
Tuhan memang Maha Adil, tidak serta merta hanya memberikan sifat buruk saja terhadap makhluk nya. Disadari atau tidak, akan ada sisi baik dari seseorang meskipun hanya sebesar biji cabai.
Begitu pula dengan Erdian Putra Wardhana. Pria itu mungkin saja memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan. Tapi, Tuhan masih memberi nya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.
Pertemuan dengan Renata dan merusak nya harus berakhir dengan penyesalan karena tak sempat mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya. Juga dengan kehadiran Nick yang akhir akhir ini menyadarkan bahwa ternyata mencintai dan menyayangi seseorang itu tidak hanya untuk menerima tapi terlebih kepada saling memberi.
Erdian tersadar jika selama ini Dia terlalu terbawa oleh obsesi nya, tidak memikirkan dampak perbuatan nya bagi orang lain.
Beruntung disaat dirinya sendiri, Yulia meninggalkan permata berharga untuk nya meskipun bukan berasal dari darah yang sama dengan nya.
"Pa, Papa melamun lagi ya Pa? Hati hati Pa nyetirnya.."
Erdian terjengkit menyadari dirinya tengah mengemudi dan membahayakan keselamatan banyak pihak.
"Maaf sayang, Papa hanya sedikit lelah". jawabnya berbohong.
" Nanti kalau Nick sudah besar, Papa istirahat saja di rumah. Biar Nick yang bekerja nyari uang buat Papa."
Kembali anak itu berceloteh dan sukses membuat Erdian merasa terharu atas apa yang barusan Nick utarakan.
"Terima kasih jagoan Papa. Tumbuh lah dengan hati yang kuat dan jiwa raga yang bahagia." Tutur Er dengan sorot mata berkaca kaca mengusap pemilik rambut kecoklatan yang nampak akan terlelap karena kelelahan.
Mobil yang dikendarai nya melaju dengan sedang menyongsong senja yang sebentar lagi akan tiba.
ππππππ
__ADS_1
Dengan di hujani segala perhatian dan kasih sayang dari sang suami, Renata si ibu hamil muda terlihat begitu ceria. Seolah melangkah tanpa beban, bergelayut manja di lengan kokoh suami yang dulu dia beri julukan kulkas tersebut.
Hari pertama dan kedua mereka dihabiskan untuk sekedar berjalan jalan dan berwisata belanja. Sansan dengan senang hati memanjakan sang istri, karena baginya setiap rezeki yang dia peroleh tak lepas dari do'a dan dukungan juga kepercayaan istri nya itu.
"Sayang, ini sudah lebih dari cukup. sudah jangan mengajak ku berbelanja lagi nanti uang mu bisa bisa habis." Ucap Renata pada suaminya.
Sansan hanya tersenyum lembut menanggapi rengekan istrinya itu.
"Kalau bukan takdir dari Tuhan, uang ku mungkin tak akan habis sayang. Kau tau kan suami mu ini pekerja keras. Selama aku mampu membahagiakan mu dan membuatmu tersenyum, apa pun akan ku lakukan."
"Sengaja ku lakukan sebelum kita hanya menghabiskan waktu di kamar. Aku terlebih dulu mengajak mu jalan jalan dan berbelanja karena sesudah ini semua kita hanya akan men des ah bersama." Tutur nya kembali disertai seringai kenakalan ciri khas nya.
Renata hanya merona tersipu malu, sedikit ketar ketir membayangkan dirinya akan di gempur habis habisan oleh senjata sang suami yang mengakibatkan perut nya harus menggelembung selama 9 bulan ke depan.
"Sayang.. apa Dita ada menghubungi mu? Tadi Dika dan Diki mengabari kalau Dita katanya sedang kurang sehat." Kembali Sansan mengembalikan sang istri dari pikiran liar nya.
"Lebih baik kita telpon saja dulu mereka, biar tak membuat mu khawatir dan kepikiran."
Setelah mendapatkan kabar dan dirasa cukup tenang. Kembali mereka melanjutkan berjalan bersama. Tak lupa oleh oleh pun mereka belikan untuk orang-orang yang dianggap sebagai keluarga.
"Ah lelah sekali rasanya. Sayang aku mau makan rujak.. " secara tiba tiba Renata minta makanan yang mungkin agak sedikit sulit di temukan di negera tersebut.
"Rujak..?"
Dengan sedikit terkaget Sansan kembali mengulang kata untuk memastikan.
__ADS_1
"Iya.. Apa kau bersedia mencarikan nya untuk ku?" Tanya Renata dengan sedikit memohon.
"Tentu saja sayang. Apapun itu." Jawab Sansan terdengar begitu maskulin.
"Terima kasih suami ku. Tapi nanti saja nyari rujak nya kalau kita sudah kembali ke rumah. Karena aku mau nya rujak buatan Bi Yeti." Ucap Renata sambil terkikik geli melihat suami nya yang sudah siap melangkah mencari rujak keinginan nya.
"Nakal sekali istri ku ini.. Kalau begitu, Kau harus ku beri sedi.. "
Cup
Belum selesai Sansan berkata, tiba-tiba Renata membungkam nya dengan sebuah menu pembuka yang cukup membuat lengkungan bibir nya terlihat mengembang sempurna.
"Kita mandi dulu ya.." Ucap Sansan di sela pag utan nya. Seraya membopong sang istri untuk diajak nya mandi bersama.
Setelah selesai mandi yang disertai bumbu adegan tujuh belas tahun ke atas. Seperti tak mengenal lelah dan bosan mereka pun kembali menjalankan aktivitas menyenangkannya itu di atas ranjang empuk.
Suara suara penuh kenikmatan seakan tak henti nya mereka des ah kan.
Bahkan mungkin jika ada yang mendengar akan membuat siapapun merasa iri dengan ke in timan mereka.
Bersambung..
Terima kasih
Salam hangat,
__ADS_1
ππππππ
Ukano