
Setelah meninggalkan gedung pameran Dominic saat ini kembali ke ruang kerja untuk melupakan rasa cemburu yang membara dalam hatinya.
Dominic menyibukkan diri dengan bekerja seharian. Ketika dia sedang menyibukkan diri tiba-tiba ibunya datang ke kantor menagih soal ingin segera menimang cucu.
"Dominic!", panggil Sea yang telah menjatuhkan bokongnya di sofa dengan tangan melipat di dada tanpa mengetuk pintu. Tetapi Dominic tidak mengalihkan dokumen saat Sea masuk dan memanggil namanya.
"Kapan kamu mau menikah?", tanya Sea.
"Segeralah menikah Dom, teman-teman momy semuanya sudah mempunyai cucu. Sementara semua anak momy tidak ada yang mendengarkan perkataan momy nya", kesal Sea yang tengah duduk di sofa.
Sea yang merasa omelannya itu angin lalu, Sea beranjak dari tempat duduknya dengan mendekat meja kerja Dominic sambil menyodorkan foto-foto para gadis yang dia pilih untuk anaknya diatas dokumen tang dia baca saat ini.
Dominic sebenarnya merasa kesal karena selalu di dorong untuk segera menikah. Dominic menghentikan pekerjaannya dengan menyandarkan punggungnya sambil mengusap wajahnya yang terasa gatal.
Sementara Damien yang datang dan akan masuk ke kantor Dominic, dia urungkan ketika melihat ibunya berada di ruang kerja Dominic. Damien menutup pintu dengan pelan lalu pergi ke ruang pantry untuk menghubungi Efrat ayahnya.
Untungnya Efrat tidak sedang banyak kerjaan sehingga ia bisa mengangkat ponselnya.
"Hallo Damien, ada apa?", tanya Efrat.
"Daddy gawat, saat ini momy berada di ruang kerja Dominic. Dia pasti membujuk Dominic untuk menikah dan memiliki cucu", ucap Damien.
"Terus gawatnya dimana Damien?", tanya Efrat.
"Gawatnya akan terjadi perang dunia ke tiga jika Dominic tidak mengabulkan permintaan momy. Itu akan berimbas dengan daddy", ucap Damien.
"Coba daddt ingat kembali ketika aku menolak untuk cepat menikah apa yang terjadi dengan daddy?", ucap Damien kembali.
Efrat mengingat dan terkejut dengan menepuk keningnya lalu mengatakan, "yang terjadi adalah daddy diusir dari kamar dan tidak dapat jatah".
"Segeralah berangkat dad, sebelum momy pulang merajut. Kan sayang jika daddy malam hari harus ke kamar tamu sendiri tanpa ada jatah satu bulan", ucap Damien.
"Benar kamu dude", ucap Efrat yang sedang berjalan menuju lift dengan membawa kunci mobil.
"Thank you sudah mengingatka daddy, dude", ucap Efrat mematikan ponselnya. Lalu berlari ke tempat parkir mengambil mobilnya. Kemudian melesat pergi dengan kecepatan penuh sambil merapalkan do'a agar Sea tidak merajut.
__ADS_1
Damien yang berada di ruang pantry tertawa saat mendengarkan daddy panik dan karyawan yang akan masuk menjadi ragu dan mengurungkan niatnya masuk ke pantry membuat kopi.
Sedangkan Dominic di dalam ruang kerja merasa pusing dengan omelan Sea.
"Nak ingat umurmu sudah tidak muda lagi. Sekarang umur kamu tiga puluh dua tahun. Kamu harus segera menikah. Apakah kamu ingin jadi perjaka tua suka mainin wanita yang sukanya tidur sana sini? Momy ingin miliki cucu di sisa umur momy. Kamu tidak ingin membuat momy kamu mati sebagai hantu penasaran karena anak-anak momy tidak ingin menikah. Segeralah di pilih wanita yang ada di foto itu. Jika kurang cocok menurutmu, momy akan carikan lagi sampai kamu bilang mau".
"Baiklah mom, beri aku waktu untuk memberikan momy menantu namun seleraku sendiri", ucap Dominic.
"Sampai kapan momy memberimu waktu? Harus pasti nak, momy tidak mau kamu mengulur waktu buat menikah", ucap Sea dengan kesal.
"Berikan waktu tiga bulan", ucap Dominic.
"Baiklah, akan aku berimu tiga bulan. Jika dalam waktu tiga bulan kamu tak kunjung beriku menantu, kamu harus menerima wanita pilihan momy. TITIK", ucap Sea dengan memberikan tandas dikalimat terakhir.
"Ok",ucap Dominic yang sudah tidak ingin mendapatkan omelan dari momynya.
