
Suasana begitu hening Val merasa gugup, ini pertamakali nya mengikuti kelas. Kira-kira seperti apa? Val belum pernah belajar bersama banyak orang.
Shui sharon dan Feng Wuxie berada di kelas yang berbeda karena mereka memiliki keahlian masing-masing. Val dan Zhu Rey masuk kedalam kelas yang umumnya digunakan khusus murid-murid belum mengetahui bakat mereka.
"Rey ..." Bisik Zhu Val.
Pemuda di sampingnya melirik sekilas, dia terlihat begitu malas untuk berbicara. Val merasa diabaikan ketika hendak berdiri seorang wanita cantik berumur 20 tahun masuk ke dalam kelas.
Jika dilihat dari seragam nya, dia adalah guru dikelas Val.
"Perkenalkan saya Ning Lian, saya yang akan mengajar kalian selama kedepannya bersikaplah dengan baik."
Ning Lian memperhatikan semua muridnya, dia menghela nafas kenapa dirinya malah mendapatkan kelas yang dipenuhi murid tidak berbakat? Bagaimana jika taruhannya kalah. Dan Ning Lian harus menyerahkan jamur tujuh warna yang berharga kalau dia tidak berhasil membuat semua murid nya membangkitkan bakat mereka.
Di tempat lain Feng Wuxie tengah membuat beberapa ramuan penyembuh tingkat rendah, ini adalah ujian untuk menyatakan bahwa dirinya pantas di kelas itu.
"Aku akan pergi sebentar jika sudah selesai tetap di tempat masing-masing mengerti?"
Guru lelaki berjenggot putih itu pergi setelah melihat semua muridnya mengangguk.
"Feng Wuxie, aku baru mengetahui kau pandai membuatnya." Shui Sharon melirik Feng Wuxie yang teng serius menghalus kan bahan-bahan obat.
Obat yang mereka buat tidak perlu mengenakan elemen dan sebagainya, mereka hanya disuruh membuat tanpa kekuatan elemen hanya menggunakan tenaga fisik. Biasanya obat seperti itu digunakan untuk rakyat kecil yang tidak mampu membeli ramuan obat yang di buat.
Menggunakan elemen serta kekuatan qi pembuat."Kau tidak tahu ya? Sebelum elemen ku bangkit aku harus membuat obat seperti ini demi bertahan hidup."
Mulut Shui Sharon terkatup rapat dia melupakan satu hal. Masa lalu Feng Wuxie sangat buruk meksi ayahnya seorang menteri perdagangan. Namun, dia tidak pernah diperhatikan dalam hal apapun uang bulanan saja terkadang tidak diberikan. Identitas nya sebagai anak haram membuat istri sah menteri sering kali menindas Feng Wuxie dan ibu nya.
Meski begitu Feng Wuxie tidak pernah menuntut apapun pada ayahnya, dia berpikir untuk sadar diri akan posisinya.
"Kau terdengar keren, aku bahkan tidak pernah melakukan itu sebelumnya." Ucap Shui Sharon kaku.
Setelah selesai membuatnya semua murid terdiam mereka menunggu guru mereka kembali. Kemudian kelas menjadi berisik seperti nya mereka tidak tahan dengan suasana yang hening.
"Hey, kalian tadi terlihat begitu akrab ku dengar kalian berdua murid yang masuk dengan jalur khusus." Anak lelaki dengan rambut di ikat satu itu mendekati kedua anak perempuan.
"Lalu? Apa kau merasa tidak adil ?"
Anak lelaki itu menggeleng kan kepala lalu tertawa kecil."Tentu saja tidak, hanya saja sangat jarang ada murid yang masuk dengan jalur khusus."
"Zu Mo."
"Apa?" Feng Wuxie terlihat bingung Namun, tangan nya tidak berhenti memasukkan bulir-bulir obat kedalam botol yang tertulis namanya.
"Itu nama ku, kau tahu."
