Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 77 - TGSP


__ADS_3

"Sayang, sini dong. Bantuin ini, susah." Ucap Syera pada Juan, pria itu pun masuk ke dalam kamar dan melihat istri nya tengah cemberut di atas kasur. Kira-kira, ada apa ya? Kenapa dengan wanita cantik yang tengah hamil itu?


"Kenapa, cantik?"


"Ini nih, tangan aku gak sampe." Ucap Syera dengan rengekan manja nya, Juan pun terkekeh karena dia mengira istrinya butuh bantuan apa, rupa nya hanya meminta bantuan untuk menutup resleting dress yang berada di punggung.


"Yaudah, sini aku bantu." Juan pun membantu Syera, setelah selesai bukan nya tersenyum tapi malah justru sebaliknya.


"Lho, kok malah sendu gitu? Kamu kenapa, sayangku?"


"Lihat ini.." Syera menunjukkan lengan nya yang bergelambir, perut nya yang membuncit nya.


"Ya, terus kenapa?"


"Aku gendut!" Ucap Syera dengan rengekan nya.


"Iya, terus masalah nya dimana, sayang? Siapa sih yang bilang kamu gendut?" Tanya Juan sambil mengusap sudut mata Syera yang meneteskan air.


"Gak ada sih, tapi aku merasa aja kalo sekarang aku gendutan."


"Enggak kok, kata siapa kamu gendut? Malahan, kamu keliatan lebih gemoy." 


"Apa iya? Kamu bohong kan? Kamu bilang gitu supaya aku gak merajuk doang, iya kan?" Tanya Syera sambil menatap suami nya dengan tatapan yang entah apa artinya. Aduh, mood ibu hamil ini cukup membuat Juan terkejut, apalagi melihat perubahan yang terjadi pada Syera baru-baru ini. Dia jadi lebih sensitif, mudah menangis bahkan hanya karena hal sepele. Hanya satu yang tak berubah, nafssu makan nya. Itu tak berubah sedikit pun.


"Enggak, fakta nya memang gitu, sayang."


"Aku kamu serius?"


"Tentu, aku serius, sayang. Sudah ya? Ini bukan masalah yang harus kamu tangisin." Ucap Juan sambil tersenyum, dia merapikan anak rambut Syera yang menutupi wajah cantik nya, lalu menyelipkan nya ke belakang telinga dengan perlahan.


"Aku takut.."


"Takut kenapa lagi? Sini peluk, kalau kamu takut."


"Isshhh, aku takut kalau penampilan aku udah gak menarik lagi."


"Astaga, kok bisa sih kamu berpikiran seperti itu, sayang? Enggak ya, aku gak ada niatan begitu." Juan mengecup kening Syera lalu memeluk nya, menyandarkan kepala wanita itu di dada nya. Bisa Syera rasakan detak jantung pria yang dia cintai itu, terdengar begitu indah bagi Syera yang tengah di mabuk cinta.


"Tapi, sekarang aja aku udah gendut. Apalagi kalo aku hamil besar nanti, aku pasti makin gendut, yang." Keluh Syera.


"Gapapa, dari awal aku tidak menilai seseorang berdasarkan fisik nya, sayang. Aku mencintai mu apa adanya, tidak melihat fisik kamu. Jadi, jangan kayak gini lagi oke?" 


"Aku gak janji, yang." Jawab Syera lirih, membuat Juan langsung melepaskan pelukan nya dan membingkai wajah Syera yang berurai air mata.


"Lihat aku, sayang. Aku mencintai kamu tulus, bukan melihat harta kamu, demi apapun aku mencintai kamu tulus dari hati. Jangan pernah berpikir kalau aku akan meninggalkan mu nanti, tidak akan pernah, sayang."


"Apa kata-kata mu itu bisa di pegang, sayang?" Tanya Syera.


"Tentu saja, lagi pun perubahan bentuk tubuh mu itu karena sedang mengandung anak ku. Jadi, tak ada alasan bagi aku buat gak nerima kamu dan penampilan baru kamu, sayang."


