
Pemeriksaan perkembangan murid-murid nya telah selesai Ning Lian memutuskan untuk memulai pembelajaran nya hari ini. Sepanjang materi yang diterangkan dan mempraktekkan materi yang diterangkan.
Tak...
Ning Lian menepuk kedua tangannya saat mendengar sesuatu dibenaknya, panggilan untuk rapat dari ketua sekte telah di umumkan lewat telepati.
"Pembelajaran hari ini saya akhiri dengan cepat, sebelum itu saya harap kalian tidak membuat onar selama kelas lain masih belajar." Ning Lian hendak berdiri gerakan nya terhenti saat lelaki bertubuh besar masuk kedalam kelas.
"Guru Ning, apakah saya boleh mengajar murid-murid anda? Ketua sekte meminta saya untuk menggabung kan beberapa kelas pemula untuk belajar selagi kalian mengadakan rapat."
Lelaki itu bernama Mo Cheng, guru kelas tahun kedua.
"Ah silahkan saya tidak keberatan terimakasih karena anda mau mengajar murid-murid saya."
"Tidak apa apa."
"Kalian bisa mengikuti nya saya harus pergi sekarang." Dalam sekejap Ning Lian menghilang.
Wajah ramah Mo Cheng mendadak luntur berubah menjadi dingin, dia menatap anak-anak murid Ning Lian dengan remeh.
"Ayo kita pergi, aku sarankan kalian menurut pada ku jika tidak ingin terlibas anak-anak tahun pertama lainnya." Ucapnya serasa berjalan keluar dari kelas.
Yuan Gang bangkit dari kursinya sebuah tangan kurus merangkul lehernya.
"Jika mereka membuat masalah pada kita, aku tidak segan-segan untuk menendang bokong mereka." Tegas Cun Myung kesal.
Dia teringat sesuatu murid tahun pertama dari kelas lain sering mengajak kelas mereka berkelahi, atau pun bertanding di setiap pertemuan seperti ini. Mereka pasti akan mencari alasan untuk membuat keributan.
Bahkan kakak kelas pun memandang mereka rendah, semenjak bakat mereka muncul tingkah mereka semakin menjadi.
"Aku tidak akan kalah lagi kali ini." Xiu Xin mengepalkan tangan erat.
Mendengar percakapan murid-murid itu Mo Cheng tersenyum samar. Sangat disayangkan mereka tidak akan berkelahi murid tahun pertama lainnya. Bukankah sejak awal dia tidak mengatakan bahwa mereka akan bertarung?
"Jangan terlalu bersemangat ini hanya latihan bersama dengan kelas pemula lainnya."
"Apa?! Ku kira hari ini akan bertanding dengan murid tingkat dua."Hong Li bergerak mensejajarkan langkahnya dengan Mo Cheng meski tidak sopan.
"Kau tidak dengar tadi? kita akan berlatih dengan murid tahun pertama kelas lain."
"Bisakah kalian jalan lebih pelan sedikit? Kami tidak bisa mengimbangi pergerakan kalian."Protes Zhu Val kesal.
Biarpun dia bisa memakai langkah cepat tapi tetap saja, Val harus bertingkah seperti anak kecil yang suka merengek manja.
"Aku akan menggendong mu,"Chang Yi berhenti berjalan dia langsung berjongkok di depan Val.
__ADS_1
"Siapa yang mau kau gendong? Val tidak mau digendong oleh manusia ren..."Val membekap mulut Zhu Rey.
"Karena kau tidak keberatan, Val tidak perlu sungkan lagi."Val memeluk erat leher Chang Yi .
Pemuda itu bangkit berdiri, entah kenapa Val terasa begitu ringan.
"Val turun!" Teriak Zhu Rey marah.
"Tidak mau." Val membuang muka dia tidak perlu persetujuan dari Zhu Rey.
"Apa kau mau ku gendong juga?" Tanya Xiu Xin.
"Tidak." Ketus Zhu Rey.
Xiu Xin tertawa dia langsung mengangkat tubuh Zhu Rey dan menggendongnya.
"Jangan malu, kau masih kecil itu wajar."
Zhu Rey terdiam dia tidak menjawab, membuat Val diam-diam melirik kearah Zhu Rey seperti nya Zhu Rey perlahan sudah belajar menyesuaikan diri.
"Chang Yi kita akan belajar apa?"
"Tentu saja pedang, meskipun kita memiliki element akan lebih bagus jika kita menguasai teknik pedang dan menggabungkan nya." Jawab Chang Yi.
Val mengerut kening."Berarti murid kelas alkemis juga harus mempelajari teknik pedang?"
"Baiklah Val mengerti."Angguk Val.
