Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 62 - TGSP


__ADS_3

Syera keluar dari kamar saat waktu makan malam, aroma soto membuat perut nya lapar. Sharon tersenyum manis saat melihat Syera turun dengan hati-hati. 


"Selamat malam, Syer.."


"Malam, Shar.." Balas Syera, membuat Roberts keheranan, apa hubungan kedua nya sudah mulai membaik? Terlihat dari Syera yang membalas ucapan Sharon dengan senyuman manis.


"Ayo makan, nih soto ayam buatan aku." 


"Kerupuk? Sambel nya?" Tanya Syera sambil celingukan. 


"Jangan makan sambel, nanti Juan marah." Ucap Sharon membuat Syera mendengus.


"Selalu aja Juan, dia kan gak bakalan tahu, Shar." 


"Tetep aja, nanti perut kamu sakit. Dia marah sama aku nanti, nurut." Syera hanya menganggukan kepala nya menuruti ucapan Sharon. Memang bahaya sih kalau sampai Juan tahu kalau dia makan pedas, apalagi dengan keadaan nya saat ini yang sedang hamil muda. Dia harus benar-benar menjaga makanan nya.


"Kenapa harus Juan? Papa juga marah kalo kamu makan pedes."


"Syera gak takut sama papa, Syera lebih takut sama Juan." Jawab Syera sedikit ketus, membuat Roberts terheran-heran.


"Apa Juan semenakutkan apa saat dia marah?" Tanya Roberts.


"Pokoknya dia nyeremin kalo lagi marah, pa." Jawab Syera, dia pun makan dengan lahap. Bahkan sampai menambah nasi nya dua kali.


"Gimana, enak kan soto nya?"


"Mantul, makasih ya Shar udah nurutin ngidam aku." Jawab Syera samb tersenyum manis yang membuat mata nya menyipit seperti bulan sabit. 


"Apa, ngidam? Kamu lagi hamil, Syer?" Tanya Sharon membuat Syera mendelik ke arah sahabat nya itu. Dia keceplosan seperti nya, ohhh astaga mulut nya memang tak bisa di rem jika sudah bicara.


"Apaan sih? Kagak lah, ya kali." Jawab Syera dengan senyum canggung nya. Namun, mata Sharon menyipit menatap gadis di samping nya, seperti nya dia tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Syera. Berbeda dengan Roberts yang seperti nya percaya dengan alasan yang di berikan oleh Syera, terlihat dari kepala nya yang mengangguk-angguk. 


"Kamu sudah lama sama Juan?"


"Dua bulan." Jawab Syera santai, tanpa menoleh ke arah sang papa. 


"A-apa? Artinya setelah kamu putus dengan Martin, nak?"


"Ya, aku nyaman dengan Juan. Dia yang selalu ada saat aku merasa terpuruk, pa. Juan pria yang baik, bijak, dia juga dewasa sesuai usia nya." Jawab gadis itu, secara langsung dia membanggakan Juan di hadapan sang papa. 


"Syera mau nikah sama Juan, Pa." Celetuk Syera yang membuat Roberts sedang minum itu tersedak hingga wajah nya memerah.


Uhukk.. uhukk.. 

__ADS_1


"Mas, pelan-pelan minum nya dong." Ucap Sharon, dia membawakan segelas air minum, dia juga memijat pelan tengkuk leher Roberts dengan lembut. Dia juga terkejut dengan ucapan yang terlontar dari mulut Syera begitu saja, gadis itu juga nampak tenang, tak terlihat kalau dia terbebani dengan apa yang dia katakan barusan.


"Jangan bercanda, Syera! Pernikahan itu bukan mainan, kamu tak bisa sembarangan begini."


"Sembarangan? Cukup dua bulan ini Syera membuktikan kalau Juan memang pria yang baik dan tepat buat Syera, pah." Jawab Syera, kali ini dia mendongak menatap dalam mata sang papa. 


"Pertimbangkan lagi, bagaimana masa depan kalian nanti nya? Juan hanya seorang supir!" 


"Ohh, jadi papa meragukan Juan karena pekerjaan nya? Apa salah nya memberi Juan kesempatan, pah? Juan masih muda, dia pasti punya semangat untuk bekerja." 


"Meskipun begitu, tetap saja papah kurang setuju kalau kamu ingin menikah dengan pria yang kurang mapan." Tegas Roberts membuat mata Syera menajam.


"Kalau papa tak merestui aku dengan Juan, baiklah. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan." 


"Jangan nekat, Syera!"


"Aku tak peduli." Jawab Syera, dia pun meletakan sendok dan garpu dengan sedikit kasar, lalu pergi dari ruang makan. 


"Syera!" Panggil Roberts sedikit berteriak, tapi Syera tak peduli sama sekali. Dia tetap melangkahkan kaki nya ke kamar, meniti satu persatu anak tangga dengan cepat. 


Tapi, seperti nya Syera kurang hati-hati hingga akhirnya dia tergelincir dan jatuh dari tangga. Sharon langsung berlari untuk menangkap tubuh Syera yang jatuh, darah segar mengalir dari bawah tubuh nya, juga dari kepala nya. 


"Syer.." Teriak Roberts, dia juga langsung berlari mendekat ke arah sang putri yang sudah tak sadarkan diri di pangkuan Syera. 


