Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 53 - TGSP


__ADS_3

"Nak, kok belum tidur?" Tanya Romlah, dia keluar karena kebelet ingin pipis. Tapi di ruang tamu, dia malah melihat Syera yang belum tertidur di kursi ruang tamu. 


"Eehh, Mama.." 


"Kenapa?" Tanya Romlah lagi, Syera menggaruk tengkuk nya.


"Juan tidur, Ma. Kasian kalo di bangunin." Jelas Syera sambil tersenyum.


"Astaga, Nak. Gak pegel itu? Dari tadi Juan rebahan disitu lho."


"Gapapa kok, Ma. Syera takut Juan nya rewel kalau di bangunin." Jawab Syera. 


"Nak, tapi gak begini juga."


"Gapapa kok, Ma. Lihat, Juan tidur nya pules banget. Syera gak tega bangunin nya." 


"Biar Mama aja yang bangunin, nanti pinggang kamu sakit, Nak." Romlah pun berusaha membangunkan putra nya. 


"Hmmm.."


"Bangun, Juan.." Ucap Romlah, membuat Syera nyengir-nyengir. 


"Kenapa, Ma?" Tanya Juan dengan suara serak khas bangun tidur nya, pemuda itu mengucek mata nya dengan perlahan.


"Pindah ke kamar, kasian tuh pacar mu pasti pinggang nya sakit kalo dia tidur sambil duduk gitu." 


Juan melirik ke arah Syera yang hanya menyunggingkan senyuman kecil nya, membuat Juan merasa bersalah. 


"Iya, Ma." Juan pun menggandeng tangan Syera ke kamar, sedangkan Romlah langsung pergi ke kamar mandi. Setelah selesai, dia pun mematikan lampu utama dan kembali masuk ke kamar nya. 


"Yang, maafin aku ya."


"Maaf kenapa?" Tanya Syera, sambil membuka celana jeans nya, dia tak nyaman jika harus tidur mengenakan celana seperti itu. 


"Aku ketiduran tadi di pangkuan kamu, yang. Kamu juga, kok gak bangunin aku sih?" 


"Kamu tidur nya pules banget, yang. Aku gak tega buat bangunin nya, jadi aku biarin aja kamu tidur." Jelas Syera sambil tersenyum kecil. 


"Kalo aku tidur sampe pagi disitu, kamu mau tidur sambil duduk disitu juga gitu, yang?"


"Ya gapapa, sayang." 


"Maaf ya, pasti pinggang kamu sakit banget sekarang." Ucap Juan khawatir.


"Isshh, gapapa kok. Aku minjem celana pendek kamu dong, yang? Gak enak kalo tidur pake celana jeans." 


Juan pun bangkit dari duduk nya dan membuka lemari pakaian miliknya, mengambil celana pendek selutut dan memberikan nya pada Syera, dengan cepat gadis itu memakai nya. Kedua nya pun berbaring dan akhirnya tertidur dengan saling memeluk, seperti biasa nya.


Keesokan pagi nya, Juan merengek karena tak mau di tinggalkan oleh Syera. Padahal kemarin, dia juga yang meminta Syera agar tetap masuk kelas, tapi sekarang dia nya yang rewel.


"Ayang.." rengek Juan sambil menggelayut manja di lengan Syera.


"Iya, sayangku. Kenapa? Kok rewel banget sih kamu akhir-akhir ini?" Tanya Syera sambil mengusap rambut Juan. 


"Pengen sama ayang."

__ADS_1


"Tapi, aku nya ada kelas." Ucap Syera, dia membingkai wajah Juan lalu mencubit pipi nya.


"Astaga, Juan. Kamu ini kayak anak kecil aja." Ucap Romlah sambil menggelengkan kepala nya melihat tingkah Juan yang menurut nya sudah sangat keterlaluan. 


"Iya ihh, kak Juan kayak anak kecil." Ucap Rinda mengejek kakak nya, tapi Juan tak peduli dan tetap merengek pada Syera. 


"Yang.."


"Iya, aku gak ke kampus." 


"Eehh, kamu gak boleh bolos, Nak. Biarin aja Juan nya, dia juga nanti akan membaik kok." Ucap Romlah, sedangkan Juan hanya menatap Syera dengan sendu.


"Aku kelas nya gak lama kok, cuma ada satu kelas hari ini. Kalau aku udah selesai kelas, aku kesini lagi ya?" Bujuk Syera. 


"Beneran? Janji ya kesini lagi?"


"Iya, jangan nangis dong. Aku kesini lagi kok, aku janji sama kamu. Kelas nya cuma sampai jam sepuluh." 


"Yaudah deh."


"Nanti aku pulang, mau di bawain apa, sayangku?" Tanya Syera sambil mengunyel-unyel pipi Juan.


"Rinda mau mie ayam, kakak cantik." Celoteh Rinda dengan girang.


"Rinda.." Ucap Romlah membuat gadis kecil itu diam seketika. 


"Iya, Rinda mau mie ayam? Nanti kakak cantik bawain mie ayam kesukaan kakak." 


