
Setelah selesai dengan urusan perdonatan, akhirnya Syera dan Juan pun bisa beristirahat juga. Syera menduselkan wajah nya di ceruk leher Juan, saat ini wanita hamil itu berada di atas tubuh Juan sambil menghirup aroma memabukkan yang menguar dari tubuh suami tampan nya, sedangkan Juan hanya mengusap-usap punggung istrinya dengan lembut.
Sebenarnya, dia ingin menolak saat istrinya merangkak menaiki tubuh nya karena berat ya kan, tapi saat menyadari kalau istri nya itu sedang manja-manja nya, dia pun akhirnya pasrah dan membiarkan saja sang istri melakukan apapun yang dia inginkan. Selama bukan merengek ingin makan makanan yang tak ada di rumah.
"Kamu wangi.." Ucap Syera, yang membuat Juan terkekeh.
"Wangi apaan? Paling bau keringet, aku kan habis masak, habis bikinin donat untuk istriku sayang."
"Ini nyindir apa gimana?" Tanya Syera yang membuat Juan terkejut sekaligus heran. Di mana kata-kata nya yang mengandung unsur menyindir?
"Enggak lho, mana ada aku nyindir."
"Yaudah deh, kali aja kamu nyindir karena aku gak bantuin plus gak bisa masak." Ucap Syera sedikit ketus, membuat Juan terkekeh.
"Aku gak ada nyindir apapun, sayang. Maaf, kalau misalnya ucapan aku bikin kamu tersinggung."
"Iya iya, jadi sekarang kita main satu ronde yuk?" Ajak Syera sambil tersenyum menggoda.
"Gak capek apa, yang? Aku heran deh sama kamu, kok kamu doyan banget sih? Setiap malam minta, libur malam ini ya? Pinggang aku sakit, tapi kalau kamu yang di atas sih aku gapapa." Jawab Juan, membuat Syera terlihat menimang-nimang.
"Aku gak bakalan sanggup kalo dari awal sampai akhir, Bby."
"Terus?"
"Ya bantuin lah, kamu kan juga sama-sama enak." Jawab Syera sambil cemberut.
"Iya-iya, sayangku." Kalau sudah begini, sebaiknya turuti saja, padahal pinggang nya terasa sangat sakit karena harus bekerja ekstra setiap malam untuk mengangkul sawah milik istri nya. Ya meski rasa nya tak pernah membuat nya bosan, tapi tetap saja membutuhkan tenaga. Apalagi si junior kalo udah masuk ke sarang nya, pasti suka lama keluar.
Syera pun berbinar, dia pun turun dari tubuh sang suami, dia pun menurunkan segitiga milik nya, juga menarik boxer yang di pakai oleh Juan hingga terbuka sempurna.
"Jangan di buka semua kali ya, Bby?"
"Iya, bawahan aja yang di buka. Yuk cepet, udah basah apa belum?" Tanya Juan, Syera menggelengkan kepala nya. Juan pun mulai bermain, memberikan sentuhan-sentuhan di titik sensitif sang istri, setelah merasakan kalau inti nya sudah basah, barulah dia meminta Syera untuk menduduki si junior.
"Pelan-pelan aja masukin nya, Bby." Ucap Juan, Syera menurut dan dia memekik tertahan saat si junior berhasil masuk semua nya.
"Aasshh.."
"Sakit?" Tanya Juan.
"Enggak kok, enak malahan. Aku suka, pake banget. Di dalam sini, berasa penuh banget." Jawab Syera, dia pun mulai bergerak naik turun secara perlahan. Tapi beberapa menit kemudian, dia mempercepat gerakan nya karena dia ingin meraih pelepasan nya.
Benar saja, hanya beberapa menit saja Syera berhasil mendapatkan klimaaks pertama nya di penyatuan malam ini. Dia ingin mendesaah keras seperti biasa nya, tapi dia harus ingat kalau saat ini mereka sedang berada di rumah Juan, rumah ibu mertua bagi Syera.
"Keluar?"
"Iya, sayang. Enak banget."
"Oke, yuk sekarang tinggal aku nya yang belum keluar."
