The Great Oishi Zu

The Great Oishi Zu
Time Skip


__ADS_3

Gadis berambut perak dengan kain yang menutupi matanya,tersenyum lebar. 5 tahun telah berlalu begitu cepat, Val sudah tumbuh lebih besar dari sebelumnya. Usianya kini menginjak 10 tahun dan dia merasa bangga!


Bukan hal mudah untuk bertahan hidup di sekte Hua San, Val menjalani hidup yang keras karena Chen Fen mendidiknya tanpa penuh celah. Val yang tidak bisa menggunakan pedang perlahan bisa menguasai tehnik dasarnya. Teman-teman Val yang biasa mengatai Val cebol pun tumbuh lebih tinggi dari Val.


"Aku akhiri saja masa belajar semester ini, dan tidak ada pulang kampung kalian hanya di beri waktu libur 3 hari."ucap Chen Fen membuat kelas Val gaduh.


"Senior, apa anda mau memonopoli waktu liburan kami?"tanya Chu Myung kesal.


"Chu Myung panggil saya guru."kata Chen Fen mengingat kan.


"Tidak mau!"Chun Myung membuang muka.


Meski begitu Chen Fen melihat sudut bibir Chun Myung terangkat sedikit. Dia tau Chun Myung hanya bermain-main saja.


"Guru apa kita akan berlatih seperti tahun sebelumnya?"tanya Xiu Xin.


"Benar, tapi tahun ini ada pengecualian untuk Val."


Semua orang menatap Val dengan tatapan tajam, mereka tahu Val akan pergi meninggalkan mereka. Masa belajar Val sudah habis dan gadis itu akan kembali ke sektenya.


"Yah, sangat disayangkan aku harus pergi berlibur."kata Val dengan wajah menyebalkan.


Yuan Gang berpura-pura terisak,"Ya ampun ini tidak adil kemana pergi nya Val kami yang imut?"


"Benar yang tersisa hanya gadis tengil."cibir Chang Yi.


Xiu Xin tertawa geli dengan tingkah Yuan Gang dan Chang Yi, Hong Li segera melancarkan aksinya untuk membuat keributan. Dia membuat suara letupan dengan kertas lipat yang diajarkan Val padanya.


Bledar!


Semua orang terkejut mendengar suara letupan yang keras, Chen Fen mengelus dada nya. Dia melemparkan penghapus papan tulis pada Hong Li, pemuda itu tengah cekikikan tak jelas.


Tak!


"Ugh, guru anda sangat kejam!"Hong Li mengusap dahi nya.


"Hahaha... itu akibat dari perbuatan mu."Chang Yi tertawa puas.


"Sial,"gerutu Hong Li.


"Hong Li pergi keluar dan berdiri dilorong kelas sampai pelajaran saya berakhir."


"Senior kau kejam sekali."dengan misuh-misuh Hong Li keluar.


Sudah menjadi aturan tak tertulis dikelas, teman-teman Val akan memanggil Chen Fen senior dengan bahasa informal. Jika mereka sedang kesal dan Chen Fen tidak keberatan dengan itu.


"Val,"panggil Chen Fen.


"Iya guru."sahut Val cepat.


"Terimakasih sudah mau belajar di sekte Hua San, saya harap Val menyukai tempat ini, sering-sering lah mengunjungi tempat ini."


Val mengangguk kecil, menghabiskan waktu di sekte Hua San memang menyenangkan. Val merasa dia tidak akan kembali ke sekte Hongzhi dalam waktu dekat. Karena gadis itu akan memulai perjalanan nya menuju benua Chang Lan.


...


Hua Hyungi menatap Val sendu, dia telah menyaksikan Val tumbuh di sektenya. Gadis imut yang lucu, dengan wajah polos itu berhasil membuat Hua Hyungi. Merasa sudah membesarkan seorang putri, dan bangga karena Val tumbuh dengan baik.


Tetapi hari ini Val akan mengepakkan sayapnya untuk terbang dan pergi dari sektenya, Hua Hyungi memeluk Val erat.


"Ketua sekte anda terlalu erat memeluk saya."Val berusaha melepaskan diri dari Hua Hyungi.


