
"Aku, Niken Pradita tetap akan menjadi adik sekaligus teman buat kakak ku Renata Eliana, perempuan cantik yang begitu kuat dan penuh kasih sayang yang telah dengan susah payah membesarkan ku selama ini."
Dua perempuan itu pun terisak penuh haru.
dan tanpa mereka sadari Sansan, Dika dan Diki pun ikut mendengar obrolan mereka. Ketiga laki-laki tersebut ikut berkaca-kaca terharu dan sekaligus merasa bangga terhadap hubungan kedua adik kakak yang begitu kuat.
****
Setelah keduanya saling mengurai pelukan Dita terlihat mengusap sisa cairan di mata sang kakak nya itu.
"Mulai sekarang kakak harus lebih bahagia bersama kak Sansan. kakak harus punya banyak anak agar ke tiga adik mu ini bisa ikut repot jika suatu saat harus ikut menjaga mereka. Kalian harus sering berbulan madu. Kak, Dita beruntung di takdir kan menjadi adik nya Kak Reta."
Dita kembali memberikan sugesti positif bagi kakak nya agar berhenti menyalahkan diri nya sendiri.
"Dek, yang ini juga masih sakit. masa iya kamu sudah mikirin kakak buat punya anak lagi. kamu ini ya. Kamu sendiri bagaimana kapan mau ngenalin kakak sama laki-laki beruntung itu, hah ayo kapan?" Renata yang sengaja menggoda adik perempuan nya yang terkesan begitu introvert.
Dita memang begitu sederhana dan terkesan membatasi diri dari pergaulan dengan lawan jenis. Lihat saja di usia nya yang sudah memasuki 23 tahun, Dita tak pernah sekalipun membahas masalah perasaan suka atau pun cinta terhadap pria manapun.
Dita, gadis cantik dan ayu bertubuh tinggi ramping dan bisa dikategorikan seksi tersebut hanya fokus terhadap cita-citanya. Sekarang disaat hampir semua nya tercapai, Dita masih tetap saja belum berhasil membuka hati untuk jatuh cinta.
"Bukan nya istirahat kalian berdua malah asyik mengobrol. Sayang, istirahat ya agar ASI nya bisa cepat normal. Kamu juga Dek, mau istirahat disini atau mau ikut pulang bersama Dika dan Diki. Mereka barusan pamit karena nanti siang katanya ada latihan buat kejuaraan nasional."
Ucap Sansan panjang lebar.
"Ya sudah Kak, aku mau permisi mau pulang aja. lagian nanti juga aku harus ngajar hari ini ada ulangan buat anak-anak murid ku di sekolah." jawab Dita.
"Kak, aku permisi pulang dulu. nanti sore atau malam aku sempatkan kesini lagi jengukin kakak sama si kembar juga." usai pamit Dita pun bergegas melangkah menuju parkiran. Tujuan nya agar dia bisa pulang bersama dengan Dika dan Diki.
__ADS_1
Sepeninggalan Dita, Sansan dengan penuh rasa sayang menemani sang istri hingga terdengar dengkuran halus tanda istrinya itu telah masuk dalam buaian mimpi.
"Tidur lah sayang, terima kasih untuk kesediaan mu bersama hidup dengan ku." gumam Sansan pelan disertai tangan nya yang membelai mesra rambut sang istri.
*****
Tanpa terasa enam bulan telah berlalu. Semenjak melahirkan si kembar yang mereka beri nama Sanrena dan Sanreta, rumah tangga keduanya pun semakin harmonis bahkan nyaris tanpa konflik.
Sansan sosok suami sekaligus ayah yang paling sempurna mungkin tanpa cela. Begitu pula dengan Renata, semakin cantik dan berpikir dewasa. Selalu menomor satu kan suami dan anak-anak nya. Tak ayal rumah tangga meraka menjadi ladang pahala yang mendatangkan rezeki yang berlimpah dari segala arah.
Tapi tidak bagi Renata, meskipun suami nya memberikan kebebasan untuk menggunakan hasil jerih payah nya. Renata tetap menjadi sosok yang sederhana, baginya hidup serba dilayani seperti sekarang pun sudah sangat bersyukur. Tak ada koleksi tas maupun pakaian branded, bagi nya tidak perlu mewah yang penting nyaman dan tetap enak dilihat suaminya.
