
Keesokan hari nya, Juan pun mengantar Syera untuk mencari cincin dan gaun yang cocok. Masalah biaya, ternyata semua nya sudah di tanggung oleh Roberts. Juan memang merasa tidak enak karena semua biaya pernikahan di tanggung oleh pihak perempuan, tapi dirinya tidak melakukan apa-apa.
"Sayang, kenapa diam terus dari tadi?" Tanya Syera saat kedua nya sedang dalam perjalanan ke toko perhiasan untuk mencari cincin kawin yang bagus.
"Aku bingung, sayang. Maaf ya?"
"Maaf untuk apa lagi, sayang?" Tanya Syera dengan kening yang mengernyit heran. Akhir-akhir ini, Juan sering meminta maaf.
"Aku tak bisa memberikan apa-apa untuk mu, sayang. Bahkan semua biaya pernikahan, orang tua kamu yang menanggung nya, sayang."
"Tak apa, sayang. Jangan banyak memikirkan hal-hal yang tidak perlu, sekarang kamu hanya perlu menemani aku." Jawab Syera sambil tersenyum manis.
"Hmmm, baiklah." Jawab Juan pelan.
"Yahh, kok lemes gitu sih jawab nya. Yang semangat dong, Ay."
"Iya baiklah, sayangku." Ralat Juan, membuat Syera tersenyum puas.
"Nah gitu dong, kan lebih enak kedengaran nya."
"Iya, jadi sekarang kita kemana dulu? Ke toko perhiasan atau ke butik dulu?" Tanya Juan.
"Nyari cincin dulu deh." Juan pun mengangguk dan dia pun mengemudikan kendaraan beroda empat itu ke toko perhiasan yang berada di mall.
Kedua nya berjalan dengan bergandengan tangan mesra, Syera tersenyum senang begitu juga dengan Juan. Kedua nya saling tatap, lalu melempar senyuman manis. Hingga kedua nya pun sampai di toko perhiasan yang sangat besar.
"Permisi, apa ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Kami mencari cincin kawin yang simple tapi tetap terlihat elegant, kak." Jawab Syera.
"Baik, mari Nona." Ajak nya, Syera pun mengekor di belakang karyawan wanita itu ke sebuah etalase yang di penuhi oleh cincin-cincin mahal. Bahkan ada yang menyentuh angka milyaran rupiah hanya untuk sepasang cincin saja. Bahkan Juan saja di buat menganga oleh harga perhiasan disini, apa dia tak salah membawa Syera ke toko perhiasan ini. Harga nya terlalu mahal bagi dompet nya yang tipis.
Toko ini hanya di peruntukan bagi orang-orang berdompet tebal, bukan untuk pria kere seperti nya. Tapi, saat melihat Syera begitu antusias, dia tak enak jika harus mengajak gadis itu keluar dari toko ini.
"Ini desain yang pertama, Nona. Bisa custom dengan menambahkan nama calon anda di sisi bagian dalam." Jelas nya, Syera melihat nya. Cincin yang cantik dan terlihat sederhana, tapi mungkin tidak dengan harga nya.
"Sayang, bagaimana kalau ini?" Tanya Syera pada Juan, dia meminta pendapat tentang cincin yang pertama ini.
"Aku sih terserah ayang aja."
"Yang ini bagus kan? Bisa custom nama kita di dalam ini, gimana?"
"Iya, sayang. Ini cincin yang sangat bagus, akan semakin cantik kalau kamu yang memakai nya." Jawab Juan sambil tersenyum.
"Isshh, kamu bisa aja."
"Jadi, mau ambil yang ini saja, sayang?"
"Iya, yang ini aja deh ya?" Putus Syera, Juan pun menganggukan kepala nya menyetujui keputusan sang gadis.
"Kak, nama nya Juan sama Syera ya. Di tuker, buat laki-laki nya nama Syera."
"Siap, Nona. Tanggal berapa di ambil nya?" Tanya karyawan itu lagi.
"Lusa, kak."
"Baik, kalau gitu silahkan untuk membayar cincin nya dulu, tak apa setengah nya dulu."
"Saya bayar lunas sekarang ya kak."
__ADS_1
"Baik, Nona. Mari ikut saya." Ucap nya, lagi-lagi Syera dan Juan pun mengikuti langkah sang karyawan itu. Juan pun hanya melihat saja saat Syera menggesek kartu hitam miliknya, ternyata cincin yang di pilih oleh Syera harga nya cukup menguras kantong juga.
