Terjerat Genggaman Palsu

Terjerat Genggaman Palsu
TGP 28


__ADS_3

"Aku ada sedikit urusan. Tolong ya kau jaga Kak Reta. Kak Sansan tenang Kak, Kakak ku pasti baik-baik saja. Dia wanita yang kuat. Dia pasti kembali pada kita, pada Kakak." Dika mencoba menguatkan hati Kakak iparnya.


Sansan yang terlihat rapuh hanya bisa mengangguk membiarkan Dika berlalu.


πŸ’™πŸ’š


Dengan langkah lebar nya Dika menghampiri parkiran, bergegas masuk dan melesat menuju ke Restoran yang tadi mereka singgahi.


"Pasti kebenarannya akan kudapatkan. Sabar Kak Reta Tuhan pasti melindungi mu Kak."


Pemuda tampan berusia 19 tahun itu akan berusaha untuk mendapatkan setitik petunjuk atas apa yang menimpa kakak kesayangan nya yang kini sedang berjuang di dalam ruang operasi.


Tak berselang lama, mobil yang ia kemudikan itu pun tiba. Dika berusaha untuk tetap tenang dan meminta pihak Restoran itu untuk memberikan izin melihat rekaman CCTV. Tak butuh alasan apapun pihak Restoran dengan berbesar hati memperlihatkan gambar saat kejadian tadi.


"Ini mas silakan dilihat, semoga mendapatkan titik terang kenapa Mbak nya bisa tiba-tiba pingsan seperti tadi." Ujar salah satu petugas keamanan.


"Terima kasih Pak."


Dika dengan mata seolah enggan berkedip melihat dengan jelas jika kakak nya itu bertemu dan berbincang dengan seorang perempuan. Kuat dugaan jika perempuan yang terlihat jelas dalam rekaman CCTV itu tidak menunjukkan wajah yang bersahabat pada kakak nya. Dika gusar terlihat dengan rahang nya yang mengeras, tangan nya mengepal dan sesekali dia bergumam mengumpat apa yang tengah dia lihat.


"Pak tolong, saya membutuhkan copy an nya. Karena saya yakin jika perempuan yang tadi bersama kakak saya ada niatan yang kurang baik sehingga kakak saya mengalami musibah seperti sekarang ini." ujar Dika


Dika berhasil mendapatkan petunjuk dengan mudah. Selebihnya nanti dia akan bertanya pada Sansan tentang siapa sebenarnya perempuan yang bersama kakak nya di depan toilet tersebut.


πŸ’™πŸ’š


Sansan yang ditemani Dita dan Diki terlihat sangat menyedihkan. Dirinya begitu terpukul dan kacau, bagaimana tidak Renata adalah bagian paling penting dalam hidup nya. Apalagi dengan calon anak-anak nya yang begitu ia dambakan. Terlihat dengan jelas bagaimana bahagia istrinya setelah mendapat hasil pemeriksaan yang menjelaskan janin yang ada dalam kandungan nya sehat, sempurna dengan hidung yang mancung terlihat dalam layar monitor. Bahkan hasil foto USG nya saat ini Sansan pegang erat seolah takut terjatuh dan kehilangan. Bayi kembar berjenis kelamin perempuan yang bahkan jauh jauh hari telah ia dan istri siapkan nama nya, kini harus berjuang bersama sang ibu di ruang operasi.


Tes


Sekuat apapun Sansan menahan akhirnya pertahanan nya itu pun tak kuasa ia kendalikan lagi. Sansan terisak tak sanggup membayangkan jika ia harus kehilangan kembali orang-orang yang membuatnya harus hidup sebatang kara.

__ADS_1


"Kak, kakak harus kuat demi kak Reta dan juga calon anak-anak kalian. Sebaiknya kita berdoa dan kita tunggu hasil tindakan dokter." Hibur Diki dengan suara yang sedikit bergetar.


Sansan segera mengusap air mata nya. Iya, dia tak boleh lemah.


"Terima kasih Ki. sudah mengingatkan Kakak."


