
POV Sena
Jika ada yang merasa lega setelah mendengar cerita Renata, pasti salah satu nya adalah Aku. Sanrena si sulung yang sering dipanggil Sena. Gadis 21 tahun, yang tak bisa menyembunyikan sorot kebahagiaan nya, ketika bisa bersama berkumpul dengan Mama dan juga Seta. Saudari kembarnya itu.
Kepercayaan dalam hatiku kembali muncul, karena setiap makhluk yang diberi nyawa oleh Sang Pencipta pasti mempunyai garis suratan takdir hidup yang berbeda. Aku juga Seta terlahir dari rahim yang sama, mengalir darah yang sama, bahkan wajah kami pun boleh dibilang sama. Tetapi karakter kami berbeda. Jujur saja, aku sedikit iri dengan Seta yang bisa dengan mudah mendapatkan seorang teman. Karena Seta memiliki sifat yang ceria, dan tentunya menyenangkan. Berbeda sekali dengan ku yang terkesan kaku dan sulit membuka hati. Seta, adikku yang cantik seolah mempunyai magnet tersendiri, yang bisa menarik orang untuk lebih mengenal dirinya lebih dalam.
Seperti ketika pertama kali Seta bertemu dengan Paman Erdian. Seta bisa dengan mudah dekat dan diterima dengan tulus oleh laki-laki yang masih berstatus 'orang asing' bagi kami saat itu. Lalu kemudian, Nick. Pemuda pertama yang bisa membuat relung hatiku menghangat dan membeku diwaktu hampir bersamaan, bisa dengan gamblang menyatakan perasaan cinta nya pada Seta. Sedangkan terhadapku, Nick hanya memandangku sebagai putri dari seorang Renata, wanita yang begitu Paman Erdian yang tak lain adalah Papa nya itu cintai. Sakit, tentu saja. Pertama kali dalam hidup ku selama 21 tahun ini mengalami patah hati oleh pria, tentu nya selain ditinggalkan oleh almarhum Papa.
Merasa takdir tidak berpihak padaku, aku memilih menghindar dari Seta dan juga Mama. Lebih memilih menyibukkan diri di sebuah organisasi kemanusiaan yang dinaungi oleh kampus. Seolah semesta pun tak berpihak padaku, awal nya sulit sekali beradaptasi dengan orang-orang baru yang terkesan begitu mencintai kegiatan bakti sosial. Mengunjungi korban bencana alam dan berkunjung langsung ke tempat musibah itu terjadi. Awalnya terasa sangat berat dikarenakan tentu saja oleh sifat ku yang kaku ini. Coba saja jika aku ini adalah Seta, selalu pikiran itu yang terlintas dalam pikiran ku. Untung saja, sebuah peristiwa ketika kegiatan bakti sosial mengunjungi korban gempa Cianjur, aku yang lebih suka menyendiri ini di sadarkan dengan adanya sebuah insiden kecil. Saat itu..
flashback on
"Sena, bisa tolong kamu antarkan obat-obatan ini ke tenda darurat nomer 7? Disana ada dokter yang sedang memeriksa pasien korban bencana. Tadi Siska bilang, dokter nya kekurangan ibuprofen, kassa, dan sejumlah obat-obatan lainnya. Tolong ya." Reyhan seorang Kakak tingkat, yang merupakan ketua organisasi dengan senyum ramah nya berusaha membuat kehadiranku sedikit berguna.
"Baik, Kak." Hanya itu yang berhasil keluar dari bibir ku. Ku langkahkan kaki ku menuju mobil pick up yang membawa seluruh kardus besar berisi berbagai macam barang untuk disumbangkan, tak terkecuali kardus obat-obatan yang dimaksud oleh Kak Reyhan tadi.
Entah keteledoran yang disengaja atau tidak disengaja oleh ku yang memang tidak fokus karena masih memikirkan perasaan ku yang tak berbalas oleh Nick. Aku bukan nya pergi membawa obat-obatan yang dipesan oleh dokter di tenda darurat nomer 7, melainkan aku malah pergi membawa tas ransel ku yang kebetulan berada di salah satu mobil yang berdampingan dengan mobil pick up tadi. Kaki ku malah membawa ku ke sebuah tempat yang sunyi, hingga tanpa sadar aku bingung harus kembali pulang ke arah mana. Jujur tadi ketika berjalan, pikiran ku kosong melayang entah kemana.
