The Mafia Millioner

The Mafia Millioner
Menemukan yang Telah Lama Hilang 1


__ADS_3

Belum lama ini Jinwoo meminta Vita untuk meninggalkannya dari kehidupan. Ekspresi Jinwoo berubah menjadi dingin, datar, dan jarang berbicara. Sekarang ia sedang melakukan pertemuan dengan keluarga Lee Tae Wa, yang sudah diatur oleh kedua orang tuanya. Pertemuan yang dilakukan kedua keluarga untuk menggabungkan kekuatan politiknya dengan menikahkan putri dan putranya.


Saat memasuki rumah direktur Lee, Park Shin menyapa lalu memuji putri mereka dengan penuh senyuman.


“Hallo nyonya Han Sok-Bi”, sapa Park Shin dengan sopan.


“Hallo”, sapa kembali dari ibu Han.


“Ayo, mari duduk”, tawar ibu Han dengan mempersilahkan duduk.


“Makasih”, ucap Park Shin.


“Wah, putri sangat cantik seperti ibunya”, puji Park Shin dengan psnuh basa basi.


“Bisa saja kamu, Park Shin”, ucap Ibu Han dengan menyangkal dan malu. Lalu ia memanggil pembantu rumah untuk mengambilkan jamuannya yang telah ia siapkan.


“Bi Wang!”, panggilnya. Kemudian bi Wang datang menghampiri nyonyanya. “Ya, nyonya Han”, ucap bi Eang dengan sopan. “Tolong ambilkan jamuan yang sudah saya siapkan dan diatur”, ucapnya. “Baik, nyonya Han”, ucap bi Wang dan melaksanakan tugas.


Ditengah obrolan dari dua orang tua, Sunny sekali-kali melirik Jinwoo yang tengah diam layaknya patung dengan tatapan tidak dapat diartikan. Park Shin yang menyadari langsung membantu Sunny untuk berkenalan dengan Jinwoo.


“Oh iya, ahjumma lupa memperkenalkan kalian..”, jeda Park Shin dengan kekehan dan diikuti lainnya kecuali direktur Lee. Dia hanya tersenyum tipis.


“Kenalkan dia anak ahjumma bernama Jinwoo dia tampankan”, ucap Park Shin dengan memuji anaknya dan mengusap lengan Jinwoo.


“Jinwoo kenalkan, dia Sunny putri Ibu Han dan direktur Lee”, ucap Park Shin. Lalu Sunny tersenyum dengan anggun dan pemalu, sedangkan Jinwoo hanya membalas senyum kecut. Park Shin yang menyadari ekspresi Jinwoo, ia menyenggol lengannya dan dibaluti kekehan dari bibirnya agar bu Han tidak menyadari jika anaknya tidak sopan.


“Oh ya, lebih baik...bagaimana jika Sunny dan Jinwoo mengobrol berdua agar kalian dapat mengenali kepribadian satu sama lain sebelum pertunangan maupun pernikahan. Ya gak, ibu Han”, ucap Park Shin meminta persetujuan dari nyonya Han.


“Iya,Park Shin. Kamu benar sekali..”, ucapnya.


“Sunny, ajak Jinwoo mengobrol diatas loteng. Itu tempat sangat bagus untuk mengobrol berdua sambil melihat pemandangan luar”, bujuk Ibu Han.


“Itu, ide bagus eomma”, ucap Sunny dengan tersenyum.


“Jinwoo, ikutlah dengan Sunny”, bujuk Park Shin dengan mengusap lengan milik Jinwoo.


Jinwoo beranjak mengikuti Sunny keatas loteng, saran dari orang tua itu. Sampainya di loteng, Sunny membuka suara.


“Uhmm..aku harus panggil apa? Agar aku dengannya akrab”, batin Sunny dengan melirik Jinwoo yang menatap lurus.


“Oppa!”, panggil Sunny yang tidak di jawab oleh Jinwoo.


“Apa kau tidak suka aku panggilmu oppa?”, tanya Sunny yang diabaikan.


“Baiklah, tanda diam itu berarti kamu tidak menyetujui jika aku panggilmu oppa”, ucap Sunny dengan melirik Jinwoo yang masih terdiam.


“Jinwoo!”, panggil Sunny kembali tanpa embel oppa.


“Apa kau suka dipanggil nama saja? Karena kita seumuran”, ucap Sunny menunggu jawaban Jinwoo namun nihil tidak berkutik sama sekali. Sunny kembali berusaha agar dia tidak mendiamkan dirinya.


“Kenapa kau diam terus?”, lirih Sunny dengan menundukkan kepala.


“Jinwoo!”, teriak Sunny dengan marah.


