
"Juan.."
"Apa lagi sih? Bukan nya pergi dari sini, kehadiran mu sangat tidak berharap." Jawab Juan, membuat bibir Devia mencebik kesal.
"Aku udah cerai sama Martin."
"Lalu, urusan ku apa? Gak penting!" Ketus Juan membuat kening Devia berkerut.
"Aku menceraikan Martin demi kamu, Ju."
"Aku gak minta ya, lagian besok aku mau nikah sama Syera." Ucap Juan membuat kedua mata Devia nampak membulat sempurna.
"Gak bisa gitu dong, Ju."
"Kenapa gak bisa memang nya? Kamu siapa nya aku memang nya? Cuma mantan."
"Juan, aku udah ngorbanin semua nya demi kamu."
"Sekali lagi aku tegaskan, aku gak minta. Kalau pun kau melakukan itu ya berarti kau saja yang bodoh karena melepaskan sesuatu untuk mengejar sesuatu yang belum pasti." Jawab Juan dengan ketus, sedangkan Syera hanya mendengarkan saja sambil sibuk memakan bakso dengan lahap.
Nyata nya, kedatangan Devia memang membuat mood nya memburuk, tapi tidak mengurangi nafssu makan nya sedikit pun. Bakso nya sangat enak, dia bahkan sampai makan dua porsi saking enak nya.
"Juan.."
"Pergilah, aku sudah bahagia bersama Syera." Jawab Juan, sambil membelai wajah Syera dengan lembut. Sesekali dia membenarkan anak rambut calon istri nya dan menyelipkan nya ke belakang telinga.
"Wajah kamu merah, Bby." Ucap Juan.
"Panas, yang."
"Sebentar." Juan beranjak dari duduk nya, meninggalkan Syera dan Devia. Mata Devia terus menatap punggung Juan hingga menghilang, rasa nya dia sangat tak rela jika sampai Juan dan Syera menikah.
"Mengalah lah, Dev. Juan sudah menjadi milik ku, dan takkan aku biarkan kau kembali bersama nya." Ucap Syera dengan tatapan sinis nya.
"Tidak akan, Juan hanya akan menjadi milik ku."
"Kalau Juan nya mau, tapi dari reaksi nya saat melihat mu saja, aku yakin dia sudah tak mau dengan mu. Juan gak suka barang bekas, apalagi yang udah di tiup kayak kamu."
"Heh, di tiup apaan? Kalau bicara jangan sembarangan." Ucap Devia.
"Itu bukti nya perut kamu udah gembung, bukan nya karena di tiup udara segar, Dev?" Tanya Syera sambil tersenyum mengejek.
"Ckk, diamlah."
"Kena mental gak tuh? Aku juga udah di tiup sama Juan, maka nya kita mau nikah besok." Jawab Syera membuat Devia tersedak kuah bakso pedas milik nya.
"Batuk nya yang sopan dong, di tutupin kek itu mulut muncrat kemana-mana. Jorok banget sih." Ucap Syera sambil mengambil mangkuk milik nya dan menjauhkan nya.
__ADS_1
"Bisa aja sama gue bilang dah di tiup, Lo sendiri udah di tiup."
"Ya bodo amat, yang penting ayang Juan mau tanggung jawab." Jawab Syera sambil tersenyum membanggakan dirinya karena akan menikah dengan Juan esok hari.
"Sial.."
"Jadi, Lo tuh udah gak ada kesempatan lagi buat bisa sama Juan. Kalo Juan nya mau sih ya boleh-boleh aja, tapi kalo dia nya gak mau jangan maksa!"
"Apa nya, sayang?" Tanya Juan yang datang dengan kipas angin kecil di tangan nya.
"Enggak kok, dari mana Ayy?" Tanya Syera sambil tersenyum.
"Beli kipas angin biar kamu gak kepanasan, yang." Jawab Juan, dia pun menyalakan kipas kecil itu dan mengipasi wajah Syera agar tak memerah. Setiap kepanasan, wajah nya pasti memerah.
"Belum selesai juga makan nya? Disini gak nyaman, Bby."
"Udah kok, yuk pulang." Ajak Syera, Juan pun mengangguk dan kedua nya pun beranjak dari duduknya.
"Ju.."
Juan berpura-pura tak mendengar, sungguh demi apapun dia muak dengan Devia, mantan kekasih yang kembali hadir di kehidupan nya yang sudah tenang. Dia mengusik kebahagiaan nya dengan Syera, itu terasa sangat mengganggu bagi nya.
Juan mengeluarkan dompet nya dan membayar empat mangkuk bakso yang sudah mereka makan, setelah nya mereka langsung pergi dari sana.
"Sayang.."
"Hmmm…" Juan hanya menjawab dengan deheman, mood nya cukup memburuk setelah bertemu Devia. Kenapa sih wanita itu harus muncul kembali dalam kehidupan nya? Dia sudah tenang, tentram tanpa kehadiran wanita itu.
Jadi, bayangkan saja bagaimana rasa sakit yang di rasakan oleh Juan, hingga setelah bertahun-tahun berlalu dia masih mengingat nya, bukan kah itu terlalu membekas di ingatan saking menyakitkan nya?
"Kamu kok jadi pendiam gini sih?"
"Badmood aku ketemu sama Devia." Jawab Juan membuat Syera baru sadar akan perubahan yang di perlihatkan oleh Juan.
"Yaudah sih, sabar. Kehadiran nya memang tidak di inginkan sama sekali."
