
Renata dan Erdiana itu hanyalah sepenggal kisah lama yang telah usang.
Tergantikan oleh kisah Renata dan Sansan dua sejoli yang membingkai hati dengan kejujuran dalam ikatan suci pernikahan.
Dua bulan pasca pernikahan mereka pun, Yang Maha Kuasa kembali memberikan anugrah terhadap dua sejoli tersebut.
Renata positif hamil dan menurut prediksi dokter, terdapat dua kantung janin yang bersemayam dalam rahim hangat nya tersebut.
Tak ada kata mengidam atau mual seperti kebanyakan wanita hamil pada umum nya. Renata merasakan jika janin yang di kandung nya begitu sangat menyayangi nya meskipun mereka baru membentuk biji kacang tanah.
Sansan yang begitu antusias mendengar kehamilan istrinya itu mendadak begitu protektif. Beberapa pelayan yang Renata pilih setelah menikah pun dirasa nya masih kurang sehingga Dia menambah kan lagi pelayan untuk membantu sang istri dari pagi selepas berangkat kerja hingga petang ketika Dia pulang kembali.
Renata hanya pasrah menerima perlakuan suami nya yang begitu luar biasa. Seolah seorang ratu yang harus serba mendapat pelayanan terbaik, Renata tak ingin membuat suami nya khawatir dengan rengekan ketidak setujuan nya.
Sansan suami siaga dengan kemapanan nya juga perhatian yang tak kunjung berkurang. Setiap apapun yang istrinya ingin kan Sansan sebisa mungkin akan mewujudkan nya.
Beruntung, itulah yang Renata rasakan saat ini. Suami yang bertanggung jawab lahir batin akan menjadi dambaan setiap perempuan dimana pun, siapa pun dan kapan pun bahkan disepanjang jaman.
Seperti saat ini, ketika sedang berdua. Sansan tak ragu memijat kaki istri nya dengan lembut. Menanyakan apa ada sesuatu yang di inginkan juga memberikan perhatian ekstra karena meskipun Renata tidak mengalami gejala mual. Tetap saja mood nya kadang berubah ubah tak jelas.
"Sayang.. apa kau menginginkan sesuatu? katakan jangan ditahan. Aku akan sebisa mungkin memberikan nya untuk mu" ucap Sansan tulus.
"Terima kasih Papa, tapi si kembar saat ini sedang tidak ingin apa-apa. Hanya ingin berduaan saja dengan Papa" jawab Renata dengan manja.
"Benarkah anak-anak Papa tak ingin apa-apa? kalau mama nya gimana?" tanya nya lagi kali ini dengan nada menggoda.
Tanpa di duga setelah mendengar kalimat pertanyaan Sansan yang terkesan menggoda nya. Renata dengan nakal beralih duduk dipangkuan suami yang sudah lama tak menjamah nya.
"Pa, kalau mama nya ingin main senjata Papa, apa boleh?" seolah tak tau malu Renata memainkan jari jari manja nya di dada sang suami.
Sansan yang sudah hampir empat puluh hari tidak membenamkan senjata nya pun berdesir hebat. Tak tau malu, senjata nya pun seakan meronta ingin bertemu dengan sangkar yang lembab dan hangat menyenangkan.
"Sayaaang.. aku mohon. aku takut kau dan anak-anak kita terluka karena kekuatan senjata ku". Gumam Sansan penuh dengan ke khawatiran.
" Papa main nya pelan pelan saja Pa.. Aku sangat ingin itu sekarang ". rajuk Renata.
__ADS_1
Katakan lah kalau kali ini Sansan sedang lemah iman.
"Kau nakal sekali malam ini. Baiklah sesuai keinginan mu bidadari ku".
Terang saja Sansan membuncah penuh kebahagiaan. Karena sebenarnya dia pun sudah sangat tersiksa menahan gejolak rindu untuk ber cin ta dengan sang istri.
Tak ada lagi percakapan diantara sepasang suami dan istri tersebut. Mereka sibuk dengan kerinduan yang mereka luap kan dalam pendakian kenik matan jiwa raga.
Setelah memastikan sang istri siap bertempur. Pelan dan sangat berhati hati Sansan memacu senjata nya menerobos terbenam dalam inti yang hangat. Tak lupa dengan sumber protein yang sangat Dia rindukan, Sansan membenamkan wajahnya diantara dua sumber protein milik sang istri yang kian membesar akibat ulah nya.
"Sayang kalau baby kembar kita sudah lahir, bagai mana nasib Papa. Asupan gizi Papa pasti akan berkurang". Kini suami nya itu yang merajuk.
Renata yang dilanda gejolak hormon kehamilan seolah lupa kondisinya saat ini. Mengabaikan suami nya yang merajuk manja.
