
"Sayang.." Panggil Juan sambil menatap sang kekasih yang sedang mengajari Rinda belajar.
"Iya, kenapa? Sudah makan obat nya, sayang?" Tanya Syera, dia menyambut Juan dengan senyuman manis nya.
"Sudah, kamu belum makan dari tadi, sayang."
"Ohh, nanti aja. Aku belum lapar." Jawab Syera membuat kening Juan berkerut.
"Belum lapar? Tapi ini sudah masuk waktu makan malam, sayang."
"Nanti aja, yang."
"Kamu kenapa? Gak biasa nya kamu telat makan gini." Ucap Juan, dia tahu benar bagaimana Syera, dia tak mungkin melewatkan waktu makan malam nya.
"Berat badan aku naik beberapa kilogram akhir-akhir ini, sayang. Jadi, aku mengurangi makan malam." Jawab Syera, membuat Juan paham. Syera adalah gadis yang menjaga benar berat badan nya agar tetap ideal seperti model, tapi Juan tak menyukai hal ini.
"Kamu diet?"
"Iya, bisa di katakan seperti itu, sayang." Jawab Syera tanpa menoleh ke arah Juan yang sudah menunjukkan ekspresi aneh nya.
"Makan sekarang."
"Tapi, sayang.."
"Aku bilang makan, berarti kamu harus makan, sayang." Ucap Juan tegas, lengkap dengan tatapan tajam nya. Tentu saja, hal itu membuat Syera ketakutan.
"Ihhh, kakak. Gak boleh galak-galak sama kakak cantik, kasian." Ucap Rinda pada kakak nya, Juan.
"Gapapa kok, kamu belajar sendiri dulu ya. Kakak makan dulu, keburu kakak kamu marah nanti."
"Dia kalo marah nakutin." Bisik Syera membuat Rinda terkekeh, dia memang akui kalau kakaknya sedang marah seperti malaikat pencabut nyawa, menyeramkan.
"Yaudah, ayoo.." ajak Syera pada Juan.
"Kemana?"
"Temenin aku makan."
"Ohh, iya." Jawab Juan, dia pun mengikuti langkah sang kekasih ke dapur. Dia memperhatikan gadis cantik nya makan dengan lahap. Apalagi opor ayam adalah salah satu makanan kesukaan Syera.
"Selahap ini kamu bilang belum lapar, sayang?" Tanya Juan saat melihat Syera makan dengan sangat lahap.
"Hehe, soalnya aku tadi niat nya mau diet. Tapi kamu suruh makan, yaudah aku makan yang banyak sekalian biar kenyang." Jawab Syera membuat Juan terkekeh.
"Gak usah diet-diet, sayang. Kamu makan aja yang banyak, aku tetep cinta kok."
"Dihh, gombal. Yang ada kamu illfeel nanti kalo aku nya gendut kayak drum." Jawab Syera yang membuat Juan tergelak.
"Astaga, pacar ku ini sangat menggemaskan."
"Hmm, nanti kamu berpaling kalo aku gendut." Ucap Syera lirih.
"Lho, kok ngomong nya gitu sih?"
"Kan bener, laki-laki tuh kalo udah bosen pasti ninggalin."
"Gak semua laki-laki begitu, sayangku. Jadi, jangan menyama ratakan pandangan dan pendapat kamu tentang kaum berterong." Jawab Juan membuat Syera tersenyum kecil. Apa kata nya, kaum berterong?
__ADS_1
"Kalau laki-laki sebutan nya kaum berterong, kalau cewek apa, yang?"
"Kaum berlubang lah, sayang." Jawab Juan yang membuat Syera tertawa. Juan menatap Syera yang sedang tertawa, gadis itu jauh lebih cantik saat tertawa lepas seperti ini. Syera memang receh, begini saja bisa membuat nya tertawa.
"Kamu ini, ada-ada aja sih, yang."
"Kan memang iya, sayang."
"Yaudah deh iya."
"Lanjutin makan nya, sayang. Makan yang banyak, biar makin gemoy." Ucap Juan, dia menambahkan satu potong ayam lagi ke piring Syera.
"Sayang, ini sudah terlalu banyak. Mama, Rinda sama kamu belum makan."
"Aku sudah makan, Mama juga, tinggal Rinda sama kamu yang belum makan." Jawab Juan.
"Makan lagi, kamu makan nya tadi kan pas aku suapin?"
"Hehe, iya."
"Itu sore, sekarang makan lagi. Biar aku suapi." Ucap Syera, dia pun menyuapi Juan lagi seperti tadi sore. Juan pun akhirnya makan lagi, dia tak mungkin menolak keinginan sang kekasih. Bisa-bisa dia merajuk nanti.
"Enak kan? Masakan Mama kamu memang yang paling enak, aku bisa makan nambah berkali-kali kalo begini."
"Makan aja, sayang. Yang kenyang makan nya ya, gak usah diet-diet."
"Iya, sayang." Jawab Syera, sambil tersenyum kecil hingga mata nya menyipit.
Setelah menyelesaikan makan nya, Syera pun langsung mencuci piring nya. Iseng, dia melihat ember yang Syera yakini adalah wadah beras. Gadis itu membuka nya dan seketika itu dia terhenyak. Beras di rumah Juan tinggal sedikit.
