
"Renata, tunggu lah sebentar. aku akan membawa mu kedalam kebahagiaan seperti dulu."
Entah terlalu keras berpikir atau memang dalam pengaruh minuman keras. Erdian yang sejak tadi meracaukan nama Renata lambat lambat pun memejamkan matanya terjerat dalam buaian mimpi yang semakin membuatnya merindukan wanita yang bernama Renata Eliana.
Begitulah kehidupan, tak ada yang abadi semua nya bisa berubah dengan cepat termasuk perasaan. Seseorang bisa saja hari ini mencintai dan ingin mempertahankan mu, tapi bisa saja esok atau lusa dia pergi karena enggan terus menerus menancapkan luka dalam hatinya.
Seperti Renata dan Erdian. Renata berhak bahagia dan itu dengan Sansan, sekuat apapun Erdian berusaha mengambil Renata dari Sansan tapi kekuatan ketulusan dari sebuah ikatan suci akan tetap bertahan.
Sansan tak bergeming dengan segala ulah perbuatan Erdian yang begitu gigih ingin merebut kembali hati wanita yang pernah dia sakiti.
Renata tetap bahagia bersama Sansan dan juga keluarga kecilnya. Hidup dengan damai seolah segala gangguan yang Erdian berikan hanya sekedar bumbu yang semakin membuat sedap hidangan masakan.
Setelah segala usaha nya gagal tak berbuah Erdian pun menghilang bersama putra semata wayang nya, bahkan perusahaan yang dia miliki pun beralih kepemilikan atas nama sebuah yayasan panti asuhan yang dulu sempat dia dan putra nya itu kunjungi.
Erdian menghilang bersama sejuta tanda tanya besar, kemana dia pergi? begitulah kiranya Sansan dan Renata menerka nerka. Mungkin dibalik cobaan dan ujian yang sengaja author skip terdapat kebahagiaan dan ketenangan bagi Renata hingga usia anak anak mereka beranjak gadis.
******
"Seta, dimana kakak mu?" tanya seorang wanita yang terlihat masih sangat cantik di usia nya yang menginjak 47 tahun.
"Kakak masih ada kelas Ma, jadi aku tadi pulang duluan. Mama masak apa? aku lapar sekali." jawab putri nya yang terlihat sangat cantik mewarisi kecantikan sang mama.
"Mama masak makanan kesukaan kalian berdua, kalau kamu sudah lapar makan lah. Mama mau keluar dulu ada keperluan sedikit."
"Baiklah Ma. Hati hati, Mama jangan terlalu lelah. Biarkan Om Danu yang menyelesaikan pekerjaan Mama. Aku ngga mau Mama sakit kecapean."
" Tenanglah Seta, Mama mu ini sudah biasa terlatih menjadi wanita kuat. Jangan khawatir, sebentar lagi kalian yang akan menggantikan Mama, iya kan?"
"Iya Ma, sedikit lagi aku dan kakak yang akan membuat Mama bahagia. Aku dan kakak akan mewujudkan cita cita Mama dan Papa."
__ADS_1
"Terima kasih putri ku yang cantik, kalau begitu Mama berangkat dulu."
Gadis cantik yang bernama Sanreta itu pun melambaikan tangan nya ke arah sang Mama. Setelah mobil yang membawa Mama nya pergi meninggalkan kediaman megah namun terlihat sepi, kembali dia melangkahkan kaki menuju ke ruangan tempat biasa nya makanan tersaji.
Meskipun sang Mama adalah wanita karier yang sangat sibuk, tapi wanita itu selalu menyempatkan diri untuk pulang ke rumah dan memasak makanan kesukaan dua putri kembar nya.
"Mama memang wanita hebat, sibuk begitu pun masih sempat membuatkan makanan kesukaan ku dan kak Sena." gumam nya dengan raut wajah yang sendu seolah menyiratkan betapa berartinya wanita yang telah membuatnya terlahir ke dunia ini.
Setelah selesai dengan makan siang yang sedikit terlambat, Seta yang lebih tepatnya Sanreta putri bungsu dari Sansan dan Renata pun pergi melangkah masuk ke dalam kamar nya yang bersebelahan dengan kamar sang kakak Sanrena.
Bergegas membersihkan diri sebelum menyelesaikan tugas akhir dari kampus nya yang akan mengantarkan nya ke gerbang dunia nyata.