"Anak nakal, cepatlah kembali jangan sungkan untuk meminta bantuan pada ku."Hua Hyungi mengusap matanya yang berair.


Chen Fen, Xiu Xin,Chun Myung,Hong Li dan Chang Yi. Mereka tak percaya melihat sisi lain dari ketua sekte mereka. Biasanya terlihat dingin dan menyeramkan tapi dihadapan Val. Malah terlihat seperti seorang ayah sedang menangisi kepergian sang anak.


"Val hati-hati dijalan ya!"seru Xiu Xin sambil memeluk Val.


Yuan Gang mengusap kepala Val gemas,"Jika ada yang menjahati diri mu, pukul saja dia keras-keras."


"Aku tidak menyangka kau masih membawa itik kuning itu diusia mu yang sekarang."Chun Myung memandangi boneka anak ayam, ukuran kecil yang tergantung dipinggang Val.


"Anak ayam ini adalah jimat ku jadi bilang saja kau iri."kata Val bangga.


"Aku tidak iri."cibir Chun Myung.


Val melambaikan tangannya dia langsung berlari meninggalkan teman-temannya, guru dan ketua sekte. Dia tersenyum dan berjanji untuk kembali mengunjungi sekte Hua San.


"Oi! Val kalau kau kembali tanpa hasil aku akan memukul mu!"Teriak Hong Li keras.


Mendengar hal itu Val tertawa lepas, dan menghilang dari pandangan teman-teman nya dalam sekejap mata.


...


Suasana hutan Mangrove terlihat menyedihkan, tanaman-tanaman layu. Serta beberapa hewan spirit terlihat sekarat, mereka sudah terlalu lama hidup tanpa kekuatan dari jantung hutan.


Sosok berjubah hitam dengan gantungan anak ayam dipinggang, berhenti melangkah. Tangannya menyentuh tanaman liar yang kering.


"Nasib hutan ini sangat mengerikan."Val berjalan kedalam hutan.


Dia berpikir untuk mampir ke hutan Mangrove, hatinya merasa gelisah karena tidak mengunjungi hutan itu setelah dirinya pergi dari hutan Mangrove. Semakin dalam Val masuk, kekeringan dihutan semakin terlihat parah.


Tuk...tuk...


Bola yang terbuat dari ranting kayu kering terjatuh kehadapan Val, tanpa ragu Val mengambilnya.


"Wa Di Xiang?"


Tidak ada sahutan sama sekali, Val segera berlari menuju danau yang menjadi pusat hutan. Danau itu kering tidak ada air sedikit pun, bahkan tidak ada lumbung teratai disana.


"Kemana? Kemana perginya lumbung itu."


Val melompat turun kedalam danau, dia mencari serpihan lumbung akar teratai. Tapi sayangnya, Val tidak menemukan apapun ditengah danau itu.


"Apa aku menghancurkan tempat ini? Kejadian waktu itu membuat tempat ini hancur."


Lutut Val terasa lemas dan tidak bisa menopang tubuh Val, membuat Val jatuh terduduk. Dia menengadahkan wajah menatap langit, beberapa peri pohon dengan tatapan putus asa muncul dari pinggiran danau.


Para penghuni hutan yang bersembunyi dibalik pohon besar yang kering bermunculan, mereka merasakan sumber kekuatan mereka kembali.


"Ya-yang Mulia Jantung Abadi."

__ADS_1


Mereka semua bersujud pada Val, dengan harapan yang tersisip di hati mereka. Para penjaga hutan susah menghilang kini yang tersisa hanya mereka.


"Aku bukan pemimpin kalian."ucap Val datar.


"Yang Mulia anda adalah penjaga yang terlahir dari Jantung Abadi."jawab seekor Salamander.


"Penjaga terakhir yang kami harapkan."


"Hidup Yang Mulia!"


"Hidup Yang Mulia!"


Mereka terus bersorak pada Val tanpa sspertujuan gadis itu, Val merasa Wa Di Xiang dan yang lain telah menelantarkan mereka.


"Yang Mulia telah kembali! Kita akan hidup lama!"


Sorakan demi sorakan berdengung ditelinga Val, gadis itu merasa tak tahan akhirnya mengangkat tangan kanannya.


