
Perasaan aneh yang dirasakan nya ketika bersitatap dengan Sena kini makin kuat dan menusuk dirasakan oleh Kenzo. Pemuda yang merupakan sahabat baik Nick itu pun kini terlihat sedikit memberengut, kala teringat jika Sena ternyata terlihat dekat dengan pria yang tadi sempat bertemu dengannya di parkiran. Kenzo memang bukan pemuda yang polos, dia cukup mengerti jika laki-laki yang bersama Sena tadi jelas-jelas bukan hanya sebatas sahabat bagi gadis yang kini sedang menari nari dalam lamunan pemuda itu.
"Gadis yang cantik, sesuai dengan tipe ku. Pantas saja, Nick pun langsung jatuh cinta sama kembaran nya. Aku pikir mereka gadis biasa saja. Ternyata memang berbeda. Argh sial!" Gumam nya dengan rahang mengeras ketika tiba-tiba muncul bayangan pria bernama Reyhan itu kembali muncul.
Mobil yang dikendarai pemuda blasteran itu melaju dengan tujuan kantor, karena ingin segera bertemu dengan Nick dan tentu saja secara tidak langsung akan menanyai sahabat nya itu tentang Sena. Mungkin jika selama ini Kenzo merupakan pemuda yang dingin dan datar itu hanyalah sebatas untuk menutupi keadaan sebenarnya. Sebenarnya dan kebenaran mengenai dirinya yang mempunyai masa lalu yang kurang menyenangkan dengan ulah orang tua nya yang pernah meminta agar Kenzo tidak banyak bicara, apalagi m membicarakan masalah pribadi dan keluarga meskipun pada orang terdekatnya. Bahkan, Nick sahabatnya itu pun tidak mengetahui siapa orang tua dari Kenzo itu sendiri. Entah rahasia apa yang kedua orang tuanya Kenzo itu tutupi.
Bahkan, jika harus ditelusuri. Kenzo rasanya belum pernah mempunyai teman dekat perempuan sebelumya. Karena tentu saja, Kenzo tidak ingin mendapat banyak pertanyaan dari seseorang yang dekat dengan nya. Hingga di hari ini, lebih tepatnya disaat dirinya selesai makan siang dan turut serta bersama Nick bertemu dengan Seta. Kenzo akhirnya bisa merasakan getaran aneh, disaat pandangan matanya bertemu dengan sorot mata Sena yang teduh. Sena yang saat tadi tersenyum padanya membuat debar kian terasa hebat dia rasakan. Sungguh, Kenzo kini merasakan bahwa jatuh cinta itu ternyata memang ada.
"Sial, si Nick tak ada di ruangan nya." gerutunya ketika niatan menyambangi Nick harus terjegal karena orang tersebut tidak ada di tempat.
"Siska, saya mencari bos mu. Saya tidak dapat menghubunginya. Apa kau tau dia kemana?"
Siska adalah salah satu staf kepercayaan Nick, lebih tepatnya sekretaris nya. Siska gadis dengan pakaian tertutup dan sopan santun membuat Nick merasa cocok dengan karakter Siska. Selain itu, Siska juga sangat cekatan dan tentu saja pintar, selain cantik juga tentunya.
"Maaf Pak. Pak Nick tadi sempat mengabari saya jika beliau ada keperluan pribadi dan kemungkinan tidak bisa dihubungi. Beliau juga berpesan agar Pak Kenzo juga Pak Erick menggantikan beliau untuk meeting nanti sore." jawab Siska dengan sopan, tak lupa dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
__ADS_1
"Bisa-bisa nya pergi disaat temannya membutuhkan." Bibir pemuda itu terlihat menggumam.
"Kenapa Pak?" tanya Siska.
"Tidak ada!" jawab Kenzo ketus. Pemuda itu melengos pergi dari hadapan Siska yang menatap nya dengan sorot mata penuh tanya. Bagi Siska, mungkin sikap Kenzo itu bukan masalah, karena Siska tetap menghormati salah satu atasan nya itu dengan sepenuh hati.
Memilih untuk masuk ke ruangan nya, untuk beristirahat. Kenzo malah dikejutkan dengan kehadiran salah satu dari personil trio Kwok Kwok, siapa lagi kalau bukan Erick.
"Ken, gue tungguin Lo dari tadi. Darimana aja Lo, baru muncul?"
"Dia belum balik. Tadi pergi bareng Seta, Lo tau lah Nick bucin akut." Tutur Erick.
Kenzo hanya menjawab dengan berdeham. Niat ingin beristirahat pun seolah tidak mendapatkan restu dari semesta.
"Lo terlihat kusut begitu, Ken. Ada apa?"
__ADS_1
Lagi lagi hanya dehaman yang terlontar dari bibir Kenzo dan membuat Erick mendengus kesal.
"Lo masih bisa bicara dengan normal kan Ken? sejak tadi diajak bicara, Lo seperti orang linglung. Lo salah minum obat?"
Hening. Kenzo tetap tak bergeming diam dan jujur, itu membuat Erick semakin bertambah mual melihat ekspresi sahabat nya yang kini membatu.
Dengan dongkol, Erick melesatkan kaki dan seraya membanting daun pintu dengan sedikit kasar. Berharap sahabatnya itu kembali ke setelan awal nya dan berhenti membatu mengabaikan pertanyaan, seperti tadi.
"Apa dia melihat penampakan, sehingga otak nya sedikit bergeser? dasar batu es." gumam nya sedikit menggerutu.
.....
****
Banyak gaje nya dan semakin ngawur.. ini lebih baik daripada ngga ada kabar sama sekali ya man teman. Maaf jika membosankan dan kurang bahkan tidak sesuai dengan yang kalian inginkan.
__ADS_1