Terjerat Genggaman Palsu

Terjerat Genggaman Palsu
TGP 10


__ADS_3

Tes tes tes..


Air mata ini seolah enggan berhenti. Seolah dunia ini berhenti berputar. Seolah badai petir menyambar tubuh ku. Aku terguncang hebat, terpukul telak, terkapar namun tak terkulai.


"Apakah ini benar? katakan San!"


dengan menggunakan sisa-sisa tenaga, ku mencoba menggerakkan jari ku membalas pesan dari San-san.


Seolah ikatan batin, San-san yang tidak terlihat sedang online membalas pesan ku.


"Apa masih kurang jelas Reta? Buka matamu kenali apakah itu benar pacarmu atau orang lain?!".


Balas San-san yang masih saja tidak ada kata manis-manisnya.


" San, Aku lagi sedih begini Kau malah memarahi ku. Bukannya berbela sungkawa".


Biru lagi dan kali ini mengetik cukup lama. Aku pikir mungkin Dia akan kembali memarahi kekonyolan ku dengan panjang lebar.


Tapi...


"😘"


"Lama mengetik dan yang Dia kirim hanya emoticon ini dasar si Kulkas".


omelan ku yang jelas hanya bisa didengar oleh ku sendiri. Tentu karena adik-adikku sudah pada terbang ke alam mimpi.


"Malas berbicara dengan Kulkas Ind*m**t pasti jawaban nya dingin bikin sakit aja". balas ku.


"Lalu... " balasnya singkat.


"Ya Tuhan San-san Bin Din-din chat kamu bikin Aku mual dan mau mu*tah".


" Kalau mau mu*tah, jangan bawa-bawa bapak ku. Kasian beliau kalau harus kena mu*ntahan mu yang tidak berharga itu".


Balasnya lumayan panjang karena mungkin Aku berani-berani nya membawa nama bapaknya.


"Iya maaf San, Aku emosi. Habisnya Kamu kalau jawab chat Aku ngga pernah ada manis-manisnya".


" Aku bukan air mineral Reta, ya sudah pergi tidur jangan menangis. Makin jelek makin disakitin kamu nanti".


Hanya helaan nafas yang mewakili rasa sebalnya Aku terhadap perkataan San-san. Ku abaikan chat terakhir nya dan menarik selimut hingga menutupi kepala.


Berbalas pesan dengan San-san sedikit membuatku lupa akan apa yang barusan aku lihat. San-san teman rasa musuh, yang jika kapan pun Aku membutuhkan pertolongan Dia akan segera datang dan menyelesaikan nya.


"Benar juga kata si Kulkas buat apa Aku menangisi nya.. Harusnya Dia yang menangisi ku" ucap ku menenangkan diri sendiri.


"Er, bahkan kita barusan melakukan nya lagi.. Apa Kau tidak pernah tulus padaku? Apa Kau hanya memanfaatkan perasaan ku saja Er?"


Hati ku bertanya-tanya.. pikiran ku melayang.. dan air mata yang tadi sempat membeku kini mencair lagi..

__ADS_1


"Oh tidak.."


Panik ku segera bangun dari ranjang menghampiri nakas dan melihat kalender.


"Bagaimana kalau Aku hamil? Sementara selama berhubungan Aku dan Er selalu menumpah ruahkan nya di dalam". Racau ku masih tetap menampilkan sisi kekonyolan.


"Kalau Aku hamil dan mengandung anak nya Er, mungkin Dia akan mempertanggung jawabkan hasil jerih payah nya ini.. yaa hasil kerja keras ini pasti akan ada bapaknya".


Kenapa disaat begini Aku masih saja mengharapkan si raja gombal tersebut.


" Benar, besok Aku akan pergi periksa siapa tahu memang sudah tumbuh di dalam sini" harap ku pada perut yang rata dan langsing ini.


Kembali ku mengahampiri ranjang, dan mungkin karena lelah yang teramat dalam, Aku tertidur dalam kemelut yang Aku pun sedikit bingung menghadapi nya.


πŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’š


Ke esok kan hari..


Disaat sedang bersiap menata sarapan di atas meja. Dita yang kebetulan membantuku tiba-tiba mengagetkan ku dengan pertanyaan nya.


"Kak, kemarin sewaktu Kakak pergi kerja, Bang Er ada jemput Kakak ngga?"


Tanya Dita hati-hati.


"Ngga ada tuh, Kakak berangkat kerja nya sendiri. Memang kenapa Dita bertanya itu sama Kakak?". Tanya ku dengan penasaran.


" Oh ngga Kak. Aku pikir yang Aku lihat kemarin saat di jalan itu Bang Er sama Kakak".


Aku tetap berusaha tenang dan mengalihkan pembicaraan.