"Hentikan."ucap Val.


"Baik Yang Mulia."


Para spirit beast terlihat patuh membuat Val tersenyum lesu. Dia harus bertanggung jawab, karena kehadiran nya membuat para penghuni hutan Mangrove harus sengsara.


"Aku akan menghidupkan hutan ini, aku tidak peduli apa yang ingin kalian lakukan, aku merasa bersalah karena kehadiran ku membawa malapetaka."


"Yang Mulia, sosok anda begitu agung tidak kah engkau terlalu menyalahkan diri anda sendiri?"


"Takdir yang di emban oleh pemilik penguasa selalu berliku-liku, entah berujung kemalangan atau malapetaka."


"Pada akhirnya anda akan menyelesaikan apa yang anda perbuat."


Wajah Val terlihat tidak enak di pandang, Val merasa kesal mendengar nya.Dia melompat keluar dari danau, ribuan tatapan memuja menusuki tubuhnya.


"Terserahlah, katakan pada ku apa yang harus kulakukan agar hutan ini kembali hidup?"


"Kau harus mengorbankan satu tetes darah mu untuk tanah ini."


Wa Di Xiang muncul entah dari mana, danau yang kering perlahan terisi dengan Air. Semua penghuni hutan Mangrove terkejut dengan muncul nya salah satu penjaga.


"Yang Mulia Wa Di Xiang, kenapa anda datang kemari? Bukankah anda seharusnya sudah pergi,..."


"Aku tidak pergi, aku hanya sedang melindungi jantung hutan bersama yang lain."sangkal Wa Di Xiang.


Val menghiraukan percakapan mereka, dia melukai pergelangan tangannya. Kemudian menetaskan darah nya ketanah, dalam beberapa detik sudah terlihat perubahan pada tumbuhan dihutan Mangrove.


"Hutannya akan membutuhkan banyak waktu untuk pulih."ucap Val sambil berjongkok, mendengar suara air yang entah keluar dari mana terus menerus naik keatas, membuat danau menjadi penuh.


Val merasa bosan dengan hidupnya, yang dia lakukan selama ini hanya belajar dan belajar. Sesekali dia berjalan mengelilingi sekte Hua San, sayangnya hal itu lama-lama membuat nya bosan.


"Aku ingin membunuh..."bisik Val tanpa sadar.


Wa Di Xiang tidak sengaja mendengar nya langsung terkejut, apa ambisi Phoenix telah bangkit dalam diri Val?


"Aku ingin tertawa puas diatas gunung yang terbuat dari tumpukan makhluk hidup..."perlahan Val mengeluarkan api hitam dari tangannya.


"Bau darah segar..."


Val terjatuh tak sadarkan diri, dengan sigap Wa Di Xiang menangkap tubuh Val.


"Yang Mulia!" Para spirit beast menjerit keras karena terkejut.


"Jangan panik, justru jika hasratnya bangkit kalian yang akan menjadi korbannya."ketus Wa Di Xiang.


"Maafkan kami, kami tidak tau Yang Mulia kecil sedang dalam fase pembangkitan hasrat nya."spesies spirit beast Salamander menundukkan kepalanya.


Dia siap ditebas, karena bagaimana pun spirit didepannya salah satu dari. Penjaga Hutan yang memiliki kepemimpinan tertinggi setelah mantan jantung hutan.


"Lupakan, kalian lebih baik membuat gazebo untuk penjaga kecil."


"Apa Yang Mulia kecil membutuhkan tempat istirahat seperti manusia?"tanya Tai Ling si Salamander api.


"Lakukan saja apa yang ku perintahkan."


"Ba-baik."


"Aku akan membawa penjaga kecil ini ke tempat lain, dan namanya Zhu Val."setelah mengucapkan itu Wa Di Xiang menghilang dalam sekejap mata.


Menyisakan gelembung-gelembung yang berterbangan di udara. Para spirit beast langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Wa Di Xiang.


"Hik! Kenapa bocah itu Dage bawa?"pekik Long Xu terkejut.


"Jangan berisik."Wa Di Xiang melempar tatapan tajam kearah Long Xu.


