening nya. 


"Ya kali aja, yaudah ayo keluar. Aku gendong Rinda ya?"


"Gak boleh, Rinda berat. Ingat kata dokter? Kamu gak boleh bawa yang berat-berat, sayangku. Ingat kehamilan kamu." Omel Juan, membuat Syera terkekeh. Dia senang saat melihat suami nya yang tampan itu mengomel. 


"Iya iya, isshh bawel nya suami ku." 


Akhirnya, Syera pun keluar dari mobil hanya membawa sekantong kresek berisi cemilan milik Rinda dan beberapa juga ada milik nya. Tapi, untuk masalah coklat itu milik Rinda. Dia sudah diet coklat cukup lama. 


"Mama.." Panggil Syera sambil tersenyum, di sambut dengan hangat oleh Romlah yang sedari tadi memang sudah menunggu kedatangan putra dan menantu nya. 


"Mana Rinda, sayang?"


"Sama Juan, Ma. Rinda kecapean seperti nya, sampe ketiduran di mobil." Celoteh Syera membuat Romlah tersenyum kecil. 


"Memang nya dia kecapean habis apa, Nak? Dia gak rewel kan?" 


"Enggak kok, Ma. Rinda gak ada rewel sama sekali, tadi dia seneng banget main di play zone." Jawab Syera dengan antusias. Sedangkan Romlah hanya mendengarkan. 


Tak berapa lama, Juan masuk sambil menggendong Rinda yang masih tertidur. Wajah nya yang datar membuat Romlah paham, dia tak menyukai kehadiran seseorang yang saat ini sedang berada di kamar mandi. 


"Ohh iya, Ma. Mobil putih yang parkir di depan itu punya siapa ya?"


"Punya Mama mertua nya, Mama. Nenek nya Juan, sayang."


"H-ah, jadi Juan punya nenek, Ma? Tapi kenapa dia gak pernah cerita ya?" 


"Ini adalah kedua kali nya beliau datang berkunjung ke sini, sayang. Jadi, ada wajar nya kalau Juan tidak bercerita apapun sama kamu." Jawab Romlah menjelaskan. Syera manggut-manggut paham, tapi meskipun begitu dia harus nya berhak tahu bukan? Karena dia adalah istri nya Juan.


"Memang nya siapa nenek nya Juan, Ma?"


"Miranda, kamu mengenal nya?" Tanya Romlah membuat Syera terlihat sangat terkejut.


"Lho, nyonya Miranda? Itu kan musuh bebuyutan nya papah, Ma."


"Apa iya?"


"Iya, kalo ketemu mereka pasti bertengkar." Jawab Syera sambil terkekeh. 


"Iya, tapi papa kamu yang selalu memulai duluan." Ucap Miranda yang baru datang dari arah dapur. 


"Kadang iya, kadang juga enggak. Tapi setiap ketemu pasti berantem." 


"Hmmm, walau begitu bukan artinya kami saling membenci satu sama lain." Jawab Miranda. Syera menganggukan kepala nya, bertengkar itu adalah cara mereka saling mengakrabkan diri sebagai sahabat semasa kecil. 


"Apa kabar, Nak?" Tanya Miranda sambil duduk di samping Syera. 


"Baik, nek." Jawab Syera sambil tersenyum.


"Nenek dengar kamu hamil, berapa bulan?" Tanya Miranda lagi sambil melihat penampilan Syera dari atas hingga ke bawah. Pantas saja cucu nya begitu tergila-gila dengan putri tunggal Robertson, dia memang sangat cantik dan mempunyai hati yang sangat baik bak malaikat. 


"Tiga bulan setengah, Ma. Kata dokter delapan belas minggu." Jawab Syera sambil tersenyum ramah, dia mengusap perut nya yang masih rata dengan lembut. 


"Sehat-sehat terus ya, Nak. Dia gak rewel?"


"Aman, adek bayi nya gak rewel. Justru papa nya yang rewel." Jawab Syera sambil tergelak, membuat Juan yang baru keluar dari kamar ibu nya setelah menidurkan Rinda mendelik kesal.


"Tuh kan, baru juga di omongin. Orang nya udah bad mood duluan." Ucap Syera pelan sambil terkekeh. 


Tak lama, Juan kembali masuk dengan membawa kresek berisi kebutuhan rumah juga dapur. Romlah mengira hanya itu saja, tapi tak lama berselang dia kembali masuk dengan memanggul dua karung beras. 


"Sayang, kamu beli semua itu?"


"Iya, Ma. Kenapa?" Tanya Syera sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kebiasaan ya kamu ini, Mama gak enak sama kamu. Udah berapa kali kamu belanja buat kebutuhan di rumah ini."


"Gapapa kok, Ma. Lagian Syera udah mutusin mau tinggal disini aja sama Mama, sama Rinda." 


"Disini? Kamu yakin, sayang?" Tanya Romlah, dia menatap seakan tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Syera. Tinggal di rumah sederhana ini? Bukan tidak boleh, tapi yang benar saja biasa nya gadis itu tinggal dengan di limpahi harta, lalu sekarang ingin tinggal disini? Di rumah sederhana ini?


