Terjerat Genggaman Palsu

Terjerat Genggaman Palsu
TGP 35 Kebutuhan


__ADS_3

Sansan yang sebenarnya merasa cemburu terhadap Erdian yang dengan jelas terang terangan mengungkapkan perasaan dan meminta istrinya itu untuk kembali, merasakan gai rah nya meluap. Renata pun ikut merasakan imbas dari perasaan yang sedang suami nya itu rasakan.


Pagutan, *******, decapan juga erangan memenuhi seisi ruangan kamar yang kedap suara itu.


"Sayaaang berjanjilah kita akan tetap bersama selamanya." pinta Sansan di tengah peleburan nya. Memacu has rat yang seakan tak mengenal kata surut.


Renata tak mampu mencegah apapun yang suami nya itu lakukan, karena bagi nya ini merupakan salah satu upaya membuktikan bahwa hanya suami nya lah satu satu nya pria dalam hidup nya.


"Maas.. aku sangat mencintai mu." ucap Renata penuh kejujuran. Berusaha mengimbangi suami yang malam ini gai rah nya tiga kali lipat bertingkat dibanding biasa nya.


Sansan yang sedang berada di puncak kenikmatan dengan senjata nya yang tetap kokoh berdiri, terus saja menghujani kepuasan bagi istrinya. Lenguhan Renata seolah iringan musik klasik yang mengalun membuat jiwa nya seakan terus bergelora.


Tak terbayangkan bagaimana ganas nya Sansan malam ini. Renata pun dibuat tak berdaya, rasa cemburu nya menjadi obat pemacu gai rah yang selama ini mungkin dia pendam nyaris mengalahkan jamu kuat ramuan para tabib kelas dunia.


Erangan tanda Sansan akan mengakhiri pertempuran di atas ranjang pun memekik. Menggulingkan badan meraup memeluk tubuh polos yang nampak bagai macan tutul akibat ulah kebrutalan nya malam ini.


"Renata Eliana, istriku ibu dari anak anakku. Terima kasih, dan maaf sudah membuat mu kelelahan seperti ini."


"Hmm.. Iya Mas. Itu akan tetap menjadi kebutuhan kita, tapi aku ngantuk. Lelah sekali rasanya, jadi tolong biarkan aku tidur ya sayang."


Jawab Renata yang kesadaran nya mulai menghilang digantikan dengkuran halus pertanda dirinya sudah memasuki dunia mimpi.

__ADS_1


Sansan tersenyum melihat ulah istrinya itu. Dengan melabuhkan kecupan bertubi tubi, Sansan kembali merapalkan syukur nya yang tak terhingga. Hingga tanpa terasa Dia pun ikut menyusul sang istri ke alam mimpi.


****


Sementara itu, Erdian seperti dilanda kekecewaan yang mendalam. Setelah mendapati kenyataan bahwa Renata, wanita yang selama ini dia rindukan telah benar benar melupakan nya. Dia pun kembali bertingkah.


Sebuah Club Malam yang sempat dia tinggalkan beberapa tahun ini kembali dia sambangi. Perasaan nya yang kecewa karena cinta, ingin ia luapkan dengan cara yang terkesan jauh dari kata benar.


Ditemani beberapa wanita penggoda yang berpakaian terbuka, Erdian nampak asyik melahap gundukan salah satu wanita yang sedang nampak memejamkan mata meresapi apa yang sedang tuan nya lakukan itu.


Dengan kesadaran yang tinggal beberapa persen itu, Erdian pun menyeret dua orang wanita sekaligus ke dalam kamar VIP yang telah dia booking sebelumnya.


Salah satu perempuan muda itu pun tersenyum menang, penuh percaya diri merasa dirinya memiliki kesempatan untuk dinikmati oleh seorang tampan rupawan yang terkenal dengan gelimangan harta dan juga sangat royal.


"Wanita mur ahan kalian pikir kalian siapa? apa kalian pikir saya mau meniduri kalian yang hanya barang bekas. mur ahan kalian sama hal nya seperti Yulia mur ahan."


Erdian meracau tak jelas dan membuat ke dua wanita malam itu merasa terkejut dengan sikap pria yang tadi terlihat begitu ber naf su ingin menye tubuh i nya dengan ber gai rah.


"Tuan.. apa kau ingin kami puas kan? kami tahu selera anda yaitu wanita seperti kami ini. kami akan memberikan anda ke nikmatan yang akan sulit anda lupakan."


" Benar tuan, ayolah jangan membuat kami menunggu."

__ADS_1


Ucap kedua wanita itu merayu menggoda.


Erdian, yang hati nya seolah telah di kuasai oleh Renata tetap saja tak bergeming.


"Ayolah tuan, saya sudah tidak sabar menunggu untuk tuan sentuh." rengek salah satu diantara dua orang wanita tuna susila tersebut.


"Saya sudah tidak membutuhkan kalian lagi. ambillah ini untuk kalian. Tinggalkan saya sendiri."


Seperti mendapat durian runtuh, kedua wanita itupun langsung berhambur mengambil jatah masing masing.


"Terima kasih tuan. sering seringlah berkunjung kesini, kami akan akan sangat merindukan tuan." ucap kedua wanita itu dengan disertai cekikikan membuat orang yang sadar akan merasa geli dan jijik.


Setelah memastikan kedua wanita itu pergi, Erdian pun menarik nafas lega. Er, memang mabuk tapi begitulah disaat dirinya mabuk sekalipun, bayangan Renata seolah terus membelenggu nya. Erdian ingin melepaskan dan melupakan tapi semakin dia berusaha semakin kuat bayangan Renata seolah menggoda.


"Re, disaat kesadaran ku menghilang pun kamu masih saja terus menggodaku. Jangan salahkan aku jika akan terus berusaha membawa mu kembali dalam hidup ku. Renata Eliana."


Erdian terbelenggu dalam cinta nya yang semakin membuncah pada Renata yang jelas jelas telah hidup bahagia dengan laki-laki yang bertanggung jawab padanya.


"Renata, tunggu lah sebentar. aku akan membawa mu kedalam kebahagiaan seperti dulu."


Entah terlalu keras berpikir atau memang dalam pengaruh minuman keras. Erdian yang sejak tadi meracaukan nama Renata lambat lambat pun memejamkan matanya terjerat dalam buaian mimpi yang semakin membuatnya merindukan wanita yang bernama Renata Eliana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2