"Iya, kalau bisa memilih aku tak ingin melihat wanita itu lagi selama hidup ku." Jawab Juan, membuat Syera menatap wajah Juan yang nampak kusut.
Tak mau membuat mood Juan semakin memburuk, akhirnya Syera pun memilih diam. Tapi rupa nya, hal itu membuat Juan keheranan. Karena biasa nya, Syera itu tipe gadis yang doyan bicara, alias berisik meskipun sesekali ucapan nya atau hal yang di bahas hanya hal random saja.
"Kenapa jadi kamu yang pendiam?" Tanya Juan.
"Aku gak mau bikin mood kamu tambah buruk, sayang."
Juan pun menghentikan laju kendaraan nya di pinggir jalan yang cukup sepi, Juan membuka seatbelt nya dan mencondongkan tubuh nya ke arah Syera, membuat wajah mereka sangat berdekatan nyaris tak berjarak. Saking dekat nya, bahkan Syera bisa merasakan sapuan hangat nafas beraroma mint dari mulut Juan.
"Kamu tahu apa yang bisa membuat mood ku membaik, sayang?" Tanya Juan membuat Syera menggeleng, dia memang tak tahu apa yang bisa membuat mood pria tampan itu membaik.
__ADS_1
"Kamu, sayang."
"A-aku? Tapi kenapa aku, bagaimana cara nya aku bisa membuat mood mu membaik, sayang?" Tanya Syera berceloteh, membuat Juan menaikan sudut bibir nya karena gemas dengan tingkah calon istri nya.
"Seperti ini.." Juan menelusupkan sebelah tangan nya ke belakang tengkuk Syera, lalu menarik nya perlahan hingga bibir mereka bersentuhan. Juan mencium bibir nya dengan lembut, menikmati bibir mungil itu atas bawah bergantian dengan melumaat nya mesra.
Syera mengalungkan kedua tangan nya di leher kokoh milik Juan, kedua nya menikmati ciuman dalam nya, hingga beberapa kali terdengar decapan nikmat dari dalam mobil itu.
Beberapa menit kemudian, Juan menyudahi ciuman nya, Syera membingkai wajah Juan dan menatap wajah tampan itu dengan tatapan sendu nya. Sudah lama dia tak di sentuh oleh Juan, hingga hanya dengan ciuman saja mampu membuat milik nya berkedut manja di bawah sana.
"Kamu menginginkan nya, sayang?" Tanya Juan.
"Iya, aku merindukan si junior, sayang." Jawab Syera, membuat Juan tersenyum kecil lalu mengecup singkat kening calon istri nya.
"Sabar ya, besok kita main."
"Sekarang aja bisa gak?"
"Enggak, waktu nya gak cukup buat melakukan nya, sayang." Jawab Juan membuat Syera cemberut.
"Yaudah, kalo gitu aku pegang aja. Dari pada enggak sama sekali." Tangan Syera merayap nakal ke bawah sana dan menelusup ke dalam celana yang di kenakan oleh Juan.
"Sayang.." Rengek Juan saat tangan Syera dengan nakal membuka ikat pinggang nya, lalu kancing nya dan resleting nya. Setelah berhasil membuka nya, Syera pun mengelus junior milik Juan yang ternyata sudah menegang sempurna.
"Aissh, tangan mu ini nakal sekali, sayang."
"Ya habis nya kamu susah banget sekarang di ajak main nya, aku kan kangen sama permainan kamu." Ucap Syera terdengar seperti merajuk.
"Ya sabar dong, yang. Aku mau kita lakuin itu lagi setelah nikah, biar agak gimana gitu. Biar kesan nya kayak pertama kali, malam pertama gitu, sayang." Jawab Juan, sambil memejamkan mata nya menikmati usapan lembut tangan Syera di bawah nya. Sangat lembut dan nikmat, membuat Juan tak bisa bernafas dengan normal karena perlakuan gadis itu.
"Hmm, yaudah sini aku makan aja punya kamu."
"Yang, gak boleh." Ucap Juan berusaha menolak, tapi Syera malah menunduk dan mengecup helm junior Juan dan tanpa ragu langsung melahap nya dengan semangat.
"Aasshh, sayang.." Juan mengerang saat Syera menguluum senjata nya dengan lahap, ekspresi nya terlihat sangat menikmati kegiatan nya. Sedangkan Juan, dia memejamkan mata nya menikmati servis yang di berikan oleh Syera. Kenikmatan yang berbeda, terasa lebih nikmat. Mungkin karena mereka sudah lama tidak bermain, tapi yang ini rasanya cukup berbeda dengan masuk lubang yang di bawah sana.
"Cukup, aku gak tahan sayang."
"Keluarkan saja di dalam mulut ku, aku akan menelan nya, sayang." Jawab Syera, dia kembali melahap si junior hingga akhirnya Juan merasa tak tahan lagi dengan perbuatan gadis itu, dia pun meledak.
Syera yang sedang fokus dengan kegiatan nya itu terlihat terkejut saat cairan hangat menyembur di dalam mulut nya, tapi akhirnya dia langsung menelan nya dengan cepat sebelum dia merasa mual.
Setelah selesai, Syera pun langsung meminum yoghurt yang memang tersedia di dalam mobil, sedangkan Juan langsung mengelap senjata nya dengan tissu.
"Enak, kan?"
"Enak banget, sayang." Jawab Juan, kedua nya pun tersenyum lalu kembali melanjutkan perjalanan nya lagi ke rumah besar milik Syera.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