
"Sayang, sudah hentikan. Aku tak mau meledak sebelum masuk ke dalam sarang nya, sayang." Ucap Juan, dia berusaha mencabut si junior dari mulut Syera, tapi seperti nya Syera masih ingin bermain-main dengan milik Juan yang semakin menggembung.
"Oke, jangan salahkan aku karena meledak di dalam." Jawab Juan, dia sudah tak bisa menahan nya lagi. Akhirnya, dia meledaak di dalam mulut Syera.
Kedua mata Syera membulat karena cairan hangat yang memenuhi mulut nya. Juan tersenyum jahil, dia mencabut junior nya dan meminta Syera untuk menelan cairan miliknya.
"Telan, sayang." Syera menggelengkan kepala nya di menolak untuk menelan cairan nya.
"Telan saja, rasa nya tidak terlalu buruk, sayang." Pinta Juan lagi, akhirnya mau tak mau pun Syera menelan nya. Gadis itu memejamkan kedua mata nya saat berusaha menelan cairan itu.
Hueekk..
Syera langsung berlari ke kamar mandi yang memang tersedia di kamar itu, dia mencuci wajah nya dan muntah-muntah karena cairan milik Juan membuat nya mual.
Juan menyusul Syera ke kamar mandi, dia memijat tengkuk leher belakang Syera dengan perlahan.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya Juan lirih.
"Mual aku, yang." Jawab Syera sambil terus memuntahkan isi perut nya di wastafel.
"Sayang, maafin aku. Aku ngira kamu gak bakal muntah-muntah kayak gini." Ucap Juan.
"Tak apa, sayang. Ayo main, aku sudah ingin bermain dengan mu." Jawab Syera, dia pun segera menarik tangan Juan ke kamar. Namun sebelum melakukan penyatuan, Syera memakan permen lebih dulu karena khawatir Juan akan keberatan dengan aroma nya. Kalau memakan permen, mungkin rasa nya akan jadi seperti permen.
Syera melucuti pakaian nya, begitu juga dengan Juan. Hingga kedua nya sama-sama polos tanpa pakaian sehelai pun saat ini. Juan langsung menindih tubuh Syera, dia berniat untuk mencium bibir nya namun Syera menutupi mulut nya dengan cepat.
"Kenapa, sayang?"
"Mulut aku bau muntah, yang."
"Gapapa, sayang ku." Jawab Juan, dia pun menyingkirkan tangan Syera dari mulut nya dan mencium bibir nya dengan lembut seperti biasa. Namun, sedetik kemudian dia mengernyitkan kening nya.
"Kok kayak permen sih?"
"Iya, aku makan permen, yang. Biar kamu nyaman cium aku nya."
"Aku gak suka, ayo buang permen nya. Aku lebih suka rasa bibir kamu yang asli, sayang."
"Tapi kan, aku habis muntah, sayang."
"Buang permen nya atau kita gak jadi main?" Ancam Juan, tentu nya dia juga tak serius. Bisa-bisa kepala nya sakit kalau tak jadi masuk padahal sudah tegang. Tapi, sungguh dia tak suka rasa permen yang menempel di bibir Syera. Dia lebih suka rasa bibir Syera yang asli tanpa tambahan apapun.
"Iya-iya, aku buang permen nya." Syera pun membuang permen nya, Juan tersenyum lalu kembali mencium bibir Syera, bermain-main dengan lidah nya di dalam sana. Setelah puas, barulah dia bermain ke arah bawah, memberikan tanda kemerahan di sekitar leher Syera.
__ADS_1
"Aahhh.." Syera mendesaah saat Juan menyatukan inti tubuh mereka, Juan tersenyum puas melihat ekspresi Syera yang nampak keenakan. Dia ingin membalas ulah jahil Syera tadi.
Dia mempercepat gerakan nya membuat Syera terkejut, dia memohon ampun karena gerakan Juan membuat nya ingin pipis.
"Aduh, ampun sayang. Aku gak kuat pengen keluar.." Ucap Syera, namun Juan tak mendengarkan nya, sama persis seperti apa yang di lakukan gadis itu pada nya tadi.
"Aaaahhh, sayang.." Tubuh Syera mengejang, dia mencapai klimaaks nya yang pertama di permainan kali ini. Juan tersenyum kecil saat melihat gadis di bawah nya terkapar dengan lemas setelah berhasil mendapatkan klimaaks nya.
"Enak, sayang?"
"Tentu, selalu enak, sayang." Jawab Syera sambil tersenyum nakal, dia mengubah posisi hingga Juan berada di bawah.
"Biarkan aku yang memuaskan mu sekarang, sayang." Ucap Syera dengan senyuman penuh arti nya, tapi Juan senang-senang saja saat gadis nya berubah agresif seperti ini.
"Selain cantik, kamu juga sangat menggairahkan saat berada di atas tubuh ku, sayang." Ucap Juan membuat wajah Syera merona seketika.
Kedua nya pun kembali melanjutkan permainan dengan panas, bahkan dingin nya dari AC tak mempengaruhi suasana sama sekali, tetap saja membuat keringat yang bercucuran.
Sedangkan di luar, seseorang mengernyitkan kening nya begitu melihat mobil yang terparkir rapih di basement hotel. Dia tau benar kalau ini adalah mobil milik putri nya, tapi yang jadi pertanyaan nya. Kenapa mobil ini ada disini? Sedang apa putri nya di hotel ini? Kemana Juan, kenapa tidak mengabari nya?
