
"Reta sampai kapan Kamu akan menggenggam genggaman itu?!"
ππ
Renata kembali memikirkan ucapan San-san yang masih terngiang di telinga nya dan menjadi momok yang begitu membuat nya takut.
Ayunan kaki yang seketika mendadak lemas mungkin karena terlalu banyak menguras energi positif.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?"
"Bebi.. Ya mungkin Bebi bisa membantu mencari solusi yang dapat mudah ku mengerti".
Segera ku telepon Bebi dan meminta nya untuk datang ke rumah, menginap kalau perlu.
Renata bersyukur sekali ditengah kemelut kesusahan pikiran Dia masih memiliki mereka. Keluarga , sahabat dan juga si Kulkas. Menyebutkan nama nya membuat hati Renata sedikit bergetar. Entahlah getaran nya itu berasal dari perasaan yang mana. Tapi yang pasti Dia begitu malu.
Begitu menyesakkan ketika Renata mengingat Erdian, pria pertama yang menyentuh nya hingga sedalam ini. Terjerat, saat ini Dia terjerat dalam manisnya cinta Er yang semu.
"San-san, setelah Dia tahu kebenaran nya, Dia berusaha ingin melepaskan ku dari jeratan genggaman palsu Er. Sulit ku percaya. Hidup ku berubah 360Β°. Bukan lagi Renata yang hanya lelah karena keras nya bekerja. Tapi Renata yang harus lelah juga karena beban pikiran, memikirkan bagaimana nanti jika semuanya benar-benar berakhir." racau nya gelisah dalam batin.
"Sulit melepaskan bayangan Er. Karena Dia yang pertama bagi ku. Tapi juga tidak mudah menerima kehadiran San-san yang terasa mampu menenangkan." kembali angan nya bergumam.
"Anak perawan ngga boleh bengong Reli". Entah kapan datang nya Bebi tiba-tiba saja mengagetkan ku.
" Bebi.. kamu seperti hantu saja tiba-tiba muncul begitu. Kapan datang nya? ".
" Kurang asem cantik begini dikatain hantu. Gimana mo nyadar orang dari tadi kamu diperhatiin kerjaan nya bengong mulu, ga takut kemasukkan Neng? ".
" Udah sering kemasukkan Aku mah Beb" ujar ku membuat Bebi melongo kaget.
"Terus Kamu kemasukkan sama Jin apa Re? Jin Ajun atau Jin Ojin?"
"Jin Erdiana" ucap ku seketika dan sukses membuat Bebi melongo untuk kedua kalinya.
"Ih Reli kalau ngomong itu yang bener! Maksudnya apa pake bawa-bawa Pak Boss Erdiana segala".
Seketika ku tarik nafas dalam dan menghembuskan nya pelan.
" Sebenarnya ini Beb yang mau Aku obrolin sama Kamu. Tapi Kamu janji tidak boleh salah paham sama Aku ya Bebi". Rengek ku seperti anak kecil.
"Iya Re. Janji. Cepat katakan jangan membuat ku mati penasaran begini".
__ADS_1
" Jadi singkatnya begini Beb, Aku dan Erdian sebenarnya ada sesuatu hal yang ku sembunyikan dari Kalian". Ucap ku.
Singkatnya Aku menceritakan secara terperinci hubungan ku dengan Er dan kehadiran San-san yang masih samar-samar kurasa.
"Beb, Bebi Kamu baik-baik saja? "
Tanya ku pada Bebi yang hanya membeo mungkin sedikit kurang percaya.
"Re. Sebagai sahabat, Aku hanya bisa berpesan tolong jangan buat diri kamu lebih rusak lagi, cinta itu menyehatkan bukan menyakitkan. Aku lihat disini kamu yang jadi sakit. Sudahi Re, aku mohon."
"Iya Beb. Aku juga sudah lelah dan takut. Aku takut".
Bebi membawaku kedalam pelukan nya. Dia mencoba menghiburku agar tidak terlarut dalam masalah yang pelik ini.
" Menangislah Re. Namun setelah itu Kamu harus bangkit. Lawan segala ketakutan mu. Kamu tidak salah, karena kamu juga korban nya. Hanya Kamu yang mampu mengakhiri kegilaan ini. Dan untuk perusahaan itu memang sebaiknya Kamu minta tolong San-san gimana baiknya. Sudah tenanglah kamu ngga sendirian ada Aku yang akan selalu mendukung mu. Aku tahu siapa kamu Re".