"Makasih sudah mengerti aku, sayang." Syera kembali memeluk Juan dan menduselkan wajah nya di dada bidang Juan.


"Sama-sama, kita memang harus saling mengerti dan memahami satu sama lain, sayang. Aku mencintai mu."


"Aku juga, bahkan aku lebih mencintaimu." Jawab Syera, Juan pun tersenyum lalu mengusap-usap rambut Syera. 


"Sun.." Pinta Syera, bibir nya monyong-monyong meminta Juan untuk mencium nya. Juan terkekeh pelan, lalu mencium bibir istri nya dengan lembut, memagutt dan melumaat nya dengan mesra. Syera mengalungkan kedua tangan nya di leher kokoh milik Juan dan Juan mengangkat sang istri ke atas pangkuan nya. Posisi mereka saat ini terlihat sangat intiim dan mesra. 


"Kakak cantik.." Panggil Rinda yang seketika itu juga langsung menganga melihat pemandangan di depan nya. 


Juan dan Syera juga langsung melepaskan ciuman mereka, Syera langsung turun dari pangkuan Juan dan masuk ke dalam selimut, sedangkan Juan bersiul seolah tak terjadi apa-apa.


"Rinda.." panggil Juan setelah dia bisa menetralisir rasa malu nya, karena terciduk sedang bermesraan, padahal masih sore. Dia tak bisa menyalahkan Rinda sepenuh nya, ini juga kesalahan nya karena tak bisa menjaga nafssu, bibir istri nya terlihat sangat menggoda membuat nya tak tahan untuk tak mencium nya.


"Maaf, kak." Ucap Rinda sambil menundukkan kepala nya. Niat hati ingin mengajak kakak cantik nya untuk membantu nya mengerjakan tugas dari sekolah, malah berakhir dengan melihat adegan dewasa yang harus nya tak pantas di lihat oleh anak sekecil Rinda.


"Gapapa, lain kali kalau mau ke kamar panggil dulu ya, jangan langsung masuk." Ucap Juan dengan lembut, sambil mengangkat dagu Rinda, membuat anak itu mendongak dan menatap wajah teduh sang kakak.


"Iya, kak. Maafin Rinda ya."

__ADS_1


"Iya, gapapa sayang. Tuh, minta maaf juga sama kakak cantik." 


"Kakak cantik, Rinda minta maaf."


"Iya, sayang. Gapapa kok." Jawab Syera dari dalam selimut, jujur saja dia masih malu saat ini. Kelakuan nya di lihat oleh adik ipar nya, aisshh malu nya sampai berkuadrat ini mah.


"Terus, Rinda kesini mau ngapain?"


"Mau minta kakak cantik ngajarin Rinda, itu ada tugas yang Rinda gak ngerti. Kali aja kakak cantik bisa bantu." 


"Yaudah, kamu keluar duluan ya. Nanti kakak cantik menyusul." Ucap Juan.


"Iya kak, sekali lagi maaf ya."


"Gapapa, sayang." Rinda pun keluar dari kamar dengan membawa perasaan bersalah nya. 


Sedangkan Juan, dia membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya. Dia terkekeh saat melihat wajah Syera yang memerah karena malu.


"Sayang.."


"Diem, aku masih malu." Ucap Syera, sambil memejamkan mata nya. 


"Udah, kasian tuh Rinda nya. Dia memfavoritkan kamu sebagai kakak ipar nya, dia mau kamu bantuin dia ngerjain tugas nya." 


"Tapi aku masih malu, Ayy. Sumpah, aku malu banget. Keciduk lagi ciuman sama anak kecil itu beda rasa nya sama keciduk orang dewasa, sayang." Jelas Syera, Juan pun terkekeh.


"Kamu nya minta di sun, yaudah aku sun aja tadi."


"Ya, inti nya kan kita sama-sama ciuman gitu." 


"Iya, aku yang salah. Yaudah, sekarang kamu keluar terus bantuin Rinda nya."


"Malu gak sih? Aku malu deh, yang." Ucap Syera sambil menatap mata sang suami.


