
"Er, ayo kita berdamai! aku lelah jika harus seperti ini terus terusan. Kalau pun kita memang tidak di takdirkan bersama, paling tidak kita bisa kerja sama." ungkap Renata dengan menunjukkan ekspresi kelelahan nya.
"Apa aku tidak sedang bermimpi?" tanya Erdian.
"Tidak Er. Kau sedang tidak bermimpi. ini lelah dan melelahkan sekali."
"Reta, kalau begitu. Apa tanda nya kau mau menerima ku kembali?".....
***
Laki-laki setengah tua itu terlihat mengulas senyum, hari hari nya seakan kembali berwarna dan dikelilingi oleh aura yang membuatnya ingin terus tersenyum bahagia.
Ya, semenjak perdamaian nya dengan Renata satu minggu yang lalu, kini kehidupan pria tua itu sangat membaik. Nafsu makan nya meningkat, tidur nya pun semakin nyenyak dan semangat nya menangani perusahaan pun kembali berkobar nyata.
Seperti hari ini, Erdian pagi pagi sekali tengah bersiap untuk pergi ke kantor nya. Disusul sang putra yang tak mau kalah gesit dengan Papa nya. Kedua pria beda usia itu sedang berada dalam mode jatuh cinta, mungkin bedanya jika Nick baru pertama mengalami nya sedangkan sang Papa entah lah hanya dirinya dan Author yang tahu.
"Pagi Pa, Papa kelihatan cerah sekali secerah kemeja ku yang berwarna biru langit ini."
"Kau mengejek Papa, Nick? Seperti kau tidak merasakan saja. Ayo sarapan, tadi Papa buatkan mu roti panggang kesukaan mu."
"Terima kasih Pa. Hari ini aku akan ke bandara, rencana nya sahabat ku Erick dan Kenzi akan kembali ke tanah air dan mereka akan membantu ku di perusahaan." Papar Nick.
"Erick dan Kenzi? Syukurlah tapi jika boleh Papa minta sama kamu jangan terlalu bebas dengan mereka. Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Seta, Papa khawatir mereka berdua akan membuat mu memilih untuk jomblo lagi." Erdian menggoda Nick dengan tetap memberi wejangan untuk kebaikan putra nya.
__ADS_1
Mereka bergegas menghabiskan sarapan nya dan pergi ke tujuan masing masing.
***
Sementara rencana pernikahan Nick dan Seta telah di gaungkan, berbeda halnya dengan Sena. Gadis itu kini sedang berusaha berdamai dengan perasaannya, gadis cantik yang terkesan tertutup itu lebih menyibukkan diri dengan ikut menyertakan diri dalam sebuah organisasi gerakan mahasiswa peduli korban bencana alam. Entah apa yang ada dalam benak Sena, sehingga dirinya memilih berkecimpung dalam organisasi yang sebelumnya tidak pernah gadis itu bayangkan.
Seperti saat ini, dia terlihat sibuk sekali. Pagi ini akan ada rapat penting untuk menentukan siapa saja yang akan berangkat menuju lokasi bencana alam banjir. Mungkin dia terkesan baru bergabung, tetapi jika ditanya dedikasi nya untuk para korban bencana tidak usah di ragukan lagi. Sena mungkin akan memilih terjun langsung membantu daripada berdiam diri dan melihat dari kejauhan.
"Sena, apa boleh mama masuk dan kita ngobrol sebentar, sayang. Ada hal yang ingin sekali Mama bicarakan dengan mu."
Dengan senyum yang mengembang dan sedikit menggelitik perasaan nya sendiri, Sena berusaha terlihat baik baik saja di hadapan sang Mama yang begitu ia sayangi.
"Silakan Ma, kebetulan Sena juga ingin mengatakan sesuatu, eh lebih tepatnya Sena ingin meminta izin sama Mama."
"Kamu, kamu sedang sibuk sayang?"
"Sedikit Ma, pagi ini Sena ada rapat untuk menentukan siapa yang akan terjun langsung mengunjungi korban bencana." Mendengar jawaban dari putri tercinta nya membuat mata indah Renata seketika membulat. "Ada apa Ma? katanya Mama ada yang ingin di sampaikan?" tanya Sena balik.
"Sebenarnya Mama ingin bertanya, kapan Sena ada waktu luang, emm.. maksud Mama, Mama ingin kita bicara, maksud Mama.. Mama ingin sedikit curhat sama kamu dan juga Seta. Apa kamu tidak keberatan sayang?"
"Aku kira ada apa, Ma.. Sena pasti akan meluangkan waktu untuk Mama, kapan pun Mama butuh Sena, Sena pasti akan ada buat Mama." Penuturan Sena barusan membuat Renata ternyuh. Ah..putri nya ternyata sudah dewasa, dan bisa berpikir bijak seperti itu.
"Terima kasih sayang.. Besok siang kita bertiga akan pergi bersama sambil makan siang, untuk tempat nya Mama serahkan sama kamu, bagaimana?"
__ADS_1
"Ok Ma. Besok siang kita berkumpul. Ma, Sena izin berangkat dulu ya.. Mohon do'a dari Mama."
Renata tak kuasa jika tak memeluk sayang sang putri. Dibawanya Sena kedalam pelukan penuh kasih sang Mama yang terasa sangat nyaman, mampu menghangatkan dan juga meredam kan segala kegelisahan yang Sena rasakan.
*****
POV Renata
Setelah beberapa peristiwa yang dialami dan membuat dirinya yakin akan kembali membuka hati, lebih tepat nya membuka diri dengan menerima Nick yang notabene adalah putra dari Er si masalalu yang pernah sangat ia benci. Kini, dia memutuskan untuk berterus terang pada kedua buah hati nya. Tidak ingin kejadian yang dia alami dahulu, dirasakan oleh salah satu putri nya.
Renata telah meletakkan segala beban nya yang dulu berhinggap erat di pundaknya setelah bersama dengan Sansan suami tercinta. Rasa kalut yang pernah ia alami, cukup hanya dia saja yang pernah rasakan. Renata ingin Sena dan Seta tak terjerat dalam genggaman rasa yang semu. Apalagi jika terjerat genggaman palsu yang hanya akan membuat luka.
Biarlah masa lalu nya akan sedikit memberi pelajaran untuk masa depan kedua putri nya kini.
"Sebelum semakin keruh, aku harus membuat jernih kembali pikiran dan juga hubungan Sena dan Seta. Mas, tolong dukung aku.."
Sambil mengelus penuh rindu sebuah bingkai yang nampak bergambar seorang laki-laki yang paling ia kasihi..
****
Seta yang kebetulan saat ini sedang berada di rumah tante Dita, sontak saja kegirangan karena mendapat undangan makan siang dari sang Kakak. Dia tentu saja merasa sangat bahagia karena akhir akhir ini hubungan nya dengan Sena sedikit menjauh.
"Terima kasih Tuhan, akhirnya..."
__ADS_1