"Oh salam kenal, nama ku Shui Sharon dan ini teman ku Feng Wuxie." Sela Shui Sharon cepat.
"Iya,"Zu Mo tersenyum kaku tampaknya kedua gadis di depan nya tidak tahu identitas nya.
Itu hal bagus, biasanya semua orang akan segan terhadap nya begitu dia menyebutkan namanya.
"Ku dengar murid jalur khusus ada empat orang, apa dua lainnya berada di kelas lain?"
"Ya benar, kedua teman ku ada di kelas lain."Anggung Feng Wuxie.
Shui Sharon menatap Zu Mo denga berbinar-binar."Apa kau mau bertemu dengan mereka? Kita bisa bertemu di makan siang nanti."
"Ah benarkah? Kalau begitu kita akan menemui mereka."Zu Mo senang kali ini ada yang memperlakukan dirinya seperti orang normal.
"Hei jam pelajaran kali ini dibebaskan, ku dengar guru sedang sibuk sebagai gantinya kita harus mencatat semua bahan dan cara kerja kita dalam membuat obat." Teriak seorang gadis bersurai coklat diambang pintu kelas.
"Benarkah?! Horeeeee kita benar-benar beruntung sudah lama tidak ada jam kosong."
Semua murid bersorak senang Namun, gadis bersurai coklat itu menyuruh mereka diam agar tidak membuat keributan dan segera menyelesaikan tugas mereka.
"Wah sepertinya kita benar-benar beruntung." Zu Mo mengerling ke arah Feng Eye dan Shui Sharon sebelum dia kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
"Gadis itu siapa? Hanya dengan ucapannya dia mengendalikan semua murid di kelas ini."Bisik Shui Sharon.
"Dia itu ketua kelas, seperti itu saja kau tidak bisa menebaknya." Balas Feng Wuxie kesal.
Teman nya itu malah menatap Feng Wuxie dengan polos."Tapi kan di sekte kita tidak ada ketua kelas seperti itu."
"Itu hal yang wajar mengingat semua murid di sekte kita fokus belajar tidak memedulikan jabatan yang mereka emban." Tukas Feng Wuxie dia merasa Shui Sharon harus di beri racun agar tidak menanyakan hal bodoh seperti itu.
Keduanya kembali terhanyut pada kertas dan kuas masing-masing. Mendadak terdengar suara gaduh dari luar. Seperti nya mereka berdua sedang berhalusinasi saat mendengar nama mereka di sebut seseorang.
Ketika ingin mengabaikan suara itu entah kenapa semakin heboh saat tidak ditanggapi.
"Junior kecil jangan brisik! Apa kalian mau di hukum oleh guru piket karena membuat kegaduhan?!"
Ketua kelas mereka kembali beraksi, andai saja tidak ada kegaduhan yang di buat oleh kedua anak kecil dari kelas lain mungkin kali ini semua murid akan mengerjakan tugas mereka dengan cepat.
"Feng Wuxie apakah kau dengar itu? Seperti nya Val memanggil kita."Bisik Shui Sharon pelan.
Feng Wuxie memutar bola matanya sebal."Selesai kan tugas mu terlebih dahulu toh mereka tidak akan keberatan menunggu kita."
Mendengar perkataan Feng Wuxie, Shui Sharon langsung bergegas menyelesaikan tugasnya. Dia tidak bisa membuat Zhu Val menunggu.
"Feng Wuxie, Shui Sharon cepatlah atau kami akan makan siang lebih dahulu dari kalian." Teriak Val keras.
"Sudah ku bilang tidak boleh berisik!" Bentak Ketua kelas.
Val menatap gadis didepannya dengan sebal, Zhu Rey hanya bisa menghela nafas dia tidak akan melarang Val melakukan hal apapun kecuali membahayakan diri gadis itu sendiri.
Shui Sharon tidak tahan lagi dia beranjak bangun dan keluar kelas menemui Zhu Val.
