The Mafia Millioner

The Mafia Millioner
Rasa Bahagia Tidak Tergantikan 1


__ADS_3

BERBIJAKLAH DALAM MEMBACA KARENA ADEGAN INI BUKAN UNTUK DITIRU NAMUN HANYA SEBAGAI HIBURAN. 😊


TERIMA KASIH. 🙏


JANGAN LUPA BERI LIKE👍 DAN FAVORITKAN KARYA SAYA


.........


Vita dan Jinwoo sedang asyik menikmati momen bermain bola basket di lapangan setelah pergi ke salon mengatarkan Vita mengeringkan rambut dan merapikan rambutnya.


“Oppa jangan gitu dong, bolanya biar aku masukin dulu. Jangan diambil”, kesal Vita


“Coba kamu ambil bola ini”, ucap Jinwoo sambil melakukan atraksi memindahkan bola dari lengan kanan ke lengan kiri dan memutar bola di jari telunjuk membuat Vita yang sedang merebut kewalahan.


“Oppa, jangan seenaknya deh. Berhenti Jinwoo Kang”, kesal Vita yang sedang berusaha merebut bola. Ketika akan direbut dia malah menempelkan ke kening Vita lalu memasukkan ke dalam ring dan membuat Vita tambah kesal.


“Aku malas dengan Oppa. Besok-besok aku main sendiri”, dengan menghentakkan kakinya.


“Ya deh, sekarang mainlah. Aku akan pura-pura tidak bisa merebut bolanya”, ucap Jinwoo dengan mengalah. Vita dan Jinwoo memulai permainan dengan penuh senyum, tawa, kesal, dan menyenangkan untuk mereka menghilangkan rasa penat yang menumpuk. Hingga mereka lelah dan berbaring ke lantai.


“Vit, Gomawo”, ucapnya


Vita menganggukan kepala dan memeluk Jinwoo lalu di balas pelukan olehnya dengan mengusap kepala kemudian mencium sambil di goda olehnya.


“Hei, kepala kamu kenapa masih bau jika sudah kamu cuci”, goda Jinwoo


Vita mencubit perut Jinwoo dan dia malah terkekeh lalu bangun mengambil snack dan minuman yang mereka beli setelah ke salon.


“gluk..gluk..gluk..ahh, segarnya”, ucap Vita dengan tandas setengah botol ukuran agak besar.


“Yahh, kamu ternyata seperti sapi. Minumnya banyak juga”, ejek Jinwoo dengan terkekeh


“Oppa! Jangan mulai deh”, kesal Vita pura-pura cemberut sambil memakan keripik.


“Aku jadi kangen deh dengan halmonie. Dia sedang apa ya?”, ucap Vita sambil membayangkan


“Tunggulah, setelah pekerjaan di sini terselesaikan kita pergi ke tempat halmonie”


“Okay, aku tunggu kok dengan lapang dada” ucap Vita dengan menunjukkan cara orang-orang berlapang dada dengan telapak tangan mengusapkan pada dada.


“yuk pulang”, ucap Jinwoo


Setelah sampai di apartemen Vita langsung melesat ke kamar mandi membersihkan badan dengan bergantian lalu menikmati berbaring bersama.


“Oppa!” panggil Vita


“uhmm”


“Aku perhatiin Oppa lagi banyak pikiran”, khawatir Vita


“Oh, ya”, sangkal Jinwoo dengan diangguki Vita di bawah pelukkannya.


Flashback


Ketika baru bangun Jinwoo mendapatkan panggilan dari ibunya. Ia mengangkat lalu dicerca omelan yang tidak dibutuhkan Jinwoo. Sejak kecil dia bersama neneknya di desa kemudian diumurnya masih remaja oleh ke dua orang tuanya dibawa ke seoul karena ambisinya dan tidak pernah dapat kasih sayang ibunya ataupun ayahnya yang ia dapatkan hanya ditekan oleh urusan perebutan harta jika dia dapat berkuliah di Harvard Amerika kemudian pulangnya ia di tekan jadi perwaris penerus setelah mengalahkan saudara sepupu. Membuatnya jengah apalagi dijodohkan secara politik.


“Jinwoo! Eomma minta kamu pulanglah. Ayah kamu membutuhkanmu”.


“Jangan lagi bersama gadis yang tidak jelas statusnya”.


“Eomma harap kamu mendengarkan karena kamu anak eomma dari rahimku”.


“Jika begini terus kamj tidak akan dapat apa-apa”


“Jinwoo dengarkan eomma!”


“Kamu jangan seperti kakak kamu dan nenek kamu di desa yang hanya mengomeli eomma”


“Kamu sayang eomma kan”, dengan nada rendah.


Jinwoo langsung mematikan ponsel sepihak ketika diujung sana masih memanggilnya. Lalu memabanting handphone hingga pecah karena amarahnya.

__ADS_1


Flashback off


Ketika Jinwoo sedang mengingat kembali saat pagi hari membuat amarahnya memuncak dengan tidak sadar melampiaskan kemarahannya pada Vita dengan memeluk erat hingga Vita memukul lengan Jinwoo.