“Apa kau punya bibir hanya untuk hiasan saja?”, tanya Sunny dengan jengkel.


Kemudian Sunny menyinggung nama gadis yang selalu bersama dengan Jinwoo yang didapat dari anak buah ayahnya secara diam-diam.


“Apa kau masih menyukai gadis itu?”, amarah Sunny memuncak karena diabaikan sambil membalikkan tubuh Jinwoo dengan menarik lengannya untuk menatap dirinya. Tetapi Jinwoo tidak menjawab dan kembali menatap ke depan dengan mata menyoroti komplek penuh lampu terang.


“Baiklah, jika kau tidak menjawab.., aku dengar gadis itu tidak ada asal usul orang tuanya. Apalagi dia tidak selevel dengan kita. Dia itu gadis bar-bar seperti orang jalanan dan tidak ada didikan dari orang tua, bukan.. “,ucap Sunny dengan melihat reaksi Jinwoo.


“Dia juga tidak tahu malu mendorong ibumu sampai terjungkal dan terhantan batuan besar di sekitar rumah nenekmu..”, melihat kembali reaksi Jinwoo dengan pandangan lurus seperti Jinwoo.


“Menurutku, ahjumma sudah tepat mengusirnya, karena ia tidak pantas singgah di hatimu dan di keluarga kamu. Dia akan jadi benalu. Kenapa ya, orang seperti mereka selalu ingin dekat dengan level kita..”, tawa sinis dari Sunny yang terus mengoceh.

__ADS_1


“Kakakmu juga termasuk orang bodoh, mau saja dengan orang miskin sampai dia mengorbankan seluruh harta dan orang tua hanya untuk wanita miskin...”, ocehan Sunny membuat Jinwoo marah dengan otak mendidih. Lalu ia mencekal kedua pipi Sunny untuk dihadapkan tatapan menyalang miliknya.


“Kamu, memiliki mulut lebih kotor daripada barang bek*s..,Sekali lagi kamu terus mencela mereka akan aku tutup mulut kamu dengan paksa. Ingat baik-baik perkataan ku. Oh, ya lupa, kamu bangga saat ini dengan harta milik orang tua kamu. Namun harta tidak akan bertahan. Esok hari bisa, “Booom”, meledak dan kamu akan memiliki kehidupan yang sama dengan mereka”, ucap Jinwoo dengan geram dan bersuata rendah katena emosi. Lalu ia menghempaskan wajah Sunny dengan kasar.


Kemudian Sunny pergi dengan air mata menetes, sedangkan Jinwoo bernafas kasar, “ahhh”, lalu ia mengambil rokok di balik jas dan mengisap dengan mengepulkan asap rokok. Setelah kepergian Sunny Jinwoo menatap langit malam dengan dohiasi beberapa bintang saja. Terus Jinwoo menyuarakan kata hati untuk Vita.


“Vita saat ini aku berdiri di bawah langit malam dengan hiasan bintang beberapa saja. Namun, aku berharap kamu dapat mendengarkan suara hatiku jika aku merindukanmu”, kata hati Jinwoo.


Kini orang yang dirindukan Jinwoo sedang berada di pelabuhan dan berdiri diatas truk boks. Ia juga sedang memandang langit malam dengan dihiasi bintang berkelap kelip. Gadis itu juga menyuarakan isi hati dengan penuh harapan untuk Jinwoo.


“Oppa semoga kau selalu bahagia selamanya dan kamu tetap menjadi pria yang hangat juga tersenyum”, kata hati Vita penuh harap dan doa untuk Jinwoo.


Pada saat Vita sedang menikmati pemandangan di pelabuhan dan terpaan angin tiba-tiba ada suara panggilan dari bawah sana.


“Vita! , Vita!, Vita!”, panggil Reino tiga kali tidak terdengar.


“Vita!!, Vita!!!”, teriak Kampret dua kali panggilan tetap tidak terdengar.


Kini Reino sedang berpikir agar Vita mendengar panggilan darinya. Saat sedang berpikir, Reino melihat laki-laki bertubuh kekar membawa toa. Lalu Reino meminta ijin untuk meminjam toa miliknya.


“Maaf pak, boleh kami pinjam toanya”, ucap Reino dengan sopan.


“Boleh”, ucap singkat dari pria tubuh kekar itu. Kemudian ia memberikan toanya kepada Reino.


“Vita!!!!”, teriak panjang dari Reino dengan toa. Membuat orang disekitarnya mendelik karena menggema. Reino tersenyum kikuk.


“Gila, suaranya kenceng banget Rein”, bisik Kampret.


Vita mendengar suara kencang dari bibir Reino lalu dia turun dari truk boksnya dan berlari menghampiri Reino.