"Kalau begitu momy akan pergi. Momy ada keperluan penting bersama para sosialita perempuan. Kamu jangan ingkar janji ingat", ucap Sea dengan ancaman.
Saat Sea akan keluar dari ruang kerja Dominic. Efrat datang dengan nafas tersengal-sengal yang membuat Alena kaget.
"Aku datang... uhmm...", jeda Efrat untuk berpikir keras.
Masa aku bilang kesini mau bilang mendapatkan informasi dari Damien bahwa Sea datang.
Efrat yang kebingungan akhirnya dibantu oleh Damien yang datang dari belakang.
"Daddy ke sini mau membicarakan soal bisnis yang mendadak mom dengan Dominic", ucap Damien.
"Ya sudahlah, sana masuk. Aku sudah selesai berbicara dengannya. Aku harus cepat menemui teman-teman sosialitaku. Sudah hampir terlambat. Minggirlah Efrat", ucap Sea yang untungnya tidak mencurigainya dirinya yang datang karena mau melerai tentang perjodohan.
Efrat memandang punggung istrinya sampai menghilang dari pandangan lalu masuk ke ruang kerja Dominic bersama Damien.
Kemudian Damien membuka suara dengan mengejek.
"Dom, bagaimana dengan omelan momy tadi?", tanya Damien.
__ADS_1
"Apakah kamu senang?", tanya Dominic yang beranjak dari tempat duduk kerja ke sofa.
"Tentulah Dom", kekeh Damien.
"Sudahlah jangan saling mengejek. Kalian sama saja tidak menuruti permintaan orang tua", ucap Efrat.
"Begitu juga dengan daddy, pastinya", ejek Damien.
"Dude, kau jangan sama kan aku denganmu", ucap Efrat sambil menuangkan minuman anggur.
"Iya. iya deh, tapi tadi aku salut dengan daddy yang langsung gercep datang ke kantor tanpa memikirkan apa yang harus dikatakan untuk momy", ejek Damien yang tidak berhenti tertawa.
"Diamlah", kesal Efrat dengan melemparkan tisu.
Lalu Efrat berbicara serius tentang perempuan yang sulit untuk dipahami. Dominic dan Damien menyetujui perkataan daddynya.
"Benar dad, perempuan sulit dipahami apabila dia tidak di turuti kemauannya", ucap Damien.
"Memang sulit, lebih sulit lagi jika menghadapi momy", ucap Dominic tanpa sadar yang membuat Damien dan Efrat tertawa dan menyetujui ucapan Dominic.
Tatkala mereka menikmati candaan, Lucas di mansion sedang mengerjakan pekerjaan di kamar karena dia hari ini tidak enak badan. Ketika ia sedang fokus Vita datang masuk membawa nampan berisi masakan dan minuman untuk Lucas. Lucas yang sedang fokus tiba-tiba merasakan tangan hangat di keningnya. Tangan itu milik Vita sedang memeriksa suhu panas Lucas. Lucas merasa senang ketika gadis kecil itu memperhatikan dirinya yang sedang sakit.
Lalu Vita menghembuskan nafas lega dengan berkata, "syukurlah panasnya turun", sambik duduk di pinggir ranjang dekat Lucas.
Kemudian Vita mengomel kepada Lucas karena dia saat sakit malah mengerjakan pekerjaan kantor. Vita tidak habis fikir dengan Lucas. Sehingga dia mengomelinya cukup panjang.
"Uncle, harusnya kalau sakit itu istirahat bukan bekerja keras seperti kerja rodi. Kamu itu badannya harus di rilekskan agar tidak lelah. Kerja boleh tapi ada waktunya. Apabila uncle sakit harus istirahat", omel Vita dengan mengambilkan bubur di mangkok.
"Sekarang hentikan pekerjaan uncle. Aku tidak ingin di salahkan jika uncle terjadi apa-apa ya", ucap Vita.
Lucas lalu menurut menghentikan pekerjaannya dengan menaruh tablet ke meja nakas samping ranjangnya dan menerima suapan dari Vita dengan menggoda, "aku bersyukur memiliki calon istri yang bisa memperhatikan suaminya yang sedang sakit", senyum Lucas.
"Uncle tidak usah mengada-ada deh saat sakit. Lebih baik fokus untuk sembuh",kesal Vita.
"Baiklah",ucap Lucas dengan tersenyum.
__ADS_1
Vita menyuapi dengan telaten dan memberikan air minum juga vitamin untuknya. Lalu Lucas membaringkan diri di ranjang. Sementara Vita membawa nampan ke dapur untuk ia cuci. Di dalam kamar Lucas merasa senang mendapatkan perhatian dari gadis kecilnya meski dengan omelan dia. Lalu Lucas terlelap tidur.