
Sanrena dan Sanreta memang masih belum banyak mengerti ketika mendengar pesan dari sang Papa saat itu. Mereka hanya mengerti bahwa Papa nya sedang mengalami kesakitan hingga meregang nyawa dan membuat mereka harus kehilangan untuk selamanya.
Sampai beranjak remaja dan kini mereka menginjak dewasa, pesan dari Papa nya itu masih terngiang jelas dan tanpa sepengetahuan dari sang Mama, mereka berjanji akan menjalankan pesan itu dengan penuh tanggung jawab.
Sena yang tengah duduk sambil menikmati masakan Mama, kembali memikirkan ucapan Papa nya.
Flashback On...
"Kakak, Adik. Dengarkan Papa sayang. Sebelum Papa pergi, Papa ingin kalian mendengarkan permintaan terakhir Papa dan berjanjilah kalian akan memenuhinya."
Sena dan Seta pun menganggukan kepala entah mengerti atau tidak akan maksud dari perkataan Papa nya.
Melihat Putri putri nya mengangguk Sansan tersenyum dan melanjutkan perkataan nya meskipun terbata bata.
"Papa, ingin kalian saling melindungi saling menjaga. Terutama kalian jaga Mama kalian baik-baik. Suatu saat, tolong kalian carilah laki-laki yang bernama Erdiana Putra Wardhana. Dia adalah orang yang akan menggantikan Papa melindungi juga membahagiakan Mama mu. Tolong kalian cari dan satukan mereka. Itu pesan Papa. Sena Seta hiduplah bahagia Papa sangat menyayangi kalian.. "
"Pulanglah istirahat, biar Papa ditemani Mama mu disini. Kalian belajar yang rajin jadilah kebanggaan Papa dan Mama."
Kembali Sansan melanjutkan perkataan nya.
"Pa, kakak dan adik ngga mau pulang. mau disini jagain Papa. Papa pasti sembuh, iya kan kak Sena?" tanya Seta.
"Iya, Papa pasti sembuh kan Papa sayang sama kita, Pa. Papa berjanjikan?" Sena pun turut bertanya.
Malihat ke dua putri nya terisak sambil mengungkapkan rasa sayang mereka terhadap nya, Sansan pun tak kuasa menahan haru. Di rentangkan nya kedua tangan seraya agar kedua putri nya datang dalam pelukan dekapan nya.
Sanrena dan Sanreta pun berhamburan kedalam dekapan sang Papa yang terasa menenangkan dan menenangkan.
Renata yang sejak tadi berada diluar ruangan ICU pun memaksa untuk masuk melihat sang suami yang tadi sempat meminta nya untuk keluar, karena ingin berbicara dengan kedua putri nya. Renata melihat kedua putri mereka yang sedang dalam pelukan sang suami pun ikut berhamburan tak kuasa menahan sedih dan resah yang tengah ia rasakan saat ini. Dia takut jika suami tercinta meninggalkan nya.
__ADS_1
Sansan yang kondisinya sempat berangsur membaik, meminta Renata agar membawa kedua putri nya pulang istirahat di rumah. Renata yang tanpa curiga pun mengantarkan Sena dan Seta untuk beristirahat pulang.
Setiba nya di rumah, Renata menitipkan kedua putri nya pada Bi Yeti dan Bi Sumi. Saat hendak kembali ke rumah sakit Renata dikejutkan dengan kabar yang dia Terima lewat sambungan telepon yang mengatakan bahwa sang suami mengalami kondisi yang menurun drastis hingga hilang kesadarannya.
Panik dan khawatir jelas tersirat di wajah cantik yang lusuh dan sembab itu. Bagaimana tidak, separuh dari nyawa nya seakan ikut merasakan apa yang suami nya rasakan saat ini. Beruntung, disaat dia akan bertolak kembali ke rumah sakit, Dita sang adik datang ke rumahnya setelah sempat diberi tahu jika Sansan mengalami kecelakaan dengan luka yang sangat serius.
"Kak, biar Dita yang bawa mobilnya. Kakak tenang jangan panik. Kak Sansan pasti selamat pasti kembali pada kita Kak." hibur Dita disaat mobil yang dia kendarai melaju menuju rumah sakit tempat Sansan ditangani.
"Kakak takut Dek, takut sekali. Kakak tak sanggup jika harus kehilangan Mas Sansan, Kakak bahkan tak bisa membayangkan nya."