“Ada apa?”, tanya Vita tanpa dosa.


“Gila kamu, Vit dari tadi dipanggil tidak dengar. Harus pakai toa segala”, ucap Kampret. Vita yang mendengar ucapan Kampret hanya dibalas kekehan.


“Sorry”, ucap Vita sambil menepuk pundak Kampret.


“ehem..tolong toanya”, ucap pria itu. Terus Reino memberikan toanya ke pemilik dengan memberi senyum. Lalu ia berlalu setelah toanya dikembalikan Reino.


“Makasih, bang!”, teriak Reino.


“Vit, misi kita sudah selesai terus kita disuruh balik malam ini”, ucap Reino.


“Baiklah, ayo!”, ajak Vita dengan berjalan duluan.


Reino, Kampret, dan Vita sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta yang disopiri oleh Reino sendiri. Vita duduk dibelakang jok sedangkan Kampret di depan dengan Reino sambil diselingi obrolan. Obrolan dibuka oleh Reino tentang balapan motor berhadiah besar dan perlombaan game.


“Vit, besok ada balapan motor dengan hadiah yang mengesankan 45.000.000”, ucap Reino.


“Gila, 45.000.000, itu besar banget”, ucap Kampret ikut menimbrung.


“Wah, ini ke sempatanmu Vit, untuk ikut ajang balapan liar yang sudah disponsori oleh Raymond group”, ucap Reino


“Lihat nanti saja”, ucap Vita. Lalu dia menurunkan jok kursi, topi, dan menutup kepala dengan kudung hoodie jaket yang ia pakai.


“Vit, tumben kamu gak mood...”, ucap Reino di depan dengan fokus menyetir dan sekali melirik Vita lewat kaca spion.


“Padahal obrolan kali ini tentang duit. Tapi suasana hati kamu tidak mood”, ucap Reino yan masih fokus mengemudi.


“Pret! Pret!”,panggil Reino dua kali tidak dijawab. Lalu Reno menoleh ke samping ternyata ia tidur juga.


“Yahh, tidur pula..”, ucap Reino kecewa dan meneruskan mengemudi dengan suasan hening.


Di kala Vita sedang perjalanan pulang, Jinwoo sedang bertengkar dengan eommanya dan ditampar oleh ayahnya.


“Jinwoo!”, panggil Park Shin penuh amarah. Tetapi Jinwoo tidak mendengarnya seolah menulikan telinganya dan terus berjalan.

__ADS_1


“Jinwoo Kang!”, teriaknya dengan jengkel sambil menarik lengannya dengan belari menyusul langkah Jinwoo. Kemudian dia membalikkan tubuhnya.


“Why?!”, bentak Jinwoo langsung mendapatkan tamparan keras dari ayahnya dan bibir pojokan sedikit berdarah karena kena gigitan sendiri.


“Kamu mempermalukan appa. Menurutlah selagi aku tidak berbuat kejam denganmu”, ancam ayahnya denagan geram dan langsung melesat berlalu pergi meninggalkan Jinwoo dan Park Shin yang sedang mematung. Park Shin lalu mengusapkan pipi kiri Jinwoo yang ditampar oleh ayahnya. Namun Jinwoo menolak kasihan dari ibunya dengan menghempaskan tangannya dan lalu berlalu pergi ke kamar. Park Shin menatap nanar punggung Jinwoo dari belakang yang semakin menjauh.


Keesokan paginya, Ana disuguhkan badan atletis milik Leon yang habis mandi ketika ia sedang meregangkan otot tangannya. Ketika Ana sedang memandang tubuh atletisnya, Leon berjalan menghampiri Ana di pinggir ranjang dan memberikan morning kiss. Ana terkejut dan memukul dada Leon.


“Apaan sih...”, ucap Ana memukul dada Leon.


“Morning kiss, sweety”, ucap Leon dengan mengusap bibir Ana yang benglak karena ciumannya mendalam.


“Sweety, mandilah. Sebentar lagi akan aku antar kamu pulang setelah sarapan”, ucap Leon


Selesai berpakaian, Leon pergi ke dapur membuat sarapan pagi. Sembari menunggu Ana usai mandi. Ia memasak nasi goreng dan ayam crispy mini sebagai lauknya. Dua puluh menit sarapan telah jadi dan Leon pergi ke dapur kembali mengambil segelas susu dan secangkir kopi susu yang telah dia seduh.


Beberapa lama kemudian Ana keluar dari kamar dan menggeser kursi serta ikut duduk menikmati masakan yang dibuat kekasihnya.


