Terjerat Genggaman Palsu

Terjerat Genggaman Palsu
TGP 22


__ADS_3

Sebelum pergi ke tempat yang mereka tuju. Sansan terlebih dahulu memastikan ketika berbulan madu nanti tak akan ada yang bisa mengganggu mereka terlebih urusan dari perusahaan.


Danu, asisten pribadi dengan setia akan menjalankan perusahaan menggantikan Tuan nya yang akhir akhir ini terlihat lebih ramah dan lebih santai jika sedang berhadapan dengan berkas. Sontak saja hal itu tentu saja membuat pekerjaan Danu seolah terasa ringan.


"Tuan semuanya telah saya atur sesuai dengan permintaan Anda. dan mengenai perusahaan, Anda tidak perlu khawatir saya telah mengatur ulang jadwal meeting dengan client client penting. Tuan dan Nyonya cukup nikmati liburan nya dan semoga sehat selalu." Tutur Danu dengan penuh ketulusan.


"Danu, terima kasih. Kau sangat membantu. Kami sangat mengandalkan mu. Dan bulan depan kau siap siap saja, akan ada bonus khusus untuk mu."


Sansan dengan begitu hangat menepuk bahu asisten nya itu.


πŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’š


"Akhirnya.. kita sampai juga.. Sayang apa kau merasa pusing atau ada yang sakit? " tanya Sansan pada sang istri karena dia melihat jika istrinya itu hanya diam tak bersuara.


"Aku baik baik saja sayang.. hanya sedikit masih tidak percaya. Aku bisa sampai ke Dubai dengan selamat dan ini luar biasa.. " jawab Renata tanpa melepaskan genggaman suami nya seolah dia takut terpisah.


Senyum merekah sempurna Sansan tunjukkan melihat istrinya begitu antusias. Tak sia sia rasanya Dia mengeluarkan dana lumayan besar dalam acara jalan jalan bulan madu setelah istrinya itu positif mengandung.


Segala ketakutan pun hilang. Renata begitu ceria tak menunjukkan kalau dia mengalami masalah atau bahkan jetlag saat berada di pesawat.


"Selamat datang di Dubai sayang.. mari kita ciptakan kenangan indah kita disini.. " ujar Sansan.


"Terima kasih suami ku.. " tutur Renata tak henti berterima kasih.


"Sebisa mungkin akan ku buat kau merasa beruntung lahir ke dunia ini sayang.. dan kita akan jalani hidup suka dan senang bersama". Tatapan Sansan begitu dalam.


Kendaraan yang menjemput mereka pun tiba, membawa serta merta dua insan yang sedang bergejolak penuh suka cita hingga sampai ke tujuan.


Hotel mewah yang terletak di pusat kota Dubai menjadi pilihan Sansan untuk membawa pujaan hati beristirahat selama lima hari ke depan. Sengaja Sansan memilih hotel tersebut karena dianggap sebagai hotel yang memiliki pemandangan menawan, juga hotel ini memiliki akses langsung menuju salah satu Mall terbesar di Dubai.


Renata begitu tercengang takjub melihat keindahan kamar yang telah Sansan siapkan jauh hari sebelum mereka tiba di negara tersebut.


" Apa kau menyukai nya... " Tanya Sansan dengan tangan nakal nya yang mulai memeluk posesif sang istri.


Mendapat pertanyaan semacam itu, tentu Renata tak bingung mencari jawaban karena bagi dirinya ini adalah seperti mimpi yang menjadi nyata.


" Bukan hanya suka tapi ini terlalu bagus. Bahkan dalam mimpi pun belum pernah rasanya melihat kamar sebagus ini." cicit nya terdengar begitu haru.


Mendengar jawaban tulus dari sang istri, Sansan kembali mengeratkan pelukan nya. Sesekali men ciumi leher jenjang yang terpampang seksi.


" Tapi sayang nya untuk malam ini sebaiknya sekarang kita bersih bersih dan istirahat. Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh." Ucap Sansan penuh perhatian.


Malam pertama mereka digunakan untuk mengistirahatkan raga yang seharian terkuras lelah karena perjalanan jauh.

__ADS_1


πŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’š


Sementara itu...


Di kediaman yang tak kalah megahnya..


Para pelayan tengah disibukkan oleh permintaan Tuan Muda nya yang hari ini hendak pergi menghabiskan waktu bersama sang Papa tersayang.


Bocah tampan yang bernama Nick itu begitu bersemangat dan tak sabar ingin segera menemui sang Papa untuk berangkat.


"Bi, apa Papa ku sudah bangun? " tanya nya pada Bi Wiwi.


"Belum Tuan Muda, ini masih terlalu pagi. Mungkin Papa nya Tuan sebentar lagi akan bangun. " jawab Bi Wiwi pada Tuan Muda yang kembali memasang raut muka menggemaskan.