Tangis Renata pun semakin pecah, Dia menyesal telah salah dalam melangkah.
"Makasih banyak Beb, makasih". gumam nya sambil terisak.
Setelah berbagi cerita pada Bebi akhirnya Renata pun memutuskan untuk segera menemui Er dan mengakhiri segala kesalahan nya selama ini.
Seperti sekarang tepat di depan pintu apartemen Er yang menjadi saksi pertama kali Renata kehilangan apa yang harus nya Dia jaga untuk masa depan. Menguatkan tekad dan merapalkan do'a agar diberi kekuatan untuk menghadapi godaan terberat dalam hidup nya.
Sengaja Renata tidak langsung masuk seperti biasanya, Dia malah menekan bel untuk mengurangi rasa gugup dan takut nya.
Hingga terdengar suara derap langkah seseorang menghampiri daun pintu.
Cklek..
"Maaf, mencari siapa?" Tanya Yulia yang ternyata kebetulan membukakan pintu.
Renata yang terkejut seketika tak bisa berkata-kata hanya terbengong seperti hilang kesadaran.
"Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?" kembali Yulia bertanya karena lawan bicara nya hanya terlihat diam seperti manekin yang bernafas.
Seolah tersadar dari kesesatan Renata pun mencoba menenangkan diri sambil meremat kemeja hitam yang Dia kenakan malam ini.
"Maaf sepertinya Saya salah menekan bel.. ii iyaa Saya salah masuk. Permisi Nona terima kasih".
Ucap Renata terbata-bata seraya membungkukkan badan dan segera pergi dari hadapan Yulia.
__ADS_1
" Dasar gadis aneh".
Ucap Yulia sambil menutup kembali pintu yang tadi sempat dibuka.
"Siapa Yul?" Tanya seseorang yang itu adalah Erdian.
"Ngga tau gadis aneh, Aku tanya katanya dia salah alamat lalu pergi terburu-buru".
Jawab Yulia terbuka.
Erdian pun hanya ber oh ria karena Dia tau bahwa tadi yang datang itu adalah Renata kekasih yang telah lama Dia bohongi.
" Kenapa sayang ko malah melamun? Masa pertama kali nya Aku diajak kesini malah kamu anggurin gini" rajuk Yulia seraya mengusap dada Er dengan manja.
"Ngga apa-apa hanya sedikit lupa ada pekerjaan yang belum selesai sedikit lagi, Kamu tunggu di kamar ya". jawab Er dengan pikiran yang masih tertuju pada Renata.
" Hmm.. baiklah jangan terlalu lama, karena aku pun butuh sentuhan kenikmatan bukan hanya transferan mu sayang". rayu Yulia terhadap suami nya itu.
"Setelah selesai dengan ini aku pasti memberikan apa yang kau mau wife" sambil memagut bibir seksi Yulia, Erdian lagi-lagi menebarkan aksi membual nya.
Yulia yang terlanjur menghalalkan segala cara guna mendapatkan Erdian pun tersenyum puas atas jawaban yang menurut dia sangat menenangkan.
Melihat pintu ruang kerja Er yang tertutup rapat, Yulia melangkahkan kaki untuk ke kamar dan memilih mandi berendam air hangat agar merasa rileks sebelum mengolah raga bersama suami yang notabene adalah sahabat yang dia tipu tersebut.
Sementara itu Erdian yang semenjak masuk ruang kerja terus menghubungi Renata
"argh.. sial kemana Renata dari tadi di telpon hp nya ngga aktif-aktif. apa dia marah karena tadi ada Yulia?". racau Er dengan tanpa merasa bersalah sama sekali.
Karena merasa di abaikan oleh Renata, Erdian pun bergegas menemui Yulia dan berniat menyalurkan has rat yang dia simpan malam ini. Erdian si pria tampan berhati papan memang tanpa perasaan. Tidak peduli ada sebuah hati yang terkoyak karena keputus asa an.
Bersambung..
Maaf beberapa hari ini ngga sempet buat Up.. karena ada sesuatu hal yang tidak bisa Ukano Share disini..
Terima kasih buat kalian yang selalu rajin berkomentar..
Salam Hangat
ππππππ
Ukano
__ADS_1