
Sena dan Seta rupanya selama ini tidak tinggal diam. Mereka sebenarnya tengah mencari informasi dari beberapa orang kepercayaan nya yang juga sedikit banyak nya tahu tentang Erdiana, laki-laki yang Papa nya maksud.
Salah satu nya termasuk Bebi, sahabat sang Mama yang dulu menjadi saksi kisah Renata dan Erdiana sebelum bertemu dan membina rumah tangga dengan Sansan sang Papa.
Sena dan Seta sepakat untuk mencari tahu bagaimana sosok Erdiana agar mereka tak salah jalan. Beruntung Bebi mau mamberikan informasi yang sebenarnya tentang masa lalu Renata dengan perasaan nya yang sebelah pihak juga mengenai Erdiana yang acap kali mengemis memohon agar Renata mau kembali padanya.
Dari informasi tersebut, Sena dan Seta dapat menyimpulkan bahwa Erdiana mempunyai perasaan yang begitu dalam pada Mama mereka. Tak ayal Papa nya meminta mereka untuk mempersatukan Erdiana dan Renata, karena hanya Erdiana yang akan mampu memberikan kebahagiaan selain dirinya.
"Kak, sebenarnya yang kita lakukan ini sudah benar atau belum ya? Kenapa Mama sulit sekali untuk mendengarkan kita." Keluhan Seta pada Kakak nya.
"Itulah Mama kita Seta. Kata Papa dulu, itulah yang membuat Papa begitu mengagumi Mama. Mama pekerja keras, mandiri dan selalu jujur dalam bekerja. Papa merasa beruntung bisa mendapatkan Mama perempuan yang telah membuat Papa sukses sebagai suami dan sebagai pemimpin perusahaan." Jawab Sena terdengar begitu bangga terhadap orang tua nya.
Di sela obrolan mereka, terdengar suara mesin mobil yang masuk ke dalam garasi rumah. Ya, Mama mereka atau Renata lebih tepatnya baru saja pulang dari kantor.
Sena dan Seta pun bergegas menyambut kedatangan Mama nya dengan senyuman yang membuat hati wanita 47 tahun itu menghangat.
"Ma, Mama sudah pulang. Sini Seta bawain tas kerja Mama ya. O iya apa Mama butuh sesuatu? akan Seta siapkan dalam waktu 5 menit. Katakan Mama perlu apa?" Ucap Seta layaknya bocah kecil yang sedang mengambil hati sang Mama yang terkekeh melihat tingkah Seta yang seperti anak kecil.
"Mama hanya butuh kalian putri-putri kesayangan Mama Papa. dan teh lemon madu hangat, mungkin cocok untuk menghilangkan sedikit lelah Mama saat ini. Apa boleh Mama minta tolong Seta membuatkan nya." jawab Renata dengan nada manja seolah menggoda anak kecil berumur 5 tahun.
"Siap Mama sayang. Mama duduk santai sama kak Sena ya. O iya Kak, apa Kakak juga mau?"
"Boleh, terima kasih." jawab Sena singkat.
"Ma, sebentar lagi Sena dan Seta akan membantu Mama sepenuhnya di perusahaan. Sena mohon sama Mama, Mama cukup istirahat dan memantau kami saja ya. Aku takut Mama sakit dan kelelahan." Ucap Sena membuka pembicaraan.
"Mama baik baik saja sayang.. Mama masih kuat dan sehat. Justru kalau Mama berdiam di rumah nanti akan banyak keluhan yang terasa." jawab Renata
Mendengar jawaban Mama nya tersebut Sena saat ini hanya bisa ber oh ria dan kembali terdiam.
__ADS_1
"Minuman nya datang.. silahkan ini buat Mama ku tersayang yang cantik nya tak ada yang mengalahkan, nah kalau ini buat kakak ku yang paling baik, nah kalau ini buat Seta putri Mama Papa yang cantik jelita." kehebohan Seta sedikit mampu membuat senyum kedua perempuan di hadapan nya mengembang.
"Terima kasih wahai perempuan paling cantik." jawab Renata dan Sena kompak.
Mereka terkekeh dan menikmati teh lemon madu hangat buatan Seta.
"Ma, nanti kita makan malam bersama ya. kebetulan aku ada resep baru biar nanti aku coba. Biar Mama dan Kakak yang menilai masakan aku nanti layak atau tidak nya, ya."
"Seperti nya menyenangkan dan membuat Mama mu ini penasaran. Baiklah sayang nanti Mama dan kakak mu juga akan membantu ya." jawab Renata terdengar antusias.