"Iya, bolehkan Ma? Syera nyaman tinggal disini karena ada Mama." Jawab Syera.


"Mama sih gak masalah, tapi kamu sudah izin sama papah kamu?"


"Besok, Syera mau pulang dulu sekalian sama Juan, karena besok dia kan mulai kerja di perusahaan." Ucap Syera.


"Iya, sayang. Diskusi dulu sama papah kamu, biar gak salah paham nanti nya."


"Iya, Mama." Jawab Syera sambil tersenyum, dia pindah duduk ke samping Romlah dan menggamit lengan sang Mama dan mendusel di pundak nya. 


"Kamu tahu dari mana kalau beras di rumah sudah sedikit, Nak?"


"Hehe, maafin Syera ya, Ma. Kemarin, Syera lihat ember tampungan beras di dapur. Jadi, Syera beliin." Jawab Syera, membuat Romlah tersenyum lalu mengusap puncak kepala menantu nya dengan lembut.


"Terimakasih, Nak. Kamu sangat memperhatikan Mama sama Rinda." 


"Sudah tugas Syera, Ma. Syera juga anak mama kan?"


"Tentu saja, kamu anak mama juga." Syera pun terkekeh lalu memeluk ibu mertua nya dari samping. 


"Sayang banget sama Mama."


"Manja sekali menantu mu ini pada mu ya?" Ucap Miranda, membuat Romlah hanya bisa tersenyum kecil. Dia paham benar, kenapa bisa Syera semanja ini padanya. Karena dia kekurangan kasih sayang seorang ibu, itu saja. 


"Tak apa kan ya, Ma? Syera manja sama Mama."


"Gapapa, sayang. Mama malahan seneng kalo kamu bisa nyaman sama Mama." 


"Tuh kan, Mama aja gak keberatan." Ucap Syera sambil mencebikan bibir nya, membuat Miranda terkekeh. Melihat Syera, dia teringat akan mendiang Mira, istri Roberts atau ibu nya Syera. Dia sangat cantik, mirip dengan Syera.


"Sayang, ini buah buat cemilan." Ucap Juan, sambil menyodorkan sepiring buah ke depan Syera. Ada jeruk, apel, melon dan stroberi. 


"Terimakasih, pak suami."


"Sama-sama, sayang. Rinda belum bangun ya?" Tanya Juan.


"Belum kayaknya, kenapa?"


"Tumben ayang makan coklat?" Tanya Syera, biasa nya Juan tak mau makan coklat karena terlalu manis.


"Gak tau, tiba-tiba aja kepengen, Bby."


"Makan aja, kalo Rinda nya nanti ngambek biar aku yang bujuk." 


"Oke, makasih sayang." Jawab Juan, dia pun duduk dan membuka coklat milik Rinda dan memakan nya.


"Mama mau buah?" Tawar Syera pada ibu mertua nya.


"Enggak, sayang."


"Cobain deh melon nya manis banget, kayak aku." Syera menyodorkan garpu berisi sepotong melon dan menyuapkan nya pada Romlah.


"Enak kan?"


"Iya, manis sekali." Jawab Romlah sambil tersenyum.


"Ini, Syera suapin lagi."


"Sudah, buat bumil aja."


"Enggak, mama juga harus makan buah biar sehat terus." Ucap Syera, akhirnya mau tak mau pun Romlah menerima setiap suapan yang di sodorkan oleh menantu nya. Kalau di tolak, sudah bisa di pastikan kalau gadis itu takkan menyerah dan akan terus membujuk nya agar mau makan.


"Nah kan habis juga.." 


"Bumil, mau makan apa?" Tawar Juan.


"Tadi Rinda minta rendang kan? Aku pengen masakin rendang buat dia." 


"Yaudah, yuk aku bantu." Ajak Juan, Syera pun mengekor di belakang suami nya ke dapur untuk memasak rendang sesuai apa yang di inginkan oleh sang adik.


"Menantu mu sangat baik."


"Ya, dia sangat baik dan perhatian. Itulah yang membuat Juan dan Rinda mudah dekat dengan nya. Bahkan Rinda sendiri sangat mengidolakan kakak cantik nya itu." Jawab Romlah sambil tersenyum manis. Juan sangat beruntung karena memiliki sosok istri yang sempurna seperti Syera.


"Syukurlah, dia pintar memilih wanita." 

__ADS_1


"Hmm, ya memang." Jawab Romlah, dia pun mengikuti sepasang suami istri itu ke dapur dengan berusaha sendiri dengan kursi roda nya.


Romlah melihat, kedua nya sedang asik memasak meskipun Syera jerat-jerit saat minyak nya memercik. Maklumlah, ini pertama kali nya dia berinisiatif untuk memasak. Itu pun karena rasa sayang nya pada Rinda. 


"Aaasshh, sayang. Minyak nya nyiprat." Rengek Syera sambil menunjukan tangan nya yang memerah karena terkena minyak panas. 


"Panas ya, Bby?" Ucap Juan, dia langsung meniup-niup tangan sang istri juga mengusap nya.


"Udah enggak kok, makasih sayang."


"Iya, sama-sama. Hati-hati dong kamu nya."


