
"Mama.." Panggil Syera, Romlah yang sedang melamun di teras pun terlihat terkejut, padahal Syera hanya memanggil biasa saja, tidak berteriak atau pun menyapa dengan nada tinggi.
"Eehh iya, Nak. Ada apa?"
"Jalan-jalan yuk?" Ajak Syera, Romlah hanya mengangguk dan wanita itu langsung mendorong kursi roda mama mertua nya untuk ke kebun belakang. Disana ada banyak tanaman, yang dia tahu kalau Mama mertua nya ini sangat menyukai tanaman apalagi bunga.
"Mama suka bunga kan?"
"Tentu, mama suka terlebih lagi bunga mawar."
"Wahh, kita sama ya Ma. Syera juga suka bunga mawar apalagi yang merah."
"Kebetulan ya, Nak." Jawab Romlah, Syera mengangguk mengiyakan. Kedua nya pun sampai di taman belakang, Romlah tersenyum manis saat melihat bunga mawar yang tengah mekar, pohon nya bergoyang karena angin yang bertiup.
"Indah sekali.."
"Mama suka?" Tanya Syera, Romlah mengangguk cepat. Dia sangat menyukai taman ini, membuat mata nya terasa segar.
"Suka sekali, Nak."
"Hmmm, Syera juga. Dulu, kalau Syera lagi keinget ibu, pasti Syera kesini. Soalnya ibu suka bunga mawar juga." Jelas Syera, dia mulai bercerita tentang sosok ibu yang begitu sangat dia rindukan.
"Syera rindu sekali sama ibu, tapi sayang ibu gak pernah datang, bahkan dalam mimpi sekali pun. Tapi tak apa, mungkin sekarang ibu sudah bahagia disana. Iya kan, Ma?" Tanya Syera, Romlah tersenyum.
"Kamu tahu, Nak? Mama juga sering kali merindukan ayah nya Juan, kisah kami terlalu pahit hingga setelah kepergian nya pun Mama masih merasakan sakit. Mama juga berharap dia datang dalam mimpi, tapi ya sama seperti kamu dia tidak pernah datang sekali pun."
"Semua ada hikmah nya, sayang. Bisa saja mereka tidak datang menjenguk karena khawatir kita yang di tinggalkan merasa sedih. Tapi, jangan berkecil hati mereka pasti melihat dan memperhatikan kita dari atas sana." Romlah mengusap rambut lurus dan panjang sang menantu.
"Tapi sekarang, aku punya Mama." Lirih Syera, dia menatap Romlah dengan tatapan dalam dan hangat.
"Hmm, iya sayang."
"Terkadang, aku merasa sendirian, Ma. Tapi sekarang tidak lagi, aku punya Mama, aku juga punya Juan, ada Sharon, Rinda. Tempat aku berkeluh kesah nanti nya."
"Iya, kamu bisa berkeluh kesah sama Mama, sayang. Mama akan dengan senang hati mendengar semua keluhan kamu."
"Terimakasih, Mama."
"Sama-sama, Nak.." Romlah kembali mengusap rambut Syera, wanita hamil itu memeluk tubuh ringkih mama mertua nya.
Hal itu, tak luput dari tatapan Roberts. Dia tersenyum miring saat melihat interaksi antara putri nya dan ibu mertua nya. Pantas saja dia merasa nyaman jika berada di dekat nya, ternyata ibu nya Juan sangat baik dan lemah lembut. Benar-benar sosok ibu yang di inginkan oleh Syera.
Melihat kedua nya, hati Roberts terasa sakit. Andai saja istri nya masih hidup, mungkin Syera takkan ke kurangan kasih sayang seorang ibu. Tak apa, sekarang dia mendapatkan semua kasih sayang dari semua orang yang berada di dekat nya.
Tak sengaja, tatapan Roberts dan Romlah bertemu. Seketika itu juga jantung nya terasa berhenti berdetak saat itu juga. Ya, sudah satu hari mereka pindah kesini, Roberts belum pernah bertemu secara langsung atau bicara seperti layaknya besan.
Begitu juga saat pernikahan, dia terlalu sibuk dengan klien yang datang hingga tak menyempatkan diri untuk bicara dengan Romlah, ibu nya Juan. Tatapan mata itu, mata yang bulat itu dia pernah melihat nya.
"Astaga.." Roberts memekik dan tubuh nya seketika luruh ke lantai.
"D-dia wanita itu? Apa yang sudah aku lakukan.." Gumam Roberts, tubuh nya bergetar.
Flashback On.
Bertahun-tahun silam, Roberts sedang dalam perjalanan, saat itu dia tengah terburu-buru karena harus pergi ke rumah sakit. Ya, istri nya akan melahirkan hari itu.
