The Great Oishi Zu

The Great Oishi Zu
Bukit terlantar


__ADS_3

Setelah hukuman selesai semua orang membubarkan diri, hanya tersisa Shui Sharon dan Feng Wuxie. Kedua gadis itu mendekati adik seperguruan mereka.


Pikiran Val tetap jernih dia masih bisa berdiri, mendadak Shui Sharon memeluknya erat. Feng Wuxie menepuk kepala Val lembut.


"Kau harus kembali ke asrama dan mengobati luka mu." Ucap Feng Wuxie.


Val mengangguk, kedua temannya membawanya kembali ke asrama. Val mengganti pakaian nya serta membersihkan lukanya lalu Feng Wuxie membantu Val mengobati luka gadis kecil itu menggunakan obat yang dia buat.


"Maaf Val membuat kalian menjadi repot."


"Tidak apa-apa, setelah ini tidur lah kami berdua akan pergi kau tidak apa sendirian disini?"


"Iya ,tidak apa apa pergilah."


Kedua gadis itu pergi secepat mungkin, Val memutuskan untuk bergelung dengan selimut nya. Dalam hati merutuki tindakan bodohnya.


"Nona maaf kan aku."


"Tidak apa-apa Zhu Xie lain kali tidak boleh melakukan hal itu lagi."


"Iya."


Penglihatan Val menjadi samar-samar mendadak mimpi sudah membawa nya terbang. Di sisi lain jantung Zhu Rey berdegup kencang dia merasakan hal yang tidak beres pada Val.


"Ada apa nak? Kau terlihat gelisah." Suara bariton kembali terdengar oleh Zhu Rey.


"Diam lah pak tua aku pergi dulu." Zhu Rey melesat pergi dengan cepat menuju asrama.


Sesuatu tak enak seperti sedang menggerogoti hatinya. Ketika tiba di asrama anak lelaki itu mendapati Val tengah tertidur. Dia bernapas lega berpikir Val baik-baik saja.


Zhu Rey duduk di tepi ranjang tangannya mengusap wajah Val lembut. Dahi nya mengerut saat merasakan suhu tubuh Val meningkatkan.


"Kau demam lagi? Manusia bodoh kenapa kau selalu sakit?" Zhu Rey mencubit kedua pipi Val.


Gadis itu tidak bereaksi apapun, Val terlalu lelap dalam tidur nya. Zhu Xie meringkuk di dalam ruang jiwa Val dia takut Zhu Rey akan memanggil nya keluar.


"Cepatlah sembuh nanti malam akan ku ajak kesebuah tempat yang harus kita kunjungi."Bisik Zhu Rey didekat telinga Val.


Ditempat lain lelaki dengan identitas ketua sekte tengah duduk dibibir tebing dia masih menunduk menatap kedalaman tebing yang tidak bisa dia jangkau dasar tebing dengan matanya.


"Apa kau menghadiahkan diri ku seekor kadal?"Suara bariton terdengar begitu jelas.


Hua Hyungi merasa bingung dengan pertanyaan itu."Apa maksud mu dengan kadal kecil? Aku tidak pernah mengirimkan mu seekor kadal."


Suara bariton itu tidak langsung menyahuti, membuat Hua Hyungi penasaran.


"Lupakan, jadi kenapa kau datang kemari?"


"Dia sudah mulai bergerak kembali setelah sekian lama menghilang saat muncul malah membuat keributan demi mencuri banyak benda pusaka."


"Maksud mu bajingan itu memunculkan batang hidung nya? Seperti nya ada yang ingin dia buat."


Hu Hyungi mengangguk menyetujuinya."Sudah banyak sekte yang menjadi korban nya, aku harap kau memperkuat pertahanan sekte ini siapa tau dia akan datang kemari."


"Hohoho menarik, baiklah aku akan memperkuat pertahanan sekte sebisa ku."


"Terimakasih senior." Hua Hyungi bangkit dari duduk nya.


Dia segera pergi meninggalkan tebing dengan hati dipenuhi rasa lega. Musuh bebuyutan penghuni dunia bawah mulai bergerak. Dia harus menyiapkan sesuatu untuk menghadapi jika makhluk terkutuk itu menyerang sekte nya.


...