"Astaga, beras nya tinggal sedikit lagi. Mana aku numpang makan disini, nambah beberapa kali, aduh jadi malu." Gumam Syera, dia merasa tak enak karena makan hingga beberapa kali nambah tanpa tahu kalau beras di rumah Juan tinggal sedikit.
"Sayang.."
"Lagi apa?"
"Baru selesai cuci piring, sayang."
"Kok kamu cuci piring sih, yang? Kan kata aku juga jangan."
"Gapapa, sayang. Anggap saja ini sebagai rasa terimakasih aku sama Mama karena udah masakin aku makanan seenak ini." Jawab Syera. Juan hanya mengusap rambut Syera dengan lembut lalu tersenyum kecil.
"Kamu sudah mengantuk? Tidurlah duluan, nanti aku menyusul." Ucap Syera, dia pun menyimpan piring yang sudah dia cuci di rak nya. Tapi, Juan malah melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Syera.
"Kamu wangi, bikin aku nyaman.." Ucap Juan lirih, membuat Syera tersenyum kecil.
"Nanti gak enak di lihat Mama, sayang."
"Gapapa, cuma pelukan doang. Belum melihat yang lebih seperti yang sering kita lakukan, sayang."
"Ya ampun, kamu begitu mesuum sayang."
"Aku begini cuma sama kamu doang, kok." Jawab Juan sambil mendusel di ceruk leher Syera, mengendus aroma yang memabukkan yang menguar dari tubuh Syera. Wangi nya, membuat Juan sangat nyaman saat berdekatan dengan gadis cantik itu.
"Iya deh iya, aku juga bakalan marah kalo kamu gini ke cewek lain." Jawab Syera sambil terkekeh.
"Nah kan, kamu juga yang rugi kalau aku gini sama cewek lain."
__ADS_1
"Rugi banget malah." Jawab Syera sambil tertawa.
"Nak, sedang apa?" Tanya Romlah, membuat Juan langsung melerai pelukan di pinggang Syera lalu berdiri canggung di samping gadis itu, sedangkan Syera menebar senyum manis nya.
"Lagi beresin piring, Ma."
"Lho, kamu cuci piring nya? Kan sudah mama bilang, kamu jangan cuci piring nya biar sama Mama aja nanti."
"Gapapa, Mama. Lagian Syera seneng kok bisa melakukan ini." Jawab Syera.
"Ya sudah, biar mama yang selesaikan. Kamu istirahat saja ya."
"Iya, Ma. Rinda sudah selesai sama tugas nya?" Tanya Syera sambil mengelap tangan nya dengan lap yang menggantung di dekat kompor.
"Sudah, sekarang dia sudah tidur."
"Ohh ya sudah, Syera juga mau tidur ya, Ma."
"Iya, sayang." Jawab Romlah, dia pun membiarkan Syera tidur bersama Juan.
Kedua nya berbaring, Syera bersandar manja di dada bidang pria tampan itu, sedangkan Juan sedang mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
"Sayang, aroma mu kenapa semakin wangi sih?" Tanya Syera, dia mengendus aroma tubuh Juan. Jika tadi Juan yang melakukan hal itu, sekarang gantian Syera lah yang melakukan nya.
Gadis itu sangat menyukai aroma maskulin yang menguar lembut dari tubuh Juan, apalagi di bagian ketiak nya. Padahal, selama ini Syera tak pernah melihat Juan memakai parfum atau semacam nya. Itulah yang membuat aroma nya begitu khas.
"Wangi apa? Aku gak mandi hari ini, harus nya mungkin bau asam, sayang."
"Enggak, ini wangi sekali. Apalagi disini." Ucap Syera sambil mendusel di ketiak Juan.
"Astaga, sayang. Jangan mendusel disana, bau."
"Aku malah suka wangi nya, sayang." Jawab Syera membuat Juan terkejut, apa ini karena pengaruh perasaan cinta? Hingga bau ketiak saja berubah menjadi wangi? Tapi, tidak mungkin kan ya?
"Sayang, geli.." Ucap Juan saat Syera semakin menduselkan wajah nya disana.
"Geli ya? Tapi aku suka, gimana dong?" Tanya Syera sambil terkekeh.
"Ya sudah, kalau tuan putri suka gapapa deh." Pasrah Juan, dia membiarkan saja gadis nya mendusel di ketiak nya, ya meskipun geli tapi dia rela menahan nya dari pada membuat sang kekasih merajuk nanti.
"Uhh, sayang ku. Makin cinta deh sama kamu kalo pasrah gini." Ucap Syera sambil mengecupi wajah Juan.
"Sayang, ihh basah.."
"Biasa nya juga tukeran ludah." Cetus Syera sambil tersenyum membuat Juan ikut tersenyum juga.
"Sini dong kamu nya, kangen." Syera pun semakin mengeratkan pelukan nya pada Juan, begitu pula dengan Juan. Memeluk Syera membuat kepala nya yang sedari tadi berdenyut nyeri sekarang tidak lagi. Syera seperti obat bagi nya, hanya bersama gadis itu mampu membuat penyakit nya sembuh.
"Terimakasih sudah merawat ku dengan baik, sayang." Ucap Juan.
"Sama-sama, sayang."
"I love you, baby.." bisik Juan di telinga Syera, gadis itu mendongak lalu tersenyum manis.
"I love you more, honey." Balas Syera, lalu kedua nya pun kembali berpelukan erat. Lalu tertidur dengan saling memeluk satu sama lain.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