“Oppa! Oppa! Oppa!”, panggil Vita dengan memukul. Pukulan berkali-kali baru menyadarkan Jinwoo.


“E..ow, maaf”, ucap Jinwoo melonggarkan pelukkannya.


“Apaan sih, aku itu hampir mati tahu”, kesal Vita dengan bernafas lega.


“Maaf Vit, terbawa saja”, ucap Jinwoo


“Aishh, jika sedang ada masalah cerita dong. Bukan malah memeluk erat dengan melampiaskan kekesalan dengan tubuhku”, kesal Vita.


“Tidak ada, Oh ya Vit kita ke korea setelah dua hari kedepan, Oppa akan menyelesaikan semua urusan di sini dengan secepat kilat. Aku akan bilang ke guru kamu untuk minta ijin dengannya dan menggantikan dengan tugas secara daring agar kamu tidak tertinggal. Sekarang kita tidur. Aku tidak sabar bertemu halmonie dan lainnya”, ucap Jinwoo dengan mengecup kepala Vita lalu memeluk kembali.


“Dasar, aigoo”, bisik Vita.


“Hari ini sepertinya dia lagi gak mood deh, apa jangan-jangan masalah keluarganya. Aku heran hidup itu singkat tapi masalah yang di hadapi kami rumit. Apalagi ibunya Jinwoo yang selalu terus bilang aneh padaku dengan kata-kata pedasnya. Aku juga tidak ingin ikut masalah di keluarganya. Tapi jika aku meninggalkannya apakah dia akan bahagia karena aku memiliki firasat buruk dengannya jika aku menghilang di kehidupannya. Aku berharap apapun keputusan kamu bisa membuatmu bahagia Oppa. Meskipun kita terpisahkan dan menyakitkan untukmu atau kita”, batin Vita dengan menutup mata.


Pagi hari Vita dan Jinwoo makan bersama di apartemen setelah itu mereka berangkat ke sekolah lalu meninggalkan Vita ke kantor setelah memastikannya masuk.


“Vit, turunlah. Sudah sampai dan jangan mengada-ngada buat bolos”, ucap Jinwoo dengan memperingatkan.


“Iya, aku tadi lagi ketiduran Oppa”, ucap Vita.


“ck..,”, Jinwoo berdecak sambil melepaskan helm milok Vita dan mengusap kepalanya.


“Apaan sih, rambutku jadi berantakan bodoh”, ucap Vita dengan kesal.


“Tadi kamu bilang apa?”, ucap Jinwoo yang pura-pura gak dengar.


“Bukan apa-apa” ucap Vita sambil menjulurkan lidahnya saat sudah sedikit menjauh.


Jinwoo terkekeh melihat kekonyolan Vita walaupun belum memiliki status tapi hari-hari mereka begitu bahagia saling berbagi kehangatan dengan penub senyuman dan tawa. Setelah dia memastikan punggung mungilnya semakin menjauh. Jinwoo menyalakan mesin motornya. Tapi terhentikan ketika Vita memanggil.


“Oppa! Oppa! Oppa! ” panggilnya dengan berlari.


“Menunduklah, aku bilang menunduklah”, ucap Vita yang membuat Jinwoo ragu mengikuti perintahnya. Pada akhirnya dia mengikuti perintah Vita meski sedikit meragu.


“Cup”, Kecupan Vita membuat Jinwoo terkejut lalu Jinwoo membalas dengan menarik kepala Vita sebelum menjauh.


“Cup.., Cup”, ciuman balasan dari Jinwoo. Mereka membalas seluruh perasaannya meski nanti akan menyakitkan.


“Bye, Oppa!” teriaknya menjauh sambil berlari membuat Jinwoo bertambah bahagia dan rasa amarahnya mereda melihat tingkah konyolnya menjadi keahagiaan untuknya.


Berbanding terbalik dengan kisah Vita. Pada saat ini Ana sedang dibuat kesal oleh tingkah Leon semenjak terjadi di ranjang. Dia menjadi possesive karena kemana-mana Ana pergi selalu mengikutinya walaupun Ana sudah memarahinya.


"Leon bisahkah kamu tidak mengikutiku", kesal Ana.


"..." Leon hanya diam.


"Aku itu tidak leluasa. Mereka juga jadi tidak enak berteman denganku semenjak kamu tiba-tiba mengekspos hubungan kita yang sudah selesai dengan sangkalan kamu kalau kita masih ada", ucap Ana dengan amarahnya di hadapan Leon yang berada di ruangannya.


Leon tidak menggubris rasa kesal dan omelan Ana. Malahan Leon menganggap itu makanan sehari-harinya. Karena dia menyukai Ana mengomel Leon menghentikannya dengan keromantisan untuk kekasihnya dan membuat Ana merasa malu dengan pipinya yang panas merah merona akibat perilaku Leon.


Lalu Ana mengatakan dengan kata,"aku benci kamu", kesal Ana sambil menghentakkan di lantai layaknya anak kecil sembari berjalan di meja kerjanya sambil memegang pipinya yang merona.


