Terjerat Genggaman Palsu

Terjerat Genggaman Palsu
TGP 27 Jeratan Yulia


__ADS_3

Bruk..


"Maaf. Maafkan Saya. Anda tidak apa-apa?" Ucap seorang perempuan yang tak sengaja menabrak Renata sehingga tas yang dia bawa pun terjatuh.


"Aahh.. Iya tidak apa... "


Tak sempat meneruskan kalimat nya. Renata tertegun, terdiam menatap perempuan yang ada di depan nya dengan raut muka yang jelas terlihat terkejut.


"A a anda.."


"Renata Eliana." Gumam perempuan itu dengan pandangan menghunus tajam.


"Nyonya Yulia, Anda disini?" Dengan berusaha menormalkan degup jantung yang seolah berpacu tak tentu. Renata mencoba menyapa dan tersenyum ramah pada perempuan yang bernama Yulia tersebut.


Ya, dia adalah Yulia. Istri dari Erdiana laki-laki yang dulu sempat Renata puja sedemikian rupa. Cinta sepihak nya yang seolah menjadi bumerang dalam hidup Renata saat itu.


Dan Yulia, perempuan di hadapan nya itu adalah istri dari seorang yang telah membuat hidupnya terombang ambing dalam jeratan genggaman kepalsuan.


"Ya, seperti yang Kau lihat, Renata Eliana. Seperti nya kau sedang terburu-buru? Apa setelah ini kita bisa bicara? Ada sedikit yang harus ku sampaikan padamu." Ujar Yulia dengan nada terkesan sedikit angkuh.


"Maaf, sepertinya tidak ada yang harus kita bicarakan Nyonya. Maaf Saya mau masuk dan keluarga Saya pasti sudah menunggu." Jawab Renata jelas menolak ajakan Yulia.


Seolah ingin menutup Rapat-rapat masa lalu yang tidak berkesan. Renata melangkah kan kaki masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa perempuan itu datang kesini dengan Er? Ya Tuhan, tolong jangan pertemukan ku dengan laki-laki itu lagi, aku mohon." Racau nya dalam hati.


Kegiatan dalam kamar mandi itu pun tak berselang lama, Renata segera keluar bermaksud kembali ke meja dan bergabung dengan suami dan adik-adiknya. Dia pikir mungkin Dika Diki pun sudah sampai, dan Perempuan yang bernama Yulia itu telah pergi tidak menunggunya.


"Renata, kita harus bicara. Tolong sebentar saja." Yulia masih dengan betah menunggu nya dan menahan lajunya melangkah.


"Untuk apa Nyonya? Saya rasa diantara kita tidak ada yang harus dibahas dan dibicarakan. Jadi Saya mohon, tolong lepaskan Saya."


Renata menepis tangan Yulia yang membuat langkah nya tertahan.


"Ini tentang Er.. Apa Kau tidak ingin mengetahui yang sebenarnya?"


"Renata, Aku mohon. Hanya sebentar dan ini hanya tentang kebenaran yang selama ini tidak Kau ketahui." Yulia masih tetap berusaha meyakinkan Renata agar mau mendengarnya.

__ADS_1


"Apapun itu, itu bukan urusan saya Nyonya. Jadi maaf, berbahagialah bersama suami dan keluarga Anda. Karena saya pun telah bahagia dengan suami juga keluarga yang saya miliki."


"Apa kau pikir Er selama ini bahagia? Apa kau pikir kami baik-baik saja setelah apa yang kalian lakukan dibelakang ku hah? Renata asal kau tau, Saya dan Er sudah berpisah. Kami berpisah tepat setelah Kau pergi malam itu. Kau tau, Er begitu terpukul dan menyesali setiap perbuatan nya terhadap mu. Dan Kau tau, rumah tangga kami hancur. Er seperti orang gila mencari mu, siang malam. Apa kau tau itu?"


"Suami ku, Erdiana sangat mencintai mu . Dia terjerat oleh perempuan seperti mu. Sesuai keinginan mu, kami telah berpisah. Dan sekarang, Er memisahkan ku dengan putra semata wayang kami. Renata apa kau puas mendengarnya?"


Yulia dengan nada bergetar mengungkapkan kebenarannya. Meskipun ada sedikit bumbu kebohongan yang Dia tambahkan.


Mendengar hal itu, Renata terdiam dengan raut muka yang dingin datar dan tak terbaca. Merasa bersalah pada Yulia, dan juga merasa iba.


