Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 71 - TGSP


__ADS_3

"Pah.." 


"Hmm, kenapa sayang?" Tanya Roberts, saat ini dia tengah menyaksikan anak gadis nya sekarang akan menikah dengan pemuda yang menjadi pilihan nya. Putri nya jatuh cinta pada pengawal nya sendiri, bahkan hubungan kedua sudah terlampau jauh hingga putri nya mengandung anak Juan saat ini.


"Terimakasih sudah merestui aku bersama Juan, pah."


"Apa pun akan papa lakukan untuk kebahagiaan putri kebanggaan papa ini." Jawab Roberts, dia menangkup wajah cantik Syera yang terlihat sangat cantik dengan make up flawless nya. Penampilan gadis itu jauh berbeda, biasa nya dia hanya akan berhias diri seadanya saja, tapi sekarang dia di make over habis-habisan oleh MUA yang di sewa khusus oleh Roberts.


Seorang MUA terkenal di kota ini dia pilih untuk menyulap sang putri menjadi ratu di hari spesial nya. 


"Maafin Syera ya, pah."


"Tak apa-apa, sayang. Walau bagaimana pun, kamu tetap putri kesayangan papa." Jawab Roberts, Syera menatap wajah tua di depan nya dengan sendu. Dia pun menghambur memeluk sang papa dengan erat, dia menangis di pelukan hangat pria paruh baya itu. 


"Syera sayang sama papa."


"Papa juga sayang sama kamu, nak. Berbahagialah dengan pria pilihan mu, papa akan mendukung apapun keputusan mu, sayang."


"Terimakasih, papah." Jawab Syera.


"Sudah, jangan nangis dong. Udah mau jadi istri, masa cengeng begini sih? Malu kalo sampai di liat sama Juan." 


"Papa ihh.." Rengek Syera sambil menepuk pelan lengan sang papa dengan manja.


"Sudah, ayo kita turun. Pangeran mu sudah menunggu di bawah." 


Syera mengangguk dan menggandeng lengan sang papa, lalu berjalan dengan perlahan. Pintu ruangan itu terbuka, semua mata menatap ke arah Syera yang nampak sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih bersih. Di ujung karpet merah, ada Juan yang terlihat sangat gagah dengan jas berwarna hitam dan dasi kupu-kupu nya. 


Pria itu nampak tersenyum menatap Syera yang berjalan pelan ke arah nya, dia tak bisa memalingkan wajah nya dari sosok wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi istri nya. Istri yang akan dia cintai seumur hidup nya.


"Jemput mempelai wanita mu, Ju." Ucap Miranda, dia pun turut hadir di gedung tempat cucu nya melangsungkan pernikahan megah nya. Tepat nya, Roberts yang menyelenggarakan acara itu. 


Juan menurut dan berjalan pelan menjemput sang pengantin, dia mengulurkan tangan nya saat dia berada di hadapan Syera. 


"Juan, aku menitipkan putri ku pada mu untuk kau sayangi seumur hidup mu, jika kau sudah merasa bosan dengan nya, kembalikan dia secara baik-baik padaku." Ucap Roberts dengan suara serak nya, dia tak ingin menangis tapi air mata nya berdesakan ingin turun saat dia melepas putri nya untuk bersama pria lain. 


"Saya akan menyayangi Syera seumur hidup saya, Pah. Percayakan saja semua nya pada saya."


"Ya, aku memang percaya padamu, Juan." Ucap Roberts. Dia pun menyatukan lengan Juan dengan Syera, dan pemuda itu pun menggandeng mesra tangan gadis nya ke atas altar. Kedua nya mengucap janji suci di hadapan Tuhan, suasana nya terasa sangat sakral. 


Bahkan, beberapa kali Romlah dan Roberts mengusap air mata mereka dengan tangan. Ini terasa sangat mengharukan bagi Romlah, putra kecil nya yang manja kini sudah berstatus suami dari seorang perempuan cantik yang tulus mencintai nya dan menerima keadaan nya apa adanya tanpa memandang apapun. 


