Terjerat Genggaman Palsu

Terjerat Genggaman Palsu
TGP 25 Menjenguk VS Mengunjungi


__ADS_3

Mungkin benar pepatah yang pernah mereka dengar dulu, jika menikah itu membuat kita akan menyesal. Menyesal kenapa tidak sedari dulu, karena nikmat nya yang Halal itu takkan tergantikan dengan yang Haram apalagi Abu-abu.


"Bagaimana anak anak Papa, apa kalian merepotkan Mama mu saat Papa ngga ada?"


Ucap Sansan disertai belaian lembut di permukaan perut membuncit sang istri.


"Ngga Pa, kami disini hanya merindukan Papa. Papa yang nakal dan suka mesumin Mama."


Jawab Renata sambil terkekeh mentertawakan ucapan nya sendiri.


"Wah rupanya ada yang minta nambah durasi tempur nya ini". Ucap Sansan dengan kerlingan mata menggoda.


"Boleh Pa, tapi sebelum bertempur Mama mau dibikinin su su dulu. Mama butuh energi buat ngadepin Papa." Renata tak kalah menggoda sang suami dengan mimik muka yang dibuat se gemas mungkin.


Mendengar permintaan istri tercinta nya, tak butuh dua kali Sansan langsung turun dan memakai boxer dan kaos nya yang tadi sempat melayang melewati udara hampa.


"Sayang.. jangan lupa rasa cokelat ya" ucap Renata.


Sansan pun membulatkan mulut nya seraya berkata OK dan setengah berlari keluar kamar. Renata yang melihat ulah konyol suami nya hanya tertawa tak menyangka kulkas kesayangan nya bisa bertingkah nyeleneh seperti itu.


Tak berselang lama, su su cokelat favorit nya telah siap dan suhu air yang hangat dan kekentalan yang pas sesuai takaran. Renata meneguk nya dengan cepat seakan takut kulkas nya berulah dan mengambil minuman ibu hamil yang menjadi favorit nya saat ini.


"Sayang.. pelan pelan minum nya nanti tersedak". Suami bucin itu mengelus lembut punggung istri yang entah kenapa kini terlihat sedikit agak rakus dan barbar.


" Aaahhhh... enak nya. Sayang ini manis nya pas sekali seperti cintaku padamu". ucap Renata dengan tanpa dia sadari menempelkan bibir nya yang masih tersisa buliran air su su tersebut tepat di bibir suami nya yang sedikit terbuka.

__ADS_1


Sansan seakan kembali merasakan denyutan senjata nya. Renata istri nya itu memang benar-benar bisa membuatnya bangun sepanjang hari.


"Kau harus bertanggung jawab.. ada yang minta rasa yang pas juga tanpa kita sadari" ucap Sansan menggigit gemas daun telinga istrinya. Hal itu membuat istrinya kembali meremang dan ber has rat.


Renata dalam kehamilan pertama nya ini tidak merasa terganggu dengan perut nya yang terlihat begitu besar membuncit. Dia tetap sehat, bugar dan terkesan aktif.


Dia merasa perlu memberikan ke pu asan terhadap suaminya, agar tidak menjadi nakal dan mencari pelarian di luaran sana.


Sansan yang sadar akan hal itu sangat bersyukur dan semakin memuja istrinya. Memberikan penghargaan dengan kesetiaan dan juga kasih sayang yang melimpah.


Menyentuh dengan penuh kelembutan, menyesap dengan penuh perasaan.


"Akhirnya aku bisa menjenguk mereka lagi setelah tadi hanya bisa mengunjungi."


Melihat suami nya seperti itu Renata hanya berdecih.


"Menjenguk dan mengunjungi itu memang apa beda nya? itu hanya bisa-bisa nya Pak Suami saja memodusi ku".


Sansan yang tertawa lepas mendengar perkataan istrinya barusan tak menyangka ternyata untuk bahagia itu tidak serumit apa yang orang lain katakan dan dia pikirkan dulu.


Kembali mendekap erat sumber kebahagiaan nya, Sansan tak henti mengecup puncak kepala sang istri. Berterima kasih kepada Sang Pencipta telah menghadiahi nya seorang istri yang bisa membawanya pada kebahagiaan.


"Sayang.. apa kau sangat bahagia dengan ku?" Tiba-tiba Renata bertanya hal seperti itu pada suami nya.


"Apa kau tak bisa merasakan nya hmm..?" Sansan balik bertanya.

__ADS_1


"Aku sangat beruntung bisa dimiliki dan memilikimu suami ku. Kau dan anak-anak kita nanti adalah kebahagiaan ku sumber kekuatan ku, juga denyut nadi ku."


"Apalagi dengan ku, aku sangat bersyukur bisa dipersatukan dengan perempuan tulus yang sejak dulu ingin ku perjuangkan. Renata Eliana terima kasih sudah menerima ku yang seperti Kulkas berjalan ini."


Tes


Renata sungguh sangat terharu mendengar pengakuan suaminya. Di tatap nya sorot mata yang penuh keteduhan itu, mencari sesuatu yang bisa menjadikan nya ragu. Tapi sungguh Renata tak menemukan hal yang dapat menggoyahkan kepercayaan nya. Yang dia lihat justru kesungguhan dan tatapan penuh kasih dari suami nya.


"Hey jangan menangis sayang.. aku lebih senang melihatmu tersenyum dan tertawa. Sudah sudah ya.. maaf jika suami mu yang tampan ini membuat permaisuri belahan jiwa ku bersedih."


Tak henti nya Sansan memberikan belaian dan kecupan di puncak kepala istrinya yang sedang terisak.


Setelah isak nya mereda, dengan sigap Sansan membopong istri nya untuk mandi bersama menghilangkan jejak peluh yang tadi sempat membasahi kedua raga berbeda nyawa tersebut.


Dimandikan istrinya dengan penuh kasih sayang, seolah istrinya itu barang pecah yang membutuhkan ketelitian. Renata menerima segala perlakuan suami nya dan berjanji dalam hati akan memberikan seluruh hidupnya hanya untuk suami dan anak-anak nya.


Bersambung..


Terima kasih untuk tetap setia dan tetaplah menjadi seseorang yang berhati lapang, selalu menjadi tempat berkeluh kesah meletakkan segala beban yang kurasakan seharian.


Salam hangat


πŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’š


Ukano

__ADS_1


__ADS_2