Banyak pertanyaan yang terlintas di pikiran Roberts, tapi dia harus percaya pada putri nya kan? Dia mengambil ponsel Dari saku jas nya dan menghubungi nomor Juan.
Namun, tak ada jawaban sama sekali. Hingga beberapa kali Roberts mencoba menghubungi nomor Juan, namun tak kunjung di angkat juga. Hingga akhirnya, Roberts menyerah. Dia memasukan ponsel nya ke dalam saku celana nya.
"Aahh sudahlah, putri ku pasti bersama Juan. Aku percaya pada nya." Gumam Roberts, dia pun masuk ke dalam mobil nya untuk kembali ke kantor nya karena meeting nya sudah selesai juga.
Sedangkan di kamar, kedua insan itu baru saja selesai bergulat panas di atas ranjang. Syera terkapar di atas ranjang dengan tubuh polos dan berkeringat, begitu juga dengan Juan. Kedua nya, masih berusaha menetralkan nafas yang memburu setelah mendapatkan klimaaks mereka masing-masing.
"Aaahh, aku lelah sayang." Ucap Syera manja.
"Sama, aku juga capek banget yang." Jawab Juan, katanya sih capek tapi tangan nya masih nakal bermain di dada nya, memilin putting nya dengan gemas.
"Sayang, kita mandi bareng yuk?" Ajak Juan, dia belum pernah mandi bersama dengan sang kekasih, meskipun sudah sering kali kedua nya berbagi keringat bersama.
"Ayo, sayang." Jawab Syera, sambil merentangkan kedua tangan nya. Juan yang mengerti pun langsung menggendong Syera ala bridal style dan mendudukan nya di pinggir bath up. Juan mengisi bak mandi itu dengan air hangat, bath bomb dan beberapa tetes aromaterapi yang menenangkan.
Setelah nya, Syera masuk ke dalam air lebih dulu, lalu di susul oleh Juan. Pria itu duduk di belakang Syera, sambil memeluk gadis itu dengan erat. Sesekali tangan nya bergerak nakal di dada kenyal milik gadis nya.
"Sayang, hentikan tangan nakal mu itu."
"Hehe, habis nya gemesin. Pengen aku makan, tapi penuh dengan sabun ya." Ucap Juan sambil meremaas bukit kenyal itu dengan gemas nya.
"Sayang ihh.."
__ADS_1
"Eehh, omong-omong ini ukuran nya kayak makin besar ya?" Ucap Juan.
"Astaga, iya yang. Aku lupa kalau aku tuh mau beli braa baru."
"Baru?" Tanya Juan dengan kening mengernyit nya.
"Iya, ukuran nya semakin membesar karena ulah tangan kamu itu. Jadi, yang lama udah gak muat, sayang."
"Ohh, bagus dong. Berarti usaha aku bikin ini kamu ngembang berhasil, sayang." Jawab Juan sambil terkekeh.
"Dih, nyebelin. Ayolah, cepet mandi nya kita pulang setelah ini."
"Oke." Jawab Juan, kedua nya pun melanjutkan mandi mereka dengan cepat, lalu membilas tubuh mereka di bilik shower, setelah itu langsung berpakaian dan keluar dari kamar hotel.
Juan memasuki mobil nya di ikuti Syera, iseng sebelum dia mengemudikan mobil nya, Juan menghidupkan ponsel nya. Seketika itu juga, kedua mata nya membeliak saat melihat ada banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari Roberts.
"Sayang, papa kamu nelpon segini banyak. Ada apa yak?" Tanya Juan.
"Mana aku tahu, yang." Jawab Syera sambil mengendikan bahu nya dengan acuh.
"Yaudahlah, nanti pasti beliau nanyain kok. Kita pulang langsung?"
"Iya, besok aja ke mall nya. Aku capek habis main bola." Jawab Syera membuat Juan tertawa geli mendengar ucapan gadis nya.
"Yaudah, ayo kita pulang sayangku." Jawab Juan. Dia pun mengemudikan kendaraan beroda empat itu menjauhi kawasan parkiran hotel itu. Juan mengemudikan nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, karena ini sudah dua jam ngaret dari jam pulang kuliah nya Syera.
Setelah sampai di rumah, Roberts terlihat sedang duduk sambil membaca koran di kursi yang ada di teras.
"Sore, pah." Sapa Syera dengan ramah.
"Sore juga, sayang. Bagaimana kuliah mu, lancar?"
"Ya, lancar seperti biasa, pah. Kalo gitu, Syera ke kamar dulu ya."
"Iya, sayang." Syera pun langsung masuk ke rumah nya. Sedangkan Juan masih memeriksa mobil yang baru saja dia pakai.
"Juan, kesini.." Ucap Roberts, Juan pun menurut dan berjalan mendekat ke arah sang majikan.
"Iya, Pak. Ada apa ya?" Tanya Juan dengan sopan.
"Tadi, saya lihat mobil itu terparkir di hotel. Ngapain kalian ke hotel?" Tanya Roberts, membuat wajah Juan seketika memucat. Harus menjawab apa? Dia belum mendiskusikan hal ini dengan Syera, lalu jawaban apa yang akan dia katakan sekarang?
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