Dia berjalan mendekati danau kecil didalam gua. Lalu melemparkan Val kedalam danau yang biasa dia tempati, tubuh Val tenggelam kedasar danau dan tidak bisa mengapung. Seakan ada pemberat yang menjerat tubuhnya.


"Apa yang Dage lakukan dengan bocah itu?"tanya A Xuan kura-kura besar itu sangat penasaran.


"Sedang merendam hasrat membunuh bocah itu, harusnya hasrat itu muncul saat dia sudah selesai evolusi tapi entah kenapa baru muncul sekarang."jawab Wa Di Xiang bingung.


"Kenapa tidak membiarkan nya saja? Bukankah itu bagus agar hasratnya akan lenyap."celetuk Wa Guan Yu.


"Itu ide gila."sela Fu Jing rubah putih itu menatap Wa Guan Yu kesal.


Wa Di Xiang menatap Val khawatir, dia berharap Val dapat mengatasi masalahnya sendiri. Di dalam ruang jiwa, Val tengah berdiri menatap Phoenix yang terjerat oleh rantai.


"Kenapa kau datang kemari nak?" Phoenix itu tidak beranjak dari tempat nya, dia hanya menatap Val malas.


"Aku hanya ingin mengunjungi mu."ucap Val sambil berjalan mendekati Phoenix dan duduk tepat didepan wajah Phoenix itu.


Kebetulan Ibu Zhu Rey tengah merebahkan dirinya. Val menepuk paruh Phoenix itu pelan. Tapi sentuhan nya itu memiliki dampak buruk. Paruh milik Phoenix tua itu hampir retak.


"Kau ingin tau kenapa kau ingin membasahi tangan mu dengan darah?"tanya Phoenix tua langsung pada intinya.


"Ya, seperti itu."angguk Val.


Melihat Val masih duduk manis didepannya, Phoenix tua itu hanya bisa menghela nafas berat. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan untuk anak kecil.


"Tidak ada cara lain, kau hanya perlu menahan nafsu membunuh mu."


"Sulit, aku tidak bisa."

__ADS_1


"Kau bisa melakukan nya, asalkan kau tau saja umumnya ras Phoenix yang sudah menyelesaikan evolusi nya akan pergi ke wilayah lain untuk membunuh beberapa spirit yang sudah mereka incar bahkan sesama ras nya sendiri."


"Membunuh orang yang menjadi saingan atau musuh bebuyutan itu menjadi prestasi tersendiri, saat sudah menyelesaikan evolusi nya."


Val merasa tidak masuk akal mendengar hal itu, baginya hal itu bertentangan dengan hati nuraninya.


"Apa kau juga melakukan itu?"


Mendengar pertanyaan dari Val, Phoenix tua tertawa geli."Tentu saja, tapi aku gagal."


Mata Val membulat, dia tidak menyangka hewan mengerikan yang legendaris bagi manusia. Itu ternyata bisa gagal melakukan apa yang dia inginkan.


"Aku ingin membunuh salah satu spirit dari ras Naga, tapi spirit itu malah menusuk jantung ku terlebih dahulu."


Kepala Val memiring, dia bingung dengan ucapan Phoenix didepannya.


"Pasti menyakitkan."ucap Val polos.


Phoenix yang mendengar hal itu hanya bisa menahan rasa kesalnya. Dia merasa bodoh mengatakan hal itu pada anak kecil.


"Sudah lupakan itu, kalau kau tidak ingin membunuh maka tahan saja seperti tahun-tahun sebelumnya."ketus Phoenix tua.


Val ingin menanyakan namanya tapi, gadis itu selalu mendapatkan penolakan. Phoenix itu tidak mau memberitahu namanya.


"Ibu Rey,"


"Apa? Kau memanggilku dengan panggilan yang memalukan?"


"Baiklah Bibi."Val memanyun kan bibirnya.


"Pergilah, aku tidak ingin diganggu."


"Cih, harusnya Bibi yang pergi seenaknya tinggal disini."kata Val bersungut-sungut.


Val pergi meninggalkan ruang Jiwa nya, sebenernya dia tidak tau. Alasannya pergi keruang jiwa, terakhir kali sebelum hilang kesadaran nya Val merasa dipukul oleh seseorang.