Dua orang gadis kecil tengah berjalan menyusuri bukit yang tidak dihuni oleh murid sekte Hua San. Banyak tumbuhan herbal liar yang tumbuh dengan sendirinya, tanah disitu begitu subur sangat di sayangkan sekte Hua San tidak mengelola wilayah mereka yang terlantar dengan baik.


Bukit itu dijadikan tempat berburu para murid yang tidak memiliki poin untuk membeli makanan dikantin. Populasi kelinci bertanduk di bukit itu sangat besar jadi sebagian murid luar yang belum menjadi murid inti, sering berburu atau pun mencari sesuatu yang bisa di tukar menjadi poin.


"Feng Wuxie hari semakin larut bukan kah kita harus pulang?" Entah kenapa Shui Sharon merasa gelisah sedari tadi.


Feng Wuxie masih enggan meninggalkan bukit terlantar, dia masih asyik mencabuti rumput ungu tanpa memikirkan awan yang mulai menggelap.


"Feng Wuxie!!" Teriak Shui Sharon dia merasa Feng Wuxie semakin menyebalkan.


Gadis penggila tanaman obat itu selama larut dalam dunia nya. Mau tidak mau Shui Sharon harus memukul bahu Feng Wuxie keras agar gadis itu sadar.


"Kau?!" Teriak Feng Wuxie kesal saat temannya memukul bahu nya keras.


Dia merasa engsel tulang nya akan putus ketika Shui Sharon memukulnya.


"Ayo pulang, ini sudah sore apa kau tidak takut jika kita berjalan dalam kegelapan?"


Feng Wuxie mendongak keatas menatap langit yang mulai menggelap, dia segera menyudahi kegiatan nya dan memasukkan semua rumput ke kantung serut.


"Baiklah ayo kita pulang."


Meski ingin memarahi Shui Sharon, Feng Wuxie sadar temannya mencoba mengingat kan nya hanya saja dia terlalu larut dalam dunianya. Hingga mengabaikan perkataan Shui Sharon.

__ADS_1


"Hmp, kau sangat menyebalkan aku tidak mau hal itu terulang kembali."


"Kau juga menyebalkan aku tidak mau berdebat ada dua adik yang menunggu kita mereka pasti kelaparan." Ucap Feng Wuxie.


Mengingat ketua sekte hanya memberi mereka uang 10 tael perak. Karena ekonomi sekte tidak sebagus dulu jadi mereka hanya mendapatkan itu Namun, sebagai gantinya ketua sekte memberi bekal sumberdaya tanaman herbal yang di tanam oleh area dapur sekte.


"Aku lupa Val sedang sakit, Zhu Rey entah pergi kemana anak itu." Shui Sharon berjalan menuruni jalan yang cukup licin dengan hati-hati.


Feng Wuxie mengikuti Shui Sharon dari belakang. Dia sesekali gadis itu mengamati keadaan sekitarnya. Hewan-hewan malam mulai aktif suara mereka bersahut-sahutan padahal matahari belum tenggelam sepenuhnya.


"Ini mengerikan kita harus bergegas."


"Kau benar, kalau begitu percepat pergerakan mu yang lambat itu." Balas Feng Wuxie.


Beberapa menit kemudian mereka berdua bernafas lega karena berhasil menuruni bukit. Meski keadaan nya gelap Namun, samar-samar cahaya bulan membuat jalan terlihat remang-remang tidak begitu gelap total.


Grep...


Shui Sharon memeluk erat lengan Feng Wuxie saat ada bayangan yang lewat.


"Apa kau takut Shui Sharon?" Feng Wuxie tersenyum tipis.


Sontak Shui Sharon melepaskan pelukannya, seperti nya Feng Wuxie tadi menatap nya penuh dengan ejekan.


"Te...tentu saja tidak! Aku ini pemberani tau?!"


"Ya...yaaa aku harap itu benar." Jawab Feng Wuxie terdengar malas menanggapi Shui Sharon.


Kedua nya kembali diam, mendadak Feng Wuxie merasa merinding dibagian punggung. Sesekali menoleh kebelakang berharap dia menangkap sesuatu yang tengah menatapnya. Sangat di sayangkan tidak ada siapa pun dibelakang mereka.