Ditatap nya nanar pintu ruang operasi yang masih setia tertutup. Sansan sempat memaksa ingin menemani sang istri tapi Dokter melarang karena kondisi Sansan yang tidak memungkinkan ada di dalam ruang operasi tersebut.


Detik dan menit terus berlalu, seolah memberikan pelajaran bagi setiap manusia agar bersabar dan bersabar. Begitupun Sansan, kali ini kesabaran nya sedang di uji. Seperti cacing kepanasan dia tak bisa diam sehingga siapa pun yang melihat akan merasa kesal sekaligus pusing.


"Kak, kakak duduk lah dulu. Apa kaki kakak tidak pegal dari tadi mondar mandir terus seperti setrikaan saja." protes Dita.


Bagi nya Kakak Ipar nya itu adalah laki-laki kharismatik yang penuh tanggung jawab. Laki-laki yang sangat mengayomi dan juga pekerja keras. Sangat kontras dengan apa yang dia lihat sekarang.


"Dita mengerti Kakak itu sedang dalam keadaan kacau, tapi Kakak juga harus sabar dan tetap tenang Kak." imbuh Dita kembali menenangkan.


"Dek.. "


Belum sempat melanjutkan obrolan nya, terlihat pintu ruang operasi terbuka dan Dokter pun turut serta keluar seraya memanggil keluarga pasien.


"Tenanglah Pak, istri anda eh maksudnya mereka alhamdulillaah telah melewati masa kritis nya. Selamat, bayi anda perempuan lengkap dan terlihat sangat cantik menggemaskan." Dengan senyum mengembang Dokter pun menyampaikan kabar gembira.


"Alhamdulillaah, terima kasih Dokter. Terima kasih banyak atas bantuan nya." Ucap Sansan serempak.


"Banyak bersyukur sama Alloh, istri dan anak-anak bapak begitu enggan melihat orang tercinta nya bersedih makanya mereka sekuat tenaga melewati masa kritis nya dengan izin Alloh tentu nya." kembali Dokter tersebut tersenyum.


Setelah si kembar di mandikan dan di adzan kan oleh sang ayah,


mereka masuk kedalam ruang inap, Sansan, Dita dan Diki pun langsung menghampiri wanita cantik yang sedang tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Sayang, terima kasih sudah mau berjuang dan bertahan demi aku dan anak-anak kita." bisik Sansan dengan tangan yang membelai rambut sang istri.

__ADS_1


Dikecup nya penuh sayang kening istri tercinta.


Giliran Dita dan Diki yang juga ikut terharu melihat Kakak nya yang sedang terbaring lemah akibat pengaruh obat bius yang masih belum hilang sepenuhnya.


"Kak.. selamat ya kak. Kakak ku sekarang sudah menjadi ibu. Putri putri kakak sangat cantik mirip dengan kakak." ucap Dita sambil menggenggam tangan kakak nya. Sebelumnya mereka bertiga terlebih dahulu melihat si kembar yang baru saja terlahir.


"Kak Reta.. Diki juga ikut bahagia. Kakak lekas pulih ya." tutur Diki.


Dengan kondisi yang masih lemah, Renata perlahan membuka mata. Wajah laki-laki yang bergelar suami nya lah yang pertama kali ia lihat, lalu kedua adik nya.


"Sayang, Anak-anak kita bagaimana?"


"Dita, Diki bagaimana dengan anak-anak kakak? apa mereka baik-baik saja?"


Renata memberondong pertanyaan dan jelas terdengar suara ke khawatiran seorang ibu pada anak-anak nya.


"Mereka baik-baik saja sayang, mereka anak-anak yang kuat dan sehat, dan cantik seperti mama nya." jawab Sansan


"Iya Kak, kakak jangan risau mereka keponakan kami yang paling kuat dan cantik." Diki pun ikut menimpali.


Renata tersenyum bahagia mendengar jawaban suami dan adiknya itu.


Bersambung..


Selamat ya buat Renata atas kelahiran putri-putri nya.


😁😘😍πŸ₯°


Terima kasih


salam hangat

__ADS_1


πŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’š


Ukano


__ADS_2