
Setengah berlari, Seta terus berusaha mengikuti arah langkah Erdian. Penuh dengan rasa penasaran, sebenarnya akan kemana Erdian saat ini. Seta hanya ingin melihat sosok Erdian yang konon menurut Papa nya hanya laki-laki itu yang akan mampu membuat Mama nya bahagia kembali.
"Tuan.. Tuan Erdian. Tunggu!"
Langkah Seta terus melebar seiring teriakan nya pada seseorang yang sangat ingin dia kenali.
Merasa ada seseorang yang memanggilnya. Erdian sontak menghentikan derap langkah nya, menoleh dengan cepat pada arah suara yang jelas begitu terdengar nyaring di telinga.
Dengan nafas yang memburu, Seta berhasil berdiri di hadapan laki-laki yang mungkin seumuran dengan sang Papa. Menatap lekat sosok yang masih terlihat gagah dan tampan dengan mata yang seolah enggan berkedip.
Erdian memindai wajah gadis yang berdiri dihadapan nya. Entah mengapa, dia seperti melihat bayangan seseorang dalam diri gadis yang tepat berada di hadapannya tersebut.
"Nona, apa ada yang bisa saya bantu? tadi saya dengar anda memanggil nama Erdian, apa anda mengenal saya sebelumnya?" Tanya Erdian.
Seta yang terperangah menatap lamat sorot mata yang terkesan dingin dan datar menyimpan kerinduan. Terlihat dengan jelas raut wajah yang mungkin suatu saat nanti akan menjadi pengganti sosok Papa yang begitu dia rindukan.
"Kalau tidak ada yang penting, maaf nona. saya masih ada urusan."
"Sa.. saya putri nya Renata Eliana. Apa Tuan mengenal Mama saya?" Tanya Seta dengan suara bergetar ragu.
Mendengar pengakuan dari gadis di hadapan nya itu membuat Erdian terdiam seketika. Pikiran nya melayang kembali mengingat Renata dan Sansan.
"Pantas saja melihat wajah gadis ini seolah mengingatkan ku pada seseorang, ternyata Sansan. Iya gadis ini mirip sekali Sansan dan bermata indah seperti Renata." Gumam Erdian dalam hati.
__ADS_1
"Apa Tuan mengenal Mama saya? Oh iya, Papa saya bernama Sansan. Apa Tuan mengenalnya juga?"
Erdian seolah membisu, lidah nya mendadak kelu. Perlahan dia mendekati Seta, di elus nya pipi halus dan mulus itu penuh dengan rasa haru. Erdian merasa tersentuh, meskipun dia berulang kali berusaha merebut dan memisahkan Renata dari Sansan, tapi ternyata mereka masih saja mengingatnya dengan baik. bahkan seolah tak ada api kebencian di mata putri mereka yang kini berada di hadapan nya.
"Apa benar kau putri Sansan dan Renata? sesuai dengan yang kau katakan tadi gadis kecil?"
Seta menanggapi pertanyaan Erdian dengan tersenyum, seolah mengiyakan dan menegaskan bahwa dirinya memang benar-benar berkata jujur.
Tanpa Seta duga sebelum nya, Erdian lebih tepat nya Tuan Erdian seperti panggilan yang ia sematkan pada laki-laki itu, membawa tubuh langsing nya kedalam dekapan. Seta tercengang dan entah mengapa seolah menikmati pelukan itu. Seta merasa bahwa hangatnya pelukan Erdian bisa sedikit mengobati rasa rindu nya pada sang Papa yang telah lama tiada.
Setelah beberapa saat Erdian pun tersadar dan segera mengurai pelukan nya. Dipandangi wajah cantik dan polos yang ternyata adalah putri dari wanita yang sangat dia kasihi dan cintai.
Erdian mengajak Seta untuk masuk ke sebuah kafe agar mereka dapat leluasa bercengkrama karena banyak hal yang jujur saja membuat Erdian merasa begitu penasaran. Erdian pun memesan kan minuman hangat untuk Seta dan kembali melanjutkan perkataan nya.
"Saya tidak menyangka, kalau hari ini ketika menginjakan kaki di tanah air ini akan bertemu dengan seseorang yang paling istimewa dalam hidup ke dua orang spesial dalam hidup saya. Renata dan Sansan orang tua mu yang telah memberikan pelajaran bagi hidup saya."
"Tuan.. eh maksud ku Paman, kemana Paman selama ini? aku dan kakak ku mencari keberadaan Paman. Ada pesan dari Almarhum Papa yang harus ku sampaikan pada Paman."
Deg..
Erdian terpaku mendengar kata almarhum yang Seta semat kan pada Sansan.
Pikiran nya menerka nerka, apa Sansan telah meninggal? pikiran Erdian menerawang.
__ADS_1
"Apa maksud perkataan mu tadi? apa yang terjadi pada Papa mu?" tanya Erdian ingin memastikan kebenaran nya.
"Iya Paman, Papa ku telah kembali kepada Yang Maha Kuasa, 10 tahun yang lalu karena kecelakaan tunggal saat itu Papa sedang di perjalanan dinas ke luar kota. Kami pihak keluarga sengaja tidak terlalu mempublikasikan karena ada hal yang dapat mengancam kelangsungan perusahaan. Maka nya mungkin Paman tidak mendengar kabar meninggal nya Papa." Jawab Seta menjelaskan kebenaran nya.
Mendengar penuturan Seta, hati Erdian berdenyut nyeri, seolah ikut merasakan kehilangan Sansan seperti hal nya yang mereka rasakan.
Obrolan pun terjeda ketika pelayan mengantarkan minuman pesanan mereka. Banyak sekali yang ingin Erdian tanyakan saat ini, tapi dirinya berusaha menahan dan membiarkan Seta menyeruput minuman nya.
"Paman, saat itu kami mencari keberadaan Paman tapi nihil tak ada satu pun informasi yang kami dapat kan. Bahkan kami datang ke perusahaan Paman, tapi kata orang kepercayaan Paman disana Paman sudah pindah dan mereka pun tidak memberikan kami informasi apapun."
Entah kenapa Seta merasa tak ada kecanggungan sama sekali, dia bisa bebas merajuk dan berkeluh kesah pada Erdian meskipun dia baru pertama kali bertemu dan mengenal Erdian.
"Maafkan Paman yang tidak ada disaat kalian membutuhkan. Saat itu, Paman sedang berada di luar kota sebelum akhirnya Paman memutuskan untuk pindah ke luar negeri."
Erdian menarik nafas panjang seolah ingin mengeluarkan segala beban penyesalan yang saat ini dia rasakan.
"Dimana Mama mu saat ini? Apa dia baik-baik saja setelah Papa mu pergi?"
Seta pun kemudian menceritakan keadaan Mama nya. Dari awal Papa nya meninggal sampai sekarang yang seolah meluapkan kesepian nya dengan bekerja keras.
Erdian semakin merasakan sakit dalam hati nya. Membayangkan wanita yang dia kasihi mengalami keadaan yang pasti membuatnya sulit.
Bersambung...
__ADS_1
Readers sayang mohon bantuan dukungan nya ya, tinggalkan jejak nya jangan lupa like dan comment nya.
Terima kasih, salam hangat Author Ukanoβ€ππ