The Great Oishi Zu

The Great Oishi Zu
Bubur teratai terakhir


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore kegiatan belajar mengajar diakhiri dengan cepat. Val menguap lebar dia merasa lelah dan mengantuk. Sui Sharon masih saja menjahili dirinya gadis itu terlihat sangat aktif.


"Hei kau tinggal di kamar nomor berapa?" Tanya Shui Sharon gadis itu merangkul Val dengan akrab.


"Nomor?"Val merasa bingung ah mungkin saja di asrama murid tukang.


Semua pintu kamar terdapat nomor yang diterapkan. Feng Wuxie ikut berjalan disamping kiri Val saat melihat kedua temannya pergi dari tempat mereka berlatih.


Dia bersyukur balai pengobatan tidak hancur meski tempatnya paling jauh dari wilayah dalam sekte. Namun,tidak banyak orang luar yang mengetahui nya. Di karenakan area dapur tidak ada tempat kosong selain balai pengobatan.


Ketua sekte menjadikan tempat itu sebagai, tempat mereka belajar hanya khusus mereka berempat termasuk Zhu Rey. Sedangkan murid yang tersisa sedang memperbaiki bangunan yang hancur.


"Kau tidak tahu? Apa kau selama ini tinggal ditempat asrama murid inti yang berdekatan dengan perpustakaan." Ucap Feng Wuxie mendadak dia teringat Bishounen yang menangis melihat perpustakaan sekte hancur.


"Tentu saja tidak, kami berdua tinggal di rumah Bibi Su."Zhu Rey menjawab lebih cepat mendahului Val.


Feng Wuxie mengedipkan mata beberapa kali, dia tidak percaya dengan itu! Shui Sharon lebih terkejut tidak heran jika kepala sekte tidak marah dengan sikap kedua teman barunya.


"Benarkah! Bagaimana rasanya kalian tinggal dengan kepala sekte?!" Shui Sharon menatap Zhu Val dan Zhu Rey bergantian dengan manik mata berbinar.


Ini sangat mengagumkan bukankah itu artinya kedua teman barunya memliki, identitas yang spesial? jika berteman dengan Zhu Val dan Zhu Rey bisa mendapatkan keuntungan yang besar.


"Itu biasa saja tidak ada yang istimewa."Zhu Rey tersenyum tipis.


Val mengangguk menyetujui ucapan Zhu Rey. Tidak ada yang istimewa tinggal bersama Bibi Su selain bubur teratai yang sangat enak buatan wanita paruh baya itu.


Jika ada hal lain yang istimewa mungkin perlakuan lembut Bibi Su pada mereka berdua. Baik Val atau pun Zhu Rey mereka berdua menyukai perlakuan lembut Bibi Su.


"Sebenarnya siapa kalian sampai Ketua sekte sangat menyayangi kalian? Setahu ku Ketua sekte tidak memiliki kerabat selain putra dan suaminya." Feng Wuxie menatap Val dan Zhu Rey dengan tatapan curiga.


"Jika kau curiga lebih baik tanya kan saja pada Bibi Su, kalau kau tidak menyukai fakta yang diucapkan nya kalau begitu."Mendadak Zhu Rey menyeringai lebar mata merahnya berkilat sekilas.


"Aku akan menghisap kekuatan jiwa mu hingga kering sampai kau berada diambang Kematian."


Mendengar hal itu Feng Wuxie mengedipkan mata beberapa kali, dia merasa merinding saat tidak sengaja menatap mata Zhu Rey secara langsung.


"Nah kenapa kalian tidak masuk ke asrama kalian? Sekarang sudah sampai kami berdua akan pergi ke tempat tinggal kami."Tanpa menunggu jawaban dari kedua gadis itu.


Zhu Rey menyeret Val pergi, keduanya terdiam tidak mengucapkan sepatah kata. Mulut Val terasa berat untuk digerakkan dia belum melihat Bishounen. Semenjak kejadian itu terjadi Bishounen tidak pernah terlihat oleh nya.


"Tidak perlu khawatir ku dengar Bishounen tengah membeli bahan-bahan bangunan bersama Hao Tian." Zhu Rey menepuk bahu Val.


"Kenapa Rey selalu tahu apa yang Val pikirkan?" Val melirik Zhu Rey sekilas.


Pemuda disamping nya sangatlah misterius, apa karena mereka pernah berada didalam satu cangkang. Sehingga bisa tahu apa yang dipikirkan satu sama lain? Jika begitu kenapa Val tidak bisa mengetahui apa yang dipikirkan oleh Zhu Rey


"Ekspresi wajah mu memperlihatkan jelas apa yang kau pikirkan."Zhu Rey menghentikan langkahnya dia membuka pintu rumah.


Tidak ada wanita paruh baya yang biasa menyambut mereka, Val segera masuk kedalam rumah dia merindukan kamarnya. Melihat Val begitu bersemangat tanpa disadari Zhu Rey tersenyum.