"Enggak kok, lupain aja. Anggap gak pernah terjadi apa-apa, okey?"


"Yaudah deh, aku keluar dulu buat bantuin Rinda nugas."


"Sayang, kok malah bengong? Mau makan apa?" Tanya Juan lagi.


"Hehe, aku mau donat." Syera nyengir kuda, membuat Juan tertawa.


"Kenapa kok ketawa sih? Apa nya yang lucu sih, Bby?" Tanya Syera dengan gaya manja nya.


"Wajah kamu pas bilang pengen makan donat tuh keliatan lucu banget, yaudah aku bikinin pake bahan seadanya aja ya, oke?" 


"Emang kamu bisa bikin donat, Bby?"


"Kamu ngeremehin aku nih cerita nya?" Tanya Juan sambil menjawil mesra hidung mancung sang istri. 


"Dih, siapa yang ngeremehin sih. Aku kan cuma nanya aja, sayang."


"Bisa kok, aku bisa bikin donat. Dulu, pas aku masih seusia Rinda, aku sering jualan donat di sekolah. Mama yang bikinin, jadi aku bantu-bantu gitu akhirnya bisa." Jelas Juan yang membuat hati Syera terenyuh, berarti suami nya ini sudah berjuang sejak dia masih berusia sangat muda. 


"Seriusan, sayang?"


"Ya serius, ngapain aku bercanda? Mama kan ketabrak mobil juga pas lagi jualan kue, sayang."


"Ya ampun, sayang.."


"Gak usah natap aku kayak gitu." 


"Enggak, aku bangga aja sama kamu, Ayy. Bahagia banget aku, bisa punya suami pekerja keras seperti kamu."


"Hmmm, ya aku begitu karena terdesak keadaan saja, Bby. Jadi nya aku terbiasa." Jawab Juan, sambil tersenyum manis. Meski keluarga ayah nya keturunan sendok emas, tapi karena mereka tak menganggap nya dan ibu nya sebagai keluarga, jadi dia tak bisa berharap apapun. 


Jadi, paham bukan kenapa sampai saat ini Juan seperti enggan berbaikan dengan keluarga dari sang papah? Karena mereka telah menelantarkan nya, untung saja dia punya ibu yang kuat dan tegar. Kalau tidak, sudah di pastikan dirinya akan menjadi gelandangan atau lebih miris nya lagi, mungkin dia sudah tak ada lagi di dunia ini. 


"Tapi, kamu hebat lho, Bby."

__ADS_1


"Sudah, jangan memuji aku. Sekarang aku mau bikin adonan nya dulu, biar pas makan malam nanti bisa di makan." Ucap Juan, Syera pun mengangguk dan membiarkan suami nya keluar dari kamar lebih dulu. Sedangkan dirinya, harus menetralkan nafas dan keadaan wajah nya yang selalu merona jika mengingat kalau Rinda menciduk nya yang sedang bermesraan di kamar. 


"Kakak cantik.." panggil Rinda lagi, gadis itu benar-benar menurut, dia memanggil kakak ipar nya dari jarak yang agak jauh dan tidak main masuk begitu saja.


"Iya, sayang." Syera langsung keluar dan tersenyum.


"Kakak habis ngapain?"


"Tadi?"


"Bukan, kenapa kok lama di kamar nya?" Tanya Rinda lagi.


"Ohh, ngobrol-ngobrol aja sama kakak kamu. Yaudah, ayo kita kerjain tugas nya." Ajak Rinda sambil menggandeng lengan adik ipar nya. Mereka pun duduk di ruang tamu, Syera terlihat sangat detail saat mengajari Rinda. Dia mengajari Rinda tata cara menemukan rumus yang benar, dengan lembut. Sesekali Syera menggoda adik nya, lalu kedua nya tertawa bersama. 


Hal itu tentu saja membuat hati Romlah menghangat, dia melihat ada sosok keibuan di diri Syera. Selain itu, dia juga sangat mudah akrab dan berbaur dengan orang di sekitar nya, itulah yang membuat Rinda menyukai sosok kakak cantik nya.


