
"Sudah sudah Er. Aku sudah pusing mendengar semua ocehan mu. Nick kemari lah, jelaskan semua yang seharusnya kamu jelaskan. Jangan membuat Tante pusing."
Kali ini, Renata benar benar membawa kembali pemuda itu kehadapan nya. Rasa penasaran begitu menyesakkan kepalanya.
Tak ada tentang kita, bukan tak ada tapi nanti dulu. Kini dirinya harus tahu maksud kedatangan ayah dan anak ini yang sebenarnya. Begitu pikir Renata.
Hingga suara bariton itu terdengar jelas.
****
Tak pernah terbesit dalam pikiran Sena jika dia akan mengalami hal memalukan seperti ini. Saat pertama kali dirinya ingin mulai merasakan indah nya merajut cinta, tapi takdir belum berpihak padanya. Sena harus menelan pil pahit kenyataan, jika pria yang dia inginkan ternyata telah menaruh hati pada sang adik.
"Maaf tante renata, ada ke salah pahaman yang ingin ku luruskan. Perempuan yang telah membuat ku jatuh hati itu adalah Seta, bukan Sena. Aku mencintai Seta, begitupun sebaliknya, Seta juga mencintai ku."
Sena merasa malu terhadap dirinya sendiri yang telah menafsirkan kedekatan nya dengan Nick selama ini. Sena juga sangat malu pada pemuda itu dan Seta.. ah sepertinya Sena kali ini begitu iri pada nasib sang adik yang lebih baik dari dirinya.
Hatinya mendadak mencelos, ingin rasa menerima tapi dia pun manusia biasa yang mempunyai rasa iri dan juga cemburu. Kini gadis itu sedang berada di dalam kamar dengan hati yang muram.
__ADS_1
"Kenapa harus Seta, apa tidak ada perempuan lain? Ya Tuhan ini sangat sakit sekali. Menyakitkan bagi ku, Nick." Gumam nya dengan dada yang terasa sesak dan air mata pun seolah tak bisa dibendung lagi.
Sena menangis tergugu meratapi cinta nya yang bertepuk sebelah tangan.
Berbanding terbalik dengan Seta, begitu Renata mengetahui jika Nick dan putri bungsu nya itu saling mencintai, ibu dua putri itu seketika memanggil putri bungsu nya untuk di interogasi.
Alhasil malam itu, Nick dan Seta berhasil meyakinkan orang tua nya dan berhasil meyakinkan diri mereka bahwasanya perasaan itu memang tidak bisa di paksakan.
Biarlah Nick dan Seta yang akan memberikan penjelasan pada Sena. Menunggu waktu, memberikan kesempatan pada Sena untuk sendiri dan menenangkan pikiran.
"Jadi, rencana kalian selanjutnya bagaimana?" tanya Renata yang hampir saja lupa memberikan minum pada tamu tamu nya. "Mama tidak ingin kalian berpacaran terlalu lama dan melakukan hal yang di luar batas." ucap nya kembali terjeda dengan kedatangan Bi Yeti membawa minuman yang bisa menghilangkan kerongkongan yang kering kerontang.
"Maaf jika kami kesini tidak serta merta membawa sesuatu yang lebih istimewa, tapi putra ku sudah menyiapkan segala sesuatu nya. Sesuai dengan keinginan Author, yang ingin melihat Nick dan Seta nanti bersanding dengan balutan pesta yang meriah, hantaran yang mewah juga mas kawin yang wah, itu semua sesuai arahan dan keinginan Author, kita sebagai pemeran tau apa." Erdian ikut bersuara.
Kali ini Renata pun terlihat setuju setuju saja dengan ide dan keinginan dari calon besan nya itu. Berharap tidak ada sesuatu yang akan membuat rencana mereka carut marut.
"Baiklah Er, aku ikut saja bagaimana baik nya. Hanya saja tolong jangan sampai membuat putri ku terluka. Aku tidak akan mengampuni mu Er." Tak tahu kenapa Renata seperti nya benar benar senang sekali membuka perdebatan dengan laki-laki tampan yang terlihat sekarang sedang manggut manggut mengulum senyum.
__ADS_1
"Jangan khawatir, putra ku ini tidak seperti ku. Aku merasa tak memiliki muka jika kau terus terusan memojokkan ku Re." jawab Erdian dengan nada merajuk.
"Bagaimanapun juga sebagai orang tua tentu saja aku khawatir, aku percaya terhadap putra mu justru yang ku sangsi kan itu kamu."
"Ku ingatkan jika saja kau lupa Reta, meskipun aku buruk dimata mu tapi aku tidak akan pernah membiarkan putra ku bernasib sama seperti ku! bisa ku pastikan putri mu bersama orang yang tepat. jika kau tidak suka padaku, jangan membawa bawa anak ku ke dalam masalah kita. Bijaksana lah sedikit agar kau tidak menyesal kemudian."
"Benar begitu Nick?" Erdian pun melirik ke arah sofa yang sejak tadi menjadi tumpuan dari bokong putra nya.
"Kemana mereka? Reta, apa mereka tiba tiba menghilang?" Erdian bertanya pada Renata yang terlihan clingak clinguk mencari ke dua pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.
"Er, ayo kita berdamai! aku lelah jika harus seperti ini terus terusan. Kalau pun kita memang tidak di takdirkan bersama, paling tidak kita bisa kerja sama." ungkap Renata dengan menunjukkan ekspresi kelelahan nya.
"Apa aku tidak sedang bermimpi?" tanya Erdian.
"Tidak Er. Kau sedang tidak bermimpi. ini lelah dan melelahkan sekali."
"Reta, kalau begitu. Apa tanda nya kau mau menerima ku kembali?".....
__ADS_1
Bersambung..