Dia melakukan mobil nya dengan kecepatan tinggi karena panik, saat itu dia baru saja pulang bekerja dan mendapatkan kabar yang cukup buruk. Istri nya jatuh di kamar mandi dan pendarahan, padahal usia kandungan nya saat itu masih berusia enam bulan saat itu. Jadi Roberts panik dan melajukan mobil nya dengan gila-gilaan agar cepat sampai ke rumah sakit.
Tapi, saat dia melewati pasar seorang wanita menyeberang tanpa melihat kanan dan kiri terlebih dulu. Tentu saja Roberts terkejut bukan main saat itu, tapi terlambat karena mobil nya pun menghantam tubuh wanita yang sedang berjualan kue basah.
Dagangan nya berserakan terjatuh dari wadah nya, wanita itu juga terjatuh tak sadarkan diri. Bukan maksud hati tak bertanggung jawab, tapi dia sedang di landa kepanikan dan juga dalam keadaan darurat. Terpaksa lah dia meninggalkan lokasi kejadian dan melupakan sejenak kemanusiaan nya.
Karena bagi nya, keselamatan sang istri adalah yang utama sekarang. Hingga dia mengabaikan kalau wanita itu juga manusia, dia berhak mendapatkan penanganan tapi dia malah pergi seolah tak peduli dan tak bertanggung jawab setelah dia menabrak seseorang yang tak bersalah.
"Tidak, aku harus pergi ke rumah sakit dulu. Setelah itu aku akan mencari tahu tentang wanita itu." Gumam Roberts, dia pun mengabaikan sejenak perasaan bersalah nya dan tetap melakukan kendaraan nya ke rumah sakit.
Karma di bayar instan, sesampai nya di rumah sakit, dokter menyatakan kalau istri nya sudah meninggal begitu juga dengan anak nya. Sakit? Jelas! Roberts bahkan jatuh tak sadarkan diri hari selama beberapa jam setelah kejadian hal itu.
Tapi, bukankah dia harus menerima kenyataan dan mengikhlaskan semua nya? Meskipun butuh waktu, tapi akhirnya secara perlahan Roberts bisa melupakan istri dan anak nya yang bahkan belum sempat dia lihat.
__ADS_1
Beruntung saja, Roberts masih punya Syera, putri kecil nya yang cantik masih sangat membutuhkan kasih sayang nya. Itulah yang membuat seorang Roberts bangkit dari keterpurukan nya setelah di tinggal istri dan buah hati nya.
Beberapa hari kemudian, Roberts kembali ke lokasi kejadian untuk mencari tahu tentang wanita yang dia tabrak beberapa hari silam. Ada warga yang mengatakan kalau wanita itu di bawa ke rumah sakit terdekat.
Roberts pun langsung mencari ke beberapa rumah sakit yang dekat dari lokasi itu, tapi sayang nya dia tak mendapatkan informasi apapun. Membuat nya putus asa dan akhirnya mengakhiri pencarian nya. Meskipun dalam hati dia menyesal karena dia bertindak seperti pria jahat yang tak bertanggung jawab.
Flashback Off.
Tak sangka, setelah belasan tahun berlalu kini Roberts malah tak sengaja kembali bertemu dengan nya. Bahkan putra nya, kini menjadi bagian keluarga nya.
Lalu, harus dengan cara seperti apa dia meminta maaf pada Romlah atas kejadian belasan tahun silam yang membuat kaki nya lumpuh? Mungkin juga, dia sudah merampas senyum wanita itu.
Dia baru tahu dari cerita Juan kalau ibu nya itu adalah tulang punggung, dia berjualan kue untuk menghidupi kedua anak nya, Juan dan Rinda yang saat itu masih sangat kecil. Kenapa begitu? Karena suami nya sudah meninggal, jadi mau tak mau Romlah yang harus mencari nafkah untuk membesarkan anak-anak nya.
Menyesal? Jelas, andai saja hari itu dia menolong wanita yang dia tabrak lebih dulu, mungkin rasa bersalah takkan menghantui nya sampai saat ini. Miris nya, wanita itu kini menjadi besan nya. Bagaimana bisa dia mengatakan kalau dirinya lah yang sudah menabrak Romlah?
Tapi itulah penyesalan, selalu datang terlambat. Tiada guna nya, semua nya sudah terjadi dan tak bisa di ulangi lagi. Jadi, yang harus dia lakukan saat ini adalah melakukan pengobatan untuk nya, yang terbaik. Ya, yang terbaik barulah dia akan mengatakan yang sebenarnya pada Romlah setelah dia sembuh nanti.
