Terjerat Genggaman Palsu

Terjerat Genggaman Palsu
TGP 34 Memberi dan Menerima


__ADS_3

"Re.. andai kesempatan ke dua itu ada, apa aku berhak mendapatkan nya?"


Sementara itu, wanita yang terus saja nama nya di gumam kan Erdian tengah terisak dalam hangat nya pelukan sang suami. Sansan tak kuasa melihat Renata yang sedang menangisi pertemuan nya dengan seseorang yang dulu telah membuat nya bersikap bodoh.


"Sayang, sudah ya jangan terus larut dalam penyesalan dan kesedihan. Kita lihat ke depan, masa lalu yang suram belum tentu membuat masa depan mu gelap. Kau tidak sendiri lagi, ada aku suami mu juga anak anak kita yang selalu menerima mu apapun keadaan nya. Jangan melawan takdir Tuhan, hari ini kau, aku dan juga Erdian dipertemukan pasti ada suatu hikmah yang baik untuk hal ini." Hibur Sansan secara panjang lebar, membelai lembut mahkota hitam nanti lebat sang istri.


Seolah malu dengan apa yang suami nya katakan, Renata pun dengan susah payah menahan isak tangis nya yang makin lambat terdengar.


Semenjak bertemu dengan Erdian di rumah sakit tadi, Sansan pun semakin perhatian pada istrinya itu. Sansan memang tipe suami idaman para istri sepanjang jaman. Buktinya disela kesibukan dirinya di perusahaan, Sansan masih saja meluangkan waktu nya untuk keluarga kecilnya tersebut.


"Mas, terima kasih sudah mau menjadi suami ku." cicit Renata pelan terdengar tulus.


"Untuk..?"


"Untuk segala yang telah kamu lakukan selama ini. Untuk ku, Anak-anak, dan keluarga ku. Maaf jika sebagai istri aku belum bisa melayani mu dengan sempurna. Aku terlalu banyak kekurangan."


"Sayang.. kenapa bicara seperti itu? Kau dan anak-anak kita juga adik adik mu adalah keluarga ku, harta paling berharga buat ku." Jawab Sansan.


Hingga sebuah pelukan hangat saling mereka erat kan seolah menyalurkan luapan kasih sayang juga ketulusan diantara mereka.


Kesadaran Sansan pun berangsur kembali, dengan tergelak dia kembali melajukan kendaraan yang dia kemudikan.


"Ternyata kita berhenti di tempat seperti ini tadi?"


"Mas nya berhenti ngga lihat lihat dulu. Main di injak aja rem nya." jawab Renata ikut terkekeh.


Bagaimana tidak, Sansan berhenti tepat di depan para petugas polisi yang tengah melakukan razia. Beruntung Sansan tidak kena tilang dari petugas polisi tersebut.


****


Senja pun tiba, Sansan dan juga Renata menemani anak anaknya bermain sambil belajar. Renata memang seorang ibu yang sempurna, bagaimana tidak anak anaknya tumbuh menjadi anak yang lucu, pintar dan menggemaskan.


Seolah ingin mengganti masa kecil nya dulu, Renata bertekad ingin memberikan segenap perhatian dan kasih sayang nya yang dulu hanya sebentar dia cicipi sebelum kedua orang tua nya pergi selamanya.


"Kakak, Adik.. Mama ada sesuatu buat kalian."

__ADS_1


Serempak mereka menoleh dan senyuman merekah pun mereka suguhkan pada wanita yang telah berjuang melahirkan ke dunia.


"Stoberiii.. "


"Yeey coklat.. "


sontak keduanya terlihat gembira melihat sang mama membawakan puding kesukaan masing masing.


"Kalau buat Papa, mana Ma..?"


"Papa mau rasa yang mana? Cokelat atau Strawberry?"


"Kalau boleh.. Papa mau rasa yang spesial aja dari Mama" jawab Sansan menggoda istrinya.


"Ma, kita juga mau rasa spesial kaya Papa Ma." Ucap Sanreta putri sulung nya.


"Iya Ma.. iya Sena juga mau." Sanrena pun tak mau kalah dari sang kakak.


