
"Getaran ini... San-san... "
Sambil memegang dada yang tak terasa berdenyut nyeri Renata mencoba menelaah apa yang sebenarnya Dia rasakan saat ini.
Tiga tahun telah berlalu.. Renata yang mulai mengerti kebiasaan San-san dari pagi sebelum berangkat kerja dan ketika pulang kerja pun tampak tak merasa terbebani. Melayani seperti hal nya seorang istri dari A sampai Y dilakukan nya dengan senang hati, hanya saja untuk kebutuhan Z Renata tidak mau menawarkan diri untuk melakukan nya.
Seolah pengalaman dan kenangan nya dengan Er dulu ingin dia kubur dalam-dalam. Tak mau kembali masuk ke dalam jurang kesalahan. Apalagi sampai saat ini Renata pun tidak tau kebenaran atas pekerjaan dan bisnis yang San-san geluti.
Tidak ingin gegabah menanamkan rasa cinta apalagi hingga memberikan diri. Meskipun sudah ternoda tetapi Renata yakin jika pintu taubat masih terbuka untuk nya.
Ingin memperbaiki diri dan berusaha keluar dari bayangan masa lalu itulah yang kini masih dia perjuangkan sekuat tenaga.
Dalam waktu tiga tahun ini Renata tak bertemu dengan Er. Ada sedikit desakan rindu yang masih tersisa dan sulit untuk dikalahkan, tapi mengingat kondisi Er hanya akan ada kesalahan jika tetap bersama nya Renata kembali menguatkan hati untuk tetap dengan pendirian nya saat ini.
Tes..
Tak kuat menahan embun di sudut mata nya yang menggenang. Renata pun kembali terisak.
"Reta.. kenapa menangis, ada apa? apa kau sakit? jangan sungkan katakan mungkin aku bisa membantu mu?" Tanya San-san tiba-tiba mengagetkan.
"San, kau sudah pulang.. jam berapa ini? maaf kau mau makan dulu atau mau mandi dulu. biar aku siapkan?" cerocos Renata menyembunyikan tangis nya dan mengalihkan kegugupan nya.
"Kalau mau makan kamu dulu boleh?" goda San-san.
Renata yang gemas dengan jawaban San-san langsung menghadiahi laki-laki tampan yang usil itu dengan sedikit cubitan manja nya.
"Ampun.. aduh Kau ini galak sekali".
Mengusap-usap pinggang nya yang tidak terasa nyeri sama sekali.
Reta kau belum menjawab pertanyaan ku, ada apa hmm?" dengan lembut San-san membelai rambut panjang nya.
"Ooh ini.. aku hanya sedang merindukan adik-adik ku. San apa pinggang mu masih sakit, maaf ya.. sebentar aku ambilkan obat pereda nyeri" jawab nya terdengar konyol dan sedikit bodoh.
Jelas saja San-san bisa membaca semua tingkah Renata yang begitu menggemaskan jika sedang merasa gugup.
"Reta.. Aku ngga perlu obat, sini kau usapi saja pinggang ku" jawab San-san sambil menepuk sofa di sebelah nya agar Renata duduk di samping nya.
Tanpa curiga Renata pun duduk di samping San-san dengan terlihat cemas mencoba membuka baju San-san.
__ADS_1
"San, mana yang sakit nya sini aku coba lihat?"
Dengan menahan tawa San-san berpura-pura mengerang kesakitan dan sukses membuat Renata semakin panik.
Tanpa babibubebo Renata melepas kemeja San-san. Jarak mereka semakin mendekat dan bisa terasa helaan nafas Renata yang semakin membuat San-san merasa kegerahan dalam artian yang lain.
"San.. mana yang sakit nya?" terdengar lirih penuh kekhawatiran.
"Reta.. "
Spontan Renata melihat ke arah mata San-san dan mereka cukup lama terdiam saling menyelami perasaan masing-masing. Hanya detak jantung mereka yang mengerti perasaan apa sebenarnya yang mereka rasakan saat ini.
Grep..
dengan cepat San-san menarik pinggang Renata agar jatuh dalam pelukannya.. Mereka saling memeluk seolah takut terlepaskan.
Semilir angin yang menelisik diantara remang cahaya bulan menambah kesyahduan dua insan yang mungkin sedang meluapkan kerinduan.
San-san dan Renata seakan terlarut dalam decapan ungkapan perasaan yang sebenarnya mereka rasakan.
Saling mendamba dan mencinta tak ada lagi rasa sepihak yang mereka rasakan saat ini. Semuanya terlihat jelas dari segala pengorbanan juga kesetiaan San-san dan perjuangan melupakan masa lalu yang Renata buktikan.
"Reta.. Apa kau bersedia menjadi kekasih halal ku yang akan selalu ada dalam setiap keadaan suka dan senang?"
