
Di bawah terik matahari Alena berjalan dengan beriringan bersama Vita ke pusat perbelanjaan. Alena mengajak Vita ke pusat toko pakaian wanita. Alena asyik mencari baju untuk dirinya dan Vita sampai gaun malam namun di tolak oleh Vita tetapi Alena terus memaksanya untuk mengambil dan mempergunakan ATM black milik Lucas.
Lalu Vita terpaksa menerima semua pilihan Alena untuknya. Kemudian berlanjut ke toko tas sampai sepatu yang datangi membuat Vita merasa bosan yang dilakukan oleh Alena.
Beberapa lama kemudian Alena akhirnya mengajak dia makan ke restoran area mall tersebut.
"Sayang, kita makan mau makan apa?", tanya Alena memegang buku menu.
Vita membaca dan melihat-lihat isi menu yang di tawarkan oleh restoran tersebut.
"Saya mau orange jus dua gelas, sosis bakar, nasi goreng, dan chicken nugget", pesan Vita.
"Saya lemon tea dan salad saja", pesan Alena.
Setelah semua pesanan dicatat oleh pramusaji wanita. Dia mengundurkan diri dengan sopan.
"Silahkan di tunggu pesanannya", ucap si pramusaji dengan pergi berlalu membawa buku menu.
Sembari menunggu pesanan datang mereka berbincang seputar obrolan biasa.
"Nak, harusnya kamu habiskan saja uang yang ada di ATM itu. Lucas tidak akan marah. Pasti dia akan menyukai jika kau pergunakan", ucap Alena.
"Ya aunty, suatu saat akan aku habiskan uang di ATM ini", senyum Vita dengan berkata dalam hati.
Dasar orang kaya, suka banget buang duit.
Pada saat mereka sedang berbincang, tak lama kemudia pramusaji datang membawakan menu yang di pesan dan menata di meja mereka. Lalu pergi mengundurkan diri dengan sopan.
"Selamat menikmati nona, nyonya".
"Thank you", ucap Alena.
Vita mengambil jus orange untuk menyegarkan dahaga sampai tandas setengah gelas. Alena yang melihat Vita begitu suka makan tersenyum senang sebab dia berbeda dengan wanita lain yang jaim makan.
Sementara di rumah keluarga Eric, Rosiana sedang bercermin dengan wajah kurang bahagia ketika Adrian datang menjemput untuk mengajaknya jalan mengenalkan seluruh tempat terkenal di Berlin atas paksaan dari ayahnya.
Eric saat ini sedang mengobrol dengan Adrian soal pekerjaan.
"Bagaimana pekerjaan kamu? Apakah ada kendala saat di konstruksi?", tanya Eric.
"Tidak ada uncle", senyum Adrian.
"Semoga cepat selesai pembangunan Villa kamu di Swiss", ucap Eric.
"Iya, uncle semoga saja cepat terselesaikan", senyum Adrian dengan meminum teh hangat buatan Grace ibu dari Rosiana.
"Kenapa Rosi begitu lama di kamar?", tanya Eric.
"Sayang coba kamu lihat, Rosiana sedang apa?", suruh Adrian.
"Baiklah, aku akan memanggil putriku dahulu", ucap Grace setelah menaruh camilan di ruang tengah.
Grace menemui Rosiana di dalam kamar. Dia mengetuk pintu keras sambil memanggil nama anaknya.
__ADS_1
"Tok! tok! tok!, Rosi sayang!!"
"Tok! tok! tok!, Ros!!"
Rosiana yang berada di dalam kamar beranjak dari tempat duduk di depan meja rias membukakan pintu dan menampakkan wajag momynya.
"Momy!", panggil Rosiana.
"Sayang, kenapa kamu begitu lama. Adrian sudah menunggu kamu lama sayang", ucap Grace dengan mengusap lengan putrinya.
"Baiklah mom, kita turun sekarang", ajak Rosiana.
Rosiana menuruni tangga satu persatu dan melihat ayahnya sedang mengobrol dengan Adrian. Rosiana merasa bersalah kepada Adrian bahwa dirinya sudah tidak perawan sejak satu tahun lalu. Rosiana memanggil nama tunangannya.
"Adrian!", panggil Rosiana saat Adrian sedang asyik mengobrol.
"Hai Rosiana", sapa Adrian yang duduk di samping Eric di sofa single.
"Apakah kamu siap untuk jalan-jalan mengelilingi kota Berlin?", tanya Adrian.
"Tentu", ucap Rosiana.
"Wahh, sepertinya daddy harus segera melepaskan kamu nak. Agar kami dapat segera menggendong cucu", kekeh Eric.
"Eric, kamu jangan goda putri kamu", ucap Grace.
"Baiklah, baiklah", ucao Eric dengan mengangkat tangan setinggi dada.
"Mom, dad, Rosi pergi dulu", pamit Rosiana.
"Hati-hati nak", ucap Grace.
"Adrian, uncle titip Rosi", ucap Eric.
