The Mafia Millioner

The Mafia Millioner
Kesalahpahaman 2


__ADS_3

BERBIJAKLAH DALAM MEMBACA KARENA ADEGAN INI BUKAN UNTUK DITIRU NAMUN HANYA SEBAGAI HIBURAN. 😊


TERIMA KASIH. 🙏


JANGAN LUPA BERI LIKE👍 DAN FAVORITKAN KARYA SAYA


.........


Vita merasa bahagia dengan hari-harinya berjalan-jalan bersama Jinwoo dan menikmati momen bersama hingga akhir weekendnya selesai.


“Apa kamu senang hari ini?” tanya Jinwoo


“Humm”, jawab Vita dengan mengangguk. Jinwoo yang mendapatkan responsnya mengusap kepala dengan gemas.


“Apa kamu lelah?” tanya Jinwoo.


“Tidak, karena ada Oppa disampingku”, dengan tersenyum.


Ketika akan melangkah Jinwoo tiba-tiba berjongkok menawarkan Vita untuk menaiki punggungnya dan Vita menerima tawaran dengan senyum merekah begitupun dengan Jinwoo. Ia memutar-mutarkan tubuhnya sambil menggendong Vita dengan rasa bahagia yang tak ternilai untuk mereka.


Sekembalinya dari acara jalan-jalan Vita mendapatkan telephone dari Duran lalu ia mengangkatnya dengan malas. Ketika akan menyapa dari ujung seberang sana langsung berteriak membuat Vita harus menjauhkan ponselnya agar gendang telinganya tidak pecah.


“Vitaaaaaaaa!!!!!”, teriak Duran dengan amarah memuncak di depan anak buahnya yang berada diruangan Duran membuat mereka menjadi pelampiasan sang bosnya.


“Kamu hari ini bahagia ya? Saya hubungi puluhan kali kamu tidak angkat. Tugas kamu saya suruh cari Sutomo malah jalan-jalan dengan berbunga-bunga dan enakkan. Saya nungguin kamu dua hari tidak ada kabar. Kapan kamu mencarinya. Sekarang juga kesini saya beri waktu empat puluh lima menit jika masih ingin uang untuk kamu lunasi utangmu!”, oceh Duran yang sedang mondar-mandir karena semua pekerjanya tidak ada yang beres.


“Tu..tunggu...”, ucap Vita terpotong dengan suara hitungan Duran lalu dimatikan ponsel sepihak.


“Satu..dua”, ucap Duran.


“I.. iya, aku segera kesana”, ucap Vita sambil mengumpat, “brengsek!”


Sebelum ia pergi Vita menuliskan pesan untuk Jinwoo yang sedang membersihkan tubuhnya dari debu dan keringat karena keluar seharian dengan gadisnya yang ia rindukan.


Setelah selesai meninggalkan pesan Vita langsung melesat cepat menemui Duran di markasnya dengan mogenya. Sedangkan Jinwoo yang telah selesai ritual mandinya, tidak melihat sosok Vita di depan layar tv yang berada di ruang tengah. Ketika duduk di ranjang ingin menghubungi Vita, Jinwoo menemukan secarik kertas dengan pesan, “Oppa, maaf aku harus pergi lupa jika ada jadwal kerja sampingan😅. Setelah kerja aku tidak kembali ke apartemen aku langsung kembali ke rumah yang biasa aku tempati karena dekat dengan area kerjaku. Maaf oppa, good night😊”.


Vita telah tiba di markas Duran dan telat 10 menit karena jalanan macet. Ia masuk dengan perasaan takut dan tercampur dongkol akibat dari temannya yang gak becus meringkus Sutomo minggu lalu.


“Vit semangat”, ucap koreng dengan menyemangatinya namun tidak di gubris karena suasana hatinya sedang bad mood


Ketika memasuki ruangan langsung disuguhkan omelan Duran yang sedang duduk dengan kaki menopang ke meja sambil rokok di matikan dalam asbak, “bagus! Kamu sama kayak krucul-krucul yang selalu tidak pernah mengutamakan pekerjaan dan tidak menghargai saya. Apa sekarang yang kamu mau bela untuk diri ka.mu?!”.


“Saya sudah mendapatkan informasi yang di butuhkan pak tua”, ucap Vita penuh yakin.

