
Saat matahari nampak tak bersahabat, mendung mewarnai langit, angin berhembus seolah memberikan kesempatan agar ******* hati yang sedang merindu bisa sampai terdengar oleh nun jauh di sana. Seseorang yang nampak tak jauh berbeda dengan wanita yang tak bisa berdiri dari rasa sepi, tertinggal bisu dalam kalbu yang menggunung pilu.
Erdian, yang sedang Sena dan Seta cari keberadaan nya hanya duduk termenung disela pekerjaan yang masih saja enggan dia tinggalkan. Usia boleh menua tapi mungkin bagi dirinya, pekerjaan lah yang mampu memberikan semangat setidak nya untuk hari esok, dengan harapan bisa kembali berbahagia bersama wanita yang selama ini setia dia damba.
Tak tahu di sana, hati wanita nya sedang dirundung sepi seolah matahari tak mampu lagi menghangatkan pagi nya yang terlanjur membeku. Erdian dengan tujuan ingin menata hidup nya kembali bersama putra semata wayang ternyata jelas jelas tak sanggup melepaskan bayangan masa lalu kemanapun dirinya berlalu.
Melintasi benua, mungkin akan membuatnya mendapatkan kebahagiaan itu. Nihil, yang dia dapatkan hanya siksaan batin oleh rindu terhadap seseorang yang tak mungkin bisa dia gapai.
Berkali-kali Nick, yang kini berusia 25tahun mengingatkan agar sang Papa mau membina suatu hubungan. Tapi jawaban nya selalu saja sama. Tak ingin menggantikan nya dengan yang lain, dan itu membuat Nick bingung. Sebenarnya siapa yang dimaksud oleh Papa nya tersebut.
Hingga hari itu, hari dimana Renata beserta kedua putri nya berziarah ke makan Sansan. Disana pun Nick memberitahu kan maksud hati nya pada Erdian.
"Pa, setelah 7 tahun kita disini dan Papa masih saja tetap seperti ini lebih baik kita pulang saja ke negara kita Pa. Aku pikir Papa disana akan merasa tenang dengan suasana yang rileks dan menenangkan." Ujar Nick mencoba bernegosiasi dengan sang Papa.
"Nick, Papa mau kembali kesana dengan satu syarat." jawab sang Papa.
"Syarat? apa Pa syarat nya. Kalau untuk kebaikan Papa aku akan menjalankan nya dengan senang hati Pa." balas Nick meyakinkan.
Erdian tersenyum mendengar jawaban dari sang putra. Sosok Nick tumbuh menjadi seorang pemuda tampan, berwibawa, pintar, cerdas, penyabar dan sangat menyayangi nya.
"Menikahlah Nick, Papa ingin melihat mu menikah. Papa tak lagi muda, dan Papa kesepian saat ini. Kalau kau menikah dan mempunyai anak Papa janji akan melepaskan bayangan masa lalu Papa."
"Menikah?.. " Nick tak percaya dengan apa yang Papa nya sampaikan barusan.
"Iya.. Kau harus menikah, itu syarat nya."
Nick terdiam mencerna perkataan Papa nya yang terkesan sedikit memberatkan nya. Bagaimana menikah, pacar saja Nick tidak punya. Nick bukan tipikal pemuda yang gampang jatuh cinta. Dia sangat selektif dalam hal memilih siapa yang akan menjadi teman dekat nya. Apalagi masalah perasaan Nick tak mau main main.
__ADS_1
Setelah memikirkan baik buruk nya, demi kebahagiaan sang Papa. Nick pun berpura-pura mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah Pa, asal Papa mau pulang ke negara kita, aku akan menikahi kekasihku yang kebetulan juga berada di Indonesia." jawaban Nick kali ini cukup membuat Erdian tercengang seolah percaya tidak percaya.
"Nick, apa kau tidak sedang mengerjai Papa!?".
" Aku serius Pa, aku akan menikahi kekasih ku sesuai permintaan Papa." jawab Nick.