“Uhmm.. aromanya lezat. Pasti rasanya juga enak banget”, puji Ana dengan senyuman hangat. Leon yang mendengarkan puas lontaran pujian dari Ana. Kemudian Leon memberikan hadiah dengan beranjak dari tempat duduk lalu mebalikkan tubuh Ana menghadap padanya dan menarik tengkuk setelah itu ia mencium bibir kekasihnya mendalam hingga oksigen hampir habis pangutan dibibir ia lepaskan.


“Itu hadiah untukmu”, ucap Leon sambil kembali duduk.


“You Crazy”, umpat Ana. Leon hanya tertawa geli melihat ekspresi kesal Ana.


Usai sarapan telah selesai dan mereka membereskan terus melanjutkan mencuci alat-alat makan juga peralatan dapur yang kotor. Selrpas seluruhnya sudah beres, mereka bergegas menuju rumah yang telah lama Ana singgahi dengan kurun waktu cukup lama karena jalanan macet, mereka telah sampai di pelataran.


Saat Ana memasuki rumah yang diikuti oleh Leon dari belakang. Ana disuguhkan tawaan keras dari mulut Vita. Lalu Ana memanggilnya dengan teriak.


“Vita!”, teriak Ana memanggilnya dan memeluk Vita.


“Kapan kamu kembali?”, tanya Ana.


“Baru”,jawab singkat Vita dengan tertawa melihat adegan Indro yang tercebur.


Ana baru menyadari di sekitaran tempat duduk Vita dipenuhi kulit kuaci dan keripik berjatuhan juga tidak hanya itu, barang lainnya pun berserakkan di lantai.


“Oh my god”, ucap Ana terheran dengan menutup mulutnya, “ Kotor banget sih Vit”, ucap Ana namun tidak dijawab hanya tertawa adegan di tv.


Leon yang duduk di sofa sebelah hanya menatap datar. Lalu ikut menimbrung obrolan.


“Gril, kamu tidak pantas menjadi perempuan”, ucap Leon untuk Vita yang masih menikmati adegan comedy warkop.


“Vit, aku nanti minta ijin bahwa rumah ini mau aku pinjam buat pesta barveque kembali. Apa boleh?”, tanya Ana yang penuh harap karena sudah terlanjuf membuat janji dengan yang lain.


Vita mendengarkan Ana meminta ijinnya, ia mrngangguk kepala dengan mengunyah keripik yang di genggamannya.


“Boleh, tapi ijin dahulu dengan pak Rt. Aku tidak mau mentolerir kembali. Jadi pesta yang kalian buat harus mempertanggung jawabkan”, peringatan Vita.


“Baiklah aku akan tanggung jawab. Kamu juga harus ikut Vit, karena aku sebentar lagi akan berpindah status menjadi istri Leon. Ayolah ikut”, ucap Ana dengan membujuk dan menggerakkan lengan Vita.


“Ini kesempatan buatku mempertemukannya dengan aunty Alena”, batin Ana.


“Aku tidak bisa”, jawab singkat Vita dengan meminum susu pisang hingga tandas dan tiba-tiba ada suara teriakan dari mulut Lisa yang diikuti banyak orang dengan membawa berbagai belanjaan yang banyak.


“Ana! I’m coming home!”, teriak Lisa dengan sedikit berlari. Ketika masuk disuguhkan Vita yang sedang mematikan tv.


“Vita!”, panggil Lisa dengan terkejut. Sedangkan Vita hanya membola.


“Kapan kamu balik?”, tanya Lisa


“Tadi”, ucap Vita dengan malas lalu beranjak pegi berjalan menaiki tangga meninggalkan banyak sampah. Setelah Vita pergi Lucas dan Devan datang bersama aunty Alena.


“Vita! Apa kau tidak membereskan sampah-sampah yang kau buat!”, teriak Lisa yang di dengar oleh Alena dan langsung bertanya,” Mana Vitanya, nak?”, dengan mencari Vita yang sudah lama ia ingin bertemu.


“Ke atas aunty”, ucap Lisa

__ADS_1


Di tengah mereka yang sedang berkerumunan. Ujang pembantu pembersihan rumah, masuk dengan permisi,” maaf tuan saya mau membersihkan yang Vita minta”, dengan sopan. Ana langsung mempersilahkan Ujang membersihkan sampah-sampah yang dibuat Vita.


Ana kemudian mengajak mereka untuk langsung bersiap untuk pesta malamnya. Sedangkan Alena duduk di meja makan sembari menunggu Vita turun. Ia tidak ingin melewatkan momen bertemu dengannya terlewatkan. Lucas dan Devan membantu lainnya menyiapkan pesta. Setelah itu Lisa dan Ana pergi ke rumah pak RT untuk meminta ijin.


__ADS_2