Dari kejauhan terlihat kerumunan murid dengan seragam berbeda warna, yang jelas mereka berbeda jurusan. Seperti nya hanya kelas Val yang telat datang ke lapangan.
"Pergi minta pedang kayu pada senior kalian." Perintah Mo Cheng.
Xiu Xin bergegas ke meja panitia disana ada dua murid tahun ketiga, mereka tengah membagikan beberapa pernah kayu untuk murid-murid pemula.
"Senior saya membutuhkan 7 pedang kayu."
" Tungga sebentar."
"Ini, berkerja keras lah agar bisa menjadi lebih kuat."
"Terimakasih senior, junior ini akan mengingat nya baik-baik." Xiu Xin memberikan salam lalu pergi bergegas mencari rombongan kelasnya.
Kemudian, membagikan nya beberapa dari mereka mengeluh kenapa tidak diberikan pedang asli? bukankah itu terlihat sangat mengagumkan.
"Pegang ini dengan baik."Xiu Xin memberikan satu pedang pada Val.
__ADS_1
Gadis itu menerima nya tanpa berbicara sedikitpun. Val membiarkan Xiu Xin menarik dirinya kearah barisan. Didepan Val ada murid laki-laki dari kelas lain tengah mengayunkan pedang nya secara serampangan.
"Kenapa harus ada latihan bersama? aku sangat kesal dengan ini."Ucap nya.
"Sungguh ini hanya membuang-buang waktu."
"Apa lagi hanya mengulangi gerakan yang sama."Balas yang lainnya.
Val mengerut kening bukankah semua yang mereka pelajari adalah teknik dasar? kenapa mereka banyak mengeluh.Alyosh selalu bilang pada Val bahwa teknik dasar sangat lah penting.
Ibaratnya Val harus membuat sebuah pondasi yang sangat kuat untuk membuat gedung pencakar langit yang tinggi. Jika pondasi nya saja tidak kuat dan rapuh akan percuma untuk membuat bangunan tinggi semua itu hanya berakhir hancur.
"Ekhem, semuanya tolong berhenti."
Semua orang langsung berhenti beraktivitas mereka menatap Mo Cheng yang berdiri diatas mimbar.
"Sebelum meneruskan latihan saya akan mengumumkan, dua Minggu lagi pertandingan antar kelas akan dimulai saya harap kalian mempersiapkan diri kalian dengan baik-baik mulai besok."
Gemuruh tepuk tangan memenuhi udara, sorakan penuh semangat bergema. Semua murid tampak antusias dengan pengumuman tadi.
"Jangan terlalu bersemangat kembali lah berlatih agar bisa memenangkan pertandingan."kata Mo Cheng mengingatkan.
"Kau dengar itu Val? tapi kau tenang saja kau tidak perlu ikut dalam pertandingan."bisik Xiu Xin.
"Itu tidak adil Val juga ingin mengikuti pertandingan itu."Val menoleh menatap Xiu Xin dengan serius.
Meskipun Val berusia lima tahun tapi dia lebih kuat dari Xiu Xin. Lagi pula selama ini dia belum pernah melawan anak seusianya.
Xiu Xin memilih untuk mengabaikan Val, gadis kecil itu terus protes bahkan saat berlatih pun sesekali bersuara. Waktu berlalu dengan cepat, latihan bersama telah selesai Val memutuskan untuk duduk di bawah pohon rindang. Hari sudah menjelang sore mereka berlatih seharian benar-benar menguras banyak tenaga.
"Ini sangat melelahkan tapi jauh lebih baik ketimbang naga tua itu mengajari ku berlatih."Ucap Val seraya mengibaskan tangannya dia merasa sangat gerah dan panas.
Puk...
Sesuatu yang dingin menyentuh kening Val, gadis itu menyentuh benda itu ternyata hanya sebuah tangan yang terlapisi hawa dingin.
"Apa itu terasa menyegarkan Val?" tanya Xiu Xin.
Ternyata pemilik tangan yang dingin itu Xiu Xin gadis itu mengendalikan elemen anginnya dan mengumpulkan nya sedikit untuk menyelimuti tangannya.
"Iya seperti kipas angin otomatis"Angguk Val senang.
"Kipas angin otomatis?"Xiu Xin tertawa lepas.
"Hey kalian berdua tidak mau kembali ke asrama?"Tanya Hong Li dia mendekati kedua gadis itu.
__ADS_1
"Val sedang menunggu murid dari kelas lain datang menjemputnya."Sahut Xiu Xin cepat.
Val mengangguk menyetujui nya, dia yakin sebentar lagi Shui Sharon akan datang menjemputnya.