"Lemes.." rengek Syera, sudah Juan duga kalau istrinya akan merasa lemas setelah keluar. Kalau sudah begini kepalang tanggung kan, dirinya juga ingin meraih pelepasan, akhirnya dia pun mengambil alih permainan meskipun dia takkan bisa bermain cepat karena pinggang nya yang terasa sakit.
Juan mengubah posisi, sekarang istrinya berada di bawah tubuh nya, menunggu untuk kembali di hajar oleh junior Juan yang selalu membuat Syera menggila.
"Aahh.." Syera mendesaah tertahan begitu senjata milik suami nya kembali tertanam sempurna di bagian bawah nya.
Juan pun langsung membungkam bibir mungil itu dengan ciuman dalam nya, lalu memulai gerakan nya dengan tempo yang cepat, membuat tubuh Syera terguncang hebat. Kalau tidak di bungkam oleh ciuman seperti ini, biasa nya Syera akan berteriak heboh. Kalau di rumah nya tak masalah, karena kamar papa nya juga ada di bawah jadi aman. Kalau disini? Kan bahaya, apalagi ada bocil.
"Aaarrghhhh.." Juan mendapatkan pelepasan nya, dia menekan si junior hingga masuk lebih dalam menyentuh titik denyut istri nya.
"Terimakasih, istri ku sayang." Bisik Juan, lalu mengecup kening sang istri dalam, lalu mengecup pipi kanan dan kiri sang istri, terakhir juga mencium mesra bibir nya.
"Ka-mu berat, sayang."
"Iya, sayang." Jawab Juan, dia pun berguling ke samping dan menarik istri nya ke dalam pelukan.
"Nih, lap dulu pake ini. Pasti rembes, iya kan?" Tanya Juan, dia mengulurkan kaos yang tadi dia kenakan.
"Kebiasaan, pasti di lap pake baju kamu."
__ADS_1
"Gapapa, sayangku. Itu kan cairan kita berdua, bercampur jadi satu." Jawab Juan sambil tersenyum kecil.
"Iya deh, dari pada basah gini gak nyaman. Kalo ke kamar mandi, aku malu kalo ketahuan Mama atau Rinda."
"Iya, lagian ke kamar mandi malem-malem gini dingin, Bby. Mendingan kelonan sama aku." Jawab Juan yang membuat Syera terkekeh. Dia pun menduselkan wajah nya di dada polos Juan, sudah biasa kalau tidur dia tidak pernah memakai baju, hanya celana kolor atau boxer saja.
"Selamat tidur, istri ku sayang."
"Iya, selamat tidur juga untuk suami tampan ku." Balas Syera, Juan pun mengecup singkat kening sang istri dengan lembut, lalu kedua nya pun tertidur dengan saling memeluk satu sama lain.
Keesokan hari nya, pagi-pagi sekali Juan sudah terbangun dari tidurnya. Juan memang punya kebiasaan bangun pagi, itulah yang membuat rezeki nya selalu ada tanpa di duga. Syera meraba kasur di samping nya, kosong bahkan sudah terasa dingin.
Syera membuka kedua mata nya yang masih terasa berat, dia merapatkan selimut nya karena merasa sejuk. Disini, berbeda dengan di rumah nya. Jika tidak menggunakan AC, pasti akan terasa sangat panas dan membuat nya berkeringat. Tapi, disini tidak menggunakan kipas apalagi AC, tapi dingin nya seperti di kutub.
Syera mengambil cardigan rajut milik nya, tak lupa dia juga mengenakan segitiga milik nya, lalu keluar dari kamar setelah nyawa nya terkumpul sempurna.
"Sayang.."
"Iya, ada apa cantik?" Jawab Juan, pria itu tengah mengaduk masakan di wajan.
"Kenapa gak bangunin aku, yang?"
"Gak tega aja, kamu tidur nya nyenyak banget, Bby."
"Tapi aku kan malu, selalu bangun kesiangan. Keliatan banget aku istri pemalas nya." Jawab Syera lirih. Juan terkekeh, lalu mengusap tautan tangan sang istri yang melingkar erat di pinggang nya.
"Ya gapapa, sayang. Lagian, kamu gak usah bangun pagi kok. Gak ada yang nuntut kamu buat bangun pagi, kamu bisa bangun kapan pun saat kamu ingin."
"Sayang.."
"Iya, ada apa sayang?"