"Tapi masakan kamu nanti aman kan Dek?" Goda Sena.
"Aman lah kak, aku gini gini sudah lulus uji lisensi keamanan dan kehalalan nya. Jadi santai saja ya."
***
Acara makan malam pun tiba, benar saja Seta yang mempunyai keahlian mengolah bahan masakan sudah menunjukan aksinya. Mengolah bahan makanan menjadi sesuatu yang lebih bernilai jual tinggi.
"Waah enak sekali Ma.. enak nya pas, rasanya pas banget."
Seta yang mendapat dua pujian sekaligus pun manggut manggut tersenyum seakan puas dengan jawaban yang dia dengar barusan.
"Terima kasih pujian nya. Besok malam akan ku buatkan sesuatu yang lebih spesial lagi.. " jawab Seta dengan wajah ceria.
Mereka pun lanjut menikmati makan malam yang telah Seta buat sebelum nya.
Tanpa di duga, Renata berniat mengajak kedua putri tersayang nya untuk berziarah ke makan Sang Papa yang tidak pernah absen seminggu sekali mereka kunjungi.
"Sena, Seta.. apa kalian akan ikut Mama besok, Mama rindu sekali sama Papa kalian. Jadi esok Mama berniat akan pergi mengunjungi Papa."
__ADS_1
"Baik Ma, kami akan ikut, kami pun sangat merindukan Papa." jawab Sena membantu sang adik menjawab ajakan Mama nya.
"Iya Ma, besok aku dan kakak akan menemani Mama." Seta pun ikut menimpali ucapan kakak nya.
Esok hari nya sesuai janji tadi malam, Sena dan Seta pagi pagi sekali telah bersiap berada dalam mobil yang akan Sena kendarai. Renata hanya tersenyum melihat kedua putri nya yang terlihat sangat akur dan saling menjaga melindungi juga mengayomi.
"Mas, apa kau lihat mereka. Kedua putri kita tumbuh seperti didikan mu, saling menyayangi dan juga menyayangi ku. Terima kasih telah memberikan ku dua permata yang begitu berharga." gumam Renata dalam hati.
Melihat putri bungsu nya melambaikan tangan seolah mengajak nya bergegas naik, Renata pun segera menghampiri dan masuk kedalam mobil.
Tak butuh waktu yang lama, mereka pun sampai di pemakaman tempat Sansan beristirahat.
Setelah melantunkan do'a juga membaca Ayat suci al Qur'an Renata bersama Sena dan Seta bersimpuh di atas pusara Sansan.
Dengan lembut dan terlihat penuh kerinduan, Renata mengelus nisan sang suami dengan sorot mata berkaca-kaca menandakan kerinduan nya begitu amat dalam.
"Mas, apa kau merindukan ku? Lihat lah aku masih saja terlihat lemah jika berhadapan dengan rindu yang tak pernah surut menggeluti ku. Mas, baik baik disana. Tunggu aku, aku pun akan menunggu mu menjemput ku nanti setelah tugas ku disini selesai." gumam Renata lirih tapi masih dapat terdengar jelas oleh Sena dan Seta.
Sena dan Seta yang mendengar ungkapan Mama nya, tak kuasa menahan air mata, bagaimana mungkin Mama nya masih saja menumbuhkan rasa rindu yang begitu menggebu pada Papa nya yang telah jelas berpesan agar Mama nya itu mampu membuka hati pada masa lalu yang dirasa mampu mengembalikan senyum dan kebahagiaan Renata seperti dulu.
"Ma, sudah ya.. Papa pasti sedih jika Mama selalu seperti ini. Papa pasti kecewa karena kami belum mampu membuat Mama bahagia seperti dulu." ungkap Sena.
Seta pun seraya mengelus punggung sang Mama memberikan ketenangan agar wanita yang paling berjasa dalam hidup nya tak serta merta larut dalam rasa sedih yang berkepanjangan.
Mereka semakin bertekad ingin segera mempertemukan Mama nya dengan Erdiana agar dapat kembali melihat senyum hangat itu terbesit menghiasi hari hari mereka kembali.
Bersambung...
Readers ku tersayang, maaf jika cerita Renata dan Sansan harus berakhir seperti ini. Karena jujur Author bingung harus memberikan rasa seperti apa jika Sansan masih berada dalam cerita. Nantinya akan terkesan monoton dan juga garing.
__ADS_1
Mohon dukungan nya dari kalian ya readers. Terima kasih, salam hangat..
Ukano