Dia membesarkan Juan sendirian, tentu nya terasa sangat berat saat di tinggalkan dalam kondisi yang serba kekurangan sendirian saja, tapi nasib berkata lain. Juan dewasa menjadi sangat mandiri dan penuh perhatian pada setiap orang, dia tumbuh dengan baik menjadi anak laki-laki kebanggaan keluarga nya. Kesalahan nya saat ini, biarlah. Itu semua takkan membuat nya lupa akan seribu kebaikan yang sudah putra nya lakukan.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Juan dan Syera selesai mengikat janji suci dengan cincin yang tersemat manis di jari mereka masing-masing. Senyuman seolah tak pernah luntur dari sudut kedua bibir insan yang baru saja meresmikan hubungan mereka. Kedua nya akan menjalani kehidupan baru sebagai pasangan suami istri yang saling melengkapi satu sama lain.


Kini, para tamu bergantian untuk mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru itu. Anita dan Elin adalah yang pertama, kedua sahabat Syera itu memeluk gadis cantik itu dengan erat juga memberikan doa yang terbaik untuk hubungan Juan dan Syera kedepan nya.


"Selamat ya, semoga hubungan kalian langgeng sama ajal menjemput."


"Makasih, An. Cepetan nyusul ya, kalo udah ada jodoh nya jangan di lama-lamain, nanti keburu kadaluarsa." Goda Syera membuat Anita tertawa, begitu juga Elin.


"Kamu juga ya, El. Aku tunggu undangan nya, jangan lupa."


"Siap-siap, yaudah kita turun dulu ya. Selamat berbahagia bestie." Ucap Elin, Syera pun berterimakasih pada kedua sahabat nya itu. Lalu membiarkan kedua nya untuk pergi dari pelaminan, Juan merogoh ponsel dan mengambil beberapa gambar nya bersama Syera. Kedua nya menyunggingkan senyuman saat kamera mengarah pada mereka berdua.


Ya, nama nya juga pengantin baru jadi lagi bahagia-bahagia nya kan. Jadi senyuman mereka seolah tak pernah surut dari bibir mereka. Pasangan raja dan ratu sehari itu terlihat sangat serasi bersanding di atas pelaminan.


Tapi, Juan tertuju ke arah sang Mama yang menatap nya dengan tatapan penuh kebanggaan. Wanita itu tersenyum menatap Juan, dengan air mata yang siap tumpah membasahi pipi nya.


Juan turun dari pelaminan dan berlari memeluk sang ibu, Syera awalnya terlihat terkejut melihat suami nya tiba-tiba saja turun dari pelaminan dan berlari, tapi begitu melihat nya berlari ke arah ibu nya, Syera tersenyum kecil. 


Juan memeluk tubuh ibu nya dengan erat, dia menangis sejadi nya disana, pelukan hangat yang selama ini menjadi tempat nya berlindung, tempat nya berkeluh kesah dari semua masalah yang dia hadapi. Ibu adalah satu-satunya tempat dia mengadu saat dia kelelahan dengan lika liku kehidupan yang seolah menginjak-injak orang miskin seperti nya.


"Maafin Juan ya, Ma.." Ucap Juan, dia terisak di pelukan sang ibu. Romlah juga menangis, sekuat apapun dia menahan agar tidak menangis, tapi akhirnya pertahanan nya runtuh juga apalagi saat mendengar putra nya menangis dengan pilu.


"Tak ada kesalahan apapun yang harus Mama maafkan, sayang." Jawab Romlah dengan pelan, dia mengusap punggung Juan dengan lembut. 


"Mama sudah memaafkan semua kesalahan kamu, Nak. Jangan terus meminta maaf, kesalahan kamu tak sebanding dengan kebaikan yang sudah kamu lakukan. Dengan bertanggung jawab atas semua yang sudah kamu perbuat saja, itu rasa nya sudah cukup untuk menebus satu kesalahan mu itu, nak." Ucap Romlah panjang lebar, membuat Juan semakin terisak di pelukan sang ibu.