"Aku beruntung deh punya suami sepengertian kamu."
"Lah, apa lagi aku? Aku bahkan lebih beruntung karena bisa memiliki kamu, sayang." Jawab Juan. Dia mematikan kompor karena masakan nya sudah matang, lalu berbalik dan menarik pinggang Syera hingga tubuh mereka sangat dekat nyaris tak berjarak.
"Kamu selain cantik, hati kamu juga sangat cantik. Aku menyukai nya, sayang."
"Tentu saja, jadi tak masalah jika pun kamu bangun sore hari, sayang. Aku takkan mempermasalahkan, selama kita saling mencintai aku rasa tidak masalah."
"Benarkah? Tapi aku kelihatan banget males nya ya?"
"Gapapa, biar aku yang rajin. Kamu gak bisa masak, biar aku yang masakin. Kamu gak kerja, gapapa kok aku yang kerja buat nafkahin kamu sama anak-anak kita nanti." Jawab Juan yang membuat hati Syera menghangat, dia merasa terharu dengan ucapan Juan yang terdengar sangat tulus. Tatapan nya yang sangat dalam menghinoptis nya, tatapan hangat penuh cinta yang sering dia lihat saat Juan menatap nya seperti ini.
"Utututu, so sweet nya suami aku ini. Jadi baper deh, untung kamu udah beristri. Kalau enggak, aku pasti kejar kamu."
"Kejar kemana?"
"Ya aku kejar cinta kamu, dong."
"Ngapain? Gak di kejar juga aku udah nyamperin kamu dengan cinta aku yang tulus buat kamu, sayang." Jawab Juan.
"Ehh, iya ya. Kamu kan suami aku, hehe."
"Astaga, untung aja kamu istri aku. Jadi sayang kalo mau aku tampol pake panci." Cetus Juan yang membuat Syera tergelak.
"Cieee, kakak pacaran.." Ucap Rinda, hanya suara nya saja karena anak nya entah berada dimana.
"Ayang, Rinda nya mana ya?"
"Hehe, disini kakak cantik." Jawab Rinda sambil keluar dari persembunyian nya.
"Kamu lihat apa?"
"Cuma lihat kakak cantik sama kakak Juan pelukan doang." Jawab gadis kecil itu dengan polos, mata nya mengerjap dengan lucu yang membuat Syera gemas.
Kemarin mereka terciduk sedang silaturahmi bibir, sekarang sedang pelukan. Astaga, memang bermesraan di rumah ini benar-benar tidak aman. Lagian, mentang-mentang pengantin baru, jadi mesra-mesraan tanpa tahu tempat dan situasi.
"Yaudahlah, udah tanggung juga. Mana mama?" Tanya Juan.
__ADS_1
"Di kamar, kak."
"Sebentar, biar kakak yang bantuin Mama." Ucap Syera, dia pun langsung pergi ke kamar ibu mertua nya untuk membantu nya ke dapur.
"Sayang.." panggil Romlah pada Syera.
"Iya, kenapa Ma?"
"Maaf ya, mama sudah ngerepotin kamu."
"Lho kok, Mama gitu sih. Jangan bicara kayak gitu deh, Syera gak suka denger nya." Jawab Syera, hingga kedua wanita itu pun sampai di dapur. Juan sudah menyiapkan makanan untuk istri dan ibu nya, membagi lauk nya dengan adil.
"Sayang.."
"Iya, ada apa, sayang?" Tanya Juan saat Syera memanggil nya.
"Aku pengen ngajakin ibu berobat, biar bisa jalan lagi. Boleh?"
Sontak saja membuat Romlah dan Juan nampak terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Syera begitu saja.
"Kalau aku sih gak masalah, kalau ibu nya mau. Tapi uang nya.."
"Gapapa, biar aku yang menanggung semua nya. Doain aja, semoga rezeki nya di lancarkan." Jawab Syera sambil tersenyum manis.
"Jadi, ibu nya gimana? Mau kan? Kita berobat ya, terapi sama dokter terbaik. Biar kita bisa jalan-jalan."
"Mama tak mau merepotkan kamu, sayang. Uang untuk berobat seperti itu pasti tidak sedikit." Jawab Romlah lirih, sangat lirih bahkan nyaris tak terdengar.