"Cepatlah, Kakak ingin segera tiba di rumah sakit. Mas Sansan pasti sedang menunggu Kakak sekarang." racau Renata.
Tanpa berkata apapun lagi, Dita segera menginjak gas dan melesat sesuai permintaan kakak nya.
Tak berselang lama, mobil yang Dita kendarai pun tiba di rumah sakit. Renata setengah berlari menghampiri ruang ICU. Beruntung saat itu ada perawat yang sedang keluar masuk membawa beberapa peralatan yang Renata tak mengerti untuk apa fungsi nya.
Tanpa menunggu jawaban dari suster yang nampak kebingungan itu, Renata menerobos masuk dan melihat dengan mata kepala nya sendiri jika suami yang sangat dia cintai terbujur kaku tak bergerak dan memucat.
"Mas, Mas Sansan.. Bangun Mas. tolong jangan seperti ini. Mas jangan bercanda, aku marah kalau Mas seperti ini. Mas.. Mas Sansan bangun Mas.. " jerit Renata dengan suara yang terdengar serak menahan kesedihan yang sangat mendalam.
Seolah mendapat keajaiban, Sansan yang mendengar suara jeritan istri yang sangat dia kasihi pun membuka mata. Membuat Renata kembali merasa ada harapan.
"Mas.. Mas pasti sembuh. Mas ngga akan ninggalin aku sama anak-anak kan Mas?"
"Sa sa yang is tri kuh. a aku sang.. at mencintai mu.. ja gah diri mu dan an nak an nak ki tah. ma afkan a kuh ren nata el lianah..... "
Tut tut tut tut tut
Suara alat monitor yang menggambarkan denyut jantung pasien pun terdengar nyaring, menandakan pasien telah pergi untuk selama nya.
__ADS_1
Dita yang nampak ikut terpukul dengan sigap meraih tubuh ringkih sang kakak yang berguncang hebat dan tak sadarkan diri.
Dokter beserta perawat pun sibuk membagi tugas untuk mengurus jenazah Sansan dan juga merawat Renata istri pasien yang tak sadarkan diri.
Dita, bergegas mengabari Bi Yeti dan Bi Sumi untuk bersiap di rumah dan agar membujuk keponakan nya agar bisa sedikit mengerti mengenai kondisi saat ini.
Dita yang saat itu juga tengah dalam masalah rumah tangga nya, kembali menghubungi Dika dan Diki yang tadi sempat tidak aktif karena sedang berada di luar negeri. Kabar pun telah sampai pada kedua adik nya tersebut dan berjanji akan segera pulang untuk memberi dukungan pada kakak kesayangan mereka.
Singkat kata, Renata dengan berusaha tegar membawa jenazah sang suami ke kediaman terakhirnya. Disertai isak tangis kedua putri nya Renata berjanji dalam hati akan menjaga buah hati mereka hingga menemukan kebahagiaan seperti dirinya yang menemukan kebahagiaan sejati nya bersama Sansan suami yang kini telah beristirahat dengan damai.
Mulai dari saat itu, Renata turun tangan dalam menangani perusahaan di bantu Danu asisten kepercayaan sang suami yang ketika suami nya kecelakaan sedang menjalankan dinas keluar kota.
Seolah tak ada rasa lelah, Renata bekerja tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Dalam pikiran nya hanya ada kedua putri nya dan bagaimana cara agar mereka tidak merasakan kekurangan apapun meskipun tanpa kehadiran sang Papa dalam hidup mereka.
Hingga saat ini Sanrena dan Sanreta yang sebentar lagi akan wisuda dan menggantikan dirinya dalam perusahaan, Renata tetap berjibaku mengalihkan rasa sepi dan rindu nya terhadap sang suami. Laki-laki terbaik yang pernah Tuhan titipkan padanya.
Flashback off...
"Kakak melamun? dari tadi aku perhatikan Kakak diam terus dan terlihat sedih sekali, apa ada masalah?"
"Hmmm... "
Sena seraya menarik nafas dalam dan menghembuskan nya kasar.
"Kakak hanya merasa bersalah pada Papa, Seta. Sampai hari ini kita belum berhasil menjumpai orang yang bernama Erdiana seperti permintaan terakhir Papa saat itu."
"Sabar kak, sebentar lagi kita pasti akan mendapatkan informasinya. Sebenarnya aku sudah melacak keberadaan nya dan sedikit lagi akan mendapatkan informasi dimana saat ini orang itu berada."
Bersambung...
__ADS_1