Feng Wuxie kembali menoleh kedua kalinya, dia menjerit kaget membuat Shui Sharon sontak ikut menjerit. Di belakang mereka berdua muncul sosok berjubah hitam dengan aura mengerikan.


"Si-siapa kau?!" Shui Sharon menarik Feng Wuxie mundur menjauh dari sosok misterius itu.


"Kalian meninggalkan ini." Sosok itu tidak menjawab pertanyaan Shui Sharon melainkan memberikan peralatan berkebun milik Shui Sharon.


Ternyata gadis itu meninggalkan peralatan nya di bukit. Dengan hati-hati Shui Sharon menerima barang yang di berikan sosok itu.


"Terimakasih..."


"Tinggalkan lah bukit ini, jangan kembali kemari apapun alasan kalian."


Setelah berkata seperti itu sosok itu menghilang bersama kabut putih. Wajah Feng memucat dia teringat akan sesuatu. Di bukit ada peraturan tersendiri sebab arwah penghuni bukit terlantar lah yang menjaganya.


"Di-dia hantu!" Teriak Feng Wuxie histeris.


"Kau bercanda? Jelas-jelas dia seperti manusia."


Feng Wuxie menggeleng."Aku pernah di beritahukan oleh guru ku, dia bilang ada sebuah bukit misterius di sekte Hua San."


"Seseorang yang berada di bukit sampai tengah malam orang itu akan menghilang."


Shui Sharon merasa Feng Wuxie termakan sebuah mitos dia memilih tidak mempercayai ucapan Feng Wuxie."Lupakan kita harus kembali."


"Kau bahkan tidak mau mempercayai ucapan ku." Gerutu Feng Wuxie.


"Siapa juga yang mau percaya dengan mitos." Balas Shui Sharon.


Kedua gadis itu bergegas menuju asrama mereka sebelum itu mereka harus memberikan rumput ungu. Sesampainya di tempat mereka meminta misi lelaki yang menjaga papan misi segera menghampiri kedua gadis kecil itu.


"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya nya cemas.


"Kami baik-baik saja ini." Feng Wuxie memberikan dua kantung serut berukuran besar pada lelaki didepannya.


"Syukurlah, aku lupa memberitahu kalian besok bukit terlantar akan ditutup kalian tidak bisa kesana lagi semua misi yang berhubungan dengan bukit terlantar akan dihilangkan."


Shui Sharon mengerut kening."Apa kau bercanda?"


"Tentu saja tidak."


"Ini kebijakan baru dari ketua sekte."


"Baiklah kami mengerti, kami harus segera kembali ke asrama."


"Iya."


....


Sorot mata Zhu Rey semakin meredup dia tidak melihat tanda-tanda Val akan terbangun, demamnya sudah turun entah kenapa gadis itu tidak bereaksi.


"Manusia bodoh, kapan kau bangun?" Zhu Rey mengguncang tubuh Val.


"Kalau kau tidak bangun aku akan membunuh mu."


Tidak ada sahutan dari Val membuat Zhu Rey cemas. Tanda gelembung pada kening Zhu Rey bercahaya dan memudar.

__ADS_1


Gelembung air yang di penuhi dengan qi mengambang diudara kemudian terdengar suara dari gelembung itu.


"Adikku Zhu Rey."


Zhu Rey mendongak menatap gelembung air di langit-langit. Gelembung itu terbang mendekat kehadapan Zhu Rey.


"Wa Di Xiang." Panggil Zhu Rey.


"Kau tidak sopan ya kadal kecil." Terdengar suara tawa datar dari gelembung air.


Zhu Rey pernah berkomunikasi dengan Wa Di Xiang saat harimau putih asing menemuinya. Ternyata mereka spirit beast yang menghuni hutan mangrove. Entah kenapa mereka penghuni hutan mangrove mengakui nya sebagai salah satu dari mereka.


Wa Di Xiang memberikan tanda pada Zhu Rey agar mereka bisa berkomunikasi. Sebenarnya Zhu Rey tidak mau tapi Wa Di Xiang berkata bahwa Val juga sudah menjadi bagian keluarga hutan mangrove.


"Ada apa kau menghubungi ku?" Tanya Zhu Rey tanpa bada basi.