"Dengan biaya custom, total nya jadi 15 juta." Syera menganggukan kepala nya mengerti, cincin kawin nya saja 15 juta. Kalau di pikir-pikir uang segitu banyak bisa untuk membuat rumah, tapi ini hanya untuk membeli sepasang cincin kecil. Tapi akan melingkar selama nya.
"Sayang, apa gak kemahalan? Beli cincin semahal ini?"
"Gapapa, sayang. Ini kan buat moment sekali seumur hidup, jadi gapapa. Papah juga gak bakalan marah kalau uang nya aku habisin." Jawab Syera sambil tersenyum. Dia pun menggelayut di tangan Juan, kedua nya pun pergi dari toko perhiasan itu setelah menyelesaikan urusan pembayaran.
"Syera.." Panggil seseorang, membuat Syera langsung berbalik. Dia menatap jengah pada seseorang yang sudah memanggil nya. Martin berdiri menatap sendu ke arah Syera dan Juan, apalagi saat melihat tangan gadis itu bertaut mesra dengan lengan Juan.
"Iya, kenapa lagi, Martin?" Tanya Syera.
"Tidak, sudah lama ya kita tidak bertemu." Ucap Martin sambil tersenyum.
"Iya, bagaimana kabar mu dan istrimu itu?" Tanya Syera lagi, dia ingin tahu kabar tentang istri dari Martin. Siapa lagi kalau bukan Devia, mantan kekasih Juan yang di peristri oleh Martin. Mungkin karena terpaksa, karena insiden hamil duluan.
"Aku baik-baik saja, tapi Devia sudah mengajukan gugatan cerai. Karena ingin mengejar Juan."
"A-aku? Kenapa aku di bawa-bawa disini? Padahal sedari tadi aku hanya diam." Ucap Juan.
"Memang fakta nya seperti itu, Devia nekat menggugat cerai aku karena ingin mengejar masa lalu nya bersama Juan." Jelas Martin membuat Juan mendengus.
"Maaf saja, tapi aku akan memulai masa depan yang baru bersama orang yang baru." Jawab Juan sambil merangkul mesra pundak Syera.
"Datang ya, seminggu lagi aku akan menikah dengan Juan."
"H-ahh?" Tanya Martin, terlihat jelas kalau dia benar-benar terkejut saat ini.
"Kenapa?"
"Kamu serius, Syer?" Tanya Martin lagi.
"Kamu benar-benar serius akan menikah dengan Juan?"
"Memang nya kenapa?" Tanya Juan sedikit ketus.
"Tidak apa-apa, kalau begitu selamat ya Syer, Ju. Semoga menjadi keluarga yang harmonis, langgeng terus."
"Ya, semoga saja. Kalau begitu kami duluan ya, keburu sore banget ini belum dapet gaun." Jawab Syera, dia pun memegang tangan Juan lalu menarik nya menjauh dari posisi Martin. Sedangkan Martin, dia menatap kepergian pasangan itu dengan nanar.
"Semoga bahagia selalu, Syer. Aku berharap sekali kalau Juan adalah pria yang terbaik untuk mu, kamu harus bahagia meskipun tidak dengan ku." Gumam Martin, dia pun pergi dari tempat itu karena pekerjaan nya sudah selesai.
Ya, Martin memang bekerja di mall ini sebagai cleaning servis, karena dirinya di pecat dari pekerjaan yang sebelum nya, dia juga tak melanjutkan kuliah nya karena di DO karena skandal. Akhirnya, dia pun harus bekerja untuk menghidupi diri nya sendiri.
Tadi nya, dia akan berubah demi istri dan calon anak nya, tapi Devia malah meninggalkan nya demi masa lalu nya yang belum usai. Tapi, masa lalu nya sekarang sudah menata masa depan dengan wanita lain yang merupakan mantan pacar nya. Entah akan seperti apa nasib nya nanti, setelah menendang nya tapi tidak di lirik sama sekali oleh Juan.
Menyesal atau tidak? Seperti nya tidak, karena kalau pun akan menyesal dia takkan mempertaruhkan kehidupan nya dan anak nya nanti, untuk sesuatu yang belum pasti akan dia dapatkan.