"Mana aku tahu kalau minyak nya bakalan nyiprat." Jawab Syera sambil tersenyum. 


"Ummm, kamu ini." Juan merasa gemas sendiri dengan tingkah laku istri cantik nya, dia mengacak pelan rambut Syera lalu mengecup kening nya. 


"Bumil ku semakin lama kok semakin gemesin gini ya? Bikin aku pengen unyel-unyel ini pipi cabi nya."


"Siapa dulu dong? Aku kan istri nya kamu, makanya aku gemesin." Jawab Syera. Juan terkekeh pelan, lalu membalik ikan goreng di wajan. Tapi, seketika itu mereka saling melempar pandangan lalu kompak tertawa. 


"Ikan nya gosong, haha.." 


"Pacaran mulu sih, jadinya gosong deh ikan nya." Celetuk Romlah, membuat pasangan itu tersenyum malu.


"Pacaran dulu sebelum ada anak, Ma." Jawab Syera malu-malu.


"Iya iya, jadi mau masak rendang?" Tanya Romlah, Syera mengangguk cepat. Dia ingin memberikan kejutan untuk Rinda dengan memasakan makanan yang dia ingin makan.


"Yaudah, sini Mama bantuin ulek bumbu nya." 


"Gak usah, Ma. Pakai blender kok, Mama pilihin bumbu nya aja sesuai resep Mama." Ucap Syera, sebelum nya di rumah ini tak ada blender, tapi karena Syera yang terlalu peka, jadi dia membelikan blender agar tak perlu susah-susah mengulek bumbu.


Romlah pun mengangguk, sedangkan Juan kembali menggoreng ikan, dan Syera yang ikut memilah bumbu-bumbu untuk memasak rendang. 


"Nenek kemana, Ma?"


"Ada di ruang tamu, katanya dia pusing." Jawab Romlah membuat Juan hanya melirik sekilas, dia tak tertarik dengan topik pembicaraan istri dan ibu nya.


"Lagian, kalo udah tua ngapain kesini terus ya?" Tanya Juan.


"Ya berkunjung aja, wajar kan seorang nenek berkunjung ke rumah cucu nya?"


"Cucu nya gak mengharapkan kehadiran nya, terus gimana dong?" Juan mengendikan bahu nya.


"Sayang, gak boleh gitu." Ucap Syera, tapi Juan malah menatap nya dengan datar. 


Malam hari nya, rendang pun siap. Rinda juga baru saja bangun, dia masih melamun di kursi ruang tamu mengumpulkan nyawa nya. 


"Sayang, ayo makan." Ajak Syera pada Rinda, dia membingkai wajah cantik adik nya.


"Ada rendang lho, kakak yang masak. Ya di bantu sama Mama, kakak Juan sih, hehe." 


Sontak saja, mendengar kalau kakak cantik nya memasakan rendang, wajah Rinda seketika berbinar cerah. Dia senang sekali.


"Ayoo, makan.." 


"Cuci muka dulu, dek. Itu iler di pipi hapus dulu napa, jorok deh." Celetuk Juan membuat Rinda langsung menurut dan berlari ke kamar mandi untuk mencuci wajah nya. 


Miranda juga sudah berada di meja makan untuk ikut makan malam bersama keluarga yang hangat ini. Meskipun, dia melihat kalau Juan cucu nya masih belum memberikan respon yang baik, tapi tidak masalah selama Romlah masih memperlakukan nya dengan baik dan menyambut nya, tidak apa-apa.


Keluarga itu pun makan malam bersama, Miranda bisa merasakan kehangatan di rumah kecil yang terlihat sederhana, jauh sekali jika di bandingkan dengan rumah nya yang besar namun terasa dingin, tak ada kehangatan disana. Dia malah mendapatkan kehangatan itu di rumah yang sama sekali tak pernah dia bayangkan akan punya kehangatan seperti ini.


"Rendang nya enak." Puji Rinda sambil tersenyum, membuat lesung pipit nya terlihat sangat manis.


"Syukurlah kalau rasa nya enak, ayo makan yang banyak ya." Ucap Syera sambil mengusap lembut kepala Rinda. 


"Itu tangan kakak kenapa?"


"Tadi, tangan kakak cantik mu kena minyak lho."


"Hah, apa iya? Maafin Rinda ya, kakak cantik."


"Lho, kenapa kok minta maaf sayang?" Tanya Syera, dia tulus membuatkan rendang untuk adik nya. Meskipun di bantu suami dan mama mertua nya.


"Ini pasti gara-gara Rinda yang mau makan rendang, jadi kakak maksain bikin sampe kena minyak panas kan?"


"Gapapa, kakak tulus bikinin ini buat kamu, sayang. Maka nya, sekarang kamu harus makan yang banyak, biar kakak gak kecewa."


"Iya kakak cantik, terimakasih." 


"Sama-sama, sayang." Jawab Syera. Dia pun tersenyum sambil memperhatikan adik nya makan dengan lahap. Terlihat jelas kalau gadis kecil itu sangat menyukai makanan yang di sajikan oleh kakak cantik nya.

__ADS_1


........


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2