"Tentu uncle, aku akan jaga dia", ucap Adrian dengan menggandeng Rosiana dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
Rosiana memasang sealtbeat di samping pengemudi. Adrian melajukan mobilnya saat mereka telah siap melakukan perjalanan dengan aman.
Sedangkan Dominic yang berada di kantor melihat foto Rosiana bersama tunangannya yang dikirim oleh Aska merasa geram dan rahangnya kaku membuat pekerjaan menjadi buyar. Akhirnya Dominic pergi meninggalkan pekerjaannya untuk menyusul Rosiana.
Dominic langsung melajukan mobilnya menuju lokasi dimana Rosiana sedang berkunjung.
Saat ini Rosiana sedang menganggumi interior dan lukisan di gedung pameran. Rosiana tidak pernah mengalihkan pandangan sedikit pun saat sedang asyik mengagumi interior pusat pameran lukisan.
Adrian yang di samping begitu senang saat Rosiana memandang begitu kagum. Hati Adrian sangat bahagia melihat Rosiana tersenyum begitu cantik.
Ketika Adrian menikmati kekaguman wajah Rosiana tiba-tiba ada seseorang yang memanggil. Orang itu adalah pemilik pameran di gedung saat ini ia injak.
"Hallo Mr. Adrian!", sapa Mrs. Ariana.
"Hai Mrs. Ariana", sapa balik Adrian.
"Kamu datang sama siapa?", tanya Ariana.
__ADS_1
"Aku datang dengan Rosiana", ucap Adrian dengan menoleh ke arah Rosiana yang ada di belakang namun tidak ada orangnya membuat Ariana sedikit bingung dan bertanya.
"Mana Rosiana yang kau sebut", ucap Ariana.
"Mungkin dia duluan pergi tanpa memperhatikan orang-orang disampingnya", ucap Adrian dengan menggaruk tengkuk tidak gatal.
Rosiana yang terus berjalan tanpa memperhatikan orang disampingnya tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya dengan ekspresi terkejut dan hampir berteriak jika mulutnya tidak di bungkam oleh tangan kokoh tersebut.
Dominic dari belakang membisikan di dekat telinga Rosiana.
"Sweetheart, aku merindukan kamu", dengan mengginggit telinganya membuat tubuh Rosiana menegang.
Mulut Rosiana masih dibungkam tanpa bisa mengungkapkan kekesalan kepada Dominic.
"Aku akan melepaskan tanganku dari mulut kamu jika kau berjanji tidak akan berteriak", bisik Dominic. Lalu Rosiana mengangguk kepala.
Kemudian Dominic melepaskan bungkaman di mulut Rosiana dengan membalikkan tubuh Rosiana.
Rosiana melototi Dominic dengan mengumpat kasar, "dasar br*ngs*k", dengan menendang dibetis kakinya dan Dominic menahan rasa sakit lalu langsung menarik tengkuk leher Rosiana untuk berciuman dengan dalam.
Beberapa menit kemudian Dominic melepaskan dan menatap penuh kelembutan sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya.
Rosiana menatap Dominic dengan kesal dan marah.
"Dasar b*jing*n, aku sudah bertunangan dan jangan sampai kau mengganggu kehidupan aku", ungkapnya.
"Tapi kamu milikku", ucap Dominic dengan santai.
"Aku bukan barang", ucap Rosiana yang langsung pergi meninggalkan Dominic yang tersenyum menyeringai.
"Aku tidak akan melepaskan kamu sweetheart", gumam Dominic dengan mengusap bibirnya yang merah.
Rosiana mencari Adrian yang telah dia lupakan saat mengagumi berbagai lukisan yang di panjang. Saat menoleh ke sana kemari, Rosiana melihat Adrian yang tengah duduk di pojokan sana bersama wanita cantik membuat hati Rosiana seperti tercambuk.
Dominic yang sejak tadi mengikuti Rosiana dari belakang mengatakan, "sepertinya tunangan kamu tidak sebaik yang kamu pikirkan".
"Diamlah!", ketus Rosiana dengan berlalu menghampiri Adrian yang tengah berbincang dengan wanita cantik itu.
"Adrian!", panggil Rosiana.
Adrian menoleh ke sumber suara dan menyebut nama Rosiana dengan beranjak dari tempat duduk.
Lalu Adrian memperkenalkan Rosiana kepada Ariana di depannya.
"Rosi perkenalkan dia adalah Ariana dan Ariana perkenalkan tunanganku yang telah kuceritakan yaitu Rosiana", ungkap Adrian dengan senang.
Ariana menyodorkan tangannya dengan memperkenalkan diri dan dibalas baik oleh Rosiana.
"Ariana", ucapnya dengan tersenyum.
"Rosiana", ucap Rosi.
Dominic yang berada di ujung sana tersenyum kecut ketika melihat Rosiana dipeluk pundaknya oleh Adrian lalu Dominic meninggalkan tempat pameran tersebut.
__ADS_1