Seta duduk manis depan laptop, berbekal kecerdasan warisan sang Papa. Sena dan Seta menjadi dua sosok yang sangat populer karena kecerdasan dan juga kecantikan yang mereka miliki tentu nya.
"Ckk.. kemana Kak Sena jam segini belum pulang juga? atau jangan jangan terjadi sesuatu. tak seperti biasanya kakak pulang telat." gumam nya dengan nada cemas, mencemaskan sang kakak yang belum menampakkan batang hidung nya.
Tak ingin berburuk sangka, Seta pun berusaha menghubungi sang kakak.
Berkali kali Seta mengulangi panggilan nya tapi tetap saja belum ada jawaban dari Sena.
"Ya Tuhan, kakak jangan membuat ku khawatir tolong.." kembali Seta bergumam sendiri.
Seta yang berusaha menanyakan tentang kakak nya pada teman teman nya di kampus pun tak mendapat jawaban yang memuaskan. Mereka umum nya mengatakan kalau Sena sudah pulang, dan tentu saja membuat Seta tambah khawatir.
Disaat pikiran Seta sedang kalut terdengar suara pintu gerbang yang terbuka. Tak menunggu lama, Seta bergegas melesat turun dan berlari menghampiri pintu yang masih tertutup.
Ceklek..
"Assalamu'alaikum.. " ucap Sena mengucapkan salam.
__ADS_1
"wa'alaikumsalam kak, kakak kemana saja? kenapa kau telpon dari ku tidak kakak angkat. menyebalkan sekali kakak ini membuat ku khawatir. awas saja nanti aku adukan sama mama baru tau rasa."
Sena yang mendengar adik nya mengomel pun hanya terkekeh dan menggasak pelan rambut sang adik.
"Apa kau begitu mengkhawatirkan ku sampai sampai omelan mu itu memekikkan telinga ku Seta? Padahal kakak mu ini kehausan sekali setelah mengganti ban mobil yang bocor tadi." jawab Sena dengan nada menggoda adiknya yang nampak masih sangat kesal.
"Bagaimana aku tidak khawatir, aku ini hanya punya satu saudara di dunia ini yaitu kamu kakak ku yang super jelek. Apa kamu sudah lupa sama pesan almarhum Papa? kalau kita harus saling melindungi dan menjaga Mama."
Ucap Sanreta menegaskan.
Sena yang mendengar kekhawatiran adik nya langsung menghambur ke dalam pelukan Seta. Berusaha menahan tangisan nya agar tidak membuat suasana semakin suram.
Sena sadar dan ingat dengan jelas, bagaimana Papa nya sebelum menghembuskan nafas terakhir nya begitu memohon agar mereka saling melindungi dan terutama menjaga istrinya yaitu Mama mereka sendiri.
"Seta, terima kasih sudah mengkhawatirkan kakak. Ban mobil kakak bocor dan disaat kamu menelpon mungkin kakak sedang mengganti ban yang bocor itu. Sudah ya, aku kan sudah pulang kamu ngga usah sedih lagi adik manis ku."
Sena yang tumbuh menjadi gadis yang kuat, mandiri dan tak bisa menerima kekalahan, namun sedikit tertutup, berbeda dengan Seta yang tumbuh menjadi gadis cerewet tapi manja. Seta seolah disiapkan Sansan untuk menjadi penghangat dalam keluarga mereka yang kini terasa beku setelah kepergian Sansan 10 tahun yang lalu akibat kecelakaan tunggal yang membuat nyawa nya melayang setelah menitipkan sebuah amanat pada kedua putri cantik nya.
"Ya sudah, kakak aku maafkan. sekarang kakak mandi dan makan jangan sampai nanti kakak sakit. kita masih ada misi yang belum terlaksana." cerocos Seta.
"Baiklah baiklah bawel." jawab Sena sambil mencubit hidung bangir sangat adik.
Mengingat amanat dari sang Papa membuat mereka segera ingin lulus dan mengemban tugas yang mereka yakini akan mengantarkan mereka pada tujuan, yaitu pesan mendiang Sansan yang sampai kini belum mereka kerjakan.
Bersambung...
Seperti apa sii pesan Sansan buat kedua putri kembar nya itu?
jangan lupa like, comment and gift nya ya readers. Dukungan kalian adalah harta karun yang berharga.
__ADS_1
Terima kasih, salam Author...
Ukano