
'Renata.. Semakin hari bukan nya menghilang rasa ini, semakin berkurang usia ku justru semakin membuncah rasa padamu, semakin menjauh entah mengapa rasa ini malah semakin ingin mendekat.. Mungkin ini gila, tapi aku menikmatinya. Menikmati sensasi hukum karma yang selalu menggoda.'
***
Baru saja kaki jenjang itu menapaki lantai dingin. Indera penciuman nya sudah dimanjakan dengan sesuatu yang kini membuat bagian dalam tubuh nya meronta ingin mencicipi hidangan yang begitu menggiurkan.
Raut muka yang cerah karena suasana hati sedang dilanda bahagia, Perempuan yang masih terlihat cantik di usia nya yang terbilang cukup matang. Renata menghampiri Bi Yeti si pembuat rusuh perut nya itu.
"Ternyata memang ini yang membuat perut ku rasa nya menjerit." Gumam nya lirih tetapi masih dapat terdengar jelas oleh Bi Yeti.
"Nyonya sudah pulang. Bibi masak makanan kesukaan Nyonya juga Non Sena. Akhir-akhir ini Bibi lihat Nyonya makan nya hanya sedikit, sementara tanggung jawab Nyonya begitu banyak. Bibi takut Nyonya jatuh sakit jika makan tidak teratur." Tutur si Bibi tulus. Tentu saja Bi Yeti tak ingin Nyonya nya itu jatuh sakit, selain sudah terlanjur menyayangi si Bos yang kebaikan nya sudah tak terhitung, juga tentunya sudah menjadi kewajiban nya memperhatikan asupan gizi seluruh penghuni rumah tempat nya mengais rezeki.
"Terima kasih Bi, maaf untuk kemarin nya. Seperti yang Bibi tahu, banyak sekali hal yang membuat nafsu makan ku mendadak terjun bebas." Keluh nya tak lupa menggumamkan maaf untuk seseorang yang selama ini tulus membantu nya.
"Aku mau bersih-bersih dulu. Nanti kita makan bareng ya Bi. Sena mungkin akan makan malam diluar sama temannya." lanjut nya
"Baik Nyonya." jawab Bi Yeti dengan lontaran senyum hangat.
Setelah selesai dengan ritual mandi dan makan malam yang kini membuat perut nya terasa penuh, perempuan yang selalu kalap jika sudah berhadapan dengan masakan rumahan itu kini terlihat mengajak asisten rumah tangga nya untuk bercengkrama. Hitung-hitung mengusir kesepian karena kedua putri nya sedang tidak berada dirumah. Sena yang sejenak tadi memberikan kabar jika masih dalam perjalanan dari luar kota demi misi kemanusiaan nya, juga Seta yang kini sedang berada di rumah Dita, sang adik perempuannya yang konon katanya kurang enak badan.
Tak ayal, Bi Yeti yang begitu setia terhadap profesi nya itu dengan sigap serta merta membawa satu ceret teh hijau beserta gula rendah kalori untuk menjaga kadar gula karena sadar tak sadar kini mereka sedang dalam tahap menuju ke masa tua. Tak lupa juga satu toples kue sagu sebagai cemilan penambah kenikmatan dari teh hangat yang sebentar lagi akan diseruput.
"Nyonya, teh hangat nya." ujar Bi Yeti siap mendudukkan bokong disertai tangan yang terlihat mengulurkan cangkir yang berisi teh hijau yang terlihat masih mengepul.
"Terima kasih Bi." disela helaan nafas nya Renata menerima cangkir teh dan menghirup aroma teh yang menenangkan.
__ADS_1
" Bi, besok mungkin aku akan mengungkapkan segalanya pada Sena dan Seta, bagaimana masa lalu ku sebelum bertemu dengan Mas Sansan. Sebenarnya aku sedikit malu jika mereka mengetahui kebenarannya tentang aku dan juga Erdian, Bi. Tapi aku juga tidak ingin kedua putri ku menjauh hanya karena ke salah pahaman tentang hubungan Seta bersama Nick. Menurut Bi Yeti, apa aku tidak berlebihan dalam menyikapi ini semua? jujur aku sedikit bingung, andai saja Mas Sansan masih ada mungkin aku tidak akan sebingung ini Bi." Dengan disertai helaan nafas panjang serta mengusap wajah nya dengan kasar Renata akhirnya bisa menceritakan kegelisahan nya pada orang yang dapat ia percayai. Selain Erdian tentunya.