__ADS_1
"Sial, sepertinya aku tersesat. Mana tak ada sinyal lagi.." gumam ku dengan perasaan takut melihat ke sekeliling hanya ada timbunan tanah yang terlihat. Mencoba peruntungan, dengan berbalik arah, naas lagi-lagi semesta seolah menegur ku yang teledor ini. Saat melangkah, tiba-tiba kakiku terperosok, cukup dalam. Sehingga cukup membuatku mendengus kesulitan untuk membawanya lagi kepermukaan. Entah berapa jam ku lalui dengan kondisi takut dan cemas. Mataku sudah memanas, hati ku tak hentinya meminta pertolongan, jika aku bisa selamat tak akan lagi aku mengabaikan tugas juga mengacuhkan orang-orang yang berusaha peduli terhadapku.
Hampir saja aku putus asa, ketika seseorang datang dan berhasil menyelamatkan ku. Dia adalah Kak Reyhan, yang ternyata begitu mencemaskan ketidak hadiran ku disaat jam menunjukkan saat nya kembali ke tenda tempat kami menginap. Tanpa takut, dia menolongku. Mengeluarkan ku dari kesusahan, hingga tak segan aku berhambur kedalam pelukan nya, seraya menggumamkan terima kasih dan tentu saja menangis diatas dada nya yang bidang.
Seolah mengerti perasaanku, diapun tak segan membalas merengkuh ku diserai mengelus rambut ku yang mungkin sudah lepek dan bau, menenangkan ku dari rasa takut dan membawa ku kembali dengan selamat, hingga hari ini.
flashback off..
Dari mulai saat itu, cara pandang ku sedikit berubah. Tak ada lagi Sena yang kaku dan suka menyendiri. Karena Kak Reyhan lah kepercayaan diri ku kembali. Sungguh, saat ini debaran untuk Nick yang kemarin lalu sempat kurasakan menguap entah kemana. Dan lihat, kini pria itu hadir di hadapan ku pun, hati ku biasa saja. Bahkan dua orang sahabatnya yang tidak bisa ku pungkiri mempunyai bentuk fisik yang nyaris sempurna pun, seolah tidak memesona di mataku.
"Sena, gimana kabar mu? perkenalkan mereka berdua adalah sahabat ku, Kenzo dan Erick." Sapa Nick dengan tak lupa memperkenalkan kedua pemuda tampan itu pada Sena.
"Senang berkenalan dengan mu, Sena." balas Kenzo dengan sorot mata yang membuat Sena sedikit gelagapan, namun masih bisa dia atasi.
"Terima kasih, Kenzo. Senang juga bisa kenal dengan kamu." jawab Sena singkat.
Duduk bersama saling bertukar cerita, ternyata Erick dan Kenzo merupakan pria blasteran. "Pantas saja wajah mereka berada di atas rata-rata." gumam ku dalam hati.
__ADS_1
Hingga pertemuan itu berakhir, Kenzo masih saja memberikan ku sorot mata yang sulit ku artikan. Terserah, apapun yang pemuda itu lihat dari ku, rasanya hati ini sudah tahu kemana harus berlabuh.
Keberuntungan, ketika Kenzo menawarkan diri untuk mengantarkan ku. Seseorang yang tentu saja tidak akan aku tolak, muncul dengan senyuman nya, entah kebetulan atau bukan. Reyhan, menghampiri dan menyapa Mama dan juga Kenzo. Kebetulan Seta dan juga Nick pulang terlebih dahulu, sedangkan Erick, pemuda bule itu menghilang bersama mobil mewah nya entah kemana.
"Hay, Rey. Kebetulan bertemu disini. Kamu ada janji menemui seseorang disini, atau kebetulan saja?" Renata menyapa pemuda itu dengan sedikit menggoda putri sulung nya yang terlihat merona salah tingkah.
"Kebetulan Tante. Rey, tadi melintas sekitar daerah sini dan melihat Sena. Makanya Rey mampir memastikan." jawab Reyhan tak lupa menyalami Renata dengan takzim. Itulah kelebihan pemuda itu, selalu mengedepankan sopan dan santun, jujur saja Renata suka jika putri nya dekat dengan pemuda ini.
Kenzo yang merasa sedikit terabaikan pun, mencoba untuk bersikap santai. Sebagai laki-laki, mungkin dia mengerti jika aku merasa sedikit tidak nyaman jika harus pulang bersama berdua dengan nya. Aku salut, ketika dia bergegas pamit dan pergi karena ada pekerjaan nya tak bisa ditunda.
"Sayang, kamu mau pulang sama Mama atau bareng sama Reyhan?" Mama seolah mengerti jika aku ingin pulang bersama dengan si calon dokter bedah ini.
"Kalau Tante mengizinkan, boleh jika Rey mengantar Sena. Tapi mungkin kita akan mampir dulu ke kampus, ada yang harus kami diskusikan sedikit."
"Boleh, silakan. Tante titipkan Sena sama kamu ya."
Reyhan terlihat mengangguk dengan cepat seraya tersenyum penuh kelegaan.
__ADS_1
"Pulang nya jangan terlalu malam ya sayang."
Setelah itu....