"Ini kan udah spesial sayang.. Mama membuatkan puding kesukaan kakak sama adik ini dengan rasa cinta dan sayang Mama untuk kalian. Yang Papa maksud spesial tadi itu, maksudnya buatan Mama, iya kan Pa?"


Sanreta dan Sanrena pun hanya terkikik geli melihat tingkah Papa nya itu. Sansan bukan hanya menerima kehangatan dari keluarga nya tapi juga memberikan kehangatan perhatian. Perhatian kecil pun akan terasa membekas dalam ingatan anak anak mereka, itu pikir nya.


"Ya sudah, sekarang kakak sama adik makan puding nya ya. Mama mau ambil puding buat Papa dulu." pamit nya pada anak anak.


"Ma.. jangan lupa sesuatu ya." ujar Sansan dengan kerlingan mata nakal yang hanya bisa di artikan oleh istrinya saja.


Renata hanya mengangguk dan tersenyum geli mendengar ocehan suami nya yang menjurus ke arah arah penyakit mesum nya itu. Tak berniat membantah karena pasti anak anaknya akan menjadi penasaran dan bertanya lebih dalam lagi.


Malam hari ketika kedua putri kembar mereka sudah terlelap, Renata pun bergegas membersihkan diri dan melakukan ritual setiap perempuan yaitu skin care an. Sejenak dia terpaku melihat ke arah cermin. Memang tidak dia pungkiri perbedaan dirinya dulu dan sekarang begitu terlihat jelas.


"benar kata Bebi, dulu aku begitu kusam dan terlihat suram. pantas saja kalau er lebih memilih Yulia daripada aku."


Tersadar dari lamunan tak berfaedah nya, Renata pun segera mengakhiri rangkaian perawatan yang selalu setia menemani hari hari nya itu. Beranjak ke tempat favorit nya bersama suami.


"tapi, apa benar yang dikatakan er tadi di rumah sakit, ya Tuhan. tolong jangan membuat ku teringat lagi pada laki-laki itu."

__ADS_1


Renata tak menampik jika diri nya kembali teringat Erdian sang mantan kekasih yang dulu enggan menerima cinta nya dengan setulus hati.


Cklek..


"Sayang.. daripada melamun seperti itu, lebih baik kita program adik kembar lagi buat Seta dan Sena." Sansan yang disaat dia masuk melihat istrinya asyik dalam dunia lamunan kembali menggoda.


"Mas, ngagetin aja deh.." jawab Renata manja.


"Kamu lagi ngelamunin apa sih? jangan terlalu banyak melamun, kemarin saja ada orang yang melamun terus jadi kemasukan."


"Kemasukan? kemasukan apa Mas, jangan bikin aku takut."


"Kemasukan senjata pemusnah syaiton sayang." jawab Sansan sekena nya.


"Mas ih ada ada aja.." Renata yang mendengar jawaban konyol sang suami pun tergelak, tak sadar membuat Sansan sang suami terlihat menelan ludah melihat penampilan istrinya malam ini yang sangat menggoda jiwa kelelakian nya.


"Sayang, kamu benar benar menggoda sekali ya. Malam ini jangan ada gencatan senjata diantara kita." Bisikan Sansan bersamaan dengan kecupan mesra nya di telinga sang istri.


"Mas.. apalagi coba gencatan senjata. Kamu ada aja.. "


Belum sempat menyelesaikan kalimat nya. Sansan terlebih dahulu membuat istri nya terdiam. Diam dalam artian memberi dan menerima kenikmatan dari kegiatan yang tengah mereka lakukan.


Bersambung...


Dear Readers,


Terima kasih banyak buat like komen dan gift nya. Tanpa kalian apalah daya ku ini😁🀭


O iya, buat readers yang baru mampir disini salam kenal yaπŸ˜˜πŸ˜πŸ™πŸ™


ini karya pertama ku, jd mohon di maafkan jika bahasanya masih kaku dan kurang luwes.


Sekali lagi, terima kasih..


i love you allπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


Ukano


__ADS_2