"Beneran kak?" Tanya Rinda. Syera menganggukan kepala nya sambil tersenyum, membuat Rinda bersorak kegirangan. Padahal, cuma mau di bawain mie ayam doang. 


"Aku mau rujak, yang."


"Rujak buah, banyakin mangga muda nya." 


"Ohh, oke siap, sayang. Kalo gitu aku pergi dulu ya?"


"Hati-hati di jalan nya, ayang. Jangan ngebut ya." Ucap Juan.


"Siap, sayangku." Jawab Syera, gadis itu pun keluar dari rumah dan mengendarai mobil miliknya menjauhi rumah milik keluarga Juan. 


Syera merasa tak enak meninggalkan Juan yang tengah sakit, tapi benar juga dia tak bisa bolos kuliah karena target nya adalah wisuda tahun ini. Kalau ingin wisuda, berarti dia harus lebih rajin ngampus. 


Gadis itu memarkir mobil nya di garasi rumah nya, lalu masuk untuk berganti pakaian sebelum berangkat ke kampus. 


"Syer.." panggil Sharon yang ada di ruang tamu, Syera menatap jengah ke arah teman yang sebentar lagi berganti status menjadi ibu tiri nya.


"Iya, ada apa?" Tanya Syera.


"Eemmm.."


"Apa sih? Kenapa, apa yang mau Lo omongin?" Tanya Syera, membuat Roberts yang mendengar hal itu langsung angkat bicara.


"Sayang, bicara yang sopan dong. Mau bagaimana pun Sharon akan menjadi ibu tiri kamu nanti."


"Hmm, terus?" Tanya Syera sedikit sinis. 

__ADS_1


"Kalo gak penting, gue masuk kamar dulu." Ucap Syera, lalu dia pergi dari hadapan kedua nya. Syera menaiki anak tangga dengan terburu-buru, karena dia harus mandi dulu sebelum ke kampus.


Setelah selesai, Syera hanya mandi kilat agar lebih cepat. Sebentar lagi, kelas nya akan di mulai. Dia tak mau terlambat sampai di kampus, kalau saja Juan tak merengek segala pasti saat ini dia sudah di kampus. 


"Hmmm, gak enak juga terburu-buru gini." Gumam nya sambil menyisir rambut panjang nya. 


Setelah di rasa cukup, Syera pun turun dari kamar nya dan di sambut dengan kemesraan sang papa dan Sharon. Gadis itu memutar mata nya jengah, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.


"Syer, tungguin.." Sharon berlari menyusul Syera, meskipun Syera nampak tak peduli dengan usaha nya. 


"Aduhh, capek."


"Masuk cepet, kalo gak masuk gue tinggal." Ketus nya, Sharon pun langsung masuk ke dalam mobil, dari pada di tinggalkan oleh Syera kan berabe.


Syera pun langsung melajukan mobil nya menjauhi rumah nya dengan kecepatan yang cukup tinggi karena sekitar setengah jam lagi kelas nya akan di mulai. 


"Syer.."


"Apa?" Jawab nya singkat, tanpa menatap sedikit pun ke arah Sharon.


"Juan apa kabar?"


"Dia masih sakit, dia juga gak mau gue tinggal tadi." Jawab Syera lagi, namun masih tak mau melihat ke arah gadis itu.


"Hmm, sakit apa sih?"


"Gak tau, tapi yang bikin dia lama sembuh tuh karena dia susah makan. Harus di omelin dulu, baru mau makan." 


"Ohh, kamu sama Juan pacaran?"


"Emang nya kenapa? Mau Lo rebut apa gimana? Atau bokap gue nyuruh Lo nanya-nanya kek gini hah?" Tanya Syera, nada suara nya masih ketus. 


"Enggak, papa kamu gak minta aku nanyain hal ini ke kamu."


"Terus?"


"Aku cuma nanya, pengen tahu aja."


"Gak usah tahu lebih baik, nanti juga Lo tahu." Jawab Syera lagi. Setelah itu, Sharon memilih diam tak mau bicara lagi. Kedua nya saling diam-diam an.


Sedangkan di rumah, Juan malah muntah-muntah hingga tubuh nya lemas. Tenggorokan nya terasa pahit karena terlalu banyak muntah. 


"Astaga, Ju. Kamu kenapa sih?" Ucap Romlah sambil memijat pelan kepala sang putra.


"Gak tau, Ma. Mual banget." Jawab Juan. 


"Kita berobat ya?"


"Gak usah, yang waktu itu aja obat nya masih banyak, Ma." Jawab Juan lirih. 


"Tapi, kalo kamu sakit begini terus kamu bisa kehabisan cairan, Nak."


"Gapapa kok, Ma." Jawab Juan membuat Romlah menatap putra nya dengan nanar, andai saja kehidupan nya lebih baik pasti dia langsung membawa putra nya berobat ke dokter. Tapi sayang, dia tak memiliki apapun saat ini. 


"Rin, ambilin jeruk di kulkas dong." Pinta Juan pada adiknya.

__ADS_1


.....


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2