__ADS_1


“Dia sebentar lagi kesini”, ucapnya kembali


“Baiklah, jika terbukti kamu membohongi saya, mereka akan saya sate apalagi Reino”, omelnya


Sudah tiga puluh menit kemudian Sutomo datang dengan rasa takut karena ia menghilang dan lari dari tanggung jawabnya membayar hutang. Duran saat ini ingin melampiaskan kemarahan dengan melangkah menuju kearah Sutomo dan menendang kakinya. Sutomo terjatuh dan merintih kesakitan.


“Mana uangnya yang kamu mau lunasi!”, ucap Duran dengan kemarahan.


“I..ini bos”, ucapnya ketakutan sambil menyerahkan amplop cokelatnya. Lalu Duran langsung menghitung uangnya dengan teliti.


“Bagus, gitu dong!”, sambil menepuk-nepuk uang di pipi Sutomo sebagai rasa senang.


“Jika begini saya tidak akan naik darah. Lihatlah wajah saya hampir keriput dan kepala ku tak bisa tumbuh rambut karena macam kecebong seperti kamu kepala saya jadi botak”, ucap Duran yang berjongkok sambil memperlihatkan wajah dan kepalanya di depan Sutomo yang masih tersungkur di lantai.


Duran mempersilahkan Sutomo keluar dengan terpincang-pincang karena tendangan keras Duran di betisnya. Vita langsung pamit pulang pada Duran dengan beriringan bersama Sutomo.


“Terima kasih”, ucap Sutomo dengan lirih kepada Vita yang telah memberikan bantuan sedikit uang untuk menutupi kekurangan dari utangnya meski harus menjual rumah kecilnya Sutomo. Dia harus kembali dari nol dengan tidur di warung yang ia sewa. Vita mengangguk dengan senyum dan meninggalkan Sutomo yang berjalan terpincang.


Setelah menyelesaikan tugas Vita kembali ke rumah dan merebahkan diri di ranjang yang ia nanti-nantikan dengan tubuh lelahnya hingga suara alarm menunjukkan pukul 09.00 pagi “kring..kring..kring”.


Vita terbangun sambil mematikan alarm dan ke luar dari kamarnya lalu turun dengan disuguhkan makanan yang dibuat oleh Ana.


“Uhmmm, harum sekali”, puji Vita dengan mencium bau masakan di meja makan sambil berjalan membuka kulkas dan mengambil susu pisangnya.


“Kalau begitu kita sarapan bersama. Oh ya, kamu kapan pulang? menginap dimana dengan oppa kamu kemarin?”, tanya Ana bertubi-tubi


“Iya nih, padahal kami sedang galau”, ucap Lisa sambil menggeser kursi dan mendapat pukulan di kepalanya oleh Ana, “pletak”, Lisa merintih sakit ,”auchh”.


“Coba oppa kamu kesini lagi buat menghibur kita”, ucap Lisa kembali sambil cengengesan.


Vita yang mendapatkan bertubi-tubi kalimat yang mengarah kepadanya langsung mengalihkan pembicaraan.


“kenapa kalian galau?”, tanya Vita sambil mengunyah makanan.


“Ana galau dibohongi aku galau di cuekin tanpa ada pesan singkat tiga hari. Sakit hati eneng ini”, ucap Lisa dengan wajah sedih dan menunjukkan dadanya yang sesak.


“Ouwhhh, tenang ada obatnya”, kata Vita


“Apa itu?”, tanya Lisa dengan penasaran


“Nanti pada saat pulang atau istirahat kalian makan bakso yang pedas dan es teh manis pasti lega”, ucap Vita dengan terkekeh


“Itu sih aku tau”, ucap Lisa

__ADS_1


“Ayolah, kalian itu jangan sedih seolah hari kiamat. Kalian tinggal cari cadangan buat menghibur diri”, ucap Vita santai.


“Itu, kamu”, ucap Lisa


“Kalau menurutmu An?”, tanya Vita yang sejak tadi hanya mendengarkan obrolannya saja.


“Menurutku.., Vita benar. Buat apa galau-galau ujungnya lapar cari makan”, ucap Ana sambil meneguk air.


“Ya kan, buktinya aku. Ini aku kasih liat gambar saat aku bersama dengan para mantan”, dengan memperlihatkan gambar dalam ponselnya


“Gila!”, heboh Lisa


“Tidak usah heboh. Kita hidup sekali jangan merasa dunia kita itu runtuh kesetiaan hanya janji tapi berteman yang setia itu sulit. So, buatlah hidup seperti pepatah, “orang gila itu bebas” tapi jangan merugikan orang lain”, ucap Vita dengan bangga.