"Hmm.. iya mungkin. Aku salah lihat. Ya sudah Kak, Aku panggil mereka dulu".


" Ish kalian itu lelet sekali!!! tiap kali sarapan harus Aku omelin dulu ". Gerutu Dita pada si Kembar Dika Diki.


Setelah ku pastikan pintu terkunci rapat, kompor tidak menyala, keran air tertutup rapi,


Kami pun berangkat masing-masing. Tidak lupa berpesan pada mereka untuk segera pulang jika telah selesai belajar di sekolah.


Khawatir, karena hanya merekalah keluarga ku.


Aku berusaha baik-baik saja, karena masalah ku bukan untuk di konsumsi banyak orang. Lain hal nya dengan menu makanan di Restoran ini yang terkenal dengan kelezatan dan kebersihannya.


Pikiran yang kurang waras, dan hati yang kusut membuat hari ini sedikit babak belur oleh sikap ku yang kurang bersahabat.


Bisa jadi Aku melupakan ke profesional an ku dalam bekerja. Masa bodoh! Karena yang akan rugi juga bukan Aku, begitulah pikir ku.


Disaat yang lain sibuk dengan tamu pelanggan, Aku hanya di sibukkan dengan bermain game di ponsel.


"Sesekali meminta Bebi atau Lili mengurusi tanggung jawab ku tidak apalah"

__ADS_1


batin ku egois.


"2 hari lagi, 2 buah Restoran Er akan jadi milik ku, dan tinggal selangkah lagi Aku pun akan membuktikan jika Dia akan menyesal membuatku terluka" gumam ku dengan raut muka datar dan terkesan angkuh.


Aku tersadar kembali saat Aku melihat lagi dan lagi bukti yang San-san kirim ke ponsel ku. Tak terbesit untuk tetap bertahan di sisi Er. Meskipun nanti cairan itu akan bergumpal menjadi danging yang akan tumbuh di rahim ku.


"Cukup sudah Aku menjadi orang bo*oh yang diperbudak cinta". Begitu pikir ku.


Tak mau munafik. Rasa cinta itu tetap ada bahkan sangatlah besar. Tapi rasa sesal ku yang teramat sangat membuat Aku ingin segera berlalu dari kekecewaan ini.


" Aku Renata Eliana binti Bapak Beni Sodikin, pantang bagiku terus menangisi si pengkhianat yang tidak menepati janji".


Ku remat foto jimat yang berwajah tampan itu. Aku bertekad akan membalikkan keadaan. "Kau yang harus menyesal dan memohon bukan Aku".


Tapi sebelum itu Aku akan bersikap baik dan tetap memberinya kenikmatan, agar Dia semakin menyesal nanti.


Aku mungkin jahat, tapi Dia juga bukan pemeran yang baik dalam cerita ini.


Karena merasa suntuk dan bosan merencanakan pembalasan buat Er seorang diri, ku langkahkan kaki menuju dapur melihat keadaan dapur yang lepas dari pengawasan ku selama 5 jam yang lalu.


"Ternyata kalian memang bisa di andalkan".


" Bulan depan kalian akan ku berikan bonus tambahan karena sukses membuat pelanggan kenyang dan puas".


Tingkah ku sudah seperti Boss saja..


Berbalik menuju ruangan ku sambil terkikik merasa geli dengan ulah ku sendiri.


"Jadi Boss ternyata enak juga, ah dalam keadaan seperti ini pun Aku masih mampu tertawa. Berarti Aku masih normal".


Ku geleng kan kepala mengusir pikiran-pikiran yang berseliweran padat merayap seperti iklan di sinetron **IkatanKesepian** yang diperankan oleh Mbak Andin.


Lelah dan tiba-tiba perut ku merasa kembali bergejolak. Oh tidak, Aku lupa hari ini akan pergi periksa ke dokter obgyn..


"Dasar Pikun" hardik ku pada diri ku sendiri.


Tak menunggu waktu lama. Aku pamit pulang terlebih dahulu dengan alasan kurang enak badan. Padahal sebenarnya Aku hanya melipir untuk periksa


"apakah dalam perut ku sudah tumbuh bibit nya Er ?".


πŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šTerima kasih buat yang sudah meluangkan waktu nya mampir kesini, komen disini, like yg ini.. semoga sehat selalu dan mendaptkan keberuntungan dalam hidupnyaπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’š


Selanjutnya akan ada Pov Erdian, hasil dari dokter obgyn dan juga Pov nya San-san. Btw Si San-san ini visualnya Aku bayangin Bang Ojun aja. Orang Aku fans nya Dia😁🀭


Terima kasih dan


Salam hangat


πŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’š

__ADS_1


Ukano


__ADS_2