
Apakah keajaiban itu memang mutlak ada? Atau hanya sebait kata yang di kumandangkan agar tidak ada kata putus asa?
Setelah berhasil mendaratkan bokong mereka di permukaan sofa yang empuk, kedua laki-laki yang memiliki pesona dan juga ketampanan di atas rata-rata itu terlihat kikuk dan sedikit canggung. Bagaimana menghadapi Singa betina yang kini tengah menatap tajam, datar dan dingin ke arah mereka.
Erdian pun berdehem untuk mengurangi sedikit rasa canggung yang saat ini menggelayut manja di dalam hatinya.
"Reta, apa kami datang disaat yang kurang tepat?" entah kenapa pertanyaan seperti itu yang malah terlontar dengan jelas dari mulut Erdian yang kini jelas jelas sangat ia sesali.
"Itu sudah jelas kau mengetahui nya Er, kenapa harus kau pertanyakan lagi?" Jawab Renata sekena nya.
Lagi lagi, Erdian seakan tersungkur mendengar jawaban dari perempuan di depan nya ini. Perempuan yang teramat ia puja itu dengan lugas menyatakan jika kemungkinan besar tidak berharap akan kedatangan nya.
Erdian hanya bisa mendesah berat, menaklukan bongkahan es yang menggunung di dalam hati perempuan nya itu memang tidak mudah. Entah kesabaran apa yang harus dia miliki untuk merasa betah disisi Renata saat ini, tapi jujur dalam hati nya pria dewasa itu bersyukur meskipun Renata menjawab dengan ketus, tapi tak serta merta mendiamkan nya seperti dulu.
"Maksud kami datang kesini ada sesuatu hal yang ingin aku katakan pada mu, bukan tentang kita. Ini lebih dari itu, ini tentang putra ku Nick dan juga putri mu."
Erdian mencoba membuka penjelasan pada Renata.
__ADS_1
"Kau percaya diri sekali ya, Tuan Erdian. Sejak kapan ada tentang kita! Jangan mimpi jika kau tak merasa tidur." sungut Renata geram mendengar Erdian menyangkut masalah 'tentang kita' yang membuat dirinya semakin geli.
"Sejak saat itu hingga saat ini, jika saja kau lupa Re." Erdian malah terkekeh menertawai ucapan nya sendiri.
Renata terlihat melotot dan kali ini, jujur saja Erdian merasa menang dan senang. Renata nya kembali seperti dulu. Itu semua membuat Erdian merasa gemas dan seolah kembali ke masa puber dahulu kala.
Melihat ke dua orang tua yang bersikap konyol, dan jauh dari tema juga topik tujuan nya datang jauh jauh, yang bermaksud dan tujuan ingin meluruskan ke salah pahaman antara dirinya, Renata dan juga Sena. Nick pun merasa geram. Tanpa ingin menyudahi perdebatan sengit antara sang Papa dan juga bakal calon istri Papa nya itu. Nick pun melenggang bermaksud ingin menyambangi kamar Seta dan melihat keadaan gadis nya yang tadi siang sempat demam.
"Nick. Berhenti! mau kemana kamu?" ternyata mata jeli nya Renata masih berfungsi dengan baik. Bukti nya masih bisa melihat langkah kaki Nick yang mengayun hendak menapaki anak tangga.
"Jika Papa sama Tante masih sibuk dengan perdebatan kalian, silahkan. Aku mau melihat keadaan Seta, maaf Tante silahkan lanjutkan." jawab pemuda itu terdengar menggelitik.
"Ada yang mau kalian jelaskan pada ku? Er, apa ada yang tidak ku ketahui?" kali ini Renata bertanya dengan suara yang bernada halus, sehalus mungkin.
"Nick, kemari lah. Kita jelaskan bersama sama pada calon ibu juga calon mertua mu ini." Erdian malah menggoda Renata
"Sudah tua, bukan nya insyaf malah makin menjadi-jadi. Siapa yang sudi menjadi istri mu, pria mesum hidung belang dan tidak berperasaan." Sungut Renata tak terima.
__ADS_1
Kali ini, Nick lah yang tertawa terbahak bahak mendengar ocehan Renata yang membuat rasa canggung dan takut nya menguap hilang entah kemana.
"Tapi kau pernah cinta kan sama pria yang kau katakan mesum, hidung belang ini. Aku tetap tampan kan Reta?" Erdian kembali menggoda Renata dengan menaik turun kan alis nya yang hitam dan tebal. Sudut bibir pria itu tak henti henti nya melengkung, hati nya menghangat dan hidup nya seolah kembali berwarna.
"Sudah sudah Er. Aku sudah pusing mendengar semua ocehan mu. Nick kemari lah, jelaskan semua yang seharusnya kamu jelaskan. Jangan membuat Tante pusing."
Kali ini, Renata benar benar membawa kembali pemuda itu kehadapan nya. Rasa penasaran begitu menyesakkan kepalanya.
Tak ada tentang kita, bukan tak ada tapi nanti dulu. Kini dirinya harus tahu maksud kedatangan ayah dan anak ini yang sebenarnya. Begitu pikir Renata.
Hingga suara bariton itu terdengar jelas.
Bersambung..
Terima kasih buat para pembaca ku yang selalu setia. Jangan lupa ya like dan komentar nya. Simpan juga cerita ku ini dalam daftar bacaan favorit kalian. Semoga segala kebaikan nya dibalas oleh Yang Maha Kuasa.
Selamat melipir kesini juga ya,
__ADS_1
Aku, Niken Pradita!