Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 55 - TGSP


__ADS_3

Setelah di bujuk setengah mati, akhirnya Juan pun mau di rawat di rumah sakit. Meski pun awalnya Juan bersikukuh tak mau ke rumah sakit, tapi begitu melihat tatapan Syera, dia tak mampu menolak dan akhirnya mengiyakan saja. 


"Hati-hati ya, Nak.." Ucap Romlah, dia menatap putra nya dengan sendu. Dia merasa bersalah karena tak bisa memberikan pengobatan yang terbaik untuk putra nya sendiri. 


Sekarang, malah orang lain yang ternyata sangat tulus mencintai putra nya yang memberikan pengobatan untuk nya. Dia merasa gagal menjadi orang tua, di saat seperti ini saja dia tak bisa melakukan hal apapun.


"Iya, Ma. Ada Syera kok sama Juan, mama gak usah khawatir. Biar Syera yang nungguin Juan." Bukan Juan yang menjawab, tapi Syera. 


"Nak, mama nitip Juan ya? Dia suka rewel kalau sakit."


"Iya, Ma. Mama tenang saja ya? Serahin semua nya sama Syera." Jawab Syera lagi sambil tersenyum manis. Dia mengusap wajah tua Romlah dengan lembut, lalu dengan lembut mengecup kening keriput nya. 


Romlah terkejut setengah mati, apa Syera tak jijik melakukan hal itu pada nya? Tapi, melihat mata nya selalu memancarkan ketulusan yang terlihat jelas dari tatapan dan cara gadis itu menatap nya.


"Nak.."


"Iya, Ma?"


"Kamu tak jijik melakukan hal itu?"


"Kok jijik? Enggak dong, kenapa harus jijik?" Tanya Syera sambil terkekeh pelan.


"Mama orang miskin, kotor juga. Berbeda sama kamu, Nak."


"Isshh, jangan gitu, Ma. Syera gak suka kalo mama bicara seperti itu lagi. Syera sayang sama Juan, berarti Syera juga harus menyayangi keluarga nya juga kan? Jangan merendahkan diri, Ma. Syera benar-benar tulus sama kalian." Jawab Syera. 


"Nak.." kedua mata Romlah berkaca-kaca, ini adalah kedua kali nya dia merasa di cintai setulus ini. Pertama, dia di cintai oleh suami nya. Lalu sekarang, di cintai sedemikian tulus nya oleh orang asing yang menjadi kekasih putra nya. Syera benar-benar calon istri dan menantu idaman. 


"Jangan menatap Syera seperti itu, Ma. Ini terlalu berlebihan." Ucap Syera sambil tersenyum. 


"Mama hati-hati di rumah, kalo ada apa-apa telepon Syera ya." 


"Iya, nak." Jawab Romlah. 


Syera pun membantu Juan untuk berjalan, tapi di luar Syera tersenyum kecil saat melihat ibu-ibu yang saat itu berurusan dengan nya datang dengan berjalan pelan. 


"Ini uang ganti rugi nya." Ucap nya sinis, sambil memberikan uang di dalam amplop.


"Ibu benar-benar istri pejabat ya? Uang nya masih bau bank." Jawab Syera dengan sindiran, membuat wanita itu mendelik kesal. Semua orang disini tahu, kalau suami nya hanya pegawai biasa, bukan pejabat. 


Syera menerima uang nya, lalu menghitung nya tepat di depan mata wanita itu. 


"Uang nya sudah cukup, sepuluh juta. Artinya, lunas ya. Saya takkan memperpanjang masalah ini, terimakasih dan lain kali tolong jaga attitude anda sebelum merugi lebih banyak." Nasehat Syera, ibu-ibu itu hanya memalingkan wajah nya lalu pergi dari depan Syera dan Juan.


Syera memasukan uang nya ke dalam tas, lalu membiarkan Juan duduk. Sedangkan Syera kembali ke rumah Juan, mengambil beberapa pakaian ganti. Khawatir kalau Juan harus di rawat inap beberapa hari.


"Ma, ini bekal buat Mama. Selama Juan sama Syera di rumah sakit, gunakan uang ini dengan baik ya." Syera memberikan setengah uang dari ibu-ibu tadi pada Romlah. 


"Sayang, tak perlu begini. Kamu mau membawa Juan berobat saja, Mama sudah sangat senang."


"Gapapa, Ma. Ini buat bekal Mama sama Rinda." 

__ADS_1


"Sayang.."


"Di terima ya, Ma?" Bujuk Syera, akhirnya Romlah pun menerima nya. 


"Hati-hati ya, Nak. Kabari Mama kalau keadaan Juan sudah membaik."


"Pasti, Ma. Syera pergi dulu ya." Pamit Syera, Romlah pun menganggukan kepala nya.


"Anak cantik, kakak pergi dulu ya. Ingat, kalau ada apa-apa segera kabari Kakak, oke?" 


"Iya, kak." Jawab Rinda. 


"Kakak berangkat." Syera pun berbalik lalu masuk ke dalam mobil nya. Dia pun melajukan kendaraan roda empat itu menjauhi rumah sederhana milik Juan. 


Rinda dan Romlah melambaikan tangan mereka, beruntung sekali mereka bisa mengenal sosok gadis seperti Syera. Selain cantik, dia gadis yang sangat baik, pengertian dan perhatian pada lingkungan sekitar nya. Meskipun begitu, dia tetap merasa tak enak. Khawatir dia akan di sangka memanfaatkan kebaikan Syera, tapi mungkin gadis itu tak merasa begitu.