"Sshhtt, jangan menangis terus dong. Malu, kamu sekarang sudah jadi suami. Masa cengeng begini sih, malu dong." Ucap Romlah dengan senyum menggoda nya.


"Mama.."


"Sebentar lagi kan jadi bapak, masa masih cengeng begini sih." 


"Hehe, aku kan masih putra nakal nya Mama."


"Iya, kamu masih putra nakal nya Mama." Jawab Romlah sambil tersenyum kecil, dia mengusap lembut wajah sang putra.


"Mama.." Panggil Syera, meski sedikit kesulitan karena gaun nya yang besar dan mengembang, tapi dia tetap datang ke arah mama mertua nya. 


"Sayang, kok kamu ngikutin aku kesini sih? Pasti kamu kesusahan kan jalan nya?" Ucap Juan, sambil memegang tangan Syera dengan erat.


"Aku kan ngikutin suami aku." 


Blushh.. 

__ADS_1


Wajah Juan seketika memerah saat mendengar Syera memanggil nya dengan panggilan baru, yakni suami. Aahh rasanya dia masih belum percaya kalau saat ini status nya sudah menjadi seorang suami dari seorang gadis yang sangat dia cintai.


"Dihh, wajah kamu memerah gitu." 


"Hehe, panggilan baru yang terdengar asing tapi membuat hati aku berbunga, yang." Jawab Juan sambil tersenyum, membuat Syera terkekeh, begitu juga dengan Romlah dan Miranda yang sedari tadi hanya diam saja melihat interaksi Juan dan ibu nya.


"Mama.."


"Iya, sayang.." Jawab Romlah, Syera mendekat dan menghambur memeluk mama mertua nya.


"Syera juga minta maaf sama Mama, kalau Syera udah ngecewain Mama."


"Sayang, kamu tidak mengecewakan Mama kok. Mama nitip Juan ya, dia masih manja. Kalau ada masalah, kalian harus membicarakan nya secara baik-baik. Jangan terburu-buru, selesaikan dengan kepala dingin ya." Nasehat Romlah sambil mengusap lembut kepala sang menantu nya yang masih memeluk nya dengan erat.


"Syera nyaman sama pelukan, Mama."


"Kalau kamu merasa tak baik, datang dan peluk mama ya. Mama akan dengan senang hati memeluk mu dengan erat." Ucap Romlah sambil tersenyum.


"Pasti, Syera pasti bakalan datang ke pelukan Mama." 


Syera pun melerai pelukan nya dengan sang mama, lalu mengecup pipi kanan dan bibir mama mertua nya dengan lembut dan tulus.


"Syera sayang sama Mama." 


"Mama juga, Nak." 


"Sekarang kita ke pelaminan dulu ya, kasian di bayar mahal-mahal tapi di anggurin begitu aja." Celetuk Roberts yang membuat Juan tersenyum canggung.


"Iya, iya, papah bawel amat deh." Ucap Syera sambil mencebik kesal.


"Yaudah, yuk kesana lagi. Acara nya masih panjang, jangan berpikir mau ngamar." Cetus Roberts lagi membuat Juan dan Syera kompak menggaruk tebgkuk mereka yang padahal tak gatal sama sekali.


"Hehe." 


"Sana." Usir Roberts, Juan pun menggandeng lengan sang istri untuk kembali ke pelaminan. Tapi, dengan pakaian nya saat ini membuat langkah Syera sangat lambat karena kesusahan.


"Sayang, jangan cepet-cepet dong jalan nya hey. Susah ini, baju nya gede gini bikin aku tenggelam." 


"Pantesan jalan nya lambat banget kayak siput." Kelakar Juan yang sukses mendapatkan delikan sebal dari sang istri.


"Hehe, maafin. Yaudah, aku gendong aja dari pada kamu jalan nya lama." Ucap Juan, dia pun menggendong Istrinya ala bridal style. Syera mengalungkan kedua tangan nya di leher kokoh Juan, dia juga tersenyum lalu mengecup pipi kanan Juan dengan mesra sebagai imbalan dari tindakan nya saat ini.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2