Terjerat Genggaman Palsu

Terjerat Genggaman Palsu
TGP 54


__ADS_3

Pov Erdian


Mungkin jika ada yang bisa melihat bagaimana isi hati ku, niscaya tak ada barang sedikit pun rasa sedih atau pun suram. Semuanya nampak terlihat cerah, seperti cerah nya langit di hari Rabu ini. Melihat putra semata wayang yang telah menemukan tambatan hati nya, hubungan dengan wanita yang paling teramat sangat dicintai membaik, perusahaan yang stabil bahkan terbilang tak surut memberikan pundi-pundi rupiah yang mengalir, serta tak lupa kesehatan jiwa nan raga yang membuat rasa syukur ini melambung tak terhentikan.


Nikmat mana lagi yang harus ku dustakan? Mungkin kutipan ayat suci Al Quran itu yang kini sedang ku rasakan. Jika sekarang ada yang bertanya pencapaian apa yang ku inginkan, hanya satu jawab nya 'ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi'.


Mungkin sebagian orang berpikir kenapa disaat usia sudah mulai senja, baru memikirkan ingin berusaha menjadi orang yang lebih baik. Ah terserah, karena yang ku pikirkan saat ini kenapa author sangat bertele-tele sekali dalam menciptakan isi cerita nya.


Terserah apapun pendapat orang lain, yang kini terlintas di dalam isi kepala adalah bertemu dengan wanita yang paling indah, si calon besan yang tak pernah tergeser posisi nya dalam relung hati ini. Entah lah, setiap mengingat nya jiwa muda ku selalu meronta-ronta seolah jauh dari kata paruh baya apalagi tua.


Ingin mendengar suara nya yang kadang mengejek, bahkan mengomel tak jelas. Tak apa, jika dirinya sedikit ketus bahkan tak ingin menatap ku, asal saja ketika ku bertanya dia mau menjawab. Meskipun hanya secara singkat pun itu sudah merupakan keberuntungan, ya keberuntungan atau bahkan bisa dibilang bonus.


Ku lirik arloji, baru pukul satu tiga puluh siang, dan kebetulan meeting yang disertai makan siang dengan klien baru saja rampung dengan hasil yang menggembirakan. Hendak pulang ke rumah, tapi sudah dapat ku pastikan kini di rumah tengah ramai dengan tiga pemuda yang ketampanan nya tak mungkin dapat mengalahkan ku. Terkekeh sendiri, dan entah dorongan dari mana ku buka aplikasi chat dan seperti biasa chat darinya lah yang selalu ku simpan rapi tak pernah ingin ku hapus. Sejenak hati ini berdebar dan ku tulis sebuah pesan untuk nya, dengan sedikit godaan receh.


"Re, kalau boleh aku ingin bertemu dengan mu setengah jam dari sekarang. Aku tunggu di kedai es krim favorit mu dulu. Jangan membuat ku menunggu hingga meleleh bagai es krim yang telat dijilat. See U future wife😘"

__ADS_1


Ku lihat langsung centang dua namun belum dia baca, oh tunggu tak lama kemudian warna nya berubah menjadi biru tanda nya dia sudah membaca pesan singkat itu.


Sekarang, disinilah raga ini berpijak. Di sebuah kedai es krim favorit nya dulu yang juga menjadi tempat favorit ku kini, sejak kehilangan semangat karena tak bisa memilikinya kedai ini lah yang menjadi pelampiasan. Biasanya ini dilakukan oleh kaum hawa, tapi maaf maaf saja sebagai kaum adam pun rasanya kami berhak menyalurkan kesedihan dengan membombardir setiap rasa dari kesegaran manis nya es krim. Untuk apa? ya pasti untuk sejenak membekukan kepenatan dan kesedihan, bahkan semoga saja perasaan sedih juga kacau ini bisa segera menyublim.


Sedikit kecewa, disaat membuka benda pipih ini dan tak menemukan balasan darinya.


"Dia pasti datang.." gumam ku percaya diri. Padahal tak ada hal yang membuat ku bisa sepercaya diri seperti sekarang ini.


Hampir satu jam lebih beberapa menit, akhirnya sosok yang selalu ku rindukan itu muncul.


Dia mendekat, langkah kaki jenjang nya mendekat. Aah jika rasa malu dapat ku bendung mungkin aku ingin sekali meraih tangan nya dan membawanya kedalam dekapan hangat ku ini.


"Maaf aku sedikit terlambat." Sesal nya.


Mendengar suara indah nya, sedikit membuat kesadaran ku kembali.

__ADS_1


"Dan hampir membuat si es krim ini meleleh.."


Seketika ku terkekeh mencoba menggoda Renata ku. Tak ku sangka dia pun tergelak mendengar ucapan yang terkesan konyol tersebut.


Dengan sigap ku menarik kursi agar si pemilik raga indah itu bisa duduk berdampingan dengan ku. Seperti dua remaja yang sedang jatuh cinta, dapat ku lihat semburat rona merah menghiasi wajah cantik nya.


"Terima kasih atas pelayanan nya.." kini Renata ku yang terdengar menggoda. Sunggingan manis dari bibir tipis seksi nya semakin membuat si pria lemah ini goyah, goyah ingin menyentuh, merasai manis yang memabukkan itu seperti dulu.


"Dengan senang hati.. " balas ku. 'Bahkan lebih dari ini pun akan dengan sangat senang hati ku lakukan Re.' batin nya berbicara.


Tiga varian rasa es krim telah habis di nikmati, dengan obrolan hangat seputar hubungan Nick dan Seta, serta rencana Renata yang akan mengatakan bagaimana hubungan mereka dahulu kepada dua putri nya agar tak muncul kesalah pahaman yang akan membuat hubungan kedepan nya menjadi runyam kembali.


Erdian.. Ya itu aku. Aku benar-benar menikmati hari ini, menikmati es krim dan juga wajah cantik si penikmat es krim yang tak lepas dari harapan ku.


'Renata.. Semakin hari bukan nya menghilang rasa ini, semakin berkurang usia ku justru semakin membuncah rasa padamu, semakin menjauh entah mengapa rasa ini malah semakin ingin mendekat.. Mungkin ini gila, tapi aku menikmatinya. Menikmati sensasi hukum karma yang selalu menggoda.'

__ADS_1


__ADS_2