"Baiklah besok malam setelah meeting dengan client kita terbang kembali ke Indonesia. "
Nick tersenyum penuh kemenangan, taktik nya berhasil. Dia yakin jika Papa nya akan kembali menemukan kebahagiaan nya di tanah kelahiran mereka. Nick akan memastikan kebahagiaan Papa nya sebelum dia sendiri mendapatkan pasangan hidup.
"Ya sudah, sekarang Papa istirahat. Jangan terlalu berpikir yang berat Pa, nanti kerutan Papa semakin banyak terlihat." Nick mencoba menggoda Papa nya dan berhasil membuat sang Papa melotot membuat Nick terkekeh bergegas berlalu menuju kamar nya.
Sesuai dengan yang mereka rencanakan, tepat setelah meeting usai, Erdian dan Nick pun menyambangi bandara untuk segera bertolak pulang ke negara yang telah membesarkan nya.
Tak terasa mereka pun sampai tujuan. Jakarta, adalah kota tujuan mereka saat ini. Nick seolah telah menyiapkan segalanya untuk sang Papa termasuk sebuah apartemen mewah yang memiliki fasilitas diluar jangkauan manusia biasa.
(apalah itu ya author juga bingung)
"Sepertinya sudah lama kau merencanakan ini Nick? Jujurlah karena Papa tak bisa kau bohongi begitu saja." Ungkap Erdian sambil menghempaskan diri di atas sofa mahal yang sudah pasti empuk dan nyaman.
Mendengar Papa nya bertanya seperti itu, Nick hanya terkekeh tidak mengiyakan tidak juga menyangkal. Percuma pikirnya karena dia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari sang Papa tersayang nya itu.
"Yang pasti, Nick melakukan semua ini karena Nick sangat menyayangi Papa dan ingin yang terbaik bagi Papa." jawab Nick terdengar tulus.
"Sudahlah Pa, sekarang tolong katakan Papa mau makan malam apa? nanti asisten ku yang mencarikan nya spesial untuk Papa."
__ADS_1
"Papa mau mau makan sesuatu yang hanya orang itu yang bisa membuatkan nya untuk Papa." gumam Erdian dengan suara yang hampir nyaris tak terdengar.
"Apa saja terserah kau Nick, Papa sekarang mau bersih bersih dulu. O iya dimana kamar Papa?"
"Ayo Pa, aku antar Papa ke kamar."
Nick pun menunjukkan letak kamar yang akan di tempati oleh sang Papa.
Mengamati letak kamar tersebut, Erdian justru semakin termenung. Kamar yang entah bagaimana terlihat begitu mirip dengan kamar nya dulu sewaktu masih bersama dengan Renata.
Potongan demi potongan kenangan kembali muncul mencuat dalam ingatan. Erdian semakin dilanda gundah yang berkepanjangan.
Tanpa sepengetahuan Nick, Erdian berlalu meninggalkan apartemen itu. Menuju suatu tempat yang sempat menjadi tempat bersejarah nya bersama Renata dulu. Tanpa dia sadari wanita itu pun berada di kota yang sama, bahkan lebih tepatnya di daerah yang sama dengan apartemen Nick yang mereka tinggali saat ini.
Erdian menelusuri jalan penuh kenangan, sengaja dia berjalan kaki hanya karena ingin merasakan udara yang mungkin saja bisa mengantarkan nya ke hadapan orang yang selalu ada dalam pikiran nya saat ini.
Tanpa disadari, ada sepasang mata yang seolah terbelalak melihat kehadiran nya. Sepasang mata yang telah mencari sosok nya selama ini.
"Aku melihat nya.. aku melihat orang itu." setengah menggumam Seta yang saat itu sedang bersama teman teman nya berhambur keluar dari kafe tempat dia berada.
"Maaf teman teman, aku ada urusan darurat. Ini tolong bayarkan pesanan makanan ku tadi." ucap nya sambil menyambar tas ransel nya.
Setengah berlari, Seta terus berusaha mengikuti arah langkah Erdian. Penuh dengan rasa penasaran, sebenarnya akan kemana Erdian saat ini. Seta hanya ingin melihat sosok Erdian yang konon menurut Papa nya hanya laki-laki itu yang akan mampu membuat Mama nya bahagia kembali.
"Tuan.. Tuan Erdian. Tunggu!"
Bersambung...
__ADS_1