Jam dinding menunjukkan pukul 09.30 mereka berangkat menghadiri rapat di kantor. Ana dan Lisa berangkat bersama menaiki taxi. Sedangkan Vita membersihkan tempat meja makan dan cucian kotor.


Ana telah tiba di ruangan sebelum Leon datang lalu membereskan semua dokumen yang akan dipresentasikan. Mereka telah berada di ruang rapat bersama Leon. Semua karyawan bertukar ide dan informasi untuk meningkatkan pemasaran dan saham. Setelah dua jam kemudian mereka ke luar dari ruangan dengan wajah kusut karena harus kerja lembur lagi untuk kembali merevisi hasil rapat yang ditolak mentah oleh Leon.


Sedangkan Ana membersihkan ruang rapat kemudian kembali ke ruang yang sama dengan Leon. Lalu Ana menghampiri Leon membacakan jadwal hari ini untuk bertemu klien.


“Permisi tuan, mohon maaf saya mengganggu. Saya mau menginfokan bahwa nanti sore pukul 04.00 bapak bertemu dengan direktur dari PT. Wijaya membahas retail resort dan nanti malam pukul 07.00 bapak bertemu dengan model cantik bernama Allona Willson”, ucap Ana dengan formal.


Leon yang mendengarkan ucapan dari bibir mungil Ana merasa tercabik karena ia tidak pernah mendapatkan perlakuan asing darinya. Setelah Leon mendengarkan saksama dia mengiyakan dan Ana kembali duduk.


Ketika Ana sedang menyusun jadwal, Leon sedang memperhatikan dengan raut wajah sedihnya. Dalam hati dia menyuarakan tanpa terdengar oleh gadisnya, “Kapan kita akan bersama dan bersenda gurau kembali? Aku ingin kita seperti dulu. Aku berharap kamu memaafkanku dan kesalahpahaman diantara kita terselesaikan”.


Lalu Leon kembali bekerja dengan tanggung jawab masing-masing dengan suasana hening. Sudah pukul 04.00 sore waktunya Leon bertemu klien yang diikuti oleh Ana selaku sekretaris. Mereka saling menyapa di sebuah restoran ternama di Jakarta dan mencapai kesepakatan dengan di lanjutkan ke gedung perhotelan bertemu Allona Willson meski kesepakatan sulit di capai akhirnya mencapai kesepakatan kontrak yang diinginkan. Akhirnya pekerjaan selesai tanpa halangan kecuali suasana canggung yang diciptakan oleh Leon dan Ana.


“Ana!”, panggil Leon untuk pertama kali setelah disibukkan oleh pekerjaan. Ana yang terpanggil diam dan hanya menatap angka lift untuk segerah turun .


“Ana, apa kita tidak bisa berbicara dan sambil makan bersama. Aku merindukanmu Ana”, ucap Leon dengan wajah sedih dan hati teriris pada saat melihat punggung mungil milik Ana.


“Aku ingin kita kembali bersama, bersendau gurau, dan menghabiskan waktu bersama dengan momen romantis. Apakah kamu mau menyelesaikan masalah ini untuk malam ini?”, ucap Leon kembali namun tetap tidak digubris. Pada saat akan melontarkan kalimat kembali dentingan lift terbuka. Ana keluar meninggalkan Leon dengan wajah sedih dan hati yang hancur. Ketika sampai pada pelataran parkiran, Leon berlari memeluk tubuh Ana lalu ia terkejut dan meronta untuk di lepaskan.


“Leon! Apaan sih? Lepasin Leon, aku tidak mau jadi pusat perhatian ini tempat umum”, ucap Ana dengan mengetatkan gigi.


“Aku akan lepaskan jika kamu mau mengobrol dengan ku malam ini”, ucap Leon sambil mencium pundak Ana yang ia rindukan.


“Kita sudah putus, tidak perlu ada yang diluruskan Leon. Kita jalani saja masing-masing”, ucap Ana dengan masih meronta.


“Aku merindukanmu”, ucap Leon dengan keras kepala dan tidak mendengarkan ucapan Ana.


“Lepasin!”, kesal Ana.

__ADS_1


Leon akhirnya melepaskan pelukannya dan Ana langsung melesat pergi tanpa menoleh. Leon yang memperhatikan punggung Ana semakin jauh dia merasa hatinya tercabik dan mengusap wajahnya dengan kasar, “Oh sh*tt”, umpat Leon.


__ADS_2