
Juan tersenyum saat melihat sang istri akhirnya terbangun dari tidur nyenyak nya. Syera juga membalas senyuman sang suami dengan manis. Juan mengecup punggung tangan Syera, tangan nya mengusap-usap lembut kepala sang istri.
"Terimakasih sudah memberikan aku kebahagiaan yang tak pernah aku dapatkan sebelum nya, sayang." Ucap Juan lirih. Syera tersenyum, lalu menganggukan kepala nya.
"Aku juga bahagia karena bisa membuat mu bahagia, sayang."
"Aku minta maaf, kalau selama ini aku pernah menyakiti mu dengan perkataan ku, sayang. Sungguh, melihat dirimu berbaring di ruang operasi dengan alat-alat kesehatan, itu sangat menyakitkan. Aku tak tega melihat mu seperti itu, sayang." Ucap Juan panjang lebar.
"Tak ada yang perlu di maafkan, sayang. Tak apa-apa, aku rela kesakitan demi anak kita. Tidak masalah." Jawab Syera, Juan pun tersenyum lalu mengecup kening Syera dengan lembut dan mesra.
"Sayang.." Panggil Romlah, dia baru saja masuk ke dalam ruangan perawatan Syera dengan troli bayi yang dia dorong perlahan.
"Iya, Mama.." Jawab Syera, dia berusaha untuk bangun dan duduk selonjoran. Tapi, rasa nya benar-benar menyakitkan. Hingga membuat nya meringis, Juan yang khawatir langsung membantu nya.
"Pelan-pelan, sayang. Jahitan di perut mu masih belum kering, sayangku." Ucap Juan dengan khawatir. Dia membantu sang istri untuk duduk dengan kaki yang di luruskan.
"Terimakasih, sayang."
"Bayi mu tidur nya gelisah, seperti nya dia lapar, Nak. Kamu mau mencoba menyusui nya?" Tanya Romlah, Syera mengangguk dan merentangkan kedua tangan nya. Dia memeluk bayi mungil itu di dalam dekapan hangat nya. Bayi yang tampan, hidung nya banjir persis seperti milik Juan, bulu mata yang lentik, bibir tipis dan kulit yang kemerahan.
"Mau neen ya, sayang?" Ucap Syera, dia pun membuka kancing seragam rumah sakit nya dan mulai menyusui putra nya. Benar saja, bayi itu memang kelaparan seperti nya. Terbukti, dia menyusu dengan kuat hingga membuat Syera meringis.
"Aasshh, Boy pelan-pelan saja.." Syera meringis, putting miliknya terasa ngilu dan sakit. Dia memejamkan mata nya, jadi beginilah rasa nya jadi ibu menyusui?
Sedangkan Juan yang melihat buah dada kenyal itu tengah di sedot oleh mulut kecil sang putra, terlihat jelas kalau bayi itu tengah kelaparan. Juan menelan ludah nya dengan kasar, dia juga ingin menyusu seperti itu. Itu adalah bagian favorit nya, sekarang dia harus berbagi dengan putra nya sendiri. Tapi, aneh nya dia merasa cemburu.
"Kenapa natap aku kayak gitu, yang?" Tanya Syera.
"Pengen susu juga, Bby." Jawab Juan pelan. Jelas saja membuat Syera mengernyitkan kening nya, ya masa anak nya nyusu bapak nya ikutan nyusu gitu kan gak lucu.
"Hisshh, gak boleh. Sekarang ini punya baby boy, bukan punya kamu."
"Satu-satu dong, kan dua." Rengek Juan sambil menggerak-gerakkan tangan sang istri.
__ADS_1
"Sayang, masa kamu gak mau ngalah sama anak sendiri sih?"
"Itu kan punyaku, Bby." Rajuk Juan, membuat Syera menggelengkan kepala nya. Dia tidak menduga kalau suami nya ini akan seperti ini.
"Iya, itu dulu sebelum putra kita lahir, sayang."
"Ya, tapi itu kan gak adil kalo dua-duanya di kasih sama dia, aku kan juga pengen." Jawab Juan.
"Oke, nanti tapi ya? Sekarang kan adik bayi dulu."
"Yes, terimakasih sayangku." Jawab Juan, dia pun mengecup pipi kanan dan kiri sang istri. Dia juga mencolek-colek pipi putra nya yang cabi, benar-benar gembul.
"Siapa nama nya, sayang?"
"Aku belum memikirkan nya, Bby. Nanti ya?"
"Hmm, baiklah."
Tak lama kemudian, Sharon datang dengan membawa wadah makanan di tangan nya.
"Belum."
"Ibu menyusui gak boleh telat makan, suapi dia Ju."
"Siap, Mamer." Jawab Juan, dia pun mengambil nasi dan sup buntut. Terlihat sangat menggugah selera, apalagi aroma nya yang sangat menggoda.
"Mamer apaan?"
"Mama mertua, hehe." Jawab Juan sambil cengengesan.
"Kita seumuran btw."
"Ya tetep aja, karena mama mertua menikah sama papa mertua jadi nya.."
__ADS_1
"Iya-iya, sana kasih makan dulu istrimu. Dia sedang menyusui, gak boleh telat makan. Sekalian sama kamu nya juga makan." Ucap Sharon, dia memilih duduk di sofa. Entahlah, dia merasa lemas sekali dua hari belakangan ini.
"Shar, kamu baik-baik saja?" Tanya Syera.
"Iya, memang nya kenapa? Aku baik-baik saja."
"Bibir mu pucat begitu, kau baik kan?" Tanya Syera, dia terlihat mengkhawatirkan keadaan Sharon. Tak biasa nya dia pucat seperti itu.
"Iya, aku baik kok. Cuma udah dua hari ini, bawaan nya lemes banget. Pengen nya tuh tiduran gitu."
"Kamu udah telat datang bulan, Shar?" Tanya Syera.
"Hmmm, sebentar.." Sharon terlihat memikirkan sesuatu, apa mungkin dia hamil? Dia lupa kapan terakhir datang bulan.
"Periksa sana, kali aja kamu lagi hamil itu. Soalnya, aku juga gitu. Cuman gak ketahuan aja, pas ketahuan nya tuh karena Juan muntah-muntah terus sampe di rawat. Aneh kan, dia muntah-muntah terus sampe lemes tapi kata dokter dia gak sakit apa-apa."
"Hah, seriusan?" Tanya Sharon, dia tak percaya dengan cerita yang di ucapkan oleh Syera.
"Seriusan ini, terus dokter nya nyaranin kita periksa ke dokter kandungan dan jawaban nya, aku hamil. Kamu percaya gak? Ajaib nya, Juan langsung sembuh lho setelah tahu aku hamil."
"Wahh, beneran ajaib."
"Heem, maka nya kamu periksa cepet. Khawatir nya kamu beneran hamil tapi gak sadar. Periksa ya."
"Iya, nanti aja nungguin Mas Roberts pulang kerja." Jawab Sharon.
"Yaudah." Syera pun melanjutkan makan nya dengan di suapi oleh Juan, karena dia sibuk menyusui bayi nya. Hingga beberapa menit kemudian, akhirnya sang putra pun tertidur karena kenyang.
"Maa, tolongin.." Ucap Syera, Romlah pun mendekat dan membantu nya untuk meletakan kembali bayi yang tertidur lelap.
"Masih laper, yang."
"Iya, sebentar aku tambah lagi." Jawab Juan, dia pun kembali membawa nasi dan lauk nya sekalian lalu kembali menyuapi sang istri. Dia juga sambil makan karena lapar.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