"Akan ku beritahu satu hal kegelapan memakan bukit terlantar, tebing tak terhingga tidak stabil."


"Lalu?"


"Jantung mangrove kunci kenetralan, ku berikan satu tugas untuk mu."


"Kau bicara tidak langsung pada intinya aku tidak mengerti!"


Wa Di Xiang terdiam sesaat."Jagalah Val sampai kami datang kesana."


"A-apa kau mau datang kesini? Apa kau sudah gila bagaimana jika kau di buru oleh mereka?"


Zhu Rey tidak setuju dengan ucapan Wa Di Xiang."Aku tidak gila, hanya dengan kekuatan mu yang lemah Val akan mudah terluka."


Zhu Rey terdiam dia masih mencerna perkataan Wa Di Xiang. Dia tidak mengerti maksud dari perkataan Wa Di Xiang. Gelembung air menghilang tanpa meninggalkan apapun.


"Ikan itu sangat suka menggunakan kata yang tidak bisa ku pahami." Zhu Rey berdecak kesal.


Krieet...


Pintu kamar terbuka menampakkan dua orang gadis dengan wajah suram.


"Kalian habis darimana? Apa kalian tidak tahu Val sedang sakit."


Melihat wajah Zhu Rey yang tidak enak di pandang, Feng Wuxie mendekati anak lelaki itu dan mengusap kepalanya.


"Aku sudah mengobati nya, karena ada misi jadi mau tidak mau Val kami tinggal."


Zhu Rey membuang muka dia tidak mau mendengar alasan apapun. Shui Sharon mendekati Val gadis itu masih larut dalam tidurnya.


"Tadi aku memetik tanaman herbal yang bisa menurunkan demam di bukit terlantar ternyata demam Val sudah turun."Ucap Shui Sharon seraya menyentuh kening Val.


Baju Zhu Rey menjadi tegap saat mendengar kata 'bukit terlantar' dia menoleh menatap Shui Sharon tajam.


"Bukit terlantar? kau tau tempat itu?"


"Iya, tempat itu tak jauh dari sini."


"Sebelah mana?"


Feng Wuxie menepuk kepala Zhu Rey."Jangan berpikir untuk pergi kesana itu berbahaya."


Zhu Rey menyeringai."Kau tidak bilang itu pun aku akan pergi kesana."


"Bukit terlantar sudah ditutup jadi percuma kau pergi kesana." Kata Shui Sharon.


Adik seperguruannya itu malah berjalan pergi meninggalkan asrama. Feng Wuxie berteriak agar Zhu Rey berhenti Namun, anak lelaki itu tidak memedulikan nya dia membanting pintu dengan keras.


"Argh anak nakal padahal ketua sekte sudah berpesan agar tidak membuat masalah." Feng Wuxie memijat keningnya.


Shui Sharon terdiam dia duduk di pinggir ranjang Val, Feng Wuxie merasa ada yang salah dengan Shui Sharon.Temannya yang biasa cerewet dan berisik berubah menjadi pendiam.


"Apa kau baik-baik saja?"


Feng Wuxie duduk di samping Shui Sharon."Aku baik-baik saja."


"Seperti nya kau berbohong."


"Tidak, aku hanya teringat dengan adik ku harus nya bukan ini dia sudah lahir." Bisik Shui Sharon.


Dia teringat dengan ibu nya yang tengah mengandung adiknya, sangat disayangkan saat pertamakali tahu ibunya tengah mengandung anak lagi. wanita anggun itu memilih kembali ke kampung halaman nya yang jauh.


"Kau ingin pergi menemui nya?"


"Iya, tapi tidak sekarang, mungkin 2 tahun lagi di akhir tahun."


Feng Wuxie menaikkan sebelah alisnya."Bukannya terlalu lama? apa kau menunggu umur mu ke sembilan baru pergi menjenguk ibu mu."


"Tidak tau, Feng Wuxie bodoh aku sedang tidak ingin bicara!" Teriak Shui Sharon keras.

__ADS_1


Feng Wuxie diam-diam tersenyum saat Shui Sharon memukulnya pelan seraya berteriak. Di sisi lain anak lelaki berambut hitam dengan warna mata merah tengah menatap bukit terlantar.


__ADS_2