Mata Val terbelalak saat air mengenai matanya, dia sempat menghirup air itu dan beberapa masuk kedalam mulut.Meraza panik Val berusaha untuk keluar dari air.


"Keuhk... Huwaaa apa-apaan ini? Hidung ku terasa perih, mata ku juga perih."runtuk Val sambil keluar dari danau kecil.


"Kau sudah sadar bocah?"


"Argh! Sial*n!"seru Val terkejut.


Dia nyaris terpeleset saat melihat Wa Di Xiang dan Wa Guan Yu didepannya.


"Kenapa kalian ada disini?"


Val menatap Wa Di Xiang, Wa Guan Yu, Fu Jing, A Xuan, Long Xu dan Sima Cheng.


"Seharusnya kami yang tanya begitu."cetus Wa Guan Yu tak suka.


Val keluar dari danau dan berjalan mendekati Wa Guan Yu, Phoenix berwarna merah itu menatap Val dengan waspada. Apa lagi Val tersenyum membuat nya merasa ad ayang tidak beres dengan Val.


Grap...


Keuhk...


"Le-lepaskan bocah bod*h!"teriak Wa Guan Yu panik.


Val memeluk erat Wa Guan Yu yang dalam wujud spirit. Lehernya terasa ingin patah, Wa Guan Yu panik. Dia memberontak mencoba melepaskan Val lalu setelah berhasil dia melemparkan Val secara sembarangan.


Fu Jing menangkap tubuh Val dengan ekornya. Val menatap Fu Jing kagum, disis lain Fu Jing merasa Val adalah pengganggu ketenangannya.


"Ini adalah surga! Penuh dengan binatang menggemakan!"Val menjerit kegirangan.


Gua yang mereka tempati menjadi gaduh, mereka tengah berlari menghindari Val. Wa Di Xiang menatap adik-adik nya yang terlihat bod*h. Menghindari Val dengan wajah panik.


"Pergi kau telur busuk! Jangan kejar kami."Fu Jing berteriak sambil mengibaskan ekornya.


Sima Cheng menoleh kebelakang melihat Val berlari kencang kearah nya. Dia panik, melihat saudaranya kesakitan saat dipeluk Val. Dia menjadi takut pada gadis itu, matanya melotot saat Val melompat kearah nya.


"Jangan! Jangan kearah ku!"


"Kena kau kucing besar!"


Graaaa...!


Tulang Sima Cheng terasa ingin patah saat Val hinggap di punggungnya. Dia berhenti berlari karena punggungnya terasa sakit.


"Dage tolong aku."Sima Cheng menatap Wa Di Xiang dengan mata berkaca-kaca.


Long Xu, Wa Guan Yu dan Fu Jing berhenti berlari. Mereka menoleh kebelakang, menatap Sima Cheng dengan tatapan kasihan.


"Cukup Val,"


Tubuh Val dia seret turun dari punggung Sima Cheng, Val menatap Wa Di Xiang sebal. Sementara Wa Di Xiang hanya menatap Val datar.


Beberapa menit kemudian, mereka duduk didekat danau. Menatap Val tajam, Val hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Ada yang ingin ku tanyakan."ucap Long Xu mendadak.


"Katakan lah."


"Apa mata kau terluka terlu busuk?"


Jari Val mengetuk-ngetuk bibir nya pelan, dia bingung harus menjawab apa. Tapi pada akhirnya Val tidak akan berbohong.


"Tidak."


"Lalu mengapa kau menutupikedua mata dengan kain."sela Sima Cheng penasaran.


"Jawabannya sederhana, jika Val tidak menutup mata Val kalian akan ketakutan."ucap Val.


Mereka berlima semakin penasaran, akhirnya Wa Guan Yu ikut bertanya.


"Kau tidak bercanda kan?"


"Tentu saja tidak."


"Jangan banyak bertanya, Val diluar gua ada pantai kau bisa berjalan-jalan disana."sela Wa Di Xiang cepat.

__ADS_1


Val yang mendengar nya langsung berlari meninggalkan mereka, Wa Di Xiang langsung menceritakan mengenai masalah mata Val.


__ADS_2