Sharon menangis sambil menepuk-nepuk pelan pipi Syera, tapi hasilnya tetap saja nihil karena gadis itu tak kunjung bangun juga.


"Apa ini?"


"Darah, Mas." Jawab Sharon lirih, air mata nya terus menetes membasahi wajah cantik nya. 


"Mas, ayo bawa Syera ke rumah sakit, Mas.." Ajak Sharon, Roberts pun langsung mengambil alih Syera dan membawa nya dalam gendongan nya. Pria paruh baya itu berjalan cepat setengah berlari keluar dari rumah menuju mobil. Sharon terus menangis sesenggukan, dia tak pernah menyangka akan seperti ini akhirnya. 


Roberts melajukan kendaraan roda empat nya itu dengan kecepatan tinggi karena sedang dalam keadaan darurat. Kening pria itu berkeringat karena harus fokus mengemudikan mobil nya agar tidak oleng saat ini, dia juga mengkhawatirkan keadaan putri nya. 


Namun, satu yang jadi pertanyaan nya. Kenapa bisa ada pendarahan dari bawah juga? Setahu nya pendarahan semacam ini bisa terjadi karena keguguran kan? Tapi, putri nya tidak hamil. Lalu kenapa? 


Memang, saat Syera turun dari kamar nya dia mengenakan dress selutut jadi saat darah nya keluar langsung merembes dan mengalir di kaki gadis itu. 


Roberts benar-benar gila-gilaan membawa kendaraan nya, dia benar-benar khawatir dengan keadaan putri nya. Hingga akhirnya perjuangan nya selama hampir setengah jam terbayar sudah, saat ini mobil yang di kendarai oleh Roberts sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Roberts pun kembali menggendong Syera ala bridal style ke ruangan IGD. Kebetulan, ada satu perawat yang berada disana.


"Sus, tolong putri saya."


"Pendarahan seperti ini? Cepat, tuan.." Perawat itu langsung membawa Syera masuk ke ruangan dan menutup pintu nya membuat Roberts tak bisa masuk. Akhirnya, pria paruh baya itu hanya bisa menunggu dengan harap-harap cemas di luar ruangan.

__ADS_1


"Mas, tenang ya. Syera pasti baik-baik saja kok." Ucap Sharon, dia mengusap pundak Roberts, berusaha menenangkan pria itu. Meskipun dia tahu kalau saat ini Roberts tengah kalut, karena hal ini terjadi setelah dia berdebat dengan putri nya itu.


"Duduk ya, Mas?"


Roberts pun duduk di samping Sharon, dia menutupi wajah nya dengan kedua tangan. Dia terus mengusap pundak Roberts hingga dia teringat sesuatu.


"Apa kita harus memberitahu Juan, Mas?"


"Beri tahu dia lewat telepon, sayang." Jawab Roberts lirih. Sharon pun mengangguk dan langsung merogoh ponsel nya, beruntung saja dia punya nomor Juan jadi bisa menghubungi nya saat ini. 


Gadis itu menelpon nomor Juan, tapi hingga beberapa kali panggilan, tak kunjung di angkat juga, entah kemana pria itu pergi. Namun, Sharon tak mau kalah, dia tetap mencoba menghubungi nomor Juan dan akhirnya usaha nya membuahkan hasil juga. 


'Hallo, Nona..'


"Dimana, Ju? Bisa ke rumah sakit di jalan anggrek sekarang?" Tanya Sharon. 


'Ada apa? Siapa yang sakit, Nona?' Tanya Juan di seberang sana.


"Syera, dia terjatuh dari tangga. Dia tak sadarkan diri saat ini, juga pendarahan. Jadi, cepatlah kesini sekarang juga, Juan!" 


Deghh.. 


Saat itu juga, jantung Juan terasa berhenti berdetak. Pendarahan? Jatuh dari tangga? Astaga, kenapa hal seburuk ini bisa terjadi? 


'Baik, saya kesana sekarang, Nona.'


"Ya, cepatlah Ju. Syera sangat membutuhkan kamu saat ini."


'Iya Nona.." Jawab Juan, panggilan pun terputus. Di tempat Juan berada, pria itu langsung bersiap-siap, memakai hoodie yang cukup tebal agar dia tak merasa kedinginan nanti disana, tak lupa celana panjang dan sendal capit nya. 


"Mau kemana malam-malam begini, Ju?" Tanya Romlah, kebetulan dia berpapasan dengan Juan di ruang tamu.


"Ke rumah sakit, Ma. Syera jatuh dari tangga, kondisi nya saat ini tak sadarkan diri. Dia juga pendarahan, Ma." 


"Pendarahan, Nak?"


"Iya Ma.." Jawab Juan lirih, nyaris tak terdengar. Tatapan mata nya terpancar jelas rasa sakit dan kesedihan.


"Pergilah, hati-hati di jalan nya."


"Doain Syera sama cucu Mama semoga mereka baik-baik saja ya, Ma." Ucap Juan sambil berlutut pada ibu nya.


"Iya, pergilah. Syera pasti sedang membutuhkan mu saat ini, Nak." Juan menganggukan kepala nya, lalu berangkat ke rumah sakit dengan motor butut kesayangan nya.

__ADS_1


.....


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2