Terjerat Genggaman Palsu

Terjerat Genggaman Palsu
TGP 33


__ADS_3

Renata tak menyangka, dirinya akan mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa dari suami yang tidak pernah dia bayangkan sebelum nya. Rumah tangga yang sempurna dengan kehadiran anak-anak


yang lucu sebagai penyemangat hidup juga telah dia miliki, harta yang berlimpah, begitu pula dengan ketiga adik nya yang telah hidup mandiri dan berkecukupan.


Rasanya tak ada lagi yang dia inginkan. Hanya permohonan keselamatan dan juga kesehatan bagi orang-orang tersayang nya yang selalu dia panjatkan.


Namun, tidak ada hidup yang selamanya sesuai dengan impian setiap insan. Pasti ada ujian juga cobaan di setiap perjalanan. Begitu pun dengan Renata dan Sansan. Ketika mereka sedang diliputi rasa bahagia dan damai, ujian itu pun seolah merangkak ingin mendekat.


Tepat di usia pernikahan mereka yang menginjak empat tahun, kebahagiaan mereka sedikit terusik oleh bayangan masa lalu yang kembali muncul. Secara tak sengaja Renata dan Sansan bertemu dengan Erdian di sebuah rumah sakit. Ketika itu Sansan dan Renata sedang menjenguk Danu, Asisten Sansan yang terkapar terkena penyakit demam berdarah.


Renata dengan erat meremas genggaman tangan sang suami karena begitu kaget, seolah sedang melihat hantu di siang bolong karena berpapasan secara langsung Erdian si pemilik hati nya dulu. Bayangan masa lalu nya kembali berselancar dalam ingatan.


"Mas.. a aku mau pulang." ucap Renata cepat setengah menarik lengan sang suami agar menjauh dari hadapan Erdian.


Seolah mengerti akan ke gelisahan istrinya itu Sansan pun mengeratkan genggaman tangan nya, mengalirkan kehangatan yang menjalar kedalam hati sang istri.


Erdian terpaku menatap Renata yang terlihat semakin cantik dan bersinar. Rasa rindu nya yang terbalut cinta selama ini masih saja menggebu seperti dulu. Erdian tertegun menatap sang pujaan hati yang terlihat menggenggam erat seorang pria dan terlihat nampak begitu memuja Renata nya.


"Re.. akhirnya aku bisa menemukan mu. Apa kau masih mengingatku?" Tanya Erdian penuh harapan.

__ADS_1


"Mas, ayo.. " Renata pun kembali mengajak sang suami untuk berbalik arah dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Re.. tunggu!" Erdian setengah berteriak melihat Renata yang hendak berbalik memunggungi nya dan meninggalkan nya lagi.


"Sayang.. tenang ada aku, suami mu ini tak kan tinggal diam. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik ketenangan hidup kita." ungkap Sansan pelan namun penuh penekanan.


Renata terdiam, tidak melangkah dan tak pula berbalik badan kembali menatap Erdian. Sungguh bagi Renata yang telah berhasil mengubur perasaan nya terhadap Er, pertemuannya itu seolah menjadi musibah. Musibah karena selama ini, dia menutup diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Erdian itu.


Sansan seolah ingin menjelaskan pada rival nya itu, jika wanita yang Erdian inginkan itu telah menjadi miliknya.


"Tapi Mas.. dia itu orang yang paling ingin aku hindari." tutur Renata lemah.


Melangkah kan kaki dengan tangan melingkar mesra di pinggang ramping sang istri, Sansan terkesan begitu posesif. Sesekali Sansan mengusap punggung sang istri menyalurkan kekuatan agar istrinya itu kembali mempunyai rasa percaya diri.


"Renata Eliana.. apa kau benar benar sudah melupakan ku?" kembali suara bariton itu terdengar jelas. Mempertanyakan posisi dirinya dalam hati Renata.


"Tuan Erdian.. mana mungkin Saya lupa dengan anda." Jawab Renata terdengar datar dan dingin.


Erdian yang mendengar suara dari wanita yang amat dirindukan nya merasa terjengkit. Bagaimana tidak, dulu Renata nya sangat hangat penuh dengan tatapan cinta yang memuja.

__ADS_1


"Lama tak bertemu Re.. apa kau tak merindukan ku? aku hampir gila mencari mu selama ini. Renata, kembalilah padaku. Aku sudah mengetahui perasaan ku yang sesungguhnya. Aku sangat mencintai mu Renata Eliana." Jujur Erdian


Sansan yang awalnya tak mengira bahwa Erdian akan mengungkapkan perasaan nya tepat dihadapan nya mendadak merasa gerah. Meskipun dirinya percaya sang istri tidak akan mungkin mengkhianati nya tapi tetap saja dia merasa takut. Takut jika kehadiran Erdian akan menggoyahkan pondasi rumah tangga nya.


"Maaf, Tuan Erdian yang terhormat. Istri saya tidak bisa lama lama berada disini. Karena kami masih ada urusan yang lain." tegas Sansan kembali menekan kan kata istri dan tak main main.


"Mendengar hal itu Erdian terdiam tak bergeming, antara percaya dan tak percaya perempuan yang selama ini ia rindukan telah merajut sebuah hubungan rumah tangga.


" Kami permisi Tuan Erdian." Pungkas Sansan kembali.


****


Setelah pertemuan tak sengaja dengan Renata, Erdian hanya melamun. Pikiran nya seolah buntu karena larut dalam penyesalan nya. Andai dulu dia tidak bersikap merendahkan dan membohongi Renata nya, mungkin pasti dia akan merasa bahagia saat ini. Tidak akan merasakan kesepian dalam menahan kerinduan.


Seakan tak ada tenaga sama sekali, Erdian pun hanya duduk terdiam di lobi rumah sakit. Niat nya yang ingin bertemu dengan sahabat nya yang sekaligus pemilik rumah sakit pun buyar entah kemana.


Suara sering ponsel yang terus menyala pun seolah tak terdengar. Erdian larut dalam penyesalan yang mendalam. Hati nya hampa, sebagai laki-laki dia begitu bodoh karena mensia-siakan cinta perempuan yang tulus mencintai nya.


"Re.. andai kesempatan ke dua itu ada, apa aku berhak mendapatkan nya?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2