"Rumus nya salah, sayang. Kalau kamu pakai rumus yang ini, sampai belut berbulu pun gak bakalan ada jawaban nya. Yang bener, rumus nya yang ini." Ucap Syera pelan, membuat Rinda cengengesan.


"Maafin Rinda ya kak."


"Gapap, sayang. Ayo semangat lagi belajar nya." Rinda pun mengangguk dan kembali mencoba mengerjakan soal-soal yang tadi dia tak bisa itu. 


Hingga akhirnya, Rinda merasa kalau jawaban nya sudah benar. Barulah dia memperlihatkan nya pada Syera.


"Ini sudah benar kak, atau masih salah?" Tanya Rinda, Syera pun melihat kertas berisi jawaban adik nya. 


"Nah, ini sudah benar." 


"Seriusan, kak?" Tanya Rinda, Syera menganggukan kepala nya. Gadis kecil itu nampak tersenyum kegirangan karena dia berhasil menyelesaikan tugas nya dengan bantuan dari kakak cantik nya.


"Sudah ya? Kakak mau liatin Kakak kamu di dapur."


"Juan lagi bikin apa, sayang?" Tanya Romlah, membuat Syera tersenyum kecil saat mendengar Romlah memanggil nya dengan panggilan sayang. Itu cukup membuat hati nya bahagia. Semudah itu memang membuat mood ibu hamil membaik.


"Syera minta di bikinin donat, Ma."


"Juan jago sih bikin donat." Ucap Romlah yang membuat Syera kembali tersenyum manis.


"Iya, Ma. Syera awalnya gak nyangka kalau Juan bisa bikin donat."


"Ya, orang-orang pun seperti itu, mungkin. Tapi, Juan adalah pemuda yang besar dengan perjuangan keras. Dia di dewasakan oleh keadaan yang menuntut nya untuk terus berjuang demi kami berdua dan masa depan nya, sayang."


"Tentu saja, hal itu tidaklah mudah. Beban yang dia tanggung di pundak nya sangat berat, itulah yang membuat pundak Juan kuat."


"Iya, dan aku bangga memiliki suami seperti Juan. Terimakasih karena sudah melahirkan pria sebaik Juan, Mama." Ucap Syera sambil tersenyum. Romlah juga ikut tersenyum lalu menganggukan kepala nya.


Kedua wanita berbeda generasi itu pun masuk ke area dapur, disana terlihat Juan sedang menggoreng donat nya dengan minyak panas. 


"Kok donat nya gak bolong, Bby?" Tanya Syera saat melihat beberapa donat yang sudah jadi, namun tengah nya tidak ada bolongan sama sekali.


"Gak semua yang nama nya donat harus bolong tengah nya, ayang."


"Ohh, gitu? Aku malah baru liat kalo donat gak bolong, hehe." Jawab Syera sambil cengengesan. Sejauh ini, biasa nya dia hanya memakan donat yang ada bolongan di tengah nya. 


"Kamu tahu, kenapa donat bolong tengah nya, sayang?"


"Enggak tuh, emang nya kenapa?"


"Ya karena di bolongin dong, sayang. Astaga, gitu aja kamu gak tahu." Jawab Juan yang membuat Syera mencebik, dia menyangka kalau suami nya akan menggombali nya seperti di film-film. Tapi nyata nya malah begini, menyebalkan.


"Jangan cemberut gitu dong, Ayy."


"Sebel.."


"Ya, karena yang utuh dan bulat sempurna itu cuma cinta aku ke kamu, sayang. Lihat, bahkan donat yang gak bolong ini pun bentuk nya gak bulat sempurna." Bisik Juan yang membuat wajah Syera merona seketika. 


Inilah yang dia inginkan, rupa nya tadi suami nya hanya menggoda nya saja. Aaahhh menggemaskan sekali suami nya, ingin sekali rasa nya dia menciumi suami nya itu, tapi dia malu dan khawatir kalau ulah nya akan terciduk lagi.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2