Bi Yeti pun sedikit banyak nya telah mengetahui permasalahan yang tengah dialami oleh Nyonya nya itu. Jujur saja perempuan yang kulit nya mulai terlihat keriput itu pun ikut memikirkan jalan keluar agar keluarga yang dia sayangi ini kembali rukun seperti dulu.
"Menurut Bibi, apa yang Nyonya katakan tadi sudah benar. Non Sena dan Non Seta memang harus mengetahui bagaimana keadaan Nyonya sesaat sebelum bertemu dengan Tuan. Bibi akan ikut membantu jika diperlukan, Bibi hanya ingin yang terbaik untuk keluarga ini."
"Begitu ya Bi, besok aku akan menceritakan semuanya saat makan siang, kebetulan Sena sedang free dan Seta juga mengabari jika besok dia akan datang."
Renata bersyukur disaat kesendirian nya seperti ini, ada Bu Yeti yang mau menemani dan mendengarkan keluh kesahnya.
Obrolan pun berlangsung dengan ditemani oleh siaran televisi yang sedang memutar sinetron favoritnya Bi Yeti.
Jika ditanya apa seakrab itu Renata dan asisten rumah tangga nya? jawaban nya memang iya dan tentu saja.
Perempuan cantik itu pun meninggalkan ruang televisi karena matanya sudah berat tak sanggup lagi bertahan menunggu Sena tiba dirumah.
Niat hati ingin segera rebahan dan memejamkan mata, nyatanya sampai beberapa saat ia tak kunjung juga terlelap.
Klontang
Terdengar gawai nya berbunyi pertanda sebuah pesan masuk. Dengan malas, Renata pun merogoh benda pipih tersebut yang ia letakkan di atas nakas.
"*Sudah tidur, Re?"
"Selamat malam.."
__ADS_1
"Jangan lupa untuk mimpikan aku."
"π"
"Apakah kau tak ingin membalas salah satu pesan ku ini?"
"Kau tega sekali.."
"Renata Eliana, aku menunggu mu*.."
Beberapa pesan yang jelas dikirim dari nomer Erdian, berderet menghiasi kelopak matanya. Mungkin si pengirim pesan sadar, jika pesan nya hanya dibaca saja, sehingga dapat Renata lihat jika dilayar ponsel nya terdapat kalimat 'Erdian sedang mengetik..."
Menjadi kepenasaran tersendiri, entah apalagi yang akan laki-laki itu sampaikan padanya. Jujur saja kini Renata terlihat merona, seperti anak remaja yang baru saja merasakan getaran cinta.
Benar saja tak lama kemudian, kembali satu pesan datang dalam room chat yang belum dia matikan. Membuat lengkungan bibir nya tak tahan untuk menyunggingkan senyum dan kekehan pelan. Terang saja, Erdian memberinya pesan konyol yang membuat perempuan itu benar-benar merasakan degup jantung nya berdebar dengan sejuntai kalimat sederhana 'Re, mungkinkah kau akan menjadi future wife ku atau hanya akan menjadi besan idamanku saja?"
"Selamat malam, dan selamat istirahat Tuan Erdian. Kita lihat saja nanti."
Akhirnya hanya kalimat itu yang terbesit sebagai balasan untuk beberapa pesan Erdian.
Sebelum meninggalkan ruang obrolan nya, Renata kembali menyunggingkan senyum, dan menaruh kembali gawai nya ketempat semula.
Sebelum kesadarannya menghilang ke alam mimpi, terdengar samar-samar suara mobil dan dapat dipastikan kalau itu mobil yang membawa Sena dengan selamat sampai ke rumah. Hati Renata menjadi tenang, dan rasa kantuk itu pun kini benar-benar tak bisa ia cegah lagi.
Berharap agar hari esok lebih baik dari pada hari ini, untuknya juga keluarga dan orang-orang yang selalu menyayangi keluarga nya.
__ADS_1
"Re, mungkinkah kau akan menjadi future wife ku atau hanya akan menjadi besan idamanku saja?"