"Tampaknya dia terlihat senang."


Zhu Rey ikut masuk kedalam kamar dia menemukan Val yang telah tidur mendahului. Padahal gadis itu belum membersihkan diri.


....


Val membuka mata dia menyipitkan matanya saat melihat, langit sudah berwarna jingga kemerahan. Tangan mungil gadis itu mengusap wajah cantiknya.


Tak lama kemudian tercium bau anyir darah dan bau busuk bangkai. Sorakan dan jeritan orang-orang terdengar begitu nyaring.


Karena merasa tak nyaman, Val bangun dari tidur nya. Dia baru menyadari bahwa selama ini dia tidur diatas tanah kering yang tandus. Pekikan kuda serta tanah yang bergetar membuat gadis itu gelisah.

__ADS_1


Apa yang sedang terjadi? Kenapa dia bisa tertidur diatas tanah kering dan tandus, bahkan tidak ada satu pun tanah yang ditumbuhi oleh tumbuhan.


Suara terompet tertiup kencang, suara orang-orang bersorak penuh tenaga kembali terdengar. Tanah kembali bergetar seperti sedang terjadi gempa.


Val menoleh dari kejauhan dua kelompok manusia dengan kubu berbeda, saling menyerang satu sama lain. Beberapa membawa panji-panji bendera mengibarkan nya penuh rasa bangga.


"Perang?" Dahi Val mengernyitkan.


"Rey apakah Rey tau mengapa mereka berperang ditempat tandus seperti ini?"


Tidak ada sahutan sama sekali, Val mencari sosok yang dicarinya Namun, sosok itu tidak ada dalam jangkauan penglihatan nya.


"R-rey dimana..." Ucap Val ketakutan.


Val kembali menonton manusia yang saling melukai dan membunuh sesama ras mereka. Adegan mengerikan terlihat dimata Val seseorang dengan armor hitam menebas kepala sebagian orang dari kubu lawannya.


Mata Val melebar percikan darah mereka mengenai dirinya, sangat aneh padahal jarak Val dan mereka sangat jauh. Tapi...kenapa percikan nya sampai ke Val.


Saat Val berkedip mendadak tanah tandus itu terbakar, api berkobar memakan semua yang ada bahkan manusia yang sedang pun ikut terbakar.


Anehnya orang-orang dengan armor hitam tidak ikut terbakar bahkan tidak ada luka sedikitpun.


"Bahkan Val pun tidak ikut terluka."Val menatap kedua tangannya.


Cring...


Cring...


Cring...


Suara lonceng beradu dengan angin terdengar samar-samar, saat angin kencang berhembus dan menerpa Val. Dentingan lonceng semakin terdengar jelas.


Wush...


Angin besar menerpa Val, denting loncing kembali terdengar bahkan lebih nyaris dari sebelumnya.


"Siapa? Siapa itu..."


Kini semerbak wangi bunga Gardenia tercium oleh Val. Tubuh Val membatu saat kain selembut sutra mengenai wajahnya. Bersama dentingan lonceng dan wangi bunga Gardenia.


Seseorang melewatinya dari samping saat kain itu menghilang, sosok pendekar dengan topi jerami. Serta hanfu merah didominasi warna hitam sebagian terbang teterpa angin terlihat begitu menawan.


Lonceng kuning berpita merah tersemat dirambut perak dengan cantik. Lalu gagang pedang yang dibawa pendekar itu juga terikat dengan lonceng.


"Siapa dia." Val tidak bisa mengalihkan perhatian nya dari pendekar asing.


Dia berlari mengejar pendekar tersebut, Val tidak tahu alasannya kenapa dia mengejar pendekar itu. Dia merasa familiar dengan pendekar itu.


"Tunggu, bisakah anda tidak meninggalkan saya?"Val berusaha menjangkau hanfu menawan itu.


Ketika hampir menjangkau hanfu itu mendadak pendekar asing menghilang dari pandangan Val.


"E-ehhhhh?"


Val mencari sosok itu dia menemukan nya, sosok pendekar itu tengah berdiri diudara. Berhadapan dengan lelaki bersurai hitam.


"Dia?! Dia yang waktu itu!" Val menatap lelaki yang begitu familiar.


Laki-laki yang menghancurkan bangunan sekte hongzhi nya. Pertarungan terjadi didepan Val gadis itu merasakan sesuatu yang membuatnya cemas.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi." Gadis itu mendongak keatas.

__ADS_1


Pedang putih berlonceng pita merah kini tertancap di dada lelaki itu. Darah menetes deras berjatuhan keatas tanah. Beberapa tetes mengenai wajah Val, gadis itu mengusap darah yang menai wajahnya dengan tangan gemetar.


Pendekar asing itu menarik pedangnya dengan kasar. Teriakan kesakitan terdengar begitu menyayat. Val terdiam menyaksikan lelaki itu berteriak kesakitan. Dia menatap kasihan kenapa pendekar itu begitu tega?


