Terjerat Genggaman Palsu

Terjerat Genggaman Palsu
TGP 29


__ADS_3

Bagai melihat pelangi setelah hujan badai, begitu perasaan mereka saat ini. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, betapa bahagianya Sansan melihat sang istri telah kembali sadar. Hidup nya yang tadi seakan tersesat kembali dalam cahaya terang.


Seolah tak ingin kembali merasa kalut, Sansan pun tak mau beranjak dari sisi Renata sedikitpun. Renata pun begitu, seakan tak ingin Sansan pergi dari jangkauan penglihatannya dia tetap tak melepaskan tatapan sayang nya pada Sansan.


"Kak Dita, seperti nya kita disini pun hanya akan jadi pengganggu. Apa sebaiknya kita keluar saja ya kak. kita pindah, berlama-lama disini bisa-bisa kita cepat ubanan." Ujar Diki seraya menggoda.


Dita yang mendengar hanya mengangguk seraya terkekeh. Mereka mengerti jika keduanya ingin menghabiskan waktu bersama setelah mengalami kekalutan terutama Sansan.


"Syukur lah jika kalian mengerti adik-adik ku yang manis. Tunggu bonus buat kalian dari abang mu ini ya." Jawab Sansan terkesan menggelikan.


"Dita, Diki dari tadi kakak ngga lihat Dika. Kemana dia Dek?" tanya Renata yang mungkin kesadaran nya sudah kembali pulih.


"Dika ada urusan sebentar Kak. Ya sudah kakak istirahat kita mau lihat dulu si kembar. Kak San, tolong kami titip jaga Kak Re." Jawab Dita.


"Jangan khawatir Dek, kakak baik-baik saja." Renata menjawab meyakinkan adik-adik nya.


Dita dan Diki yang sebenarnya telah mendapat kabar dari Dika pun bergegas keluar ruangan. Menyambangi ruangan si kembar yang masih berada di inkubator bayi, Dita pun menyempatkan bertanya pada perawat yang menjaga. Setelah dipastikan kondisi keponakan mereka tak mengalami hal yang tidak di inginkan, mereka pun pergi ke tempat yang telah Dika tentukan. Di sebuah Coffeeshop yang tak jauh dari rumah sakit tempat Renata dirawat.


"Dika, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Dita sesaat setelah mereka duduk dan memesan menu favorit mereka masing-masing.

__ADS_1


Dika yang mendapat pertanyaan dari kakak nya itu tak langsung menjawab. Dia malah memberikan ponsel nya pada Dita yang duduk di sebelah Diki.


"Coba, kak Dita dan kamu Ki lihat ini."


Dita dan Diki yang dilanda penasaran pun menerima dan langsung mengarahkan tatapan mata nya pada ponsel yang Dika serahkan.


"Ka, perempuan yang di video itu siapa?" tanya Diki.


"Justru itu, aku juga bingung. sebenarnya perempuan itu siapa? kenapa terlihat seolah membenci Kak Reta." Dika menjawab dengan kebingungan.


"O iya Kak Dita, apa kakak pernah melihat perempuan itu?" tanya Dika kembali.


"Bagaimana kondisi Kak Reta? keponakan kita, apa keponakan kita sudah lahir dengan selamat?" tanya Dika yang belum sempat diberi tau keadaan Renata juga kedua keponakan nya.


"Mereka baik-baik saja Ka. Alhamdulillah mereka bisa melewati masa masa sulit nya dengan baik." jawab Diki.


"Oohhh syukurlah." Dika menarik nafas lega mendengar kabar bahagia tersebut.


"Jadi, kapan kita akan bertanya pada Kak Reta tentang perempuan yang ada di video ini?"

__ADS_1


"Nanti, kita tunggu Kak Reta kondisi nya pulih dulu. kalau kita bertanya sekarang, aku takut Kakak akan terganggu kembali kesehatan nya." Dita pun menjawab pertanyaan yang Diki lontarkan.


"Baiklah baiklah. sekarang segera diminum kopinya dan tolong antar aku menemui kakak dan keponakan-keponakan ku yang cantik itu. Aku merasa jadi adik yang durhaka jika tak segera menemui mereka." celoteh Dika seolah merajuk.


Mereka pun bergegas meninggalkan coffee shop tersebut setelah membayar minuman yang mereka pesan tadi.


Sebelum menemui kakaknya mereka terlebih dahulu menyambangi ruang bayi tempat keponakan nya di rawat. Bayi yang nampak masih merah itu terlihat pulas dalam inkubator bayi. Ya karena si kembar mengalami sedikit masalah sebelum kelahirannya.


"Itu keponakanku? sayang lihat sini. Disini ada paman mu yang tampan dan menggemaskan." Dika tak henti-henti nya tersenyum lebar seolah dia mendapatkan rezeki nomplok atau medali emas dalam turnamen bulutangkis tingkat dunia.


"Dika, kau ini terkesan sangat lebay sekali. Mereka itu masih bayi baru lahir mana mungkin bisa nengok kanan kiri dengan leluasa. Kau seperti paman yang dulu disebelah rumah kita saja." ujar Diki sambil tergelak.


"Dika, Diki. tolong kalian diam. ini rumah sakit bukan pasar. Suara kalian mengganggu kedamaian mereka." Sela Dita mengomeli ke dua adik nya.


"Iya Kak Dita, maaf." jawab Dika sementara Diki kembaran nya hanya terkikik geli melihat ekspresi Dika yang terlihat malu-malu kucing.


Setelah perdebatan konyol yang berakhir dengan langkah mereka menuju ke kamar ruang inap sang kakak, Dita nampak tengah berpikir keras.


"Aku harus mencari tau sebenarnya ada masalah apa antara Kakak dan wanita itu." gumam Dita dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2