"Aku dan Feng Wuxie tidak akan makan di jam sekarang kami harus menyelesaikan tugas kami terlebih dahulu." Ucap Shui Sharon serasa mengusap kepala Val.
"Hmp... Baiklah kami akan makan duluan kau tidak boleh menyesal ya!"
Melihat Val kesal Shui Sharon tertawa dia merasa Val Terlihat lucu dan menggemaskan. Namun, ketua kelasnya malah menyeretnya masuk dan menutup pintu kelas dengan rapat.
"Apa kedua anak kecil itu teman yang kalian maksud?" Tanya Zhu Mo penasaran.
"Mereka terlihat aneh baru kali ini aku melihat warna mata berwarna merah dan rambut putih di usia dini." Zu Mo mengomentari penampilan Zhu Val dan Zhu Rey
"Itu tidak aneh jika mereka berasal dari benua lain." Balas Feng Wuxie.
"Mungkin saja," Zu Mo mengangguk setuju.
Ditempat lain Val tengah duduk dengan cemberut, bahkan makanan pun tidak bisa mengusir rasa sebalnya.Ini semua salah Ning Lian kenapa membubarkan kelas terlalu cepat bahkan terlihat tidak suka dengan semua murid di kelas nya.
"Apa makanan nya tidak enak?"
Val menoleh menatap pemuda di sampingnya,"Makanan nya sangat enak."
"Padahal menurut ku ini tidak enak meski hanya pangsit asin berisi lobak benar aku tidak suka lobak." Zhu Rey menggeser mangkuknya kedepan Zhu Val.
"Buat mu saja!"
"Bilang saja Rey tidak mau makan dan hanya ingin memakan kekuatan jiwa Val." Gerutu Val.
"Jika kau menyuguhi ku dengan bebek panggang, pangsit berisi daging serta berbagai makanan yang enak aku akan memakannya." Zhu Rey melirik murid tahun kedua yang tengah makan paha ayam dengan lahap.
Val mengerucut kan bibir, uang yang mereka miliki tidak cukup untuk membeli makanan enak.
"Jangan mengeluh! Jika Rey mau makan enak lebih baik beli sendiri."
Zhu Rey tertawa saat mengetahui Val semakin marah, dia sebenarnya memiliki beberapa keping koin emas dari Chu Zu sebelum pergi menemui Val. Zhu Rey penasaran apakah Val pemilih makanan atau tidak.
Gadis itu tidak protes memakan, makanan yang tidak enak bahkan memakannya dengan lahap. Sementara Zhu Rey mendadak menoleh dan melemparkan tatapan penuh hawa pembunuh.
Dia tidak melihat sosok yang di carinya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Apa hanya perasaan ku saja?"Gumam Zhu Rey sejak keluar dari kelas dia merasa seseorang tengah menguntit nya.
"Umm? Rey kenapa?" Tanya Val saat melihat tingkah aneh Zhu Rey.
"Tidak cepat habiskan makanan mu."
Val mengangguk dia menghabiskan makanannya tanpa peduli Zhu Rey memasang wajah tanpa ekspres. Toh Val berpikir itu biasa saja setiap hari Zhu Rey selalu memasang wajah seperti itu.
Jika pemuda itu tersenyum Val menganggap Zhu Rey sedang tidak waras. Andai saja Zhu Rey mengetahui isi pikiran Val mungkin pemuda itu akan memarahi Val.
Setelah selesai makan Zhu Val dan Zhu Rey keluar dari kantin mendadak saja Zhu Val berlari ke tempat yang sepi.
"Val kau kenapa?" Zhu Rey mengerut kening saat Val melihat Val menghampiri sebuah pohon.
Gadis itu memuntahkan semua yang di makannya membuat Zhu Rey terkejut. Bukan kah tadi Val baik-baik saja kenapa sekarang gadis itu malah memuntahkan semua makanan. Zhu Rey memutuskan untuk mendekati Val.
