Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 61 - TGSP


__ADS_3

"Syera.." Sharon masuk ke dalam kamar Syera, lalu kembali menutup pintu kamar gadis itu secara perlahan.


"Hmm, ngapain kesini?"


"Enggak, aku cuma.."


"Apa? Nyari informasi buat bokap gue, gitu?" Tanya Syera dengan ketus, membuat Sharon menghela nafas nya, lalu menggelengkan kepala nya pelan.


"Lo kenapa nethink terus sama gue sih, Syer? Kita temenan lho."


"Temen yang kayak gimana dulu, mana ada temen yang nyosor bokap temen nya sendiri?" Sinis Syera membuat Sharon menatap sendu gadis yang sedang duduk di sisi ranjang itu. 


"Itu di luar kendali gue, Syer. Gue nyaman sama bokap Lo, sorry. Tapi sumpah, gue gak manfaatin bokap Lo kok, uang kuliah juga gue pake tabungan hasil jual tanah di kampung." 


"Lo serius?" Tanya Syera, jujur saja salah satu faktor yang membuat nya tak setuju akan hubungan sang papa dan Sharon adalah karena dia menyangka kalau Sharon hanya berniat untuk memanfaatkan papa nya, demi uang. 


"Sumpah, Syer. Gue berani bersumpah demi hidup gue sendiri, Syer."


"Maafin gue, jujur aja gue nyangka kalo selama ini Lo cuma manfaatin bokap gue, gak tulus sama dia, sorry."


"Gapapa kok, gue maafin Lo, Syer."


"Gue restuin Lo kok, kalo seandainya Lo mau nikah sama papah."


"Serius?" Tanya Sharon, dia merasa tak percaya dengan apa yang dia dengar. Harusnya, dia bicara empat mata begini dengan Syera dari awal, pasti dia takkan salah paham padanya. 


"Iya, sebagai bentuk permintaan maaf gue, gimana kalo kita temenan lagi kayak dulu? Tapi, sekarang kita membangun hubungan yang baik antara anak dan ibu, deal?" Ucap Syera, membuat Sharon tersenyum tulus. 

__ADS_1


Dia memang benar-benar mencintai Roberts, bukan karena harta semata tapi karena perasaan nya benar-benar tulus pada pria itu. Meskipun, jarak usia mereka terpaut sangat jauh. Pantas nya, Sharon menjadi putri pria itu, karena putri nya pun sebaya dengan nya. Tapi cinta tidak begitu, dia singgah pada siapa pun tanpa bisa di atur dan tanpa di duga.


"Deal.." Jawab Sharon, kedua nya pun berpelukan. Sudah lama mereka tak berpelukan seperti ini sejak Syera mengetahui hubungan nya dengan sang ayah dan sekarang, Sharon mendapatkan kembali pelukan hangat sahabat nya. 


"Maafin gue ya.."


"Udah, gak usah di bahas lagi. Kita lupain oke?"


"Ya, meskipun gue gak yakin bakalan bisa lupa sih."


"Gapapa, yang penting Lo udah tahu kebenaran nya sekarang. Sorry juga udah bikin Lo salah paham ya, Syer."


"Lo gak sakit hati sama gue?" Tanya Syera lirih.


"Sakit? Enggak tuh, cuma awal-awal doang kerasa sakit nya, tapi sekarang enggak lagi. Gue anggap itu cuma perdebatan antara teman, udah itu doang."


"Sharon.."


"Gue bener-bener minta maaf sama Lo, Sharon."


"Isshh udah, gak usah melow lah. Nanti si Juan marah sama gue karena udah bikin Lo nangis." Ucap Sharon sambil tersenyum, dia mengusap air mata yang hampir saja menetes ke pipi putih nya.


"Haha, iya sih Juan pasti marah banget kalo dia tahu gue nangis." 


"Makanya jangan nangis, nanti cantik nya luntur lho." 


"Iya iya.." Jawab Syera, Sharon pun hanya tersenyum menatap sahabat nya. Meskipun sekarang status mereka akan berubah, tapi hal itu takkan merubah apapun. Mereka akan tetap bersahabat, bahkan mungkin akan lebih dekat karena status mereka yang baru nanti.

__ADS_1


"Shar.."


"Hmm, kenapa Syer?" Tanya Sharon, kening nya mengernyit saat dia melihat wajah Syera yang berubah sendu.


"Gue pengen cerita boleh? Udah lama gue pendam ini sendirian."


"Iya, tentu. Cerita aja, gak usah sungkan kayak sama siapa aja." Jawab Sharon sambil tersenyum kecil.


"Enggak deh, lain kali aja kalo aku dah siap." 


"Kamu kenapa sih, Syer? Ada masalah sama Juan, apa gimana?"


"Enggak kok, aku agak gak enak badan. Aku mau istirahat dulu ya?"


"Iya deh, aku keluar dulu kalo gitu. Kamu mau aku masakin apa nanti buat makan malam?" Tanya Sharon, dia memang pandai memasak. Beberapa kali Syera juga pernah di masakan oleh Sharon, dan dia memuji rasa masakan sahabat nya.


"Soto ayam deh, kamu bisa masak nya?"


"Yes, bisa. Aku jamin kamu ketagihan sama soto buatan aku." Ucap Sharon sambil tergelak. 


"Ya, aku memang sering ketagihan masakan buatan kamu."


"Yuhuu, kalo gitu aku masak dulu ya. Istirahat dulu, kalo udah mendingan cepet turun ya." Ucap Sharon, Syera hanya menjawab dengan anggukan kepala sebagai tanda kalau dia mengiyakan perintah Sharon. 


Setelah Sharon keluar, Syera kembali merenung. Dia bingung, harus dari mana dia menjelaskan semua nya pada sang ayah. Kalau masalah amarah, mungkin Syera masih oke, tapi dia bingung mengatakan semua nya pada sang ayah, terlebih tentang kehamilan nya. 


"Sabar ya, Nak. Maaf, mungkin akhir-akhir ini mama akan sering berpikiran berat karena masalah ini, tapi berjanjilah kalau kamu akan sehat-sehat saja di dalam perut Mama ya, Nak." 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2