"Sayang, ngamar dulu apa yak?" Ucap Syera, mereka sudah mendapatkan gaun yang sesuai untuk pernikahan mereka. Pilihan Juan dan Syera jatuh pada gaun putih bersih dengan ekor yang menjuntai, gaun yang mewah dan elegant, sangat cantik saat di kenakan oleh Syera. Bahkan Juan hampir tak berkedip saat melihat Syera mencoba gaun itu tadi.
"Gak capek apa, yang? Nanti aja main nya kita puas-puasin pas udah nikah, gimana?"
"Kamu kenapa sih, nolak aku terus? Apa aku sudah tidak menggairahkan ya?" Tanya Syera, jangan salahkan Syera yang lebih sensitif sekarang. Ini semua karena pengaruh hormon kehamilan nya.
"Bukan begitu, sayang. Biar lebih afdol aja gitu, kalo udah lama gak main kan pas main lebih bernafssu gitu."
"Hmmm, ya sudah terserah ayang aja."
"Jangan di tekuk gitu dong wajah nya, keliatan gemesin tau gak."
__ADS_1
"Iya, iya sayang. Enggak kok, anter aku pulang aja deh." Jawab Syera.
"Iya, sayang." Juan pun mengendarai kendaraan roda empat itu ke arah rumah besar milik Syera.
Juan pun menghentikan laju kendaraan roda empat nya di depan rumah besar milik Roberts, pria paruh baya itu menyambut kedatangan pasangan itu dengan tatapan yang cukup tajam.
"Sudah selesai?" Tanya Roberts sambil tangan yang berkacak di pinggang.
"Sudah kok, Pa. Cincin sudah dapat, gaun juga, Pah." Jawab Syera sambil tersenyum, tapi tangan nya tak mau lepas dari Juan sedetik pun. Dia terlalu nyaman memegang tangan besar itu.
"Bisa gak kamu melepaskan tangan Juan, sayang?" Tanya Roberts.
"Eehh, hehe. Kelupaan, pah." Jawab Syera sambil tersenyum canggung, begitu juga Juan yang memalingkan wajah nya sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Yaudah, aku pulang dulu ya?"
"Gak mau mampir dulu, sayang?" Tanya Syera terdengar seperti rengekan.
"Sudah sore, sudah mendung nanti keburu hujan."
"Hmmm, ya sudah. Hati-hati di jalan nya, ayang."
"Siap, sayang." Jawab Juan, dia pun berpamitan juga kepada Roberts dan Sharon, setelah nya baru dia pergi meninggalkan kediaman mewah milik calon istri nya dengan mengendarai sepeda motor butut milik nya.
Juan mengernyitkan kening nya saat melihat ada mobil sedan berwarna putih yang terparkir rapi di halaman rumah nya, juga ada beberapa orang berbadan kekar yang berjaga di luar rumah.
"Ada apa ini?" Gumam Juan, dia membuka helm nya lalu berlari masuk ke dalam rumah.
"Mama.."
"Iya, sayang. Baru pulang?" Tanya Romlah sambil mendekat ke arah putra nya.
"Itu di luar ada mobil putih, punya siapa?" Tanya Juan dengan nafas yang tersengal karena habis berlari.
"Ini putra yang kamu ceritakan itu, Romlah?" Tanya seseorang yang membuat Juan menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan heran, dia bertanya-tanya, siapa wanita itu? Wajah nya terlihat tidak asing, dia merasa pernah melihat wajah itu, tapi dimana?
"Iya, Ma." Jawab Romlah.
"Ma? Siapa dia memang nya?" Tanya Juan pada sang ibu, membuat wanita baya itu tersenyum kecil.
"Nenek kamu, Ju."
"Hah, sejak kapan aku punya nenek, Ma?" Tanya Juan membuat wajah wanita itu berubah sendu.
"Juan.."
"Apa?" Tanya Juan ketus.
"Dia nenek kamu, mama nya papa kamu."
"Ckk, apa iya? Bukankah selama ini kita hanya hidup bertiga saja, Ma? Lalu dia siapa?" Tanya Juan lagi.
"Juan, gak boleh bicara begitu."
"Memuakkan, aku lelah. Aku ke kamar dulu, Ma." Jawab Juan acuh, dia pun pergi ke kamar nya tanpa melirik sekilas pun ke arah wanita yang mengaku sebagai nenek nya itu bahkan terkesan tidak peduli.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1