"Huweekkk..."
"Kenapa kau memakannya jika kau tidak suka dengan itu?!" Bentak Zhu Rey tak suka.
Tangannya memijat pelan tengkuk Val, sampai gadis itu selesai memuntahkan semua makanannya.
"Val tidak mau membuang-buang makanan."Kilah Val keras.
Refleks Zhu Rey menepuk jidatnya sendiri."Jika pada akhir seperti ini kau tidak perlu memakan, kalau terulang lagi aku akan menyurun Zhu Xie menggantung mu di puncak gunung."
Wajah Val semakin memucat saat mendengar hal itu, Zhu Rey terlihat serius saat mengatakan nya berarti pemuda itu tidak main-main dengan ucapannya.
"Kau lebih baik kembali ke asrama aku mau pergi."
"Tidak mau? Val ingin ikut." Tolak Zhu Val mentah-mentah.
Kali ini Zhu Rey harus menahan amarahnya dan bersabar. Kemudian menyingkirkan Val yang memeluk lengannya.
"Aku ingin sendiri kau bisa melakukan hal lain tanpa ku kan?" Ketus Zhu Rey dingin.
Val terdiam kemudian mengangguk dan pergi meninggalkan Zhu Rey.Sepertinya Val merencanakan sesuatu. Zhu Rey mengibaskan tangannya dan berjalan menuju tempat yang ingin dia kunjungi.
Pemuda itu mengikuti kabut hitam yang sempat melewati nya. Kabut hitam itu tidak memiliki hawa yang sama dengan seseorang yang mengintainya. Jika orang itu mengincar Val gadis itu tidak mudah dilukai karena ada Zhu Xie yang menjaganya.
Kabut itu terlalu cepat Zhu Rey memutuskan untuk berlari mengejar serta menyembunyikan hawa keberadaan nya. Kabut hitam menuntun Zhu Rey kearah jurang yang dipenuhi kabut putih. Ini mencurigakan kabut hitam yang menyatu kearah kabut putih Namun, tidak saling meleburkan diri kabur dengan warna bertentangan seakan memiliki ldaerah kekuasaan sendiri.
"Tempat ini..." Zhu Rey terdiam perlahan beringsut mendekati bibir jurang.
Dia menunduk menatap tebing yang tidak terlihat dasarnya. Energi disitu sangat buruk apakah ada benda artefak di bawah sana? Zhu Rey menjadi penasaran.
"Nak tidak baik kau berada disini."
Zhu Rey mematung saat mendengar sebuah suara bariton. Dia menoleh tidak ada siapa pun di belakangnya. Lalu dimana orang itu?
"Siapa kau?" Zhu Rey semakin terlihat waspada.
Suara tawa menggelegar dari terdengar di telinga Zhu Rey."Ohoho hanya orang tua yang melihat seekor kadal kecil tengah penasaran dengan tebing milik sekte Hua San."
Deg...
Bibir Zhu Rey terkatup rapat, dia mengepalkan tangannya erat. Siapa? Siapa orang itu? Benar-benar membuat dia kesal orang itu tidak bisa di biarkan.
"Apa kau penasaran nak? Biar pun kau mencari ku kau tidak akan menemukan diriku."
"Berisik!"
Kali ini Zhu Rey sudah habis kesabarannya"Apa kau yang menguntit mu sedari tadi?"
"Tidak, hei nak kembali lah ke tempat mu disini bukanlah tempat untuk mu bermain."
"Aku tidak butuh pendapat dari mu."
__ADS_1
"Kau sangat arogan aku suka itu."
Terdengar suara tawa menyebalkan membuat Zhu Rey mengelus dada. Seperti nya orang itu tidak memiliki niat buruk padanya Namun, ini sangat mencurigakan bagaimana bisa orang itu mengetahui sesuatu yang dia tutupi rapat.