"Mas, lho kok duduk di lantai gini? Mas kenapa? Sakit?" Tanya Sharon, dia terkejut bukan main saat melihat Roberts bersandar di tembok dengan tatapan kosong nya.
"Enggak kok, Mas baik-baik saja. Gak tau nih, tiba-tiba aja lemes."
"Yaudah, ayo ke kamar. Kamu kurang istirahat kayak nya, Mas."
"Hmm, seperti nya iya, sayang." Jawab Roberts, dia pun membaringkan tubuh nya di kasur. Sharon mengusap wajah Roberts yang nampak pucat.
"Mau makan, Mas?"
"Tolong bawakan air minum saja, sayang."
"Sebentar ya, Mas." Roberts mengangguk dan membiarkan Sharon keluar dari kamar untuk mengambilkan nya air minum.
Roberts memejamkan mata nya, pikiran nya di penuhi oleh Romlah dan nasib nya setelah dia di nyatakan lumpuh, bahkan dia sudah duduk di kursi roda selama belasan tahun. Sungguh, dia tidak bisa membayangkan kehidupan keluarga nya setelah kejadian tragis itu. Dia merasa bersalah pada Juan dan Romlah, benar-benar merasa bersalah.
Roberts menghembuskan nafas nya dengan kasar, cepat atau lambat dia memang harus jujur pada wanita itu. Entah akan seperti apa reaksi Romlah dan Juan atau bahkan Syera. Pasti mereka takkan menyangka kalau dia lah dalang di balik semua penderitaan yang mereka alami selama puluhan tahun.
"Lho, kamu kenapa kamu Shar?" Tanya Syera pada Sharon.
"Ayah kamu tuh, wajah nya pucat. Tadi pas aku masuk kamar, aku lihat dia bersandar lemas di dinding."
"H-aahh, kenapa?"
"Gak tau, ini aku mau ngambil air minum dulu. Udah dulu ya, aku mau nganter minum dulu." Ucap Sharon, Syera menganggukan kepala nya lalu membiarkan Sharon pergi dengan terburu-buru. Sedangkan Syera, dia mendorong kursi roda mama mertua nya ke ruang tamu. Dimana, ada Rinda yang sedang belajar bersama Juan.
"Yang, dari mana?" Tanya Juan begitu melihat sang istri datang bersama ibu nya.
"Habis jalan-jalan sama ibu dari taman belakang, sayang. Kenapa?"
"Enggak, tadi pas aku bangun kamu gak ada. Jadi nya aku nyariin tahu!" Jawab Juan yang terdengar seperti rengekan bagi Syera.
"Hehe, maaf ya?"
"Hmmm, cium dulu. Baru aku maafin."
"Yaudah iya, tapi jangan disini ada Rinda." Jawab Syera. Juan mengangguk dan langsung menarik sang istri ke suatu kamar, ya kamar tamu. Romlah menggelengkan kepala nya melihat tingkah sang putra yang selalu saja membuat nya keheranan. Ada-ada saja tingkah nya yang mampu membuat orang-orang menggelengkan kepala nya begitu melihat kelakuan Juan.
Juan mengunci pintu nya, dia memeluk Melisa dan tanpa basa basi lagi, dia langsung mencium bibir Syera dengan lembut, memaguut nya dengan penuh gairaah. Syera juga menikmati nya, dia mengalungkan kedua tangan nya di leher Juan. Setelah beberapa menit bibir mereka bertaut, Juan menyatukan kening mereka lalu mengecup singkat bibir Syera yang sedikit bengkak karena ulah nya.
"Sayang.."
"Iya, ada apa?" Tanya Syera yang membuat Juan kembali mencium bibir sang istri dengan liar, melumaat nya dengan brutal. Tangan nya juga merayap ke buah kenyal Syera yang menggantung indah di dada nya, kenyal dan berisi membuat Juan nyaman saat memainkan nya.
"Enghhh.."
"Maaf, sayang.." Juan menyembunyikan wajah nya di ceruk leher sang istri, dia juga mengecup basah leher istri cantik nya, lalu kembali memeluk nya.
Tentu saja, hal ini membuat Syera keheranan. Tak biasa nya Juan bersikap manja seperti ini, paling manja nya hanya sewajar nya, tapi ini sudah cukup aneh bagi Syera meski pun wajar-wajar saja jika ingin bermesraan dengan istri sendiri, iya kan?
"Kamu kenapa berubah manja gini, Bby?" Tanya Syera.
__ADS_1
"Gak tahu, lagi pengen aja." Jawab Juan.