Pendekar misterius itu terbang mendarat tak jauh dari Val, setiap langkah nya terdengar gemerincing lonceng. Detak jantung Val meningkat dia merasa sesuatu yang membuatnya dadanya terasa sakit.


Kini mereka berdua berdiri berhadapan,Val menatap wajah yang tidak asing baginya. Wajah seseorang dikehidupan sebelumnya.


Dada Val semakin merasa sesak, bibir nya bergetar menahan kata yang akan terucap. Pendekar asing itu ternyata perempuan yang pernah memberitahukan pada diri Val.


Bahwa dunia yang damai itu hanya ada dalam dongeng. Kenyataan selalu berkata dunia dipenuhi kepahitan.


Ingatannya berputar mengingat kehidupan sebelumnya, kehidupan lama yang ditinggalkannya. Perempuan itu lah orang pertama memberikan rasa sakit di hati Val.


Orang yang membuat Val berpikir dia harus hidup dengan mengemban kenangan pahit masa lalunya. Kehadiran dirinya tidak pernah diinginkan perempuan itu.


"Kenapa...sampai aku pergi ke dunia ini pun takdir mempertemukan kita." Bisik Val serak.


Bang....


Val tersentak kaget, suara keras itu membangunkan dirinya dari mimpi. Adegan tak terduga menyambut Val. Gadis itu terkejut melihat banyak barang bertumpukan dikamar nya.


Zhu Rey membanting barang yang dibawa nya dengan kasar."Cih, sudah ku duga tidak ada hal baik jadi manusia!"


"Rey? Apa yang sedang Rey lakukan."Val beranjak bangun mendekati Zhu Rey.


Pemuda itu tampak terkejut melihat Val sudah bangun."Oh? Manusia bernama Su itu memberi kita banyak tumpukan kotak semua itu berisi tanaman herbal serta sumberdaya yang bisa meningkatkan level."


"Bukankah semua ini harusnya untuk murid yang tidak pergi?"


"Iya hanya saja manusia Su itu memberikan kita sebagian nya, dia takut kita tidak mendapatkan sumberdaya di Hua San." Zhu Rey memasukkan semua kotak-kotak kayu yang ditumpuk nya kedalam cincin ruang miliknya.


"Lalu kita akan berangkat sekarang ku dengar sekte Hua San sedang dalam masalah jadi kedua utusan yang kemari kemarin harus kembali secepatnya." Zhu Rey menepuk kepala Zhu Val.


"Val kira akan berangkat besok."


Pemuda didepan Zhu Val menggelengkan kepalanya, dia mengajak Val sarapan bersama Bibi Su. Wanita paruh baya itu ternyata sudah menunggu keduanya di ruang makan.


"Kemari dan duduk lah." Bibi Su mempersilahkan Val dan Rey duduk di kursi yang telah dia sediakan.


"Bibi Su... Wah! Bubur teratai." Val menatap Bubur kesukaan nya dengan berbinar-binar.


Bibi Su tersenyum tipis dia tidak akan bisa lagi melihat wajah riang Val atau pun Zhu Rey selama lima tahun. Dia berharap Val bisa berkembang disana kemudian tidak melupakan jati diri mereka juga tidak melupakan sekte Hongzhi.


"Makanlah yang banyak, Bibi juga akan membawakan bubur teratai sebagai bekal."


Val mengangguk dia tidak mengetahui ada nada sedih dalam ucapan Bibi Su, Zhu Rey hanya bisa terdiam tidak ada bagusnya jika Val tau menangis jika berpisah dengan seseorang.


Itu hanya akan membuat gadis itu tidak merasa semangat lagi, Zhu Rey mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari telunjuknya.


"Kenapa kau tidak memakan bubur ny Zhu Rey?" Bibi Su menatap Zhu Rey dengan heran.


Pemuda itu menggelengkan kepalanya."Bubur ini akan menjadi yang terakhir kalinya ku makan lebih baik aku memakan nya nanti diperjalanan."


Wanita paruh baya diseberang tertawa lepas."Padahal aku sudah menyiapkan nya untuk kalian berdua."


"Val akan menghabiskan nya sendirian tapi mungkin lebih baik aku memakannya sekarang." Zhu Rey memegang mangkuk buburnya.


Tercium aroma lezat dari bubur teratai, tidak pelak lagi Zhu Rey memang sangat menyukai bubur buatan Bibi Su. Val menghentikan kegiatan makannya. Dia menatap Bibi Su dengan ragu entah keberapa kali perpisahan terjadi pada dirinya, memang tidak ada hubungan yang selamanya tetap terjalin.


Ada kalanya terhambat sesuatu, tapi bukankah terlalu dangkal berpikir ini menyedihkan? Lagi pula Val akan bertemu lagi dengan Bibi Su lima tahun yang akan datang.

__ADS_1


__ADS_2