"Uang bisa di usahakan, Ma. Syera punya tabungan untuk pengobatan itu, mama jangan khawatir karena Syera gak bakalan minta uang nya sama papah."
"Kamu gak sayang sama uang nya, kalo di pake berobat Mama, Nak?" Tanya Romlah yang membuat Syera tersenyum manis.
"Enggak kok, Syera lebih sayang sama Mama dari pada sama uang nya, Ma. Uang bisa di cari lagi nanti." Jawab Syera.
"Jadi, mama mau ya?" Tanya Syera lagi, Romlah menganggukan kepala nya. Kalau dia bisa berjalan seperti dulu, pasti dia takkan terlalu merepotkan anak-anak nya.
"Oke, Ma. Nanti Syera tanya-tanya dulu dokter saraf terbaik buat ngobatin Mama. Semangat ya, Mama pasti bakalan bisa sembuh, Syera jamin."
"Terimakasih, Nak. Kamu sangat baik."
"Sama-sama, Mama." Jawab Syera, dia pun menggenggam tangan Romlah dan mengecup punggung tangan nya dengan lembut. Romlah terkadang merasa tak enak, jika Syera melajukan hal seperti ini. Bisa saja kan tangan nya kotor? Tapi, Syera terlihat sangat tulus dari awal, tidak ada sedikit pun rasa jijik atau pun ekspresi yang menunjukkan ketidak sukaan.
"Yee, Mama bakalan bisa jalan-jalan lagi. Rinda seneng gak?"
"Seneng banget kakak cantik, terimakasih."
"Sama-sama, kita usahakan yang terbaik buat Mama ya." Ucap Syera, Juan dan Rinda kompak menganggukan kepala nya. Bagi nya, Romlah, Juan juga Rinda adalah orang-orang yang hebat. Romlah bisa membesarkan kedua anak nya sendirian, berjuang sekuat tenaga nya hingga mengalami kejadian seperti ini. Juan dan Rinda juga tumbuh menjadi anak yang mandiri. Mereka di besarkan oleh ibu sekaligus ayah yang sangat hebat.
"Terimakasih, sayang. Sudah sangat memperhatikan kesehatan Mama."
"Sudahlah, sayang. Mama kamu kan, mama aku juga sekarang. Aku menyayangi nya seperti aku menyayangi ibu ku sendiri." Jawab Syera, membuat Juan terharu. Sungguh baik sekali hati sang istri, dimana lagi dia mendapatkan sosok malaikat tanpa sayap seperti Syera? Takkan pernah dia menemukan lagi, wanita seperti Syera adalah spesies langka di jaman ini. Untuk itu, dia harus menjaga apa yang dia punya sebaik mungkin.
"Ayo makan.." Ajak Syera, dia bahkan tak mempermasalahkan lauk nasi nya yang terlihat sederhana, hanya tumis kangkung dan kerupuk. Itu adalah menu sarapan pagi ini. Tapi, tak sedikit pun Syera protes padahal di rumah dia biasa makan dengan lauk yang enak dan mewah. Syera makan dengan lahap, bahkan hingga beberapa kali menambah nasi nya.
"Enak, Bby?"
"Banget, aku suka tumis kangkung buatan ayang." Jawab Syera sambil tersenyum, membuat Juan menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Hangat, penuh cinta namun ada rasa sakit yang terpancar dari tatapan nya. Rasa sakit apa? Karena tak bisa memberikan hal yang lebih baik pada wanita cantik itu.
"Masakan Juan memang enak, sayang." Ucap Romlah menimbrung.
"Apalagi buatan Mama, iya kan? Juan pinter masak gini, pasti belajar dari Mama." Jawab Syera.
"Hmmm, nanti kalau seandainya Mama bisa sehat seperti sedia kala, Mama bakalan masakin buat kamu setiap hari. Gapapa, kamu gak perlu belajar memasak, biar Mama yang masakin buat kamu."
"Yeee, Syera seneng banget Ma. Makasih ya, mama tuh bawaan nya hangat banget bikin aku nyaman." Celetuk Syera.
"Iya, mama pasti bakalan bikin kamu nyaman terus."
"Makasih, Mama." Ucap Syera, Romlah menganggukan kepala nya lalu mengelus kepala sang menantu dengan lembut.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