Seperti saat ini, Renata terlihat sedang menyiapkan makanan pendamping ASI buat bayi nya yang terlihat gembul menggemaskan. Tak ragu untuk langsung terjun mengolah sendiri, tak mengandalkan makanan instan yang berjejeran di swalayan.
Dibantu Bi Yeti sang asisten yang telaten juga Bi Sumi yang kebetulan sedang menjaga si kembar yang tengah diasuh di kereta bayi. Renata sengaja tidak memperkerjakan banyak asisten dan pelayan. Maka dari itu, Renata meminta sang suami memberikan modal pada para pekerja yang dianggap memiliki kemampuan berwirausaha. Dan tentu saja Sansan sebagai sang suami pun mendukung tujuan baik istrinya tersebut.
"Neng, ini brokoli nya sudah Bibi bersihkan, kentang nya juga sudah bibi kukus." jelas Bi Yeti dengan sopan. Ya Renata tak ingin dirinya dipanggil dengan sebutan Nyonya oleh asistennya karena menurut Renata itu terdengar kurang nyaman.
"Baiklah Bi, terima kasih. O iya Bi, nanti untuk makan malam tolong siapkan bahan-bahan yang tadi pagi aku sebutkan ya. Aku mau bikin makanan favorit nya Mas Sansan." ucap Renata.
"Kalau itu tenang Neng, sudah Bibi siapkan semuanya. Sudah Bibi cuci bersih ada dalam kulkas." Terang Bi Yeti.
"Bibi memang partner ku yang paling best." Puji Renata di iringi gelak tawa Bi Yeti yang membuat suasana dapur menjadi ramai.
Setelah acara membuat makanan si kembar selesai, dengan cekatan Renata pun mengolah bahan makanan yang tadi Dia ingin sajikan untuk makan malam sang suami.
"Akhirnya selesai juga." Dengan senyum yang mengembang Renata tak sabar ingin segera memanjakan lidah sang suami dengan menu favoritnya.
__ADS_1
Setelah sebelumnya meminta bantuan Bi Yeti dan Bi Sumi untuk menyuapi si kembar. Renata pun bermaksud membersihkan diri yang terasa lengket setelah berkutat di dapur.
"Mungkin dengan sedikit berendam akan membuatku segar kembali." pikir nya.
Tanpa berpikir panjang karena dia merasa anak-anak nya sedang bersama ke dua asisten kepercayaan Renata pun segera membuka kain pembungkus raga.
Disaat bersamaan tanpa Dia ketahui ada seutas senyum penuh harapan. Harapan untuk segera berbuka menyantap hidangan yang terlihat sangat menggiurkan menggugah selera menggoda iman.
Siapa lagi kalau bukan Sansan sang suami yang kebetulan pulang cepat karena tak tahan rindu pada istri dan anak-anaknya.
"Baru melihat nya saja benar-benar sudah membuatku panas dingin begini. Apalagi kalau nanti sampai menggapainya, semoga saja senjata ku tidak karatan karena lama tak di asah." Gumam Sansan dalam hati.
Dengan suara langkah yang mengendap Sansan pun menyelinap masuk ke dalam kamar mandi. Terlihat sang istri sedang memejamkan mata menikmati waktu santai nya memanjakan diri dengan sentuhan aroma terapi.
Cup..
Merasa ada yang menyentuh basah pipi nya, Renata pun tersentak kaget.
Tak sadar dengan keadaan nya yang polos, terperanjat dan seolah memperlihatkan bagian atas nya.
"Mas.. mengagetkan ku saja iihh.." dengan bibir nya yang mengerucut Renata pun merajuk kesal atas ulah sang suami yang tiba-tiba.
"Maaf sayang.. suami mu ini hanya ingin ikut merasakan berendam. Kelihatannya begitu menyenangkan. Apa Papa nya anak-anak mu ini boleh ikut serta." Rayu Sansan pada istrinya.
Bersambung...
Terima kasih telah menyempatkan mampir disini.
__ADS_1
Salam hangat Author ππππππ