Dia pun malah merengek meminta lebih, dan tentu saja Sansan menolak dengan halus karena tak ingin membahayakan kedua janin juga istri tercinta nya. Meskipun sebenar nya Dia ingin melahap habis istri nya tanpa ampun.
Kembali diluar dugaan Sansan. Renata membalik kan keadaan Dia menguasai medan pertempuran. Memanjakan sang suami yang telah lama merana dan seolah ingin membalaskan kerinduan nya, malam ini pun Renata memberikan ke pua san yang membuat Sansan semakin memuja dirinya.
"Sayaang Reta.. aaahhh" Sansan meracau memanggil nama istri tercinta nya dengan tangan terulur meremas bo kong seksi yang makin padat.
Tanpa melepaskan senjata sang suami dari sangkar nya. Renata kini ambruk diatas tubuh perkasa yang tak berbalut kain selembar pun.
"Sayang senjatanya jangan di lepaskan ya.. Mama masih kangen"
"Ya Tuhan apakah ini namanya ujian, cobaan atau rezeki anak sholeh setelah berpuasa empat puluh hari dengan sabar di balas kontan seperti ini" Gumam Sansan dalam hati.
Tak lama berselang, dengkuran halus pun terdengar. Renata istri nakal nya ini tertidur karena kelelahan. Dengan pelan dan menahan mati matian gejolak ga irah nya Sansan mencabut senjata dan mengembalikan nya ke tempat semula.
Di selimuti nya tubuh po los itu, dia tatap penuh dam ba dan sial senjata nya kembali bangun hanya dengan melihat wajah cantik sang istri.
"Sayang kau semakin cantik, makin nakal dan semakin membuat ku jatuh cinta.. terima kasih malam ini sungguh membuat ku bahagia".
bisik Sansan tepat ditelinga Renata yang sedikit pun tak merasa terusik meskipun Sansan kembali meng hi sap sumber protein nya. Ya akhir akhir ini Sansan sering mencuri kesempatan untuk bisa menikmati sumber protein langsung dari sang istri ketika istrinya itu telah terlelap.
Sansan kecanduan nik mat nya. Sansan pun bergegas masuk kamar mandi dan berendam air dingin untuk menjinakkan senjata nya yang sedang on fire.
__ADS_1
Setelah senjata nya dirasa telah menjinak Sansan baru bisa bernafas lega. Dia keluar kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk untuk menutupi senjata nya yang baru saja tertidur.
Grepp..
Tangan halus melingkar tepat di pinggang pria itu. Siapa lagi pelaku nya kalau bukan istri nya yang malam ini mendadak nakal.
"Papa seksi kenapa malam malam begini mandi? ngga takut masuk angin". tanya nya tanpa belas kasihan. Suami nya mati matian menahan ga irah malah kembali harus merasakan senjata nya bangun tiba tiba dan meminta belaian.
Sansan menggeram terdiam tak bersuara. menahan gejolak yang dia rasakan kembali.
Seolah mengerti, Renata pun beralih kedepan dan dengan tangan nakal nya dia membuka handuk yang melilit menutupi senjata sang suami yang tangah tegang.
Tanpa malu dan merasa canggung, Renata yang mungkin malam ini kesurupan membelai senjata kesukaan nya itu, memberikan remasan halus dan kemudian melu mat seperti seorang bocah yang tengah menik mati es krim kesukaan.
Mendapat servis pertama kali nya seperti itu, Sansan pun tak kuasa menahan era ngan nya ketika Dia merasakan sensasi luar biasa yang diberikan istri tercinta nya.
"Cukup sayaang aku sudah akan.. " Sansan menarik senjata besar andalan nya dari mu lut mungil istrinya. ketika merasakan ada gelombang dahsyat yang akan keluar.
"Sekarang giliran mu aku manjakan" Gumam nya seraya mengangkat tubuh polos sang istri dan meletakkan nya diatas peraduan.
" Papa mau apa? " tanya nya polos.
"Mau ini.. " jawab nya sambil membenamkan wajah nya diantara kedua paha putih mulus. Renata menjerit seraya meremas rambut dan menekan nya agar lebih memperdalam tarian kenik matan yang suami nya sajikan.
Malam ini mereka habis kan dengan kegiatan panas yang diluar nalar manusia biasa pada umumnya. Mungkin hanya dalam novel kita dapat menemukan kekuatan super seperti yang mereka miliki. Hingga mereka terkapar lelah, saling memeluk dan tertidur damai dalam balutan kisah cinta yang berdenyut mesra.
Bersambung..
Ko bisa ya bikin part begini, entahlah.. malam ini, Author jadi jadian full dengan kehaluan dan kerinduan yang mendalam.
Kompres dulu pake kertas pink biar halu nya meredaππ€§π€£
Maaf bila terkesan aneh dan nyelenehπ
Salam hangat,
__ADS_1
ππππππ
Ukano