Tanpa melepaskan tatapan, Renata menganggukan dan tersenyum meng iya kan lamaran pria yang kini sedang mengungkung nya intim.
"yess minggu depan kita menikah dan kita tuntaskan ini. Setelah itu jangan harap ada ampunan buat mu". jerit nya senang dan kembali menciumi wanita nya itu dengan gemas.
"Kau ini kulkas yang tak ada romantis-romantis nya.. pantas saja tak ada gadis yang mau dengan mu. masa melamar seorang wanita seperti ini". Renata mengomel sambil mendorong dada San-san agar menjauh dari nya. Tepat nya agar tidak terjadi hal-hal yang mengenakan sebelum label halal mereka kantongi.
Mendengar calon istri nya mengomel San-san terlihat semakin melengkungkan bibir nya tanda begitu senang. Mungkin efek jatuh cinta sehingga mendengar omelan pun seperti mendengar nyanyian seorang artis berkelas diva internasional.
******
Dan sepatutnya sebuah ikatan hubungan itu haruslah benar-benar di ikat dengan tali yang akan menghubungkan mereka dengan jalan yang akan di ridhoi oleh sang Pencipta.
Renata dengan segala kejujuran dan keterbukaan akan masa lalu nya yang kelam. San-san dengan segala ketulusan nya segenap hati menerima apapun kondisi Renata, karena cinta menurut nya bukan tentang menerima tapi memberi.
Segala persiapan telah selesai. San-san benar-benar menjadikan Renata seorang wanita yang sangat beruntung. Tidak perlu repot mengurus segala sesuatunya karena San-san yang merupakan pengusaha sukses mampu melakukan dengan sempurna. Dibantu Asisten dan orang kepercayaan nya San-san akan berusaha mewujudkan pernikahan impian Renata. Sederhana tetapi tetap berkesan sesuai keinginan mempelai wanita.
__ADS_1
Ditemani Bebi, Dita dan dua orang penata rias Renata disulap bak seorang putri yang cantik jelita.
"Kak, kau cantik sekali. Aku sampai pangling melihat mu" cicit Dita seraya tersenyum melihat Kakak tersayang akan melepas status lajang nya.
"Ga salah pilih deh calon laki kamu Re, ngga akan nyesel.. orang dapet nya bidadari gini.. ga nyangka deh Renata yang terlihat sedikit butek bisa jadi bening kek air pegunungan". Cerocos Bebi sedikit mengurangi ketegangan yang sahabat nya itu rasakan.
Renata yang mendapat suntikan kepercayaan diri dari orang terdekat nya pun hanya tersenyum bersyukur.
Pernikahan dengan tema dadakan ini bisa dihadiri oleh orang terdekat nya. Dita, Dika dan Diki juga Bebi saja pun sudah di rasa cukup untuk menjadi pengobat rindu pada almarhum ayah dan ibu nya.
Dika adik laki-laki nya yang sudah beranjak dewasa bertindak sebagai wali nikah nya. Tentu saja hal itu akan menjadi sejarah yang takkan pernah terlupakan di sepanjang hidup nya.
Proses ijab qobul pun telah usai terlewati. Kalimat sakral telah berhasil San-san ucapkan dengan lantang dengan hanya satu tarikan nafas. Hingga pekikan kata Sah menggema membuat bulir cairan bening dari mata indah nya lolos begitu saja.
Tak ada sungkeman karena kedua belah pihak mempelai telah lebih dahulu merasakan kehilangan ke dua orang tua masing-masing. Dengan tamu undangan yang terbatas sesuai permintaan Renata maka acara resepsi pernikahan kedua sejoli itu pun akan digelar dalam waktu yang masih dalam tahap perencanaan.
Saat ini kedua insan tersebut berada di kamar pengantin yang sudah di hias seindah mungkin. Bertabur bunga yang harum nya menenangkan juga temaram nya lampu membuat suasana semakin romantis.
Semburat merah terlihat jelas menghiasi wajah cantik sang istri yang baru selesai membersihkan diri. Ditatap sedemikian rupa oleh pria yang baru hitungan jam telah sah menghalalkan nya tentu membuat Renata salah tingkah bagai anak remaja yang baru mengenal cinta.
"San, jangan menatapku seperti itu. aku malu" gumam Renata sambil meremas ujung piyama yang dia kenakan.
Bukan nya menjawab San-san malah perlahan berjalan mendekati dan tetap tak melepas pandangan nya terhadap istri cantik nya itu.
Tentu saja Renata kelabakan melihat ulah suami nya, sambil berjalan mundur Renata berpikir mungkin saja suami nya itu sedang kesambet hantu penunggu kulkas.
"San.. ada apa? jangan membuat ku takut" rajuk Renata.
ππππππ
Terima kasih buat readers yang masih mau membaca si TGP ini..
Maaf jarang Up
Salam hangat,
ππππππ
Ukano
__ADS_1