"Aku mau membangunkan Papa. Nanti Papa kesiangan dan ngga pergi pergi. " omel nya.


Melihat tingkah Tuan Muda nya itu Bi Wiwi hanya menggelengkan kepala dan seraya tersenyum. Begitu lah sifat Tuan Muda nya kalau sudah ada kemauan susah sekali untuk di cegah.


" Keras kepala nya seperti Tuan Er.. " Gumam Bi Wiwi.


Meskipun Nick bukan darah daging Erdian tetapi gaya bicara dan keras kepala nya bisa di ibaratkan bagai perahu dan dayung. Mungkin Yulia saat mengandung Nick begitu membucin hingga Nick pun berkarakter seperti Erdian.


Entah lah hanya Ukano yang tau.


Tok tok tok


"Pa.. Papa boleh Nick masuk? "


Tak mendengar jawaban dari Papa nya bocah itu memutar handle pintu dan berhasil masuk.


Melihat Papa nya masih tertidur pulas. Nick pun merangkak naik dan kembali berusaha membangunkan Papa nya.


"Pa.. Pa ayolah bangun Pa.. kita kan mau pergi. Kalau Papa ngga bangun nanti kita kesiangan berangkat nya."


Erdian menggeliat, melihat kesamping dan nampak lah sang putra tampan nya tengah menatap nya penuh permohonan.


"Hai jagoan.. Apa Papa bangun kesiangan?"


Mendapat pertanyaan seperti itu dari Papa nya Nick hanya cemberut dan menganggukan kepala.


" Jagoan Papa sekarang lebih baik mandi dulu dan bersiap. Setelah sarapan kita berangkat. Tapi, sebelum itu, Papa ingin lihat Nick senyum dulu buat Papa. "


Si bocah tampan itu pun seketika melengkungkan bibir nya memberikan senyuman sesuai dengan permintaan sang Papa.

__ADS_1


Sesuai janji, usai sarapan mereka bersiap untuk berangkat. Sengaja Erdian mengendarai mobil mewah nya itu sendiri tanpa supir. Erdian berniat hari ini akan menjadi seorang Papa seutuh nya untuk Nick.


Erdian dan Nick tiba di sebuah panti asuhan yang berada di pinggiran kota. Disambut antusias oleh kepala panti dan juga warga panti.


Nick dengan langkah bersemangat meminta sang Papa untuk mengeluarkan barang barang bawaan mereka. Erdian tak menyangka jika putra nya itu memiliki jiwa sosial yang tinggi meskipun usia nya masih balita.


"Apa jagoan Papa merasa senang? " tanya Erdian terhadap putra nya.


"Tentu Pa. Aku senang banyak teman. Disini mereka semua baik terhadap ku dan aku tak merasa sendirian." Jawaban Nick tentu saja membuat Erdian merasa tertohok.


Bagaimana mungkin seorang bocah 4 tahun bisa berpikir seperti itu, pikirnya. Namun itulah Nick. Dia berbeda. Dia seolah dituntut untuk berpikir dewasa sebelum waktu nya.


"Pa, kenapa Papa melamun?"


sontak saja membuyarkan lamunan sang Papa.


"Tidak sayang.. Papa hanya merasa bangga pada mu Nick." pungkas Erdian sambil mengeluarkan barang barang bawaan mereka.


Dibantu beberapa orang pengurus panti, akhirnya seluruh barang bawaan mereka berpindah tempat. Nick dengan wajah riang memberikan barang barang bawaan nya dengan adil untuk setiap anak.


"Terima kasih Tuan sudah berkenan untuk mengunjungi kami." Ucap Ibu kepala panti dengan tulus.


"Sama sama Bu. Kami kesini untuk berbagi kebahagiaan bersama kalian. Terutama anak saya, Nick. Keinginan nya yang membawa saya sampai kesini." Tutur Er dengan sopan.


"Dan mulai saat ini, saya akan ikut serta menjadi donatur tetap untuk panti. Kalau ibu membutuhkan bantuan jangan sungkan hubungi saya atau asisten saya." Sambung Er.


Setelah dirasa cukup puas bermain bersama, Nick mengajak Papa nya untuk pulang.


πŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’š


Tuhan memang Maha Adil, tidak serta merta hanya memberikan sifat buruk saja terhadap makhluk nya. Disadari atau tidak, akan ada sisi baik dari seseorang meskipun hanya sebesar biji cabai.


Bersambung..


Tolong tinggalkan jejak cinta nya ya boleh like, komen atau vote dan gift.


Boleh juga kritik dan saran nya.


Terima kasih,


Salam hangat


πŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’š

__ADS_1


Ukano


__ADS_2