"Aku lebih mencintai kamu Ana!", teriaknya di ruang kerja yang penuh bahagia dengan tangan di rentangkan.


Ana yang melihatnya mengumpat, "Dasar gila", dengan perasaan bahagia di campur kesal. Saat ini wajahnya diliputi rasa malu dengan pipi yang merah merona akhir-akhir ini dengan tingkah Leon.


"Aku bahagia bersama kamu, meski saat ini kamu belum menerima maafku. Tapi aku akan berusaha sebisa mungkin melihat wajah kesal, malu, dan pipi merona karena tersipu dengan segala tingkah dan ucapanku", suara hati Leon yang penuh dengan harapan.


Jam istirahat telah usai para siswa masuk ke kelas dengan berganti jam kosong secara tiba-tiba membuat seluruh siswa bersorak.


"Apa kita mimpi?", tanya seorang siswi di depan Vita


"Tidak", jawab singkat Vita


"Coba cubit dong, Vit", ucapnya. Lalu Vita mencubit dan dia mengadu sakit, "auch.., ternyata tidak mimpi". Dia pergi mengemas barangnya lalu menggedong ranselnya di kedua pundak dan lansung melesat pulang. Vita yang berdiri di belakangnya hanya menggeleng kepala.

__ADS_1


Ketika Vita berjalan menyusuri lorong setiap kelas tiba-tiba Adit datang.


"Vita!", panggilnya dengan langsung merangkul pundak miliknya.


"Vit, hari ini kita jalan-jalan yuk. Aku hitung ini traktiran kamu yang ketiga", ucap Adit dengan penuh harap


"Baiklah", jawab singkat Vita dengan berjalan beriringan membuat seorang gadis yang berada di belakangnya yang tidak di sadari oleh Vita dan Adit menahan amarahnya karena diliputi rasa cemburu yang selalu di tolah oleh Adit tiap kali ia mengajaknya sekedar makan atau jalan-jalan.


Sesampainya ke parkiran Adit memberikan helmnya pada Vita. Lalu ia menghidupkan mesin dan Vita naik ke mogenya berwarna merah yang dipilihnya.


"Brmmmm! brmmm", suara motor berderum lalu melesat meninggalkan pelataran sekolah menuju ke mall.


Beberapa lama kemudian mereka telah sampai ke mall central park.


"Vit kita main ke time zone yuk", ajak Adit


"Okay", jawab singkat Vita.


Adit menarik tangan Vita memasuki area permainan. Mereka mencoba berbagai permainan dengan asyik dengan diakhiri memaikan permainan mencapit boneka.


"Yahh..gagal lagi", kesal Vita.


"Mana biar aku coba", ucap Adit yang pada akhirnya mendapatkan dua boneka dengan masing-masing membawa satu sebagai tanda kebersamaan.


Setelah lelah Adit mengajak Vita ke restoran salah satu yang ada di mall.


"Kita makan di kimbab", saran Adit.


"Ide bagus itu", ucap Vita.


"Kali ini aku yang bayar. Jadi pesanlah yang banyak", ucap Adit dengan menawarkan diri.


"Benar ya, jangan sampai menyalahkan aku. Jika dompetmu kempes", ucap Vita yang masih memilih menunya.


"Iya", ucap Adit.


"Mbak aku mau Ramyeon, bulgogi sapi, tteopoki dan minumannya es capucino dalgonal", pesan Vita.


"Saya samain saja", ucap Adit.


"Silahkan di tunggu", ucap pelayan petempuan.


Setelah ditinggalkan pelayan perempuan mereka mulai mengobrol sambil menunggu menu yang diantar.


"Vit, kamu masih ikut balap liar?"


"Iya, karena itu menyenangkan. Plush bayarannya lumanyan", ucap Vita.


"Kamu benar-benar wanita preman".


"Biarin",


"Jika kamu tertangkap polisi gimana?"


"Sudah, jangan bahas itu lah. Kita bahas yang lain. Misalnya tentang Tiara yang sudah menyukaimu yang sudah sejak lama"


Pada saat akan menjawab menu makanan datang.


"Silahkan dinikmati", ucap sang pelayan laki-laki dengan sopan


"Makasih", ucap Adit.


"Aku tidak memiliki rasa dengannya", jeda Adit sambil menyeruput minumannya dan menikmati tteopoki.


"Ngomong-ngomong tadi di kelas ada gosip. Kamu saat di gerbang diantar cowok lalu berciuman ya", selidik Adit


"Ihh kepo", ucap Vita dengan wajah malunya.


"ck..", decak Adit yang sedikit cemburu karena dia memiliki rasa entah cinta atau lainnya.


Sedangkan di tempat yang lain, Lisa masih menikmati bayangan soal semalam dengan Johan di kamar hotel. Dia ngelamun tanpa henti di kamarnya setelah meminta cuti di kantor satu hari.

__ADS_1


Mengingat kata I Love You membuat Lisa semakin gila karena berteriak sendiri di kamar sambil memukul bantal guling dengan tubuhnya berguling kesana kemari.


__ADS_2