"Yaudah, keluar yuk? Kasian tuh Rinda nya, bukan nya kamu lagi ngajarin dia?" Juan mengangguk dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat menggemaskan di mata Syera.
"Uhhh suami siapa sih ini? Kok gemesin gini, aku gak nyangka lho kamu bisa semenggemaskan ini? Padahal dulu, pas awal-awal kamu jadi supir aku, aku kira kamu orang nya datar gitu."
"Nyata nya?"
"Malah kebalikan nya, hehe." Jawab Syera yang membuat Juan terkekeh. Kedua nya pun keluar dari kamar, tapi ternyata Rinda sudah tak ada di ruang tamu. Dia sudah selesai mengerjakan tugas nya dan saat ini dia sedang berada di dapur.
"Lho, Rinda nya kemana?" Tanya Juan sambil celingukan.
"Pengen ngemil kata nya, jadi dia ke dapur. Mama udah larang, tapi dia nya kekeuh."
"Kok di larang, Ma. Kenapa?"
"Ya, mama ngerasa gak enak aja gitu. Kita disini kan cuma.."
"Cukup, Ma. Jangan mengatakan hal-hal yang akan membuat aku kesal, Mama disini sama Rinda itu tinggal sama aku, aku siapa sih? Bukan nya aku juga anak Mama?" Tanya Syera, dia selalu tak suka saat mama mertua nya merendah seperti itu. Dia benar-benar tidak suka, dia ingin hidup damai dan saling melengkapi.
Romlah menundukan kepala nya, lalu dengan lirih dia meminta maaf pada Syera.
"Maafin Mama, Nak."
"Tak apa, ke depan nya jangan pernah merasa kalau Mama itu orang lain disini. Mama adalah keluarga Syera, kita semua keluarga disini." Romlah menganggukan kepala nya, Syera mendekat dan langsung memeluk Romlah.
"Maafin Syera ya, Ma. Syera udah mengatakan hal yang cukup kasar sama Mama, Syera minta maaf."
"Tidak apa-apa, sayang. Tak ada yang perlu di maafkan, Mama tidak apa-apa kok."
"Mama sudah makan?" Tanya Syera, Romlah menggeleng, dia memang belum makan.
"Kita makan dulu ya.." Tanpa menunggu persetujuan, Syera langsung saja mendorong kursi roda mama mertua nya ke dapur. Di sana, terlihat Rinda yang sedang memakan buah dengan lahap.
"Kakak cantik.." Sapa gadis kecil itu pada Syera.
"Hai, sayang. Lagi makan apa?" Tanya Syera sebagai basa-basi saja, karena tanpa di tanya pun harus nya dia sudah tahu kalau Rinda sedang memakan buah.
"Lagi makan buah, kak."
"Enak?"
"Enak, Rinda suka. Buah nya manis sekali." Jawab Rinda sambil tersenyum, saat ini dia tengah memakan buah melon. Biasa nya, Rinda memakan buah melon dari tukang sayur yang rasa nya kadang hambar, tapi melon disini rasa nya sangat manis.
"Ya sudah, makan yang banyak ya?"
"Iya kakak cantik, melon nya enak banget. Disini semua nya ada, Rinda betah deh tinggal disini." Celetuk Rinda.
"Baguslah, kalau begitu Rinda tinggal aja disini sama kakak cantik, sama kak Juan. Mau?"
"Mau mau, tapi gimana Mama? Rinda gak mau Mama sendirian di rumah itu." Jawab Rinda pelan.
"Ya mama juga tinggal disini dong sama Rinda, sama kakak cantik juga."
"H-ahh, serius kak?"
"Iya dong, kakak cantik serius lho ini. Kalau Rinda gak percaya, coba tanya aja sama Mama."
"Beneran, Ma? Kita bakalan tinggal disini sama kakak cantik kan?" Tanya Rinda, Romlah menganggukan kepala nya mengiyakan pertanyaan putri bungsu nya. Gadis kecil itu bersorak kegirangan saking bahagia nya.
Syera tersenyum saat melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Rinda. Se senang itu kah? Padahal hanya akan tinggal di rumah yang sama saja, tapi dia sangat senang.
Setelah selesai dengan acara mengobrol, semua orang pun memulai makan malam, Syera sesekali menyuapi suami nya yang terlihat manja. Di omeli sedikit saja langsung bad mood, sensitif benar calon ayah yang satu ini. Aturan, harus nya Syera yang seperti ini karena dia sedang mengandung.
Tapi yang terjadi justru malah sebalik nya. Bagi nya, Juan yang seperti ini begitu menggemaskan, apalagi saat melihat bibir suami nya mengerucut seperti bebek. Itu merupakan sebuah hiburan bagi Syera.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1