"Er menceraikan ku, Renata kau menghancurkan rumah tangga kami. Dan lihat sekarang kau.. kau menikah mempunyai keluarga dan juga anak. Sementara aku?"


Yulia seperti nya ingin membalas perbuatan Er dan Renata lah yang ia jadikan sasaran. Yulia berpikir karena Renata lah Er berubah dan membuang nya.


"Rasakan sedikit pembalasan ku ini Perempuan j****g." Umpat Yulia dengan seringai jahatnya.


Setelah puas menghakimi wanita hamil tersebut. Dengan senyum penuh kemenangan Yulia berlalu tanpa memperdulikan Renata yang bergetar menahan air mata yang berdesakkan.


"Ya Tuhan, aku jahat sekali. Aku.. "


πŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’š


Sansan yang tengah menunggu istrinya kembali dari kamar mandi, entah kenapa merasa resah. Di liriknya sang waktu dan perasaan nya semakin tak karuan.


Dita yang menyadari perubahan raut muka kakak ipar nya pun seolah paham dengan apa yang terjadi.


"Kak, aku permisi ke kamar mandi ya. Kakak sudah hampir 40 menit masih belum kembali juga. Aku khawatir." Ucap Dita pada kakak ipar nya juga pada Dika dan Diki yang baru saja datang.


Belum Dita melangkahkan kaki nya, beberapa orang berteriak histeris.


"Toloong ada wanita hamil tak sadar kan diri." Ucap salah satu pengunjung Resto yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.


Deg..


Sansan pun merasa terhenyak dan tanpa aba-aba berlari menghampiri kamar mandi yang posisi nya ada di belakang Resto dan terbilang sepi.


"Maaf, permisi." Ucap Sansan pada kerumunan orang yang terlebih dahulu berusaha menolong wanita malang tersebut.

__ADS_1


Dapat Sansan lihat dengan jelas. Istrinya tak sadar kan diri dan terlihat ada bercak darah di kaki nya yang putih.


Tanpa banyak kata, Sansan bergegas meraup tubuh yang terbujur kaku itu dan segera berlari keluar. Triple D yang menyusul sang kakak pun ikut keluar Dika sigap membawa mobil, Dita dan Diki membayar tagihan yang bahkan makanannya pun belum sempat mereka cicipi karena menunggu sang kakak yang tak kunjung kembali setelah pamit ke kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di rumah sakit terdekat. Sansan terlihat sangat cemas sekali menunggu dokter yang tengah memeriksa keadaan sang istri.


"Tuhan.. tolong selamatkan istri dan anak-anak ku." Ucap Sansan tak berhentinya berdo'a.


Selang kemudian Dokter pun keluar dan segera menghampiri Sansan, Dita, Dika dan Diki.


"Maaf dengan keluarga pasien Renata? Begini Pak, kondisi pasien saat ini kritis. Untuk itu kami memutuskan istri anda sebaiknya segera di operasi untuk menyelamatkan ibu beserta bayi yang sedang di kandung nya." Ucap Dokter itu menjelaskan.


"Baiklah Dokter lakukan yang terbaik untuk istri saya dan juga anak-anak kami, tolong saya mohon." Ucap Sansan terdengar memelas.


Dokter pun segera berlalu dan bersiap dengan tindakan selanjutnya.


Disaat mereka sedang kalut dan penuh rasa cemas. Dika yang sejak tadi terdiam berpikir merasa ada yang aneh dengan keadaan sang kakak yang menurut perkataan Dita juga Sansan, kakak nya itu dalam keadaan baik-baik saja dan bahagia.


"Kak Sansan, Kak Dita, juga kamu Ki. Maaf aku titip Kak Reta, Tiba-tiba aku ada sedikit urusan. Kabari aku kalau Kak Reta sudah selesai operasi." Ujar Dika terdengar serak.


"Dika, mau kemana kamu? jangan mulai aneh-aneh deh." kali ini Diki yang menjawab.


"Aku ada sedikit urusan. Tolong ya kau jaga Kak Reta. Kak Sansan tenang Kak, Kakak ku pasti baik-baik saja. Dia wanita yang kuat. Dia pasti kembali pada kita, pada Kakak." Dika mencoba menguatkan hati Kakak iparnya.


Sansan yang terlihat rapuh hanya bisa mengangguk membiarkan Dika berlalu.


Bersambung..


Mau kemana Dika? entahlah mungkin Dika mau main detektif-detektifan πŸ˜„


Terima kasih


Salam hangat,


πŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’šπŸ’™πŸ’š


Ukano

__ADS_1


__ADS_2