"Yang, pusing.."


"Tahan dulu ya? Mau muntah, sayang?" Tanya Syera, Juan menggembungkan pipi nya dia tak kuat menahan desakan di perut nya. 


"Sa-yang, gak kuat.." Syera langsung berhenti dan mengambil kantong kresek yang memang sengaja dia bawa. 


"Ini, muntahkan disini, sayang." Pinta Syera, Juan pun menurut dan akhirnya dia muntah di dalam kresek itu. Syera memijat tengkuk leher belakang Juan dengan lembut, dia juga mengusapkan minyak kayu putih di tengkuk nya. 


"Sayang, keluarlah.." Pinta Juan. 


"Kenapa aku harus keluar, sayang?" Tanya Syera dengan kening berkerut.


"Tidak, aku tidak jijik sama sekali, sayang. Jangan berkata seperti itu, aku sudah mengatakan kalau aku akan mengurus mu dengan baik, sayang." Jawab Syera, dia pun tetap memijat tengkuk sang kekasih. 


"Aaahhh lemas sekali, sayang."


"Minumlah, sayang." Syera mengulurkan air mineral, Juan pun meminum nya namun terasa pahit.


"Pahit, yang."


"Ini, ada permen. Makan ya, biar gak terlalu pahit." Syera membukakan bungkus permen itu dan membiarkan Juan memakan nya.


"Sudah merasa lebih baik, sayang?"


"Iya, sayang. Agak ringan dikit kepala nya." Jawab Juan sambil memegang kepala nya yang masih berdenyut nyeri.


"Ya sudah, kita lanjutkan ya?"


"Pelan-pelan saja, yang." Pinta Juan, Syera pun mengangguk lalu keluar lebih dulu untuk membuang bekas muntahan Juan ke selokan. Setelah itu, dia pun kembali masuk dan mengemudikan kendaraan nya. 


Syera mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan yang pelan, agar Juan tidak terlalu pusing nanti. Setan cukup lama berkendara, akhirnya mobil yang di kendarai Syera sampai di rumah sakit terdekat. Gadis itu membantu Juan untuk keluar, pria itu benar-benar sudah lemas tak berdaya. 


"Sus, bantu saya.." Pinta Syera, dia cukup kesulitan membawa tubuh Juan yang berkali-kali lipat lebih besar dari pada tubuh nya.


"Baik, Nona. Kenapa?"

__ADS_1


"Dia muntah-muntah, sus. Jadi nya lemes kek gini, saya khawatir kalau dia kehabisan cairan."


"Ya, sebaiknya memang di infus saja." Jawab perawat itu. Akhirnya, Juan pun harus di infus untuk yang kedua kali nya. Syera selalu berada di samping Juan, tak meninggalkan nya sedetik pun, seperti janji nya. 


"Yang, dingin.."


"Sebentar, aku akan minta selimut tambahan sama perawat ya." 


"Jangan lama, yang." Pinta Juan, Syera mengangguk. Toh, dia hanya meminta selimut tambahan bukan pulang atau kemana. Terlihat jelas kalau Juan tak mau berjauhan dari nya.


Tak lama kemudian, hanya sekitar lima menit saja, Syera sudah kembali dengan membawa selimut. Syera pun menyelimuti Juan dengan selimut itu.


"Sayang, kamu lapar? Atau ingin makan sesuatu?" Tanya Syera pelan, sambil menggenggam tangan Juan, mengusap-usap punggung tangan nya dengan lembut.


"Tidak, aku hanya ingin bersama kamu saja, sayang." Jawab Juan. 


"Aku laper, hehe. Belum makan aku, yang." Jawab Syera sambil cengengesan.


"Yaudah, kamu makan aja dulu."


"Aku udah pesan online, sebentar lagi mungkin kurir nya akan mengirimkan nya kesini, sayang."


"Maaf ya.."


"Maaf untuk apa, sayang?" Tanya Syera pelan.


"Aku sudah merepotkan kamu."


"Sayang, jangan bicara seperti itu. Aku tidak merasa di repotkan sama sekali." 


"Tapi.."


"Sudahlah, jangan banyak pikiran. Sekarang, fokus saja pada kesehatan kamu, sayang. Biar cepet sembuh, kamu gak kangen lubang aku? Kering nih, gak di semprot." Goda Syera membuat Juan tersenyum kecil. 


"Kangen banget, kita udah empat hari gak main kan?"


"Iya, makanya cepet sembuh. Aku gatel, pengen di masukin." Ucap Syera sambil terkekeh, begitu juga dengan Juan.


"Gatel?"


"Hehe, iya gatel yang."


"Awas aja kalo kamu minta di ituin sama cowok lain!" Tegas Juan membuat Syera tertawa.


"Aku gak semuraahan itu kali, sampe minta di itu sama cowok lain." 


"Bukan gitu maksud aku, yang."


"Sudahlah, aku ngerti kok. Lagian aku gak tersinggung." Jawab Syera, membuat Juan menghembuskan nafas nya lega. Untung saja, Syera tak sebaperan itu. Kalau